
"IYA PA! TESPACK ITU ADALAH MILIKKU. PUAS! ITUKAN YANG INGIN KALIAN DENGAR!" sahut Firsi sudah tidak tahan lagi untuk terus mengelak. Ayahnya akan tetap memaksa dia untuk mengaku. Firsi yang juga diselimuti amarah langsung berbicara apa adanya.
"Ja-jadi benar ini milikmu Firsi. Anak siapa yang kamu kandung Firsi! ANAK SIAPA!" bentak Elena dengan suara gemetar, karna tidak percaya kalau anaknya bisa melakukan hal tak pantas hingga membuat malu keluarga sendiri.
Firsi kembali bungkam, kepalanya menunduk. Dia tak berani menatap wajah kedua orang tuanya terutama Devon ayahnya. Sampai Elena kembali berbicara agar Firsi mengakuinya.
"Mama tanya sama kamu Firsi, kamu hamil anak siapa? Siapa yang sudah menodai kamu?." Elena kembali memelankan nada bicaranya, melihat raut wajah ketakutan dari Firsi.
"Handian ma!" akhirnya Firsi mengatakan juga siapa anak yang dia kandung.
"Handian? Dari keluarga Dharvanta itu maksudmu! Iya Firsi?" tanya Devon menatap tajam.
"I-iya pa. Aku sudah meminta pertanggung jawaban darinya, tapi Handian gak mau untuk tanggung jawab. Dia malah mengusirku dan memintaku untuk pergi," jawab Firsi gugup, semjanya sudah terbongkar. Mau mengelak? Tidak akan bisa. Pilihannya sekarang dia harus jujur semuanya.
"DASAR PRIA BR*NGS*K! MAU ENAKNYA SAJA, GAK MAU TANGGUNG JAWAB!" Devon diselimuti api kemarahan melihat putri yang dia sayangi harus kotor oleh pria semacam Handian.
Sementara Elena terisak sambik menutup wajahnya dengan telapak tangan. Dia sudah gagal menjadi seorang ibu. Mendidik satu anak saja dia tidak bisa. Firsi jadi merasa bersalah kepada mamanya. Dia ingin memeluk Elena, tetapi tangannya malah ditepis.
"Kamu diperk*sa atau memang kemauanmu sendiri dengan keadaan sadar Firsi? Jawab mama dengan jujur," tanya Elena menatap kecewa kepada Firsi.
"Aku sadar ma, tidak sedang diancam atau hal yang lain. Aku minta maaf pa ma. Aku ngaku salah, dia sudah berjanji akan bertanggung jawab. Tapi nyatanya dia malah ingkar. Aku menyes pa ma, aku nyesel!" ucap Firsi memelas sambil memohon agar dimaafkan oleh kedua orang tuanya.
"ANAK BODOH! Mau saja kamu dibohongi. Mana ada pria yang bisa tepati janjinya kalau dia malah ngajak enak duluan. Kamu gak mikir kedepannya bagaimana hah! Mau ditaruh mana wajah kami Firsi? Kalau sampai orang tau kamu hamil tanpa suami. Pasti keluarga kita dicap gak baik. Kamu gak mikir tentang itu? Harusnya sebelum bertindak mikir dulu dua kali!" ujar Devon terduduk lemas disofa merasa amat kecewa.
"Aku minta maaf pa, aku akui kesalahanku gak bisa dibenarkan. Aku menyesal!"
"Percuma kamu mengatakan menyesal sekarang. Lantas sebelum kamu melakukanya, apa kamu mikir tentang itu?. Semua sudah terjadi, nasi sudah menjadi bubur. Kalau begini terus bagaimana? Mama malu Firsi, mama malu!" Elena kembali terisak merasakan sakit hati karna ulah anaknya sendiri.
Putri yang dia rawat dengan penuh kasih sayang dan cinta malah mengecewakannya berkali-kali lipat. Membuat dia malu untuk keluar rumah. Dia kira Firsi bakalan menjadi putri kebanggaannya, tetapi semua malah berbalik arah. Tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.
__ADS_1
"Berapa bulan kandunganmu?" pertanyaan yang sedari tadi ingin dilontarkan oleh Elena, karnan penasaran melihat perut Firsi yang mulai membuncit.
