
Acara pernikahan Verko dan Zulfa sudah selesai. Verko ingin mengajak Zulfa untuk tinggal bersamanya. Mereka sudah sepakat berdua sebelum menikah. Devon tak merasa keberatan kalau Zulfa tinggal bersama suaminya. Walau dia sudah menawarkan kepada Zulfa agar tinggal dirumah saja atau membeli rumah baru. Tapi ditolak halus oleh Verko, bukan karna tidak mau atau merasa dirinya sudah mampu. Hanya saja Verko tidak ingin merepotkan mertuanya.
Melihat juga Elena yang dari awal sudah menghinanya. Membuat Verko menaruh rasa benci pada ibu mertuanya. Dia merasa direndahkan hanya karna tidak punya apapun. Cibiran dan cacian yang dia dapat membuat hatinya sakit. Seolah dia manusia rendah serendah-rendahnya. Maka dari itu saat Devon menawarkan beli rumah, Verko menolaknya. Zulfa juga tidak menuntut apapun. Malahan istrinya memilih untuk tinggal dikontrakan saja.
Zulfa sudah membereskan koper yang akan dia bawa. Semua sudah dia masukkan ke dalam sana. Kali ini Devon meminta agar mereka diantarkan supir saja, kali ini mereka tidak menolak. Karna barang Zulfa juga lumayan. Sebelum pergi, mereka berpamitan terlebih dahulu kepada Devon dan Elena.
"Papa, aku pergi dulu ya. Jaga kesehatan pa." ucap Zulfa sambil mengecup punggung tangan ayanya.
"Iya, kamu juga jaga kesehatan. Hormati suami kamu, laksanakan perintahnya jika menuju kebaikan, tinggalkan kejelekan. Kunci rumah tangga yang harmonis itu adalah saling percaya. Tanamkan pada rumah tangga kalian, harus saling percaya satu sama lain. Dan saling menjaga juga." nasehat Devon kepada Verko dan Zulfa.
"Iya pa, pasti kami akan lakukan itu. Terima kasih ya pa." balas Zulfa tersenyum memeluk Devon.
"Iya, papa pesan sama kamu Verko. Jaga putri papa dengan baik, jangan menyakiti hatinya. Lindungi dia dari apapun. Sayangi dan cintai Zulfa sepenuh hatimu. Papa sekarang serahkan dia padamu." perkataan Devon membuat Zulfa tersentuh haru.
"Iya pa, aku janji akan selalu melindungi Zulfa dan mencintai sepenuh hatiku." balas Verko lalu mencium punggung tangan Devon juga.
"Pergi tinggal pergi kok malah basa basi. Sudah kalau pergi sana, susah banget. Sudah miskin, gak punya apa-apa. Bikin malu saja, lagian kalau mau suami yang derajatnya seimbang. Jangan pria kere dijadikan suami!!." celetuk Elena dengan tatapan tajam ke arah Verko dan Zulfa.
"Kamu ini ngomong apa sih. Jaga bicaramu!! Bukannya mendoakan yang baik malah mencaci maki begini." tegur Devon marah mendengar perkataan peda dari istrinya.
"Buat apa mendoakan mereka. Kalau sudah miskin ya miskin aja. Mana bisa menandingi orang yang derajatnya lebih tinggi dari mereka. Selera kok rendahan!!" hardik Elena bersendekap dada sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
Zulfa tidak terima dibilang seleranya rendahan. Dia betul-betul mencintai Verko tanpa melihat harta. "Mama boleh tidak suka denganku, tidak suka melihatku. Tapi jangan pernah sekali pun merendahkan harga diri suamiku. Aku menerima kekurangannya dan harta bukan segalanya. Cintamu bukan terletak pada harta." sahut Zulfa kesal mendengar suaminya dihina oleh ibu tirinya.
"Emang loh makan pakai daun? Sok bilang harta bukan segalanya. Kalau sudah kekurangan nyari uang, pinjam sana sini. Gak usah belagu deh. Emang selera loh rendah, bikin malu keluarga saja. Nikah kok sama orang kere kayak dia. Untuk memenuhi hidupnya saja susah, apalagi ditambah mau memberi makan loh!." sahut Firsi dari arah belakang.
