Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
89 #Rindu


__ADS_3

"Maafkan Mama, Firsi. Mama gak bisa berbuat apapun! Papamu itu kalau sudah begini gak bisa merubah keputusannya. Apalagi dengan keadaan marah! Kesalahanmu juga sangat fatal! Mama kecewa denganmu! Mendingan kamu pergi saja dari sini!" Elena sangat kecewa melihat tingkah Firsi. Awalnya memang masih dimaklumi oleh Elena. Namun kali ini tidak bisa lagi.


"Mama juga mengusirku?" Firsi tak percaya kalau Sang Mama tega mengusirnya.


"lya! Mama sudah capek dengan kamu. Apa kamu gak mikir dengan konsekuensinya? Kalau kamu berani berbuat harus berani bertanggung jawab!" kata Elena.


"Tapi Ma......"


"Gak ada tapi-tapian Firsi! Kemasi barangmu sekarang!" ujar Elena tanpa menoleh ke arah Firsi.


Dengan wajah lesu, Firsi naik kelantai atas menuju kamarnya. Didalam sana Firsi mengemasi semua barang, pakaian, dan yang lainnya. Semua dimasukkan kedalam koper. Lalu Firsi kembali turun dengan menenteng satu koper ditangannya.


Terlihat Elena duduk disofa tanpa melirik sedikit pun kepada Firsi. Sedangkan Devon? Dia entah kemana perginya tadi. Firsi berjalan perlahan keluar rumah sampai langkahnya berhenti diambang pintu gerbang. Disana dia melihat banyak ibu-ibu yang sedang mengghosib. Pasti tentang dirinya, Firsi kembali memakai tutup hoodienya dan masker. Selang beberapa saat datang sebuah taksi yang tadi dia pesan.


Entah kemana arah tujuannya sekarang. Firsi pun tidak tau, niat ingin kembali ke apartemen Denis, pasti sudah banyak yang tau. Wajahnya begitu jelas divideo itu dan bahkan sekarang ada beberapa foto dirinya yang tersebar disetiap sudut kota. Makin jelas saja wajahnya terpampang.


Semuanya hancur dalam sekejab. Padahal selangkah lagi rencananya akan berhasil. Tapi sekarang harus gagal, Firsi tidak tau siapa yang telah menyebar video tersebut dan masih dia pikirkan hingga sekarang. Terlebih ponsel Denis tidak bisa dihubungi dari kemarin. Makin membuat Firsi frustasi, apakah Denis meninggalkannya? Firsi berpikir begitu. Mau mencari pun tidak tau kemana, memikirkan nasibnya sendiri saja belum mampu. Firsi terus mengumpat karna kesal, marah, semuanya bercampur.


Pada akhirnya tujuan Firsi ke hotel. Setidaknya untuk menginap semalam saja, setelah sampai didepan hotel yang dituju. Firsi segera turun dan membayar taksi tersebut.


Shiit!!


Firsi terlupa kalau ke hotel pasti dimintai KTP. Bagaimana kalau nanti petugas hotel tau tentang dirinya? Firsi mengumpat kesal!


"Kenapa sih nasib gue jadi begini! Aarggh! Sial! Awas saja kalau gue tau penyebar video itu, gak akan gue biarin lepas begitu saja!" ucap Firsi dengan emosi.


"Apa gue ke rumah Agnes saja ya. Gue telfon dia dulu deh!" gumam Firsi lalu mengambil ponselnya yang ada didalam tas.


Sudah tiga kali panggilan, namun tidak diangkat oleh Agnes. Padahal ponsel Agnes aktif. Apa dia sengaja? Entahlah, Firsi masih mencoba untuk telfon Agnes lagi. Sampai akhirnya dia menyerah dan mematikan panggilannya.


"Sial! Apa dia sengaja gak angkat telfon dari gue! Dasar sahabat gak tau diri! Deketin gue kalau butuhnya aja! Arrggh, nasib gue sial banget sih!" umpat Firsi merututi nasibnya yang buruk.


...*****...


