Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
69 #Kejutan Menanti


__ADS_3

"Iya ma, aku sudah gak pa-pa," sahut Zulfa tersenyum manis.


"Mereka tuh jahat sekali sama kamu, bisa-bisa membuat putri mama celaka. Awas saja kalau ketemu, bakalan mama marahi mereka. Manusia seperti mereka pantasnya gak perlu hidup sekalian. Gak tau terima kasih, ibu sama anak sama saja. Sama-sama jahatnya!"


"Sudah ma, gak perlu diperpanjang. Aku sudah memaafkan mereka. Aku hanya berharap mereka bisa berubah dan bisa menerimaku."


"Manusia seperti mereka mana bisa berubah kalau gak merasakan kesakitan dulu. Kalau masih gak berubah juga, berarti memang hatinya saja busuk!. Kalau sudah busuk mana bisa berubah jadi bagus, ibarat buah kalau sudah busuk ya dibuang mana bisa dimakan," sahut Arshana saat mendengar ucapan istrinya.


"Bisa, kalau mereka mau. Buah kalau sudah busuk memang gak bisa dimakan mas, tapi bisa bermanfaat untuk tanaman. Didaur ulang menjadi pupuk, sama halnya dengan sayuran maupun bahan lain. Mungkin tidak bisa kembali bagus, namun disisi lain bisa bermanfaat bagi yang lain. Jangan kamu kira kalau sudah busuk tidak ada manfaatnya. Malah lebih bermanfaat dan bisa menghasilkan berbagai macam tanaman yang indah. Kalau misal kotor tinggal dicuci biar bersih." pemikiran Zulfa begitu bijak sampai membuat mereka tertegun.


Yolanda menatap Zulfa terkagum, tutur katanya yang lembut dan hatinya pun baik. Tak ada rasa dendam sama sekali atau benci. Membuat Yolanda makin menyayangi Zulfa.


"Beruntung kamu mempunyai istri yang baik dan lembut seperti Zulfa. Contohlah sikap istrimu ini," ujar Yolanda menatap Zulfa bangga.


"Iya ma, tapi hati manusia berbeda-beda. Ada yang bisa menerima dengan lapang dan ada juga yang sulit untuk memaafkan atau pun menerima kenyataan. Jangan disamarataka," jawab Arshana lalu pergi ke kamar mandi.


Dring....Dring....


Suara ponsel berbunyi dari atas nakas. Membuat Zulfa menoleh dan meraih ponsel suaminya. Dia melihat nama kontak yang tertera. Membuat Zulfa melotot tajam.


Papa Mertua.


Tertera disana, Zulfa pun meminta Yolanda dan Arganta diam dulu agar bisa mengangkat telfon dari ayahnya. Mereka pun menurut dan diam sejenak.


"Iya pa ada apa?" tanya Zulfa.


📱"Kok kamu yang angkat Zulfa? Suamimu mana?"


"Mas Verko ada dikamar mandi pa. Ada apa?"


📱"Papa sudah sampai dirumah sakit, bentar lagi papa kesana."


Sontak Zulfa terkejut, ayahnya sudah ada dirumah sakit. Sementara Yolanda dan Arganta masih ada diruangannya. Bagaimana kalau nanti Devon tau? Bisa kacau semuanya.


"Kok papa kesini gak bilang sih."


📱"Kenapa harus bilang dulu, ya terserah papa dong. Sudah papa mau masuk dulu."


Devon mematikan telfonnya, sekarang Zulfa harus mengatakan kepada Yolanda dan Arganta agar segera pergi dari sana. Keburu ayahnya datang dan mengetahui semuanya.


"Aduh ma, papa sudah ada dirumah sakit. Dia ingin kesini sekarang. Bagaimana ini?" ucap Zulfa panik.

__ADS_1


"Ya ampun, kalau gitu kami pulang deh. Kamu cepat sembuh dan pulag kerumah. Mama pasti akan kangen sekali denganmu. Ayo Arganta kita pulang," ajak Yolanda buru-buru.


"Iya ma, hati-hati dijalan ya. Arga jangan ngebut kalau bawa mobil ya," kata Zulfa mencium tangan punggung tangan Yolanda.


