
Sejak Zulfa curhat dengan Maira, membuatnya canggung untuk bertatap langsung dengan Verko. Perasaannya yang semakin besar membuat Zulfa tidak bisa fokus dalam bekerja. Skripsinya pun jadi kacau hanya gara-gara kepikiran Verko terus. Zulfa jadi banyak menghindar kalau bersitatap dengan Verko. Bahkan ia tak mau lagi mengantarkan pesanan bareng Verko. Selalu menolak dengan berbagai alasan.
Verko menyadari ada yang aneh dengan sikap Zulfa akhir-akhir ini. Ia merasa Zulfa seperti menghindarinya. Yang biasanya suka bercanda dan akrab, sekarang malah jauh berbanding terbalik. Verko jadi merasa curiga dengan sikap Zulfa yang tiba-tiba berubah tanpa sebab.
Bu Aida pun juga menyadari hal itu. Namun dia tak banyak bertanya dan memilih diam, agar tak mencampuri urusan orang lain. Walau dalam hatinya bertanya-tanya alasan sikap Zulfa berubah kepada Verko. Hanya dalam hati dan tak berniat mengucapkannya secara langsung.
Sampai dimana kesempatan untuk berbicara dengan Zulfa ada didepan mata. Verko tak menyia-nyiakam kesempatan itu untuk bertanya secara langsung kepada Zulfa. Agar semuanya jelas dan kalau pun dirinya ada salah agar bisa meminta maaf sekaligus memperbaikinya.
"Zulfa....?" panggil Verko melihat Zulfa hendak keluar.
"Ada apa kak?" tanya Zulfa datar tanpa ekspresi.
"Nanti kamu ada waktu gak? Aku mau ngajak kamu keluar. Bentar saja kok gak lama, apa kamu mau?" tanya Verko berharap Zulfa mau menerima ajakannya.
Zulfa terlihat berpikir sejenak sebelum menjawab. "Baiklah, sebentar saja" Verko pun mengangguk senang mendengar Zulfa mau diajaknya keluar. Ini adalah kesempatan bagi Verko untuk bisa berbicara leluasa dengan Zulfa, terutama tentang alasan Zulfa menjauhinya.
Sampai jam tutup toko tiba, Zulfa membantu untuk membereskan semuanya. Lalu membantu menutup pintu toko dengan rapat agar tidak ada maling. Walau ditoko tersebut setiap malam ada yang menjaga, tetap saja harus dikunci dengan rapat. Setelah itu bu Aida pamit duluan untuk pulang yang diangguki oleh Verko dan Zulfa.
Verko langsung mengambil motornya yang masih kredit, dia beli agar bisa mempermudah aktivitasnya bekerja. Zulfa langsung naik diatas motor. Setelah itu, motor pun melaju dengan kecepmkolomatan sedang menembus hawa dingin dimalam hari.
Hingga sampai disebuah pasar malam yang sangat ramai. Zulfa mengernyit melihat itu, untuk apa Verko membawanya kesana. Pikirnya Zulfa begitu.
Dia pun langsung turun dibarengi dengan Verko yang ikut turun dari motor. Verko langsung mengajak Zulfa masuk ke dalam.
"Tunggu kak...." tahan Zulfa sebelum benar-benar masuk ke dalam.
__ADS_1
Verko pun menoleh. "Ada apa Fa?" tanya Verko, walau pun dia tau jawabannya yang sudah pasti Zulfa menpertanyakan makaudnya membawa ke pasar malam.
"Untuk apa kamu membawaku kesini kak?" dugaan Verko benar, hal itulah yang ditanyakan oleh Zulfa.
"Buat apalagi? Ya untuk bersenang-senang lah. Ini kan pasar malam, udah ah ayo" Verko langsung menarik tangan Zulfa masuk agar tak bertanya terus-terusan.
"Eeh tapi kak......." Zulfa ingin sekali protes, berbeda dengan hatinya yang merasa bahagia bisa dekat dengan Verko. Tidak bisa dipungkiri kalau memang Zulfa gak bisa menolak ajakan Verko. Ia malah senang dan tak terasa bibir itu terangkat mengukir senyum tanpa Verko sadari.
"Naik bianglala yuk? Mau gak?" ajak Verko.
"Terserah....." jawab Zulfa datar.
