
Arshana melihat Zulfa gemas, lalu mengusap lembut rambut istrinya. Kebahagiaan Zulfa sekarang adalah kebahagiaannya juga. Beruntung sekali dia bisa mendapatkan istri yang baik, lembut, dan bisa menerima segala kekurangannya. Tidak seperti......Sudahlah dia tidak mau lagi mengingat hal yang gak penting.
Arshana melajukan mobil untuk kembali ke mansion. Karna Zulfa tidak mau kemana-mana lagi. Setibanya dimansion, Arshana segera turun lalu mengitari mobil dan membukakan pintu bagi Zulfa. Setelah itu, mereka berjalan masuk secara beriringan. Arshana langsung mengajak Zulfa untuk ke kamar, namun ada Felix yang menahan Arshana untuk ikut dengannya. Akhirnya Zulfa pergi duluan ke kamar.
Setelah kepergian Zulfa, Felix menyuruh Arshana untuk ikut ke ruangannya. Arshana yang bingung hanya bisa mengekor dan mengikuti ayahnya saja. Sekarang mereka sudah ada diruang prubadi Felix. Arshana meradakan ada yang aneh dengan papanya, hal apa yang akan dibicarakan Felix, pun Arshana belum tau.
"Papa mau bicara apa sih?" tanya Arshana to the point.
"Jawab papa dengan jujur! Apakah kamu yang sudah menyebarkan video gak senonoh itu ke media sosial?" tanya Felix menyelidik dan berharap putranya menjawab dengan jujur.
"Video apa sih, Pa?" Arshana pura-pura tidak mengerti, padahal dia sudah tau arah pembicaraan papanya kemana.
"Video Firsi itu? Jawab jujur Arshana! Kamu kan yang menyebarkannya?" Felix terus mendesak Arshana sampai mau mengaku.
"Hm...Iya! Aku yang menyebarkannya! Kenapa? Papa mau protes? Sudah sepantasnya sih dia mendapatkan ganjaran atas apa yang dia lakukan dengan istriku!" tekan Arshana tanpa rasa takut sedikitpun kepada Felix.
"Salah apa dia sama kamu sampai menyebarkan video gak senonoh itu ke media? Dan dapat dari mana kamu video itu?" tanya Felix masih penasaran dan banyak pertanyaan yang ingin sekali dilontarkan kepada Arshana. Memangnya masalah apa yang sedang terjadi kepada anak dan menantunya itu.
"Oke.....Aku akan jelaskan sama papa. Firsi itu sudah meneror istriku sejak beberapa hari lalu, Pa! Hanya saja aku masih bisa mencegahnya agar Zulfa tidak tau. Sekuat apapun aku menghalau teror itu, tetap saja akhirnya Zulfa sendiri merasakannya. Awalnya aku gak sengaja melihat pesan kaleng dari ponsel istriku, disana lah awal mula aku mencari informasi. Dan ternyata dalangnya Firsi dan Denis. Denis adalah mantan pacar Maira yang ada divideo itu! Papa tau? Kemarin Zulfa sampai syok saat melihat ada pesan kaleng lagi yang masuk diponselnya. Jelas lah aku gak terima, apalagi Zulfa sedang hamil yang bisa saja mengganggu pikiran dia. Gak hanya itu saja, Denis kemarin hampir memperkosa Maira beruntungnya bisa dicegah sama Arganta. Mangkanya Arganta gak ada dirumah pagi-pagi, karna dia ada dirumah sakit. Sekarang papa sudah tau kan? Jelaskan? Jadi jangan halangi aku untuk membalas mereka!" Arshana menjelaskan panjang lebar secara detail.
Felix tertegun sejenak mendengar penjelasan Arshana. Kenapa bisa dia baru tau sekarang? Padahal teror itu sudah dari beberapa hari lalu. Benar apa yang dikatakan Arshana. Hal itu bisa mengancam kandungan Zulfa, karna stres yang belebihan. Terlebih masih tremester pertama, sangat rentan sekali.
"Dan kemarin sempat ada paket yang datang kerumah ini, beruntung ketahuan duluan sama aku dan Arganta. Kalau tidak pasti istriku sudah melihatnya dan makin syok. Karna paket itu berisi barang yang gak seharusnya ada. Nih coba papa lihat!" Arshana menyodorkan ponselnya kepada Felix.
Sangat jelas sekali difoto tersebut ada paket yang kemarin. Arshana sempat memfotonya sebagai bukti. Felix gak habis pikir dengan tindakan Firsi. Sama saja dia membangunkan singa yang sedang tidur. Pantas kalau putranya bisa marah sebesar itu! Karna menyangkut istri dan calon anaknya.
"Lalu yang kamu lakukan sekarang apa? Firsi bisa saja kabur kalau gak segera dilaporkan ke pihak berwajib!" kata Felix.
"Gak perlu! Mau dia berkeliaran kemana pun pasti akan banyak mendapat serangan dari massa. Video dia sudah nyebar kemana pun dan foto dia juga terpajang disudut kota! Biarin saja mau lari kemana pun!" sahit Arshana.
"Terus pria itu?"
__ADS_1
"Ada dimarkasku!"
Felix sedikit kaget mendengar Denis sekarang ada dimarkas putranya. Apa jangan-jangan Arshana sudah melakukan sesuatu dengan Denis? Pikiran Felix jadi berpencar kemana-mana.
"Kamu apain dia, Arshan?" tanya Felix serius.
"Memberi pelajaran lah, mau diapain lagi! Kemarin Arganta yang bawa dia ke markas. Karna sudah geram, hampir memperkosa Maira. Beruntungnya ada Arganta yang datang tepat waktu!"
Arshana melihat papanya hanya diam, lalu dia berkata lagi. "Siapapun yang sudah masuk ke dalam markasku gak akan bisa keluar lagi! Papa tau kan maksudku? Jadi gak perlu tanya apapun denganku!" Arshana bangkit dan menyus Zufa ke kamar.
Sedangkan Felix masih terdiam mencernya ucapan Arshana yang terakhir. Lalu dia menghembuskan nafas berat, Felix tau jawabannya. Mau mencegah? Tidak akan bisa, Felix tau watak dari kedua putranya yang keras kepala dan gak bisa merubah apapun yang sudah menjadi tekadnya. Arshana maupun Arganta menurut Felix sama saja.
...*****...
Malam yang sunyi bertabur bintang dengan bulan purnama yang bersinar terang, keluarga Abhimarta berkumpul dimeja makan. Mereka akan makan malam bersama. Arganta sudah kembali dari rumah sakit dengan terpaksa. Karna permintaan Maira yang menyuruhnya untuk pulang. Mau tak mau Arganta pulang, namun sebelum pulang dia sempat berpesan kepada orang suruhannya untuk menjaga Maira selama dia tidak ada.
Sejak awal, Arganta hanya diam saja. Membuat Yolanda penasaran, bahkan Arshana juga diam saja tanpa suara. Zulfa pun merasa heran dengan suami dan adik iparnya. Padahal mereka selalu ada saja yang diperdebatkan kalau sedang bersama gini. Tapi sekarang malah pada bungkam. Kakek Abhi mempertanyakan hal itu kepada Arshana dan Arganta.
"Kalian berantem? Kenapa pada diam? Biasanya sudah debat satu sama lain?" tanya Kakek Abhi menyelidik.
"Lalu kenapa kalian pada diam gini? Kakek perhatikan kalian sedang menyembunyikan sesuatu ya?" selidik Kakek Abhi sudah bisa menebak.
"Gak ada, Kek! Kami baik-baik saja kok!" jelas Arshana.
"Tidak mungkin kalian baik-baik saja! Biasanya seperti kucing dan tikus, ini malah pada tutup mulut. Mama tau kalian menyembunyikan sesuatu!" sela Yolanda tak tahan kalau tidak ikut berbicara. Dari tadi sudah ditahan, tapi gak bisa akhirnya dia keluarkan unek-unek yang menetap dipikirannya.
"Aku sudah katakan, kami tidak apa-apa! Kenapa pada maksa sih!" jawab Arshana kesal. Nafsu makannya jadi hilang seketika dengan berbagai pertanyaan yang tidak ingin dia jawab.
