Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
37 #Aku Cinta Kamu


__ADS_3

Verko sudah kembali ke toko sambil menenteng kantong plastik yang berisi minuman. Dia membeli agar tak dicurigai oleh Zulfa kalau bertemu dengan Maira. Satu diberikan kepada bu Aida dan satunya lagi diberikan kepada Zulfa. Tadi Verko beli tiga minuman. Zulfa tak menolak, hanya saja sikapnya yang cuek.


"Zulfa...." panggil Verko. Zulfa pun menoleh dengan tapapan malas.


"Ya ada apa kak?" tanya Zulfa.


"Nanti aku mau ngajak kamu keluar, mau gak? Bentar saja, gak lama kok. Ada yang ingin aku katakan sama kamu, penting" ucap Verko dan Zulfa tampak berpikir sejenak.


"Baiklah..." Zulfa tidak menolak karna tadi Verko mengatakan hal penting. Zulfa penasaran sepenting apa yang akan disampaikan oleh Verko. Lalu Zulfa pergi begitu saja, membuat Verko bersedih. Tapi disisi lain dia juga senang karna Zulfa mau diajak keluar.


Tepat saat mereka sudah waktunya pulang. Verko membawa Zulfa naik motornya mengelilingi hiru pikuk kota. Malam ini adalah malam yang indah dan penuh kesenangan bagi Verko. Tak henti-hentinya Verko terus tersenyum dibalik helm yang dia pakai tanpa disadari oleh Zulfa.


Hingga motor yang dikendarai Verko sampai didepan taman. Zulfa tak banyak bicara, dia hanya mengikuti saja. Verko mengajaknya duduk dibangku kosong yang tak jauh dari tempat mereka memarkirkan motor.


"Langsung ke intinya saja kak, aku males basa basi. Ini juga sudah malem" ucap Zulfa tanpa menoleh ke arah Verko. Tatapannya lutus ke depan.


Verko menghela nafas panjang melihat sikap Zulfa yang sangat cuek. "Sikapmu itu mengingatkan aku dengan seseorang. Dia juga cuek seperti kamu dan......."


"Bisa gak langsung saja ke intinya gak perlu basa basi, aku sudah bilang kan tadi. Apa kamu gak bisa dengar!!" sahut Zulfa dengan nada yang sedikit tegas.


Verko yang mendengar perkataan Zulfa langsung terdiam. Niatnya tidak langsung berbicara kepada niatnya. Tapi karna melihat Zulfa yang marah, akhirnya Verko to the point. Ia jadi ragu kalau Zulfa menyukainya. Melihat dari sikap Zulfa yang sangat menunjukkan ketidaksukaan. Beberapa detik suasana jadi hening. Yang tadinya nyali Verko yakin, sekarang malah menciut gara-gara bentakan Zulfa tadi.


"Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi, aku mau pulang. Nyesel aku tadi ikut kesini" ujar Zulfa lalu berdiri hendak meninggalkan Verko yang masih terdiam.


Dengan cepat Verko menahan tangan Zulfa agar tidak pergi. "Jangan pergi Fa, aku mengajakmu kesini karna ingin mengatakan apa yang selama ini aku rasakan. Seperti yang kamu rasakan dihatimu." Zulfa terdiam mencerna perkataan Verko barusan.

__ADS_1


"Maksudmu apa?" tanya Zulfa menatap ke arah Verko penuh tanda tanya.


"Aku cinta sama kamu Zulfa, maafkan aku yang baru bisa mengutarakan ini dan tidak menyadari perasaanmu padaku" ucap Verko membuat Zulfa membulatkan mata karna terkejut.


Zulfa terdiam karna keterkejutannya. Sampai Verko berkata lagi. "Sebenarnya aku sudah suka sama kamu sebelum Rey menyatakan perasaannya juga. Tapi aku selalu minder kalau mau mengungkapkan langsung kepadamu. Aku sadar diri Fa, masih banyak lelaki yang pasti mau denganmu seperti Rey. Dia orang kaya, tampan, baik dan pastinya dia sangat mencintai kamu" jelas Verko.


Zulfa yang tadi cuek langsung luluh mendengar ungkapan dari Verko. Ia jadi merasa bersalah telah menjauhi Verko selama ini. Harusnya dia sendiri juga paham tentang perasaan Verko padanya. Dari tatapan mata Verko sudah menunjukkan kalau memang dia serius dengan ucapannya. Zulfa menyerka air mata yang hampir menetes agar tidak diketahuk oleh Verko.


"Aku minta maaf kak. Aku gak tau kalau kamu juga menyimpan perasaan yang sama denganku. Aku kira selama ini kamu hanya memberi harapan untukku. Mangkanya aku selalu menjauhimu, aku gak mau menjadi penghalang antara kakak dengan perempuan yang direstoran tempo hari" ucap Zulfa membuat Verko mengernyitkan dahi, ia memikirkan apa yang barusan dimaksud oleh Zulfa.