Dia sudah malu dari tadi mendengar cibiran orang-orang tentang mereka. Dan elbih memilih berdiam diri dalam kamar sampai acara selesai.
"Saya akan buktikan suatu saat nanti keadaan ini akan berbalik kepada kalian sendiri. Sekarang saya memang miskin, tapi bukan berarti suatu saat saya bisa berubah. Jangan merendahkan orang lain kalau mama dan Firsi belum tau kedepannya seperti apa. Gak pa-pa sekarang mama menghinaku. Saya akan buktikan suatu saat nanti." timpal Verko yang sudah geram mendengar olokan dari mama mertua dan adik iparnya.
__ADS_1
"Belagu!! Bicara saja tinggi tapi kenyataannya rendah! Kalau sudah kere ya kere saja gak perlu sok-sokan seperti orang besar. Penampilan kupel, miskin, iuuw sampah!!." kata-kata terakhir Firsi menyulut emosi Zulfa dan Devon. Dia tidak terima suaminya direndahkan seperti itu.
"CUKUP!! Papa tidak pernah mengajarimu untuk menghina orang lain Firsi. Jaga ucapanmu!! Apa pantas kamu mengatakan itu sama kakak iparmu?. Kamu saja kuliah masih papa yang membiayai, lihat Zulfa. Dia gak pernah minta untuk biaya kuliah. Harusnya kamu contoh kakakmu bukan malah menghina yang membuat hatinya terluka." marah Devon kepada Firsi, sorot matanya tajam lurus menghadap Firsi.
"Terus saja papa banding-bandingin aku sama dia! Emang aku tidak pernah benar dimata papa. Selalu saja salah, apa yang aku kerjakan tidak selalu benar."
"Karna memang yang kamu lakukan itu salah. Kalau perbuatanmu benar, papa tidak akan menyalahkanmu. Apa menghina seperti itu perbuatan yang benar? Papa tanya sama kamu Firsi jangan diam saja." sahut Devon meninggikan suaranya.
"Papa memang pilih kasih!." Firsi langsung berlalu pergi ke kamarnya dengan perasaan yang kesal, marah, dan semakin membenci Zulfa.
"Hanya gara-gara dia kamu sampai membentak Firsi. Emang ya mas kamu itu selalu pilih kasih, dimata kamu hanya Zulfa yang selalu benar. Keterlaluan kamu mas!!." Elena kesal melihat Devon lebih membela Zulfa dan membentak Firsi. Dia pun pergi dari sana, berniat menghampiri putrinya dikamar.
"Huufh......Kalian pergi saja, tidak usah didengerin ucapan mereka. Papa minta maaf atas perlakuan mama dan Firsi yang semena-mena sama kalian." ucap Devon menatap sendu kearah Verko dan Zulfa.
"Papa tidak perlu meminta maaf, bukan salah papa. Aku ikhlaa kok, sudah ya kami pamit dulu. Jaga diri papa baik-baik." balas Zulfa memegang tangan ayahnya sambil tersenyum.
"Kalian hati-hati dijalan."
"Iya pa, kami pamit." Devon pun mengangguk.
Verko menggandeng Zulfa masuk ke dalam mobil. Kaca jendela terbuka, lalu Zulfa menoleh melambaikan tangan ke arah Devon. "By pa..." ucapnya.
Devon hanya mengangguk dan tersenyum melihat mobil yang semakin menjauh dari halaman rumahnya. Sampai tidak terlihat lagi keberadaannya. Lalu Devon masuk ke dalam.
🥀🥀🥀
Mobil yang dinaiki oleh Verko dan Zulfa sudah sampai didepan rumah kontrakan. Zulfa langsung turun bersama Verko. Supir pun menurunkan koper Zulfa yang ada dibagasi. Setelah itu Zulfa berterima kasih kepada supir pribadi ayahnya, karna sudah mengