
"Maaf tuan Daniel, dia teman saya" sahut Zulfa dari belakang, dia baru saja keluar dari toilet dan gak sengaja melihat Verko yang sedang ditanya-tanya oleh Daniel.
Mendengar seseorang yang bersuara, Daniel pun menoleh ke samping dan ternyata ada Zulfa disana. Entah sejak kapan Zulfa sudah ada disana. "Ohh dia temanmu, ya sudah." ujar Daniel biasa saja lalu pergi berjalan meninggalkan Zulfa dan Verko.
"Jangan takut, dia itu tuan Daniel asistennya tuan presdir Arshana. Orangnya memang agak galak sih, cuek juga. Sejak tuan presdir Arshan meninggal." ucap Zulfa kepada Verko.
Verko pun tersenyum dan mengangguk mendengar ucapan Zulfa. Tanpa mereka sadari ternyata Daniel masih mendengarkan ucapan Zulfa tadi dan sempat menoleh, melihat ke arah Zulfa dan Verko.
"Tuan muda Arshan tidak punya lesung pipi, aahh Daniel......Daniel.....Memang dia bukan tuan muda Arshan. Ngaco banget sih!! Sudah lah pekerjaanku masih banyak" gumam Daniel lalu pergi dari sana.
"Ayo balik, pasti bu Aida dan mbak Cherly sudah nungguin." ajak Zulfa, lalu mereka pergi keluar menuju parkiran sepeda.
Sebelum Zulfa naik ke atas motor, dia mengambil amplop putih yang tadi diberikan Anin kepadanya. Lalu diambil separuhnya oleh Zulfa dan diberikan kepada Verko.
"Apa ini Fa? Kenapa kamu kasih ke aku? Mendingan kamu tabung saja untuk tambahan biaya kuliah kamu" tolak Verko halus.
"Aku kuliah tuh dapat beasiswa, jadi gak ada biaya apapun. Kalau untuk kebutuhan sehari-hari dari gaji bekerja ditoko sudah cukup. Jadi ini buat kamu saja kak, lagian juga gak semuanya. Berbagi itukan indah" ucap Zulfa lalu mengambik tangan kanan Verko dan memberikan uang tersebut.
"Dah ambil saja kak, pasti kamu juga lagi butuh. Ditabung juga bisakan, jangan menolak rezeki" ujar Zulfa naik ke atas motor, sementara Verko terbengong sejenak.
__ADS_1
Sadar kalau Zulfa sudah naik diatas motor, Verko pun lantas tersenyum dan berterima kasih dengan Zulfa. "Makasih Fa" Zulfa hanya tersenyum dan mengangguk. Setelah itu ia kantongi uang tersebut dan motor pun melesat menembus jalanan yang dipenuhi padatnya kendaraan.
🍀
🍀
🍀
Dimarkas King Black, Marlin baru saja tiba dari misinya mencari tau identitas musuh yang sudah membuat kemarahan Daniel memuncak. Ia berhasil meretas semua seluk beluk tentang Handian Dharvanta bahkan tentang keluarga dan cela untuk bisa mengambil data-data perusahaannya. Tapi hal itu belum dilakukan oleh Marlin, sebab dia masih menunggu perintah dari Daniel. Ia tidak mau gegabah, walau tangannya sudah geram dan ingin sekali menghancurkan musuhnya.
Tak lama setelah Marlin tiba dimarkas, ternyata Daniel juga datang. Dia ingin sekali melihat perkembangan informasi sejuah mana yang didapat oleh Marlin. Setelah itu Daniel akan melancarkan rencana yang sudah dia susun serapi mungkin agar nantinya semua berjalan dengan baik tanpa dicurigai oleh Handian dan cecunguknya alias anak buah Handian.
Setibanya diruangan, Daniel langsung duduk dikursi kebesarannya dan bersandar sebentar. "Sejauh mana yang kau dapat Marlin? Jangan mengecewakan aku" ucap Daniel.
"Hmm bagus........Jangan buat dia hancur secara langsung, tapi lakukan secara perlahan. Agar dia bisa merasakan penderitaan yang luar biasa. Jalankan sesuai rencana dan jangan retas data perusahaannya dulu. Aku akan menjalankan peran sekarang. Siapapun yang berani bermain-main denganku akan habis!!" jawab Daniel tersenyum miring.
"Oke, aku akan kerjakan sesuai yang kau minta. Rasanya gak enak juga kalau langsung menghabisinya. Terlihat sangat mudah sekali" ujar Marlin.