Mobil sport merah baru saja memasuki halaman rumah yang lebih tepatnya markas mereka. Siapa tuh mereka? Tentu Arshana dan Arganta serta bawahannya. Mereka menyambut Arganta dengan penuh hormat. Kini langkah dia tertuju pada ruangan kakaknya yang ada dilantai atas. Sebelum dia sampai diatas, Arshana keluar lalu mendekati adiknya.


"Loh mau lihat pria itu?" tanya Arshana yang langsung mendapat jawaban dari Arganta.


"Iyalah, gue sudah geram dengan tuh pria sialan!" umpat Arganta marah.

__ADS_1


"Oke, ayo dia ada diruang bawah," kata Arshana berjalan duluan dan diikuti oleh Arganta dari belakang.


Ada Marlin dan Reyhan yang kemudian mengikuti mereka keruang bawah tanah. Disana Arganta bisa melihat jelas sosok pria yang dari semalam ingin dia hajar. Hampir saja Denis merenggut kehormatan wanita yang dia cintai.


Melihat ada yang datang, Denis mendongak dan menatap pria yang ada didepannya sekarang. Walau tubuhnya limbung tak berdaya, Denis tak menyiutkan nyalinya. Dia malah tersenyum kearah Arganta.


"Loh lagi! Heh!" ucap Denis tersenyum mengejek.


Arganta langsung mensejajarkan tubuhnya dengan Denis. Disana dia melihat bahu Denis sudah berdaya dan masih ada paku yang menancap. Ternyata sejak tadi Arshana tak menyuruh siapapun untuk mencabutnya. Arganta tersenyum lalu tanpa aba-aba tangannya mencabut paku yang ada dibahu Denis dengan sangat kasar. Sampai Denis mengerang kesakitan.


"Argghh! Sstttt! Sialan!" umpat Denis tak bisa apa-apa, hanya rasa sakit yang bisa dia tahan.


"Kenapa? Sakit? Itu belum seberapa? Loh hampir merenggut kesucian Miara! Secara tidak langsung, loh sudah melecehkannya! Gue gak akan biarkan loh lolos begitu saja! Kesalahan loh itu sudah banyak!" marah Arganta sambil menggenggam kuat kerah baju Denis dan dia hempaskan dengan kasar.


"Kenapa memangnya? Loh cinta dengan Maira? IYA? Berarti gue gak salah ingin menikmati tubuh dia! Maira itu milik gue! Tapi itu dulu, sekaranh gue hanya ingin melihat dia hancur. Karna sudah menolak gue untuk balikan! Walau gue gak berhasil merenggut kehormatan dia, tapi gue sudah merasakan tubuhnya dengan menggerayai dia! Nikmat juga!" ucap Denis tanpa tau akibat dari perkataannya barusan. Dia malah tersenyum mengejek dan meremehkan Arganta.


Dengan ekspresi marah Arganta mendekati Denis, lalu menonjok wajahnya sampai darah keluar dari hidung dan bibir yang sobek.


"BI*DAP! LOH HARUSNYA LENYAP DARI DUNIA INI, PRIA BRE*SEK!"


Buk. Buk. Buk.


"Sudah, dia gak sadar. Pergi dari sini!" titah Arshana menarik tubuh Arganta untuk keluar dari ruangan tersebut.


"Pastikan dia masih hidup, siksa dia tapi jangan sampai membuatnya mati! Kalau sampai itu terjadi, kalian yang akan menggantikannya! Mengerti!"


"Mengerti Tuan!"


Sekarang Arshana sedang bersama Arganta diruangannya. Ada Marlin yang juga ikut duduk disana. Arganta terlihat masih kesal dengan ucapan Denis tadi. Dia gak rela kalau Maira disentuh pria lain.


"Kenapa gak loh bunuh saja dia tadi! Biarin dia m*ti!" ucap Arganta kesal.


"Gak seru dong! Gue mau dia merasakan penderitaan setiap harinya dengan rasa sakit yang luar biasa sampai dia sendiri yang meminta untuk m*ti dari pada harus hidup! Gimana kalau sekalian dengan kekasihnya itu? Lebih seru begitu!" ujar Arshana bersandar dikursi kebesarannya.