"Tenang aja, aku gak bakalan ngebut kok." Arganta menyambar kunci mobil yang ada disamping, lalu bangkit untuk segera pergi.


"Nanti sampai sama suamimu, mama dan Arganta pulang dulu," pintanya.


"Baik ma," sebelum pergi Yolanda sempat mengecup kening Zulfa seperti putri kandungnya sendiri. Membuat hati Zulfa menghangat mendapatkan perlakuan baik dari mama mertuanya.


Setelah itu Yolanda dan Arganta buru-buru keluar agar tidak diketahui oleh Devon. Mereka memilih lewat jalan lain agar tidak berpapasan dengan ayah Zulfa. Sepeninggal Yolanda dan Arganta, Arshana keluar dari kamar mandi. Dia sudah tidak mendapati mama dan adiknya disana. Lantas ia mendekati ranjang Zulfa dan bertanya padanya.


"Mama sama Arganta kemana?" tanyanya.


"Sudah pulang barusan. Tadi papa nelfon katanya sudah ada dirumah sakit. Mangkanya mama dan Arganta buru-buru pulang."


Ceklek.


Tepat sekali, selesai Zulfa berbicara terdengar suara pintu terbuka. Memperlihatkan Devon yang masuk ke dalam ruangannya. Zulfa akhirnya bisa bernafas lega. Beruntung tadi Devon sempat menelfon dan memberi tau. Kalau tidak entah bagaimana nasibnya. Sudah pasti Devon akan terkejut melihat kehadiran Yolanda dan Arganta disana.


"Papa...."


"Nih papa bawakan buah untukmu, bagaimana keadaan kamu sekarang nak?" tanya Devon menaruh buah yang dibawa ke atas meja. Matanya sempat melihat ke arah box roti yang ada diatas meja juga. Terlihat masih baru.


"Tadi Brima pa yang kesini bawain itu. Tapi dia sudah pulang barusan. Harusnya papa istirahat saja dirumah gak perlu repot kesini. Kan ada aku yang jagain Zulfa," ucap Arshana.


"Papa pengen lihat keadaan Zulfa. Kamu sudah baikan nak?"


"Sudah, papa jangan terlalu memgkhawatirkan Zulfa. Besok palingan juga sudah pulang, mendingan papa istirahat saja dirumah. Benar apa kata mas Verko tadi," jawab Zulfa.


"Gak pa-pa, kamu kalau mau pulang pergi saja. Biar papa yang gantian jaga istrimu. Dari kemarin kan kamu sudah jagain Zulfa. Kamu pulang saja ganti baju. Kalau sudah kamu boleh kesini lagi," perintah Devon mihat Arshana yang dari semalam terus menjaga Zulfa. Apalagi belum sempat berganti pakaian.


"Hmm iya pa, bentar lagi Verko pulang. Aku tinggal bentar gak pa-pa kan sayang?" sebenarnya Arshana tidak mau jauh-jauh dari istrinya. Bisa saja dia minta Brima untuk membawakan pakaiannya kerumah sakit. Tapi nanti bakalan dicurigai oleh Devon.


"Iya mas, kamu pulang saja. Kan ada papa yang jagain aku," jawab Zulfa.


"Ya sudah aku pulang. Kalau perlu apa-apa kamu telfon aku saja. Nanti bisa sekalian aku bawakan kesini."


" Iya, lagian aku gak pengen apa-apa kok."


Arshana mengambil tasnya sekalian jaket. Setelah itu dia berpamitan dengan Devon dan Zulfa untuk pulang. Lalu dia pun keluar dari ruangan istrinya. Arshana sedikit berlari, barangkali Arganta dan Yolanda belum pulang. Tadi dia sempat menghubungi Arganta untuk menanyakan posisinya sskarang. Tetapi belum ada balasan juga. Akhirnya Arshana memilih untuk melihat dulu keparkiran.

__ADS_1


Sesampainya disana, Arshana masih melihat mobil Arganta yang terparkir. Dan tak lama Yolanda beserta Arganta masuk ke dalam mobil. Buru-buru Arshana mencegahnya agar tidak pergi duluan. Dia akan ikut pulang sekalian, nanti balik bisa minta Brima antarkan atau diantar sopir.