"Restoran mana yang kamu maksud Fa?" tanya Verko terlihat bingung.


"Restoran yang jaraknya gak jauh dari perusahaan Abhimarta ada diseberang jalan." kata Zulfa.


Verko mengingat kembali terakhir kali dia kesana dengan siapa. Kenapa bisa Zulfa mengatakan seorang perempuan. Yang pasti dirinya kerestoran itu bersama perempuan yang dimaksud eh Zulfa. Dan barulah Verko mengingat sesuatu.


Pada akhirnya Zulfa tau siapa perempuan yang ada direstoran bersama Verko tempo hari. Dia kira Delli itu adalah pacarnya Verko, tapi prasangkanya salah. Zulfa jadi malu sendiri karna sudah berprasangka buruk.


"Gitu ya, aku kira pacar kamu" ujar Zulfa menunduk.


"Gaklah. Na sekarang kamu sudah tau kan siapa yang ada dalam hatiku. Dan aku juga tau ternyata yang ada dihati kamu itu hanya aku. Benarkan?"


"Hah? Jadi kamu tau kalau aku......"


"Taulah, maaf ya aku baru menyadari itu." ucap Verko tersenyum ke arah Zulfa.

__ADS_1


"Gak pa-pa kak, aku senang karna cintaku bisa terbalas juga. Maaf atas sikapku selama ini yang sering menyakiti hatimu" ucap Zulfa sangat menyesali perbuatannya yang bisa saja menyakiti perasaan Verko. Apalagi tadi dia sempat berkata dengan nada tinggi.


"Sudah lupain saja, aku gak mempermasalahkan itu. Kamu mau gak menikah sama aku" Zulfa langsung terbelalak mendengar Verko ingin menjadikannya istri. Zulfa ta berpikir sampai sejauh itu dan gak mengarah kesana juga. Tadinya Zulfa mengira kalau Verko akan memintanya untuk jadi pacar. Ternyata dugaan Zulfa salah.


"Menikah?.." balas Zulfa terkejut.


"Iya, Zulfa jujur nih. Sebenarnya aku gak suka dengan pacaran gitu. Prinsipku kalau memang sudah saling cocok dan mencintai buat apa menunggu lama dengan hubungan yang tidak pasti. Aku mencari istri bukan pacar, aku tau kalau kamu pasti terkejut dengan perkataanku tadi. Aku harap kamu bersedia tanpa harus berpacaran, karna aku tidak suka. Nanti ujung-ujungnya hanya hubungan tanpa kejelasan" mendengar perkataan Verko panjang lebar membuat Zulfa terharu. Prinsip Verko dengannya sama, tidak mau mengulur waktu dengan hubungan yang tidak jelas.


"Aku mau kak, aku mau menikah denganmu" senangnya Verko bukan main mendengar Zulfa mau menikah dengannya.


"Kamu serius?" mata Verko sangat bebinar mendengar jawaban dari Zulfa.


"Iya, tapi....Apa kamu mau menungguku sampai selesai skripsi. Karna aku kuliah dengan beasiswa dan syaratnya tidak boleh menikah dulu sampai lulus nanti. Tinggal bentar lagi kok, sekitar satu bulan. Bagaimana?" Zulfa berkata apa adanya karna itulah syarat dari kampusnya.


"Iya gak pa-pa aku akan menunggu kamu sampai lulus nanti. Toh juga gak lama kan, jadi kapan aku bisa ke rumahmu untuk meminta restu?" tanya Verko.


"Besok juga boleh kalau kamu gak sibuk. Biar nanti aku katakan sama papa kalau kamu mau datang ke rumah. Bagaimana? Apa lusa saja soalnya aku belum pulang juga. Malam ini kan aku dimasih diasrama"


"Ya sudah lusa saja aku ke rumah kamu. Sekali lagi makasih sudah mau menerima aku apa adanya, jarang aku temui perempuan seperti kamu. Karna selama ini aku hanya menjumpai orang-orang yang jahat, memandang dengan harta dan penampilan"


"Sama-sama, aku malah gak suka dengan orang yang selalu memamerkan kekayaannya. Merekan itu orang-orang yang gila harta. Tanpa memandang ke bawah"


"Iya kamu benar. Eh ini sudah malam aku antar kamu pulang ya" ucap Verko.


"Iya sudah ayo" mereka pun memutuskan untuk pulang karna hari sudah semakin larut. Besok Zulfa harus kembali beraktivitas dan menyiapkan mentak untuk mengatakan kepada sang ayah.

__ADS_1


Jawaban dari ayahnya sangat membuat Zulfa senam jantung. Takutnya Devon tidak menerima Verko nanti dan malah meminta Zulfa untuk menjauhinya. Tak bisa Zulfa bayangkan kalau semua itu terjadi. Ia aka berpikir positif untik sekarang. Diahanya bisa berdoa agar ayahnya mau menerima Verko.


__ADS_2