"Memang mudah untuk menghabisinya secara langsung. Tapi yangku mau dia bisa melihat orang-orang tersayangnya juga m*ti. Merenggut apa yang dia punya akanku renggut satu per satu sampai semuanya habis, baru aku akan merenggut nyawanya. Sudah lama senjataku tidak beraksi, tunggu sebentar dan kamu akan mendapat santapan manis" ucap Daniel memainkan pistol yang biasa dia gunakan untuk melumpuhkan musuhnya. Sudah lama Daniel tidak bermian-main dengan yang berbau darah.
__ADS_1
"Aku suka dengan gayamu. Jadi tetaplah seperti ini, Daniel yang kejam dan tak punya belas kasih" ujar Marlin tersenyum sumringah melihat Daniel yang dulu bisa dia lihat lagi sekarang.
"Aku tetap sama, hanya saja melihat kondisi dan situasi. Aku tidak akan menyakiti orang yang tidak bersalah, tapi kalau dia menyenggolku maka konsekuensinya adalah membalas dan mematikannya." Daniel kembali menaruh pistol yang dari tadi dipegangnya ke tempat semula. Diruangan tersebut ada lemari kaca berukuran sedang yang berisi senjata berapi dengan berbagai macam jenis. Dari mulai yang terkecil sampai yang besar ada disana. Dan diruangan itu pula ada tempat rahasia lain, tempat untuk menyimpan senjata-senjata langkah yang jarang digunakan karna senjata itu dibuat khusus.
Tidak ada yang boleh masuk ke dalam ruangan tersebut selain Daniel dan Marlin. Ruangan itu juga adalah tempat pribadi Daniel. Kalau pun Marlin ingin masuk ke dalam sana pasti akan meminta persetujuan Daniel terlebih dahulu. Kuncinya pun dipegang oleh Daniel sendiri. Didepan pintu ada yang menjaga dua orang secara bergantian. Agar tidak ada siapapun yang bisa masuk. Pintunya dirancang khusus sehingga keluar masuk tidak mudah. Ada kunci, kata sandi, bahkan kartu akses.
"Lalu sekarang kau mau kemana?" tanya Marlin saat melihat Daniel hendak melangkahkan kaki pergi.
"Cari angin keluar, kenapa? Mau ikut?" balas Daniel balik bertanya.
"Enggak, males. Mendingan gue disini latihan. Tugasku belum selesai, gue gak mau menumpuk-numpuk. Kalau emang loh mau pergi, ya sudah pergi saja sana sendiri" ujar Marlin terdengar kesal saat berbicara, intonasinya terdengar berubah.
"Kenapa? Kok wajahmu terlihat kesal begitu. Emang gue ada salah? Perasaan baru juga tadi ngobrol kenapa bisa berubah secepat itu kata-kata loh" sarkas Daniel merasa aneh dengan Marlin.
"Gak bisa apa ya, loh itu bertahan sebentar dimarkas. Gak usah pergi-pergi terus, loh sudah lama gak kesini. Tapi sekalinya kembali malah hanya sebentar lalu pergi." Marlin merasa kesal kepada Daniel karna dia datang hanya saat ada masalah saja. Selama ini Marlin yang menjaga markas dan mengatur jalannya kegiatan. Marlin sudah setia dengan Daniel sejak dulu. Bahkan mereka sudah dikatakan sahabat sebelum Daniel menjadi ketua mafia King Black dan sebelum bekerja dengan Arshan.
Marlin sudah tau semua tentang Daniel dan keluarganya. Bagaimana dulunya Daniel yang harus berjuang dengan kehidupannya yang sangat miris. Hingga dia bisa bertemu dengan Arshan dan bekerja sebagai asisten Arshana.
"Gue juga butuh hiburan gak bersendekal disini doang. Kerjaan dikantor juga masih banyak. Jadi tolong pahami gue, oke! Kalau loh pengen keluar, ya sudah tinggal keluar cari hiburan apa kek gitu. Jangan diam disini, otak itu juga butuh istirahat. Jangan dibuat mikir terus, lama-lama akan pening. Seperti mesin yang digunakan terus-menerus tanpa henti pasti akan rusak" kata Daniel tanpa marah sedikit pun mendengar omelan Marlin.
__ADS_1
"Huufh, oke. Gue ikut loh deh kalau gitu." balas Marlin langsung nyelonong keluar begitu meninggalkan Daniel seorang.
Daniel pun ikut keluar setelah Marlin pergi. Tak lupa dia mengunci semua akses agar tak ada siapapun yang bisa masuk ke dalam ruangannya. Tak lupa depan pintu selalu ada yang menjaganya.