
Mobil Arganta sampai didepan gedung perusahaan. Ia turun bersama dengan Marlin. Para karyawan yang melihat kedatangan Arganta, mereka membungkuk hormat. Pintu lift terbuka, Arga dan Marlin segera masuk menuju lantai atas. Marlin tidak merasa asing dengan perusahaan Abhimarta. Ia pernah masuk kesana sekali, saat dulu Arshana masih akrab bersama mereka. Dan sekarang kedua kalinya Marlin bisa kembali melihat perusahan tersebut.
Ting.
Pintu lift terbuka, Arganta dan Marlin berjalan beriringan ke ruang pribadinya Arga. Sampai didalam Arganta menuju kursi kebesarannya lalu duduk disana. Dulunya itu ruangan Arshana, sekarang dia lah yang menempati. Marlin duduk didikursi yang ada didepan Arga. Ia melihat sekeliling ruangan tersebut. Tidak ada yang berubah menurutnya.
"Kemarin gue sudah bicara sama papa, katanya loh boleh jadi asisten gue. Jadi mulai hari ini loh kerja disini, nanti gue tunjukin ruangan loh. Sekarang bantuin gue mencari tau tentang ini orang." ucap Arganta menyodorkan laptopnya kedepan Marlin.
"Hah? Orang siapa?." Marlin bingung dengan maksud Arganta, ia pun menatap penuh kelayar laptop. Sekarang dia paham apa yang dimaksud oleh Arga.
"Bukannya gue sudah kasih loh identitas lengkapnya. Keluarganya juga ada gue kasih, terus mau nyari ta apa lagi?." tanya Marlin bingung.
"Dia gak kerja sendirian, setelah gue cari tau. Ada karyawan lain yang bekerja sama dengan dia. Jadi disini tidak hanya ada satu pengkhianat melainkan ada dua. Dan gue belum tau siapa salah satunya. Mangkanya gue minta loh cari tau, kalau hanya satu yang ketangkap. Yang lain masih bisa bergerak." jawab Arganta menyandarkan tubuhnya disandaran kursi.
"Ohh gitu, oke gue akan cari temannya. Loh tenang saja." balas Marlin memikirkan sesuatu.
"Sepertinya gue tau siapa? Gue sudah curiga sama satu orang. Karna gue pernah lihat dia bertemu sama temannya dicafe. Dan tadi saat masuk ke ruangan loh, gue gak sengaja melihat temannya itu ada disini. Bisa gue incer dia." ucap Marlin.
"Oke, bagus. Gue ingin tau dia siapa. Setelah itu tangkap mereka berdua. Mereka tidak bisa meminta pertolongan kepada siapapun. Bos mereka saja sudah diambang kebangkrutan. Hahaha." Arganta sangat senang melihat Handian yang sebentar lagi bangkrut. Pengkhianat yang ada diperusahaannya adalah anak buah dari Handian.
"Gue akui loh memang hebat. Gue suka sama sikap loh yang sekarang. Bukan dulu yang maunya tunduk sama kakak loh sendiri. Sampai sisi jahat loh hilang." sindir Marlin mengingat dulu Arganta malah nurut sama Arshana.
"Bodo amat!! Sekarang ikut gue keruangan yang akan loh pakai." Arganta langsung bangkit dari duduknya menuju pintu keluar. Marlin pun mengikuti saja.
Hingga sampai didepan ruangan yang akan dipakai oleh Marlin nanti. Ruangan itu dulu ditempati oleh Arganta, sekarang tidak lagi. Sebelum mereka masuk, Anin memanggil Arganta. Sehingga mereka urung masuk.
"Maaf tuan, saya ingin memberikan laporan yang anda minta kemarin." ucap Anin menunjukan map yang dia bawa.
"Berikan padanya, dia asisten saya. Kamu boleh kembali bekerja." jawab Arganta menunjuk Marlin.
"Baik tuan permisi." ucap Anin membungkuk lalu pergi dari sana.
"Kok loh berikan sama gue sih, hari ini kan gue masih perkenalan sudah dikasih tugas aja." protes Marlin setelah kepergian Anin.
