
"Zulfa?" panggil Rey karna melihat Zulfa hanya bengong saja.
"Aah ya, hmm maaf Rey. Aku gak bisa" jawab Zulfa membuat Rey kecewa.
"Kenapa Fa?" tanya Rey.
"Aku hanya menganggapmu sebagai sahabat gak lebih dari itu. Maaf Rey aku gak bisa membalas perasaanmu. Aku gak tau kalau selama ini kamu menyimpan rasa kepadaku" balas Zulfa.
Harapan Rey untuk bisa mendapatkan hati Zulfa pun pupus. Dia mengira Zulfa juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Ternyata pikirannya salah, Zulfa malah menolaknya dan hanya menggap dirinya sebagai sahabat tidak lebih.
"Gitu ya, gak pa-pa. Cinta memang tidak bisa dipaksakan. Tapi kita masih bisa jadi sahabat kan? Aku gak mau pertemanan kita harus renggang gara-gara ini" ucap Rey berusaha tersenyum walau hatinya kecewa.
"Iya, kita masih bisa berteman kok." jawab Zulfa balik tersenyum ke arah Rey.
Setelah dari restoran, Rey pun mengantarkan Zulfa kembali ke asrama karna sudah malam. Tetapi Zulfa malah minta Rey mengantarkannya kembali ke rumah. Rey hanya mengangguk dan tak mempertanyakan hal lain. Dia pun mengantarkan Zulfa ke rumahnya.
Sampai didepan rumah, Zulfa segera turun dan mengucapkan terima kasih kepada Rey karna sudah mengajaknya makan malam. Rey tersenyum dan mengangguk. Lalu dia pun pergi meninggalkan Zulfa.
Tak lama setelah Zulfa memasuki gerbang. Datanglah sebuah mobil berwarna putih didepan gerbang. Zulfa mengintip sejenak siapa yang datang. Dan saat pandangannya fokus, dia melihat Firsi turun dari mobil tersebut yang didalamnya ada seorang pria. Zulfa mengernyitkan dahi saja, ia berpikir apakah yang bersama adiknya itu adalah pacar barunya.
Melihat Firsi hendak masuk ke dalam, Zulfa pun bergegas masuk agar tak dicurigai mengintip. Tangannya mau memencet bel rumah, namun keduluan Firsi yang sudah berada dibelakangnya.
"Wah-wah berani pulang juga loh, ngapain balik kesini? Sudah enak gak ada loh, eh malah kesini lagi. Loh itu gak dianggap disini, mendingan pergi deh" usir Firsi bersendekap dada.
Zulfa tak mempedulikan omongan Firsi. Ia memencet bel rumah beberapa kali. Dan tak lama bi Atin asisten rumah tangganya membukakan pintu. Zulfa langsung masuk begitu saja tanoa memperdulikan ocehan Firsi. Dengan Sigap Firsi menarik tangan Zulfa dengan kuat lalu membalikkan menghadapnya.
"Loh ya, sudah berani sekali. Gue tuh ngomong sama loh, malah ditinggal pergi. Loh bisa denger gak sih" bentak Firsi.
"Aku bisa dengar kok, tapi emang gak mau jawab. Percuma berbicara denganmu, gak ada manfaatnya. Yang ada malah sebaliknya. Kamu gak usah ganggu aku. Aku kesini hanya ingin menemui papa" balas Zulfa melepaskan tangannya yang dicengkeram oleh Firsi.
"Jangan harap bisa tenang diruma ini. Aku akan membuatmu tidak betah. Lagian loh disini tuh gak dianggap, ngapain juga harus balik. Papa aja gak nyariin loh" ujar Firsi.
'Gak tau saja kalau selama ini papa rutin memberiku uang, hanya saja kalian gak tau.' batin Zulfa dalam hati.
Dari pada harus bertengkar terus dengan Firsi, Zulfa pun memilih pergi dari sana menuju kamarnya. Karna hari semakin malam, sehingga Zulfa males untuk meladeni ocehan adiknya yang tidak pernah mau melihat dirinya bahagia.
