Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
27 #Merasa Aneh


__ADS_3

"Thank you sayang, aku pergi dulu ya. Kalau nanti kamu jemput aku mau gak? Nanti aku kasih tau tempatnya? Gimana bisa gak?" tanya Firsi.


"Okey, apa sih yang enggak buat kamu. Kamu share lock saja dimanak, nanti aku jemput" jawab Hardi sambil mencubit hidung Firsi. Membuat Firsi merengut.


"Issh, nyebelin. Ya sudah deh aku pergi dulu" Firsi hendak turun dari pangkuan Hardi, namun tangan Hardi melingkar kuat diperut Firsi.


"Kenapa? Aku mau pergi loh" ujar Firsi.


"Masa main pergi gitu saja, kamu belum berterima kasih loh denganku sayang. Apakah itu caramu membalas kebaikanku" ucap Hardi membuat Firsi mengkerutkan dahi karna tidak peka dengan maksud Hardi.


"Aku tadikan sudah berterima kasih sayang. Apa kamu tadi gak dengar, apa perlu aku ulangi lagi? Baiklah aku akan ulangi sekali lagi. Terimaa Kasiihh Saayangkuuu!" ujar Firsi.


Hardi tersenyum melihat tingkah Firsi untuk berterima kasih padanya. Padahal Hardi sudah mendengar perkataan Firsi tadi. Sekarang bukan itu yang diinginkan oleh Hardi. Melainkan cara berterima kasih yang berbeda.


"Bukan begitu caranya berterima kasih denganku. Sepertinya kamu memang harus diajarin dulu, biar nanti kamu tau." ucap Hardi tersenyum, sementara Firsi terlihat bingung.


"Hah! Emang kamu mau aku berterima kasih bagaimana?" tanya Firsi.


"Begini caranya.....!" Hardi langsung mendekatkan wajahnya ke arah Firsi. Dan tatapannya tertuju pada bibir ranum Firsi yang sudah diincarnya. Ia memegang tengkuk Firsi dengan tangan kanan, lalu tanpa babibu lagi, Hardi menc*um Firsi. Bukan hanya menc*um, tapi juga menyesapnya, membuat Firsi terbelalak melihat Sikap Hardi. Tapi lama-lama Firsi mulai terhanyut oleh c*uman tersebut. Yang awalnya Firsi hanya diam saja, sekarang malah membalas c*uman Hardi. Sampai mereka mengakhirinya karna Firsi kehabisan nafas.


"Taukan sekarang caranya berterima kasih denganku? Kamu pintar sekali membalasnya. Sudah katanya mau pergi? Nunggu apalagi" kata Hardi sambil mengusap bibir Firsi yang basah dan tersenyum penuh kemenangan.


"Ihh ya ngomong saja lah kalau mau menc*umku. Jangan main samber gitu aja, aku kan kaget jadinya. Udah deh aku mau pergi" ujar Firsi kesal.


"Jangan gitu, kamu saja juga menikmatinya kan? Nyatanya kamu membalas tadi. Kalau enggak pasti kamu sudah melepaskannya, bukan malah melanjutkan" goda Hardi membuat Firsi diam tak berkutik. Kenyataannua memang tadi dia menikmati ci*mannya.


"Ahh terserah kamu lah aku pergi dulu, by" ucap Firsi langsung pergi begitu saja, karna tak mau mendengar perkataan Hardi yang terus menggodanya. Yang ada dia gak bakalan bisa pergi dari sana, sebab Hardi terus mengajak bercanda.

__ADS_1


🍀


🍀


🍀


Siang yang panas sampai menusuk dikulit. Derus arus kendaraan yang berlalu lalang dan yang suara klakson yang saling bersahutan. Zulfa dan Verko berada diminimarket yang tak jauh dari toko. Mereka belanja beberapa barang yang diperlukan. Setelah barang yang dicari terkumpul, mereka pun kembali ke toko untuk bersiap mengantarkan pesanan.


Ditoko ada bu Aida dan kebetulan ada Cherly juga. Dia datang tadi bersama suaminya, setelah itu Hanif pergi meninggalkan Cherly ditoko sebab ada urusan sebentar. Karena ada Cherly ditoko yang ikut menjaga bersama bu Aida, sehingga ia meminta Verko menemani Zulfa untuk mengantarlan pesanan. Hari ini Zulfa tidak masuk kuliah karena memang tidak ada jadwal.


"Verko, kamu temenin gih Zulfa untuk nganter pesenan nih. Lumayan banyak soalnya, kasihan kalau Zulfa nganter sendirian. Nanti kalian anter ke butiknya Nata juga, temen mbak yang pernah datang kesini. Kau tau kan Fa?" ucap Cherly sambil bertanya kepada Zulfa takut dia lupa.


"Iya mbak, aku masih ingat. Waktu itu aku pernah nganter kesana sekali. Tapi kalau kak Verko nemenin aku, siapa yang jaga disini?" tanya Zulfa.


"Kan ada mbak, gak perlu khawatir. Ini pesenannya banyak, gak mungkin bisa kamu nganter sendiri. Biar ditemenin sama Verko" jawab Cherly.


"Biasanya kan ibu juga sendiri kalau neng Zulfa nganter pesenan. Gak perlu cemas gitu lah neng, sudah anterin dulu itu keburu ditunggu sama orangnya" sahut Bu Aida tersenyum ke arah Zulfa.