"Menginjak dua bulan ma."
"APA! DUA BULAN? DASAR ANAK SIALAN. KAU TUTUPI DARI KAMU SELAMA ITU! KAU MEMANG INGIN DIKASIH PELAJARAN FIRSI!" Devon hendak memukul wajah Firsi, namun tangannya dicekal oleh seseorang dari belakang membuat pergerakannya terhenti. Devon pun menoleh kearah samping, begitu pun dengan Elena dan Firsi.
"Zulfa....."
Ya ternyata Zulfa lah yang menghentikan tangan Devon agar tidak sampai memukul Firsi. Zulfa sudah mendengar semuanya dari tadi, dia menguping dibalik pintu. Saat sampai tadi dia tidak sengaja mendengar ayahnya marah dengan nada tinggi. Membuat Zulfa urung masuk dan memilih mendengarkan terlebih dahulu. Dia ingin memastikan apa yang membuat ayahnya sampai marah besar. Matanya menangkap sosok Firsi yang ternyata pembuat ayahnya marah.
Zulfa mendengarkan sampai akhir, hingga satu kenyataan membuatnya begitu terkejut. Dia tertegun sejenak sampai suara bentakan ayahnya membuat dia sadar. Zulfa tak habis pikir dengan adik tirinya yang bisa melakukan hal menjijikan tersebut. Disela diamnya, Zulfa tetap memerhatikan sampai satu pergerakan dari tangan ayahnya membuat Zulfa tidak bisa bersembunyi lagi. Ia pun menerobos masuk dan menahan tangan ayahnya agar tidak sampai memukul ke arah Firsi.
"Jangan main kasar pa, dia sedang hamil," tegur Zulfa mengagetkan mereka bertiga dengan kedatangannya secara mendadak. Bukan mendadak memang dari semalam dia sudah berniat berkunjung dan sudah menghubungi ayahnya juga.
"Sejak kapan kamu datang Zulfa? Kenapa tidak memberi tau papa dulu." Devon terkejut melihat kedatangan Zulfa.
"Sejak tadi, maaf aku sudah mendengar semuanya. Papa jangan main tangan dengan Firsi. Bagaimana pun dia juga gak mau seperti ini," tegur Zulfa lemah lembut walau dia sendiri amat terkejut.
"Firsi jaga bicaramu! Kamu memang salah harusnya sikapmu tidak begini! Kakakmu gak tau aoa-apa, dia hanya ingin melindungimu. Tapi kau malah membentaknya!"
"AKU TIDAK BUTUH PEMBELAAN DARINYA!" sentak Firai marah menunjuk ke arah Zulfa yang berdiri disamping ayahnya.
"Sampai kapan kamu mau membenciku? Tidak suka denganku? Salah apa aku sama kamu Firsi. Padahal aku sayang sama kamu, tapi malah kamu membenci aku. Salahku dimana? Katakan Firsi."
"Omong kosong! Tidak usah sok baik dengan gue. Gue tidak suka dengan wajah topeng loh itu! Dari dulu gue memang tidak suka dengan loh! Anak kebanggaan papa yang selalu disayang. Papa mana pernah menganggap gue ada! Loh pergi saja dari sini!" usir Firsi mendorong tubuh Zulfa sampai tersungkur dilantai dan tak sengaja tangannya tergores pinggiran dari meja yang bahannya dari kaca.
Membuat pergelangan tangan Zulfa berdarah. Dia meringis kesakitan akibat goresan yang kuat. Sontak saja Devon langsung membantu Zulfa untuk kembali berdiri dan melihat darah yang keluar dari tangan Zulfa. Kemarahannya kembali tersulut, sikal Firsj benar-benar keterlaluan. Padahal Zulfa ingin membelanya, tapi malah dia bersikal tidak baik.
"Auw! Ssstt," ringis Zulfa melihat tangannya terluka.
__ADS_1
"Astaga, tangan kamu berdarah nak. Ini harus segera diobati agar tidak infeksi," ujar Devon.