"Udah bawa aja dulu, ayo masuk." ujar Arganta tak mendengarkan protesan Marlin malah mengajaknya masuk.
__ADS_1
"Ck, menyebalkan!." gerutu Marlin tetap mengikuti Arganta masuk ke dalam.
"Nah ini ruangan loh, besok loh udah bisa mulai kerja atau haru ini juga boleh." Marlin langsung menyahut.
"Enggak, besok aja. Gue belum tau tugasnya apa saja. Kan loh belum jelasin. Tugas yang loh berikan tadi saja belum gue kerjain." sahut Marlin kesal lama-lama melihat sikap Arganta.
"Kurang cerdas! Orangnya ada disini, ngapain pusing-pusing dipikirin. Tinggal ikuti saja gerak-geriknya dan aktivitas dia. Bereskan, nanti loh bakalan tau sendiri, dia benar pengkhianat atau tidak. Lah kalau loh tidak ada dilingkungan sini mana tau." perkataan Arganta membuat pola pikir Marlin berubah.
Bodoh sekali dia tidak memikirkan itu. Malah berpikiran lain karna belum apa-apa Arganta sudah memberinya tugas. Jadi cara berpikirnya berbeda.
"Benar juga, gara-gara loh sih ngasih gue kerjaan secepat ini. Kan otak gue gak bisa berfungsi." gerutu Marlin merututi kebodohannya.
"Emang loh nya saja yang kurang jernih dalam menangkap sesuatu. Harusnya kalau gue kasih tugas gitu pikiran loh udah nyaut. Bukan malah sebaliknya, bisa-bisa loh dikelabuhi oleh musuh." ujar Arganta gak habis pikir dengan Marlin.
"Iya iya gue yang salah. Terus tugas gue apa saja sebagai asisten loh?." tanya Marlin sambil melihat-lihat sekeliking ruangan.
"Nanti gue jelasin saat dimarkas. Besok ikut gue temuin dia....."
"Dia siapa?." ucapan Arga terpotong oleh pertanyaan Marlin.
"Auww! Sakit woi. Loh ya kejam banget jadi orang. Kasih tau pelan-pelan kan bisa gak usah pakai ngelempar bulpoin juga lah." ucap Marlin merasakan sakit dikeningnya karna terkena lemparan bulpoin. Ia pun mengambilnya dan ditaruh kembali diatas meja.
"Mangkanya dengerin gue sampai selesai bicara. Gak sopam banget!." ujar Arganta kesal.
"Hmm, ngapain nemuin dia?." tanya Marlin bingung, ngapain juga nemuin Handian. Apakah ada yang ingin dibicarakan oleh Arganta bersama Handian.
"Dia pasti sudah tau identitas gue yang asli. Pengkhianat itu sudah pasti memberi taunya. Dan gue yakin dia sekarang makin marah kalau tau keturunan keluargaku masih ada. Yang diincar dia kan itu, agar tidak ada yang menyainginya. Tapi nyatanya dia salah, malah sekarang semua berbalik padanya. Gue akan beli saham perusahaannya. Sebenarnya besok ada rapat sama perusahaan dia. Salah cari lawan!!." Arganta berasa puas sudah menghancurkan bisnis keluarga Dharvanta.
Tidak hanya itu yang di inginkan, dia juga menginginkan nyawa Handian sebagai pengganti nyawa kakaknya yang sudah dia renggut. Mengingat bagaimana kematian kakaknya yang tragis dan mengenaskan. Membuat api dendam menyala dari hati Arganta. Dia tidak terima dan akan terur menghancurka keturunan keluarga tersebut.
"Dasarnya memang bodoh!! B*go banget, membiarkan bukti tetap ada. Dia kira kita gak bisa menemukan kejahatannya. Itumah mudah! Yang sulit bagi dia menemukan kita." sahut Marlin tersenyum mengejek.
"Adik dia namanya siapa? Kata loh dia punya adik?." Arganta baru ingat kalau Handian punya saudara kandung.
"Iya namanya Rey, dia baru saja lulus kuliah. Apa loh berniat untuk menghancurkan adiknya juga?." tanya Marlin melihat dari mata Arga ada yang berbeda.
