
Setibanya dirumah sakit, Arshana langsung masuk ke dalam dan mencari mertuanya. Katanya tadi masih diruang IGD. Sedangkan Brima menunggu dimobil saja, karna Arshana yang meminta. Langkah yang cepat menuju IGD sampai matanya tertuju pada Devon. Kebetulan juga dokter keluar bersamaan Arshaan datang.
"Bagaimana kondisi anak saya dok?" tanya Devon belum menyadari kehadiran Arshana disana.
"Anak anda tidak apa-apa, kami sudah obati luka dikening dan tangannya. Tapi untuk saat ini kami akan memeriksa lebih dalam lagi, takutnya ada cedera dalam kepalanya akibat benturan tersebut. Anda boleh melihatnya setelah kami pindahkan ke ruang rawat. Kalau begitu saya permisi," jelas dokter tersebut lalu kembali masuk ke dalam.
"Istriku kenapa pa?" Devon terkejut melihat kedatangan Arshana, entah sejak kapan dia ada disampingnya.
"Kenapa Zulfa bisa masuk rumah sakit? Dan kata dokter tadi ada luka dikening dan tangannya. Sebenarnya apa yang terjadi?" cecar Arshana dengan berbagai pertanyaan.
"Istrimu tadi pingsan setelah terjatuh dan kepalanya terbentur meja kaca yang ada diruang tamu," terang Devon tertunduk lesu, merasa bersalah tidak bisa melindungi Zulfa.
"Kok bisa pa? Istriku terpeleset atau gimana?" Arshana merasa ada yang aneh, dia curiga kalau istrinya jatuh karna ada yang berniat jahat.
"Dia gak terpeleset, tapi didorong sama mamanya dan tangannya terluka karna didorong sama Firsi sampai tergores pinggiran kaca meja," jelas Devon sambil terduduk dikursi.
Arshana mendengar hal tersebut membuat amarahnya muncul seketika. Istrinya terluka karna disakiti oleh ibu dan adik tirinya. Lagi-lagi seperti ini, kalau tau kejadian begini akan terjadi. Arshana tidak akan mengizinkan Zulfa pergi ke rumah Devon tadi. Entah sudah berapa kali istrinya mendapat kekerasan dari mereka berdua.
"Apa salah istriku pa? Kenapa mereka jahat sekali! Tau gitu aku gak bakalan izinin Zulfa pergi tadi. Sekarang dia harus dirawat disini. Apa gak cukup mereka selalu menyakiti istriku! Papa pasti tau sendiri bagaimana sikap mereka pada Zulfa. Tapi kenapa papa hanya diam sampai Zulfa disakiti beberapa kali. Sampai Zulfa menghindari rumahnya hanya karna lelah disakiti oleh ibu dan adik tirinya!" marah Arshana sudah tidak terkendali lagi. Sebisa mungkin dia tidak terlalu meninggikan nada bicaranya.
"Maafkan papa, Verko. Papa memang gak bisa melindungi putri papa sendiri. Dia harus tersaikit berulang kali gara-gara papa. Andai waktu bisa terulang lagi, papa lebih baik hidup berdua dengannya. Maafkan papa Verko." Devin begitu merasa bersalah tidak bisa membela ataupun melindungi Zulfa. Dia tidak becus menjadi seorang ayah.
Arshana ikut terduduk disamping Devon. "Kalau sampai terjadi sesuatu dengan istriku, aku tidak akan memaafkan mereka pa. Cukup ini yang terakhir bagi Zulfa mendapat kekerasan dari mereka. Kalau sampai terulang lagi, lihat saja apa yang bisa aku lakukan kepada mereka," perkataan Arshana tidak main-main, sebuah ancaman yang menusuk ke hati.