Verko hanya bisa menghembuskan nafas kasar mendengar jawaban Zulfa seperti tak berminat. Ia tetap membeli tiket untuk naik ke bianglala. Setelah itu, Verko menggandeng tangan Zulfa untuk naik ke bianglala tersebut.
"Bagus ya kalau dilihat dari sini" ujar Verko memecahkan suasana diantara mereka. Karna Zulfa dari tadi hanya diam saja tanpa berminat untuk membuka percakapan.
Verko tak putus asa untjk bisa membuat Zulfa meresponnya. Setelah selesai menaiki bianglala, Verko pergi ke tukang es cream. Ia membeli dua rasa, coklat dan vanilla. Satu diberikan kepada Zulfa dan satunya dia pegang sendiri. Zulfa tak menolaknya, ia tetap menerima es cream yang dibelikan oleh Verko. Lalu Verko mengajak Zulfa untuk mencari tempat duduk.
"Eh itu apa diwajahmu Fa?" ujar Verko.
"Apa? Emangnya ada apa?" tanya Zulfa takut.
Verko pun mendekat, tapi bukan mengambil sesuatu diwajah Zulfa melainkan malah mencolek pipi Zulfa dengan es creamnya. Membuat Zulfa langsung melotot tajam, ia kira ada apa-apa tapi malah Verko mengajaknya bercanda. Verko hanya tersenyum dan lari saat tau Zulfa ingin membalas. Sehingga mereka melakukan aksi kejar-kejaran seperti bocah.
Sampai Zulfa merasa lelah akhirnya dia berhenti sendiri dan memilih duduk. Wajahnya ditekuk masam, Verko pun menghampirinya, lalu duduk disamping Zulfa yang terlihat kelelahan.
__ADS_1
"Capek ya?" tanya Verko, lebih tepatnya bukan pertanyaan malah seperti ejekan.
"Sudah tau malah tanya" ketus Zulfa cemberut.
"Kamu kalau marah lucu ya, kalah kecil saja kalah. Kamu itu cantik kalau gak marah, tapi kalau marah pun malah melih cantik" goda Verko agar Zulfa tidak cemberur lagi. Dan benar setelah itu Zulfa tersenyum sambil mendorong tubuh Verko ke samping.
"Apaan sih, suka sekali menggoda orang." ujar Zulfa malu, ia memalingkan wajahnya ke arah lain sambil tersenyum.
"Kamu kenapa sih Fa?" tanya Verko tertuju ke pertanyaan yang selama ini berputar-putar diotaknya.
"Kenapa apanya?" tanya balik Zulfa.
"Sikap kamu, kenapa berubah ke aku? Emang aku ada salah sama kamu? Kamu bilang dong, agar aku bisa memperbaikinya" ucap Verko mulai serius dengan pembicaraannya.
Zulfa menunduk sejenak lalu menatap lutus ke depan. "Kamu gak ada salah kak" jawab Zulfa.
"Lalu kenapa kamu seperti menjauhi aku?" tanya lagi Verko.
"Aku gak menjauhi kamu kak, emang kamu ngerasanya begitu?" kini Zulfa berani menatap langsung ke arah Verko. Sehingga mereka saling beradu tatap, tapi tidak lama karna Zulfa langsung mengalihkan pandangannya lagi ke arah lain. Ia gak sanggup untuk menatap secara langsunh pada Verko. Jantungnya berdegup dengan kencang.
"Kamu beda Fa, lebih diam dan selalu menghindar kalau aku dekati. Emang semenjijikkan itu diriku Fa?" mendengar perkataan Verko, Zulfa langsung menoleh dan menggelengkan kepada.
"Enggak kak, bukan begitu" Zulfa jadi merasa serba salah. Ia tidak ada niat untuk menjauhi Verko. Zulfa hanya tidak mau terlalu berharap kepada orang yang belum tentu bisa dia miliki. Jadi dia lebih memilih menjaga jarak dengan Verko bukan berarti menjauhinya.
'Apa kamu tidak menyadari tentang perasaanku kak. Aku hanya gak mau terlalu berharap kepadamu yang belum tentu bisa aku miliki' batin Zulfa menunduk lesu.
__ADS_1
"Lalu apa Zulfa? Sikapmu membuat aku jadi merasa bersalah, aku jadi serba salah. Apalagi kita kerja disatu tempat yang sama. Kalau memang ada masalah bilang aja" ucap Verko bernada lembut membuat Zulfa gak tega untuk terus menjaga jarak.