Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
92 #Kacau


__ADS_3

"Iya, aku memang pernah mendapat pesan ancaman. Memang siapa yang ingin berniat jahat kepadaku?" tanya Zulfa.


"Tanya sama suamimu!" jawab Arganta singkat. Sekarang semua mata tertuju pada Arshana, mereka menunggu jawaban terutama Zulfa.


"Mas? Siapa?" tanya Zulfa.


"Firsi dan Denis!" jawab Arshana membuat Zulfa tertegun mendengarnya.


"APA?" sentak Yolanda tak habis pikir dengan Firsi yang masih saja nekat untuk mencelakai Zulfa.


"Kamu pasti tau Denis kan? Mereka berdua bersengkongkol! Dan Maira masuk rumah sakit karna Denis hampir memperkosanya. Beruntungnya ada Arganta yang datang tepat waktu!" jelas Arshana.


Seketika Zulfa menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dia sangat terkejut mendengar sahabatnya hampit diperkosa oleh mantan pacarnya sendiri. Zulfa tau kalau Denis masih mengejar Maira dan bisa dikatakan terobsesi, bukan lagi cinta. Maira juga sering bercerita kalau Denis selalu menemuinya dan minta balikan. Namun tidak digubris oleh Maira. Bisa saja dari situ Denis mempunyai rencana untuk mendapatkan Maira dengan cara yang salah.


"Maira mengalami trauma berat! Sekarang dia masih berada dirumah sakit, keadaannya sudah membaik. Cuma belum boleh pulang!" sahut Arganta.


"Terus kalian gak lapor ke polisi?" tanya Yolanda.


"Gak! Untuk apa melaporkan mereka ke polisi? Mereka gak akan jera kalau hanya ditahan dalam sel!" sela Arshana.


"Harusnya kalian laporkan ke polisi biar ditangkap! Bukan malah membiarkan mereka berkeliaran!" ucapnya lagi tak suka dengan jawaban Arshana.


"Mana bisa mereka berkeliaran diluar, Ma! Kalau mereka keluar artinya cari m*ti! Tau video mereka itu yang lagi viral? Yang ada diamuk massa lah!" ujar Arshana.


"Kerjaan kalian kan?" ucap Kakek Abhi bersuara, mendengar dari jawaban Arshana sudah bisa ditebak kalau semua itu ulah kedua cucunya.


"Kalau iya kenapa, Kek? Mereka pantas kok mendapat itu semua!" timpal Arganta dengan entengnya menjawab begitu.


"Jadi semua ini ulah kalian? Video itu asli?" tanya Yolanda menyelidik.


"Jelas asli lah, Ma! Ngapain pakai video palsu hanya untuk membalas mereka! Video itu real bukan rekayasa!" tekan Arshana diakhir kalimatnya.


Zulfa kembali dibuat kaget dengan jawaban suaminya. Yang awalnya dia berharap bahwa video itu bukanlah Firsi, sekarang malah ditampar dengan kenyataan kalau suaminya sendiri yang menyebarkan video tersebut. Bagaimana bisa? Zulfa pun tidak tau gimana caranya Arshana mendapatkan video itu.


"Dari mana kalian mendapatkan video gak senonoh itu? Lalu menyebarkan ke media sosial!"


"Apasih yang gak bisa bagi kami! Mudah saja! Tinggal masang kamera diapartemen mereka, bereskan!" jawab Arganta tanpa takut orang tuanya marah.

__ADS_1


"Kalian sudah gila! Bisa-bisanya melakukan itu! Kenapa kalian berbuat hal nekad!" marah Yolanda.


"Maaf, Ma! Sudah seharusnya Mama tau rahasia yang selama ini kami sembunyikan." Arshana menarik nafas panjang sebelum akhirnya menceritakan semuanya.


Arshana mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan menunjukkan kepada Yolanda dan Zulfa. Mereka tampak kebingungan sambil menerima sebuah kartu mirip ID Card. Berukuran lebih besar dari KTP. Yolanda dan Zulfa membaca dengan seksama. Diakhir bacaan bagian bawah sendiri terdapat nama Arshana Abhimarta. Jelas sekali! Yolanda menepis semua dugaannya dengan yang dia baca didalam kartu tersebut.