__ADS_1
"Lihat saja, kalau dia bersifat sama seperti kakaknya. Gue gak akan kasih ampun untuk mereka. Loh tau gue gak akan menyakiti orang yang tidak bersalah. Jadi loh cari tau dulu lebih dalam tentang adiknya itu." titah Arganta merasa penasaran.
"Oke gue suruh Reyhan saja untuk mencari tau. Gue gak bisa kalau harus cari tau sendiri. Tugas loh yang tadi aja belum selesai," ujarnya.
"Terserah loh deh." balas Arganta.
...🥀🥀🥀...
Brima menemui Verko dirumahnya, lelaki itu ingin sekali memberi nasihat kepada Verko agar terus terang. Kebetulan Zulfa sedang keluar, jadi mereka bisa leluasa berbicara. Brima gak mau nantinya Verko akan menyesal. Apalagi dia tidak jujur kepada Zulfa sebelum menikah. Bisa saja nanti Zulfa kecewa berat dengan Verko.
"Katakan yang sejujurnya kepada istrimu. Dia berhak tau, jangan sampai nanti dia kecewa berat kalau perasaannya sudah terlalu dalam kepadamu dan tidak bisa menerima dirimu yang asli. Jangan sampai kamu menyesal nantinya, kalau perlu aku akan bantu jelasin kepadanya." ucap Brima serius sambik melirik ke arah luar takut Zulfa tiba-tiba datang.
"Aku takut nanti Zulfa tidak bisa menerimaku dan pergi dariku. Aku gak bisa kehilangan dia Brim. Mangkanya aku gak bilang sama dia sebelum menikah." jawab Verko lesu. Dia sendiri bingung mau mengatakannya kepada Zulfa.
"Lebih baik mengatakannya sekarang dari pada nanti. Setidaknya rasa kecewa dia tidak terlalu dalam. Kalau kamu menunda nanti-nanti terus lalu dia tau sendiri sebelum kamu jelaskan bagaimana? Apa dia gak akan kecewa berat sama kamu. Kalau kamu gak mau dia pergi, ikat dia menjadi milikmu selamanya. Maka dia gak akan pergi." ujar Brima membuat Verko bingung dengan maksudnya.
"Mengikatnya gimana? Aku dama Zulfa kan sudah terikat pernikahan." balas Verko mengerutkan dahi
"Menjadikan dia seutuhnya milik kamu. Masa belum mengerti juga. Apa aku harus perjelas." Brima gak mungkin mengatakannya secara jelas, bisa malu sendiri dia.
Setelah dipikir lagi maksud perkataan Brima. Baru Verko paham dan mengerti arah pembicaraan Brima tadi.
"Ooh itu, aku gak mau nanti dia malah menyes memberikannya padaku." balas Verko sambil meneguk kopi yang tadi dibuatkan oleh Zulfa.
"Hah? Jadi kau belum malam pertama. Lah aku kira sudah. Astaga!." pekik Brima mengeraskan suaranya membuat Verko langsung membungkam mulut Brima dengan bantal kursi.
"Loh kalau ngomong jangan keras-keras. Nanti kalau Zulfa tiba-tiba datang gimana." ketus Verko.
"Haduh, iya maaf tadi aku kelepasan ngomongnya. Lagian Zulfa juga belum datang." kata Brima.
Selesai Brima berbicara, Zulfa datang. Mengagetkan mereka berdua, beruntung tadi pembicaraan mereka telah usai. Andai tadi Brima mengatakannya saat Zulfa datang, habis mereka tidak bisa berkutik lagi.
"Mas, aku kebelakang dulu ya." ucap Zulfa berlali kebelakang.
"Iya." jawab Verko singkat, ia masih terkejut. Beruntung istrinya tidak tau, ia bisa bernafas dengan lega. "Huufh, udah sana kau pergi," usirnya pada Brima.
__ADS_1
"Hmm iya deh aku pulang." Brima pun beranjak untuk pulang. Ia tak mau mengganggu pengantin baru tersebut. Brima pun memilih pulang.