"Loh mau nyiksa cewek itu juga? Gimana dengan istri loh kalau tau dan mertua loh! Mereka bisa saja benci sama loh, kak!" kata Arganta.


"Dari pada dia harus nyakitin istri gue terus, lebih baikkan dia disini bersama kekasihnya itu dan ikut merasakam sakit! Enakkan gak ada yang ganggu lagi!" balas Arshana dengan santai tanpa beban.


"Dari pada loh nyiksa dia disini, mendingan buat saja dia memilih m*ti sendiri! Tinggal merusak mentalnya, mudah kan! Gak perlu mengotori tangan dan gak bakalan dituduh!" saran Arganta.

__ADS_1


Arshana langsung bangkit dan mendekati Arganta yang duduk disofa. "Bagus idemu! Marlin tanyakan sama anak buahmu dimana posisi Firsi sekarang!" titah Arshana.


"Oke, bentar!" Marlin segera menghubungi bawahannha untuk menanyakan keberadaan Firsi sekarang.


Tak berselang lama, Marlin pun mematikan telfonnya. "Katanya dia diusir dari rumah dan sekarang sedang mencari tempat buat singgah. Dan sahabatnya yang bernama Agnes juga gak bisa dia hubungi. Bisa saja sekarang dia bingung mencari tempat tinggal! Dan dia sekarang menyamar untuk menutupi wajahnya. Memakai hoodie hitam, celana jeans biru tua, dan masker!" papar Marlin.


"Pasti banyak massa yang akan menghakiminya. Kalau gitu sebarkan informasi itu, katakan ciri-cir dia barusan biar semua orang gak terkecoh dengan menyamarannya! Lihat saja gue gak akan biarin cewek itu lolos!"


"Baiklah, gue akan minta Alino buat melaksanakan apa yang loh minta tadi!" Matlin segera pergi keruangan Alino untuk melaksanakan perintah dari Arshana barusan.


Sedangkan Arshana sekarang memilih untuk pulang. Karna sudah merindukan pelukan dari istrinya. Tapi sebelum itu, Arshana sempatkan pergi keruangan Alino. Sampai disana, dia melihat Alino tengah fokus dengan komputer didepannya.


"Alino?" panggil Arshana.


"Eh, iya Tuan. Maaf saya tidak tau kalau ada Anda," ucap Alino menunduk hormat.


"Gak pa-pa. Bagaiman dengan tugasmu tadi? Berjalan lancar?" tanya Arshana memastikan.


"Masih saya kerjakan Tuan, tinggal menshare saja. Tinggal menggitung menit pasti semua akan tau!" jawab Alino.


"Bagus, teruskan kerjaanmu. Saya pergi dulu!" tanpa mendengar jawaban dari Alino, Arshana pergi dari sana menuju mobilnya yang terparkir dihalaman depan.


Sebelum mengendari mobilnya, Arshana mengirim pesan kepada Zulfa kalau dia akan pulang cepat. Setelah itu Arshana mulai mengeliarkan mobil dari halaman sana pergi dari sana membela jalanan yang terlihat longgar, karna masih jam kerja. Sehingga tidak banyak kendaraan yang berlalu-lalang.


...*****...


...Selamat Pagi Guys 🌤...


...Selamat Beraktivitas semua 😁...


...Ehh Senin nih, ada tabungan vote dong. Sini lempar ke author saja 🤭 ...


...Gak maksa juga sih 😄 Kasih bunga atau kopinya udah senang othor mah. ...


...Asalkan kalian tetap Like dan Komen dong. ...


...Sehat selalu untuk kalian semua 🤗 ...


...Bantu follow IG author (imeilda_akhwat) dan FB juga (Riska Ayu). Nanti bakalan di follback tenang saja 🤫 passwornya "Mampir" DM saja 😁. ...

__ADS_1


...See You All, By By 👋...


__ADS_2