Kartu yang berisikan lambang tengkorak dengan mahkota berwarna hitam. Juga sejejeran lambang bintang sebanyak lima dan nama yang tertera (Ketua Mafia King Black) ditambah terdapat nama Arshana Abhimarya disana.


"Maksudnya apa Arshana?" ucap Yolanda bingung.


"Sesuai yang ada didalam kartu tersebut! Bukankah sudah jelas?" jawab Arshana.


"Mas.......Kamu melakukan pekerjaan ini? Aku paham bagaimana pekerjaan seorang mafia! Mereka dikenal sosok yang kejam, suka seenaknya, dan......" Zulfa tak kuasa mengucapkan kalimat terakhirnya.


"Maafkan kami! Semua itu sudah berjalan sejak Arganta belum datang kerumah ini! Arganta masih menjadi Daniel! Sebelum aku kecelakaan pun semua itu sudah aku jalani bersama Arganta. Bahkan saat pertama kali Arganta dulu menjadi asistenku!" mereka kembali dibuat kaget dengan penjelasan Arshana.


Lama sekali! Ya itulah yang ada dalam benak Yolanda. Sudah lama tapi dia bahkan tidak tau, berbeda dengan Felix dan Kakek Abhi yang sudah tau duluan. Mereka tampak biasa saja tanpa respon apapun.


"Sudah lama dan kalian baru menjelaskan ini semua pada kami?"


"Jadi kamu sudah tau, Mas? Dan gak bilang sama aku? Kalian anggap aku ini apa!" sentak Yolanda menangis.


"Ma jangan nangis, kami minta maaf!" ujar Arganta tak suka melihat sang mama mennagis karnanya.


Arganta beralih duduk disamping Yolanda hendak memeluknya, namun ditepis oleh Yolanda. Arganta pun tertunduk lesu.


"Pertanyaanku hanya satu mas! Kalian sudah membunuh orang berapa kali?" sesak rasanya bagi Zulfa untuk menanyakan hal itu. Tapi harus dia dia tanyakan, mau lari dari kenyataan pun tidak bisa.


"Aku gak pernah membunuh orang!" jawab Arshana, memang benar itu kenyataannya.


Zulfa mencari kebohongan dari sorot mata suaminya, namun tidak dia temukan. Arshana berkata jujur kali ini. Tapi Zulfa masih tidak yakin dengan jawaban suaminya.


"Kak Arshana gak pernah membunuh siapapun! Akulah yang melakukannya!" sahut Arganta yang berada tepat disamping Yolanda.


Mereka semua langsung memandang pada Arganta. Terutama Felix dan Kakek Abhi yang gak pernah mendapat penjelasan soal itu. Merka hanya tau kalau Arshana dan Arganta punya pekerjaan lain diluar perusahaan.


"Siapa Arganta? Siapa! Kamu gak pernah cerita tentang hal itu kepada papa!" ujar Felix dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Pa jangan salahkan Arganta! Dengarkan dulu penjelasan kami!" sahut Arshana tak suka kalau melihat Arganta dipojokkan oleh semua orang.


"Kenapa? Kalian sama-sama salah dan kamu Arganta! Papa tau, kami tidak ikut membesarkanmu dan merawatmu. Tapi kenapa kamu rela menghilangkan nyawa orang lain! Salah apa mereka sama kamu?" tanya Felix.


"Salah besar, Pa! Mereka sudah membunuh orang tua angkatku didepan mataku sendiri dengan sadis! Mereka gak ada belas kasihan sama sekali denganku! Papa tau, aku harus bertahan hidup sejak mereka meninggal! Hanya pembantuku yang merawat tapi itu pun tidak lama! Papa gak akan pernah merasakan apa yang aku rasakan! Apa salah kalau aku hanya ingin membalas perbuatan keji mereka? Dan saat aku bertemu dengan kak Arshan, dialah yang membantuku untuk membalas perbuatan mereka. Mereka bisa hidup senang dan enak setelah menghabisi nyawa orang tua yang sudah memberi kasih sayang padaku! Bayangkan saja, anak yang masih dibawah umur harus melihat kejadian tragis orang tuanya sendiri! Aku memang menghabisi mereka samua dengan tanganku sendiri! Dan juga keluarganya ku buat menderita! Hanya dengan itu aku bisa puas!" papar Arganta panjang lebar.