Devon bisa maklumi sikap Arshana. Siapa juga yang rela melihat istrinya disakiti, apalagi oleh keluarganya sendiri. Devon tak marah sama sekali, dia malah terdiam dan mengangguk. Dari pada dirinya yang tidak bisa berbuat apapun dan hanya bisa melihat putrinya terluka setiap hari. Diingatkan? Sudah berulangkali bahkan ribuan. Tetapi tak sedikit pun merubah sikap Elena dan Firsi kepada Zulfa.
__ADS_1
Setelah itu Arshana pergi ke toilet sebentar. Ditoilet dia menelfon Arganta untuk memberi kabaf padanya agar papa dan mama tidak khawatir. Tak lama panggilan pun tersambung.
"Ga tolong beri tau papa kalau malam ini aku gak pulang. Aku mau jaga istriku dirumah sakit, dia harus dirawat dua sampau tiga hari kedepan. Jadi undur dulu untuk rapatnya, aku mau menemani Zulfa disini."
📱"Zulfa kenapa sampai masuk rumah sakit?"
"Gara-gara ibu tirinya yang kejam itu, dia dorong istriku sampai terjatuh dan kepalanga terbentur kaca meja. Dokter mau ngecek dulu lebih dalam takut ada cedera seriua dikepalanya. Maka dari itu Zulfa harus dirawat dulu. Tolong bilangin sama papa dan mama. Jangan kesini entar papa mertuaku tau, tunggu saja dirumah."
📱"Gila itu orang! Ya sudah nanti aku bilangin sama papa dan mama. Kalau mama tau pasti dia akan khawatir, tau sendiri kan bagaimana sayangnya mama sama istrimu kak."
"Ya mangkanya jelasin sama mama, pokoknya jangan kesini, kalau kangen entar bisa video call. Udah dulu ya, aku mau keruangan istriku. Sepertinya sudah dipindah"
📱"Iya, aku matikan"
Panggilan pun terputus, Arshana melihat pesan dari mertuanya kalau Zulfa sudah dipindah ruangan. Bergegas Arshana pergi keruangan istrinya. Sampai disana, Arshana membuka pintu dan melihat Zulfa sudah terbangun dari pingsannya. Kening dan tangan kanannya terdapat perban. Membuat amarah Arshana muncul kembali, tapi dia berusaha tersenyum untuk Zulfa.
"Mas..." ucap Zulfa mengetahui kehadiran suaminya.
Arshana pun berjalan mendekati ranjang istrinya. "Ada yang masih sakit?" tanya Arshana penuh lemah lembut.
"Cuma pusing saja, kamu gak perlu khawatir." Arshana memegang tangan Zulfa lalu menciumnya. Dia merasakan rasa sakit yang selama ini dipendam oleh istrinya. Tidak terbayang berapa kali Elena dan Firsi menyakiti batin dan fisik Zulfa.
"Kamu gak perlu cemas, aku baik-baik saja. Pasti tadi kamu ninggalin kantor kan demi aku? Maaf ya mas," ucap Zulfa.
"Enggak kok, kenapa minta maaf. Harusnya aku yang meminta maaf sama kamu. Aku gak bisa jagain kamu, mereka jahat banget sayang. Aku gak mah sampai kejadian ini terulang lagi, cukup hari ini yang terakhir. Kalau sampai kejadian lagi, aku gak akan segan memberi balasan kepada mereka," ucapan Arshana begitu serius, Zulfa bisa melihat dari sorot matanya yang diselimuti amarah yang masih berapi.
__ADS_1
"Iya, kamu jangan cemas gitu. Aku baik-baik saja." Zulfa hanya ingin meredam amarah suaminya yang tersulut.
Devon keluar dari kamar mandi dan melihat keberadaan Arshana yang sudah ada didekat Zulfa. Devon ikut mendekati putrinya dan kembali mengucap maaf. Sudah kesekian kali Devon mengucapkan maaf, kata maaf tidak bisa merubah segalanya yang sudah terjadi. Zulfa sudah memaafkan semuanya sebelum mereka meminta maaf. Tapi Devon tetap merasa bersalah.