"Loh kenapa ada disini kak?" tanya Arganta kaget melihat Arshana yang tiba-tiba mengetuk kaca jendela mobilnya.


"Mau pulang bareng, cepat buka pintu mobilnya," pinta Arshana.


"Istrimu kau biarkan sendiri? Ngapain pulang?" sahut Yolanda yang berada disamping Arganta.


"Ada papa, lagian aku belum ganti baju dari semalam. Papa menyuruhku pulang, ya sudah aku turuti saja. Dari pada curiga," balas Arshana lalu masuk kekursi belakang.


Arganta pun menyalakan mesin mobil dan mulai menjalankannya sambil mereka mengobrol sepanjang jalan. Sesekali Yolanda bertanya tentang keseharian Arshana selama masih menjalankan misi. Arshana hanya menjawab apa adanya sesuai kenyataan yang ada.


...♡♡♡♡♡...


Seminggu pun berlalu dengan begitu cepat. Zulfa sudah keluar dari rumah sakit dan tidak ada cedera apapun. Kini dia sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Hari-harinya dilampui dengan kesenangan. Dia tidak merasa kesepian lagi, hadirnya Yolanda membuat Zulfa bisa merasakan kehadiran sosok ibu yang begitu tulus menyayanginya. Sehingga Zulfa merasa nyaman berada dimansion.


Pagi ini Arshana dan Arganta akan pergi ke perusahaan. Tetapi sebenarnya mereka punya tujuan lain. Hanya saja mereka menyembunyikan. Setelah sarapan bersama Arshana dan Arganta berpamitan untuk pergi. Zulfa mengantarkan kedepan, lalu memberikan tas suaminya. Dan Arshana membalas mengecup kening Zulfa.


"Hati-hati ya mas," ucap Zulfa sambil mengecup punggung tangan Arshana.


"Oke sayang," jawab Arshana lalu mengambil tas ditangan Zulfa.


Arshana masuk ke dalam mobil. Dia akan berangkat bersama Arganta menggunakan mobilnya. Karna mobil Arganta dibawa oleh Marlin. Zulfa melambaikan tangan saat mobil mulai keluar dari halaman, sampai mobil Arshana hilang dari pandangannya. Baru lah Zulfa masuk ke dalam rumah.


Diperjalanan Arshana kembali mengobrol dengan Arganta tentang rencana mereka pagi ini. Mereka akan pergi ke salah satu restoran yang sudah diboking oleh Marlin kemarin. Arshana akan bertemu dengan seseorang yang menjadi musuhnya.


Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh lima menit, mereka pun sampai direstoran yang terlihat mewah. Disana Marlin sudah menunggu bersama dengan Brima. Ada beberapa ajudannya yang juga ikut untuk mengawal Arshana.


"Bagaimana?" tanya Arshana dingin.


"Mereka belum sampai, kalian masuk saja duluan," balas Marlin.


"Hmm," Arshana dan Arganta langsung masuk ke dalam diikuti Brima dari belakang dan dua orang ajudan.


Mereka memesan ruang VIP yang khusus para tamu dengan kelas tinggi. Memang sengaja agar percakapan mereka tidak didengar oleh orang lain. Tempat restoran tersebut dipisah untuk tamu kelas atas dan sedang. Dan Arshana memboking ruang VIP untuknya, sehingga tidak diperbolehkan membuka tempat yang khusus tamu petinggi, harus dikosongkan. Entah rencana apa yang akan dilakukan Arshana nanti. Yang pasti tamu mereka sangat ditunggu-tunggu.


Diluar terlihat mobil hitam baru saja memasuki parkiran. Seorang pria memakai jas hitam dengan setelan yang senada baru saja keluar dari mobil. Diikuti oleh asistennya yang selalu setia menemani. Marlin yang sengaja menjaga diluar, langsung menghampiri mereka.


"Tuan Arganta sudah menunggu anda didalam," ucap Marlin.


"Oke," jawab Handian beserta asistennya Jery.

__ADS_1


Ya Arganta mengajak Handian untuk bertemu kembali. Awalnya Handian tidak mau, tetapi dia juga harus membicarakan soal perusahannya kembali yang sudah diambil alih oleh Arganta. Dia belum tau ada kejutan yang menantinya didalam.


__ADS_2