Firsi yang melihat Zulfa tak merespon dan lebih memilih pergi menjadi kesal. Niat ingin membuat Zulfa marah malah gak bisa. Dia pun pergi ke kamarnya juga dan merebahkan tubuhnya dikasur.
__ADS_1
Sampai pagi menjelang, Zulfa pun terbangun karna silau matahari menelusup masuk ke dalam kamarnya. Ia bergegas mandi, setelah itu merapikan kamarnya. Lalu Zulfa pun turun ke bawah. Saat sampai dibawah Devon terkejut melihat Zulfa ada dirumah. Dia berpikir kapan pulangnya Zulfa.
"Morning pa" ucap Zulfa tersenyum lalu memeluk ayahnya.
"Kamu kapan pulangnya Zulfa? Kok gak kabari papa dulu" jawab Devon mengelus rambut Zulfa.
"Tadi malam, emang sengaja buat suprise buat papa." balas Zulfa sambil melepaskan pelukannya.
Tak lama Elena datang barengan dengan Firsi. Elena nampak terkejut melihat Zulfa ada dirumah. Pikiran yang sama pun terputar diotaknya. Tatapannya begitu tajam menunjukkan ketidaksukaan terhadap Zulfa.
"Duduk lah nak, ayo kita sarapan bersama" pinta Devon yang diangguki oleh Zulfa.
"Ngapain sih anak satu itu harus pulang. Bikin mood mama surut aja" bisik Elena pada Firsi.
"Sama, males banget ketemu dia lagi. Udah bagus pergi malah balik lagi" ujar Firsi sambil menarik kursi untuknya duduk.
"Kalian ngapain pagi-pagi sudah ngrumpi gak jelas. Ayo makan" sahut Devon melihat istri dan anak keduanya hanya berbisik-bisik gak jelas.
"Iya ini makan..." ketus Elena sambil menatap tajam ke arah Zulfa.
"Nak bagaimana dengan kuliahmu? Berjalan dengan baik kan? Ada halangan gak?" tanya Devon perhatian. Ia sangat rindu dengan Zulfa. Melihat sekarang Zulfa ada dirumah hatinya begitu senang.
"Hah sudah skripsi saja kamu. Gak terasa ya bentar lagi kamu jadi sarjana. Papa ingin menyaksikan kamu pakai toga nak" ucap Devon.
"Iya pa, doakan Zulfa biar bisa lulus dengan predikat yang baik. Biar bisa banggain papa" ucap Zulfa.
Membuat Elena dan Firsi risih, telinga mereka berasa panas. Ingin sekali pergi dari meja makan. Tapi kalau pergi begitu saja, sudah pasti Devon akan marah.
"Banggain terus saja dia pa. Emang pernah papa tanya-tanya sama aku seperti yang papa tanyakan sama dia. Gak kan?" sahut Firsi sudah panas mendengar ayah dan kakaknya berbicara.
"Lah kan kamu setiap hari dirumah. Lah kakak kamu enggak, ya wajar lah kalau papa tanya. Emang salah? Enggak juga kan." jawab Devon membuat Firsi lanngsung pergi begitu saja dari meja makan.
"Firsi....Dasar anak itu gak sopan" ucap Devon.
"Ya ini gara-gara kamu, jadinya Firsi pergi kan. Emang ya lebih baik kamu itu gak usah ada disini, bikin runyam saja" Elena pun ikut pergi dari meja makan meninggalkan Zulfa dan Devon.
"Sabar nak, jangan dengerin omongan mama kamu ya. Kamu lanjut makan saja" ucap Devon, karna tidak ingin kalau Zulfa gak nyaman dirumah. Baru juga sehari masa iya harus pergi lagi.