"Papa gak bisa jagain kamu nak, papa ingin mengakhiri semuanya dan melihat kamu bahagia. Andai dulu papa tidak menikah lagi, pasti hidupmu tidak akan seperti sekarang." penyesalan memang berada diakhir dan siapa yang tau kedepannya bagaimana. Tidak salah kalau Devon ingin menikah lagi dan memberikan sosok ibu untuk Zulfa. Hanya saja dia salah mencari istri.
"Jangan pa! Kasihan Firsi nanti, dia juga butuh sosok ayah. Nanti dia bakalan makin benci sama aku kalau papa mau pisah sama mama. Aku gak pa-pa, wajar kok mama marah karna belum tau watak Firsi sebenarnya. Kalau mama tau pasti tidak akan melakukan hal seperti tadi kepadaku. Papa jangan pisah ya sama mama kasihan Firsi."
Hati Zulfa begitu baik dan tulus. Sebanyak apapun dia disakiti oleh Elena dan Firsi tidak membuatnya bersikap buruk pada mereka. Zulfa selalu mengalah dan memilih diam. Dia sebenarnya menyayangi Firsi, tetapi memang Firsi lah yang tidak menerima kehadiran Zulfa. Padahal sebelum ada dia, Zulfa sudah duluan hadir.
"Kamu ngapain kasihan sama dia! Manusia seperti dia gak perlu dikasihani. Dia saja gak pernah merasa kasihan denganmu. Asal papa tau, tidak hanya Zulfa yang mengetahui sifat asli Firsi. Aku juga tau dan aku punya bukti kalau memang papa gak percaya." Arshana sempat merekam saat Firsi masuk ke dalam bar bersama sahabatnya Agnes.
"Papa boleh lihat." Devon penasaran dengan apa yang dikatakan Zulfa saat dirumah. Rasanya dia belum percaya setarus persen. Saat mendengaf perkataan Arshana membuatnya jadu merasa bimbang. Bagaimana kalau benar? Bak dihantam pasak, dia sudah gagal mendidik Firsi.
Arshana pun mengambil ponselnya disaku celana dan menggeser layar album untuk mencari video Firsi saat masuk bar. Dia juga mencari foto saat Firsi digelayut oleh para pria tak tau malu.
Setelah ketemu, Arshana tunjukkan kepada Devon semuanya. Video tersebut sangat jelas menunjukkan wajah Firsi dengan Agnes. Devon tau sekali wajah Agnes, karna pernah diajak Firsi kerumah dan sempat menginap juga. Arshana kembali menggeser layar ponsel yang menunjukkan foto Firsi bersama pria buaya.
Tangan Devon terkepal kuat, amarahnya bertambah besar kepada Firsi. Selama ini dia yang selalu dirumah dan dijaga oleh Devon. Tapi malah berlaku seperti j*l*ng diluar sana. Sedangkan Zulfa yang sejak kuliah tinggal diasrama bisa menjaga diri, tidak seperti Firsi. Sudah mempermalukan keluarga dengan kehamilannya sekarang ditambah mengetahui video dan foto tersebut. Bagaimana Devon tidak marah.
"Kirimkan video dan foto itu pada papa Verko. Papa juga titip Zulfa bentar, papa mau pulang. Kalau butuh apa-apa telfon papa saja," ucap Devon menahan gemuruh amarah didadanya.
"Papa jangan berlaku kasar dengan Firsi, dia sedang hamil. Anak dalam kandungannya tidak bersalah, yang salah itu ibunya. Tolong papa jaga emosi," pesan Zulfa yang diangguki oleh Devon.
Dia pun pergi keluar untuk pulang. Entah apa yang akan dilakukannya nanti. Yang pasti Firsi akan mendapat amukan makin besar dari Devon. Habis sudah nasibnya, menahan amarah agar tidak terlepas malah ditambah hantaman lagi. Makin menyakitkan bagi Devon.
__ADS_1