"KAMU KETERLALUAN FIRSI! DIA KAKAKMU, ZULFA HANYA INGIN MEMBELAMU. TAPI KAMU MALAH MENDORONGNYA SAMPAI TERLUKA. DIMANA OTAKMU ITU! BUKANNYA TERIMA KASIH MALAH BERTINGKAH DILUAR BATAS!" sentak Devon, emosinya meluap. Belum selesai dengan hal yang mengejutkan, kini ditambah Firsi malah kembali berbuat ulah sampai membuat Zulfa terluka.
"Cukup mas! Kamu jangan salahkan Firsi terus. Dia begini juga gara-gara kamu! Perlakuanmu terlalu pilih kasih!" sahut Elena tidak terima dengan sikap suaminya yang keterusan menyalahkan Firsi.
"Apa kamu bilang? Aku pilih kasih? Kamu gak sadar dengan perkataanmu tadi. Selama ini aku selalu adil sama mereka. Bahkan Firsi kuliah aku yang membiayai. Sedangkan Zulfa harus mencari uang sendiri, beruntung dia ada beasiswa. Dia lulus dengan kerja kerasnya sendiri, bukan uang dariku! Itu yang kamu bilang pilih kasih! Kamu sebagai ibu harusnya sadar, dari kecil Firsi selalu kamu manja. Jadinya begini, kamu tidak becus mendidiknya!" terang Devon sudah muak dengan sikap istrinya yang selalu mengira dia pilih kasih antara Zulfa dan Firsi.
"Sudah pa jangan diteruskan, aku gak pa-pa nanti lukanya bisa diobati. Papa jangan marah sama mama dan Firsi. Kalau memang kehadiranku mengganggu, aku akan pergi sekarang. Maaf ya pa, Zulfa menambah keruh masalah yang ada."
"Jangam begitu nak, papa kangen sama kamu. Tunggu lah disini sebentar, jangan buru-buru pulang." Devon kembali menatap Firsi yang mendengus kesal.
"Kamu pergi ke kamar sekarang! Jangan buat papa makin marah sama kamu. Dan urusan ini belum selesai, kita akan bahas nanti. Ajak putrimu ke kamar, jangan sampai buat ulah lagi!" suruh Devon kepada Elena.
Elena pun membawa Firsi ke kamarnya. Kalau suaminya sudah marah, dia tidak berani untuk membantah lagi. Kalau marah dalam tahap normal, Elena masih berani berucap. Tetapi kemarahan suaminya sekarang sudah dipuncak ubun-ubun, membuat dia takut untuk membantah.
"Bi, bibi...." panggil Devon pada artnya.
"Iya tuan, ada apa?" tanya bi Atin datang setelah mendengar panggilan dari Devon.
"Tolong ambilkan kotak P3K yang ada dilaci pojok."
"Baik tuan, sebentar"
Tak lama Bi Atin kembali membawa kotak P3K yang diminta oleh Devon. Dia pun membukanya dan mulai menaruh sedikit revanol diatas kapas untuk membersihkan lukanya. Setelah itu dia berikan sedikit obat merah untuk mencegah infeksi. Zulfa sedikit meringis, merasakan kulitnya yang tersentuh obat merah jadi terasa perih.
"Tahan sebentar ya nak. Nah sudah, nanti sampai dirumah kamu ganti ya kalau semisal kotor. Goresan ditanganmu lumayan lebar. Maafkan sikap mama dan adikmu, mereka selalu seperti ini. Papa merasa gagal, papa gak bisa melindungi kamu," ucap Devon tertunduk lemah, penyesalan selalu menyelimuti dirinya.
"Papa kok gitu sih ngomongnya, jangan begitu. Aku maklumi atas sikap mama dan Firsi. Semoga saja suatu saat mereka bisa baik padaku. Papa gak gagal kok, papa sudah berusaha untuk mendidik dan memberikan yang terbaik untuk putri papa," jawab Zulfa memberi pengertian.
__ADS_1
"Ohh ya pa, maafin mas Verko ya gak bisa kemari. Dia sedang bekerja, maunya tadi aku akan ikut bekerja. Tapi aku ambil libur biar bisa kemari. Papa sehatkan?" Zulfa mengalihkan pembicaraan agar ayahnya tidak bahas itu mulu.
"Papa baik, makasih kamu sudah sempatkan datang kesini untuk mengunjungi papa."