Sesak rasanya jika harus mengingat kejadian lama. Menurutnya tak bisa dimaafkan sampai Arganta menjelaskan sambil dadanya naik turun. Keringat dingin mengucur dipelipis Arganta. Dia selama ini berusaha untuk melupakan kejadian kelam tersebut, tapi tidak bisa. Arshana tau apa yang akan dilakukan adiknya jika sudah begini. Trauma itu tidak benar-benar hilang.


Mereka semua terdiam mendengar penjelasan Arganta. Tak ada suara yang keluar sedikit pun. Arganta yang merasa tak tahan langsung berlari ke kamarnya dan mengunci pintu dari dalam. Sedangkan Arshana langsung mengekor dari belakang sambil berlari juga. Dia sangat khawatir dengan keadaan Arganta.


'Apa yang akan kau lakukan lagi Arganta!'


"Arganta buka pintunya! Jangan melakukan hal nekad! Arganta buka!" panggil Arshana sambil menggedor pintu kamar Arganta, tapi tidak ada sahutan.


Mereka yang ada diruang tamu menatap bingung pada Arshana. Tapi tak ada satupun yang berdiri untuk mengikuti langkah Arshana. Mereka masih bergelayut dengan pikiran masing-masing.


Sementara didepan kamar Arganta, Arshana masih berusaha untuk membuka pintu kamar Arganta. Arshana mendengar sesuatu benda pecah didalam sana. Makin khawatir saja dia. Tak ada cara lain selain mendobrak pintu kamar adiknya.


Arshana menendang pintu kamar dengan keras sampai jebol. Pintu terbuka, Arshana segera masuk dan mendapati banyak pecahan kaca yang berserakan, barang berantakan, dan sprei yang acak-acakan. Matanya tertuju pada Arganta yang duduk memojok disamping ranjang dengan tangan yang sudah berdarah. Ditangan kiri Arganta sudah memegang pecahan kaca berukuran sedang. Arshana berlari mendekatinya.


"Taruh Arganta! Tolong lah taruh!" pintah Arshana. Dia berjalan makin mendekat kearah Arganta dan mengambil pecahan kaca tersebut dari tangan adiknya secara perlahan. Lalu dia peluk dengan erat untuk menyalurkan rasa nyaman. Arshana sudah menyayangi Arganta sejak dulu, ikatan batin mereka sangat kuat.


"Loh ngapain sih, Ga! Masih ada gue, kenapa harus melakukan ini lagi! Loh gak nganggap gue kakak loh! Tenanglah......Jangan diingat! Loh harus lawan ketakutan yang ada dalam diri loh! Tenanglah!" ucap Arshana berusaha menenangkan Arganta.


Arshana beralih ketangan Arganta yang terus mengucurkan darah segar. Lalu dia berteriak memanggil pelayan untuk mengambilkan kotak P3K.


"Bibi! Bibi!" teriak Arshana.


Lalu beberapa ART datang terutama Bi Tarmi. Mereka sangat terkejut mendapati kamar Tuan mudanya sudah berantakan dan makin dibuat kaget melihat tangan Arganta yang mengeluarkan darah.


"Tuan muda kenapa?" tanya Bi Tarmi.


"Ambil kotak P3K, cepetan!" titah Arshana yang langsung dikerjakan oleh Bi Tarmi.


Sedangkan mereka yang ada diruang tamu tadi langsung menghampiri kamar Arganta saat mendengar suara teriakan Arshana. Mereka yang tadinya marah jadi khawatir. Dan benar saja saat sampai didepan kamar Arganta. Mereka dibuat terkejut dengan kondisi kamar yang sudah berantakan dan Arshana yang sedang menenangkan Arganta.


"Arganta, kamu kenapa?" Yolanda ingin mendekati Arganta namun dicegah oleh Arshana.

__ADS_1


__ADS_2