"Hati-hati kalian, jangan ngebut kalau bawa motor Verko" pesan Cherly.


"Iya mbak, saya juga gak berani bawa motor ngebut-ngebut" jawab Verko lalu menyalakan mesin motor dan tancap gas melaju membelah jalanan yang ramai dengan aktivitas masyarakat.


Selang empat puluh menit, mereka sudah sampai didepan gedung perusahaan Abhimarta. Tadi mereka mengantarkan pesaan yang dibutik dulu dan baru ke perusahaan. Tersisa satu paper back yang dibawa oleh Zulfa. Mereka masuk seperti biasa dan kali ini zulfa tidak sendiri karna ditemani oleh Verko.


Tak lama Anin datang untuk mengambil pesanannya. Ia sempat terkejut melihat Zulfa bersama seorang pria. Karna biasanya Zulfa selalu nganter pesanan sendiri. Tapi kali ini berbeda, Anin menatap Verko dari atas sampai bawah secara intens.


"Mbak Anin kenapa ngeliatin kak Verko begitu? Ada yang salah?" tanya Zulfa melihat Anin yang menatap Verko seperti orang menyelidik.

__ADS_1


"Ini siapa? Teman kamu Fa?" tanya Anin sambil menatap Verko.


"Iya mbak, namanya Verko. Pegawai baru ditoko, sebenarnya sudah dari kemarin-kemarin. Tapi baru hari ini nemenin aku nganter pesanan karna diminta tadi sama mbak Cherly. Hari ini pesanan banyak, tadi aku nganterin dulu ke butik temannya mbak Cherly" jelas Zulfa panjang lebar agar Anin paham.


"Ooh begitu....." ujar Anin menanggapi perkataan Zulfa, lalu ia ingat kalau belum memberikan uangnya kepada Zulfa. "Eh astaga, uangnya lupa gara-gara banyak tanya. Ini ya sesuai totalnya yang dichat tadi. Dan kamu terima ini dari mbak, jangan ditolak nanti mbak marah. Buat jajan atau simpenan gitu" ucap Anin memberikan amplop putih ke tangan Zulfa. Sontak Zulfa ingin mengembalikan amplop tersebut, tapi karna Anin sudah mengatakan hal tersebut. Akhirnya Zulfa menerima pemberian dari Anin.


"Mbak Anin deh selalu begini, mendingan uang ini buat mbak Anin tabung. Kenapa dikasih ke aku sih" ujar Zulfa tida enak hati karna Anin begitu baik padanya. Dia selalu memberikan Zulfa sesuatu dan tidak tentu apapun itu kalau punya uang lebih.


"Uangku sudah banhak, yang ini untuk kamu. Jangan ditolak nanti aku marah loh dan gak mau pesan roti lagi sama kamu" ancam Anin dan berhasil membuat Zulfa mau gak mau menerima pemberiannya. Amplop tersebut langsung dimasukkan Zulfa ke dalam tasnya.


"Makasih mbak Anin." ucap Zulfa tersenyum manis.


"Iya sama-sama, kalai gitu mbak balik dulu ya. Mereka pasti sudah menunggu pesanannya." jawab Anin.


"Iya mbak" setelah mendengar jawaban dari Zulfa, Anin langsung pergi dari sana.


"Eeh bentar kak, aku mau ke toilet dulu. Kak Verko tunggu dulu disini ya, gak lama kok sebentar saja. Toiletnya ada disana gak jauh" ucap Zulfa sambil menunjuk ke arah toilet.


"Iya aku tunggu disini" jawab Verko lalu duduk dikursi ada disana.


Zulfa pun bergegas ke toilet agar Verko tidak menunggunya terlalu lama. Sepeninggal Zulfa, Verko hanya diam duduk dikursi sambil menunggu Zulfa kembali. Dari arah sampingnya, ada Daniel yang lewat dan tak sengaja mereka beradu tatap. Verko langsung menunduk, karena dia melihat Daniel seperti orang yang mempunyai kedudukan tinggi. Dalam hatinya Verko membatin kalai yang ada didepannya adalah pimpinan perusahaan.


Berbeda dengan Daniek yang merasa aneh melihat Verko. Ia sampai mematung ditempat lalu mendekati Verko secara perlahan. Dilihatnya tampilan Verko dari bawah sampai atas. Ada sesuatu yang dipikiran Daniel setelah melihat Verko.


"Kamu siapa? Karyawan baru disini?" tanya Daniel dingin.


"Ti-tidak tuan, saya bukan karyawan disini. Saya cuma nganterin pesanan saja" jawab Verko terbata-bata karna takut melihat tatapan Daniel seperti mengintrogasinya.

__ADS_1


'Kok aku ngerasa dia hampir mirip dengan tuan muda. Tapi......Aah mana mungkin, tuan muda kan sudah meninggal. Mana bisa bangkit lagi. Lagian penampilannya jauh berbeda dengan tuan muda. Style nya bukan tuan muda banget dan tuan muda bukan orang yang gagap' batin Daniel dalam hati sambil menatap Verko penuh tanda tanya, dia mengira kalau Verko gagap. Padahal aslinya juga Verko nerfes melihat tatapan Daniel.


"Maaf tuan Daniel, dia teman saya"


__ADS_2