__ADS_1
🥀
🥀
🥀
Dimarkas King Black, Daniel bersama Marlin tengah berbincang bersama. Mereka akan menjalan kan rencana yang sudah disusun rapi untuk bisa menghancurka musuhnya. Selaman ini Handian berusaha untuk bisa membuat perusahaan Abhimarta anjlok. Namun rencana itu selalu gagal, tentunya karna Daniel mengetahui semua rencana busuk Handian.
Handian mengira tidak adanya Arshana bisa menjadi cela untuknya menghancurkan perusahaan Abhimarta. Namun sayang seribu sayang, Handian tidak tau kalau masih ada Daniel yang lebih pintar untuk bisa membalikkan semua itu. Mungkin selama ini Handian mengira bahwa Daniel ya sebagai asisten biasa. Ternyata dia gak tau kalau Daniel lebih kejam dan cerdik.
Bahkan Marlin menggerakkan anak buahnya untuk mengintai segala pergerakan dari Handian. Tentang hubungan dengan Firsi pun Marlin tidak akan pernah lepas dan lengah sedikit pun. Segala apapun tentang Handian pasti akan dicari tau.
"Handian memang benar-benar jatuh jati dengan wanita itu. Menjijikkan sekali, kamu terus ikuti pergerakan dari mereka. Aku ingin tau apa yang akan Handian lalukan dengan wanita ini. Melihat dari masa lalunya yang suka meniduri banyak wanita. Aku pikir dia akan bernasib sama dengan wanita lainnya" ucap Daniel duduk dikursi kebesarannya.
"Aku pikir juga begitu, tapi kayaknya dengan Firsi beda. Dia benar-benar mencintai mantan kekasih tuan muda Arshan. Itukan juga salah satu alasan dia membunuh tuan muda Arshan agar bisa mendapatkan wanitanya." jawab Marlin.
Daniel tersenyum miring mendengar ucapan Marlin. "Ikuti saja kemana pun mereka pergi, aku rasa setelah ini akan ada hal menarik yang bisa kita jadikan ajang pertunjukan" ucap Daniel.
Marlin mengangguk paham apa yang dimaksud oleh Daniel. "Lalu sekarang apa yang harus aku kerjakan?" tanya Marlin.
"Jalankan rencana awal" jawab Daniel.
"Oke....Aku akan kerjakan"
Daniel pun mengajak Marlin pergi ke tempat bawahannya berlatih. Dia sudah lama tidak memegang senjata-senjata tersebut. Sampai disana para bawahannha langsung menunduk hormat pada Daniel. Sementara Daniel hanya cuek dan langsung mengambil salah satu senjata api yang dipegang oleh anak buahnya.
Tangannya siap untuk membidik ke arah salah satu bawahannya. Anak buahnya yang melihat itu ketakutan karna arah senjata api tersebut menuju kepadanya. "Bo-bos mau apa" tanya bawahannya tersebut.
"Tanganku sudah lama tidak memainkan yang berbau darah. Jadi diamlah!!" ketus Daniel tanpa pikir panjang langsung menarik pelatuknya dan.....
Dor.
Satu peluru melesat dengan cepat mengenai sasaran. Tapi bukan anak buahnya, melainkan botol yang ada tepat dibelakang bawahannya itu. Botol tersebut sampai pecah berserakan karna peluru Daniel.
"Ck, gitu saja takut. Nih ambil" ketus Daniel langsung menyerahkan senjata tersebut kepada bawahannya tadi. Setelah puas, Daniel pun balik keluar untuk kembali ke perusahaan.
"Awasi mereka, aku mau balik ke perusahaan. Jangan lupa rencana yang tadi kerjakan dengan baik" ucap Daniel sebelum pergi.
__ADS_1
"Iya siap, aku akan kerjakan. Kau tenang saja" jawab Marlin.
Mobil Daniel melesat cepat meninggalkan markas menuju perusahaan. Pekerjaannya masih banyak yang juga harus diurus oleh Daniel. Tidak hanya urusan dimarkas saja, pekerjaan utamanga tetap ada dikantor.