Arganta juga gitu dari tadi diam mulu. Gak ada inisiatif buat ikut jawab. Eh malah tutup mulut, Arshana jadi kesal sendiri. Karna sejak tadi dia terus yang angkat bicara.
"Arganta! Kenapa kamu diam saja dari tadi? Kakek tanya sama kalian bukan Arshana saja! Kamu bisa dengar perkataan Kakek kan?" tegas Kakek Abhi geram melihat Arganta hanya diam tanpa mau menjawab.
__ADS_1
"Apa yang perlu aku jawab, Kek! Kakek ingin aku jawab apa? Aku tidak ingin berdebat untuk sekarang!" jawab Arganta tegas.
"Arganta! Kamu bicara dengan Kakek, yang sopan!" ucap Felix yang sedari tadi hanya diam dan sekarang angkat bicara.
Arsyana tak menyangka kalau Arganta akan berkata begitu. Yolanda pun sama, dia menatap heran kepada Arganta.
"Lirihkan suaramu Arga, jangan berkata begitu kepada Kakekmu! Kalian ini pada kenapa sih! Kalau memang ada masalah katakan dengan jelas, cerita! Jangan malah dipendam begini!" sahut Yolanda tak suka dengan sikap Arganta.
"Oke.......Mama ingin penjelasan kan? Kakek? Papa? Kalian semua? Aku akan jawab! Tak perlu juga aku menutupinya!" perkataan Arganta langsung disela oleh Arshana.
"Arganta!" ucap Arshana menatap tajam kepada adiknya itu. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya.
"Apasih! Sudah saatnya kok mereka tau dan juga istrimu!" mendengar Arganta menyebut kata istrimu, jelas yang dimaksud adalah Zulfa. Si empu menoleh dan seolah meminta penjelasan maksud dari perkataan barusan.
"Kenapa denganku?" tanya Zulfa bingung.
"Jelas lah karena Maira sekarang ada dirumah sakit! Dan......." belum juga Arga selesai bicara sudah disela oleh Zulfa.
"Maira dirumah sakit! Kenapa dengan dia? Apa yang terjadi?" tanya Zulfa khawatir.
"Arganta, stop!" kata Arshana dengan sorot mata yang tajam.
"Kak, sudah saatnya kok mereka tau! Terutama Mama dan Zulfa! Sekalian saja dijelaskan sama mereka! Sampai kapan mau menyembunyikan ini semua dari mereka? Serapat apapun pasti juga terbongkar! Mana ada kebohongan yang abadi!" sahut Arganta terdengar tegas, membuat Arshana geram.
Memang Arshana ingin mengatakan dengan jujur kepada Mamanya dan Zulfa. Tapi sekarang bukan waktu yang tepat, istrinya sedang hamil. Arshana juga memikirkan itu agar tak mengganggu pikiran istrinya.
"Mendingan kalian lanjut makannya dulu, nanti jelaskan selesai makan!" sahut Felix melerai perdebatan mereka.
Akhirnya mereka kembali melanjutkan makan malam tanpa ada yang bicara lagi. Hinga mereka selesai makan, barulah Arganta akan menjelaskan semuanya. Entah dari mana dulu dia akan menjelaskan. Sedangkan Arshana makin gak karuan perasaannya. Takut Zulfa kepikiran dan juga mamanya. Dia gak tau Arganta akan menjelaskan yang mana.
Mereka sudah duduk bersama diruang tamu. Kini Arganta akan mulai menjelaskan. Felix sudah bisa menebak yang akan dijelaskan oleh Arganta. Sedang Kakek Abhi berpikir ke hal lain. Zulfa malah kepikiran kepada Maira yang katanya masuk rumah sakit.
__ADS_1
"Sekarang jelaskan Arganta!" kata Kakek Abhi.
Arganta melirik sejenak kepada Arshana yang berada disampingnya. "Beberapa hari ini ada seseorang yang sengaja berniat jahat kepada Zulfa dengan cara menerornya melalui pesan dan paket! Bukan begitu kakak ipar? Pernah kan mendapatkan pesan ancaman?" kata Arganta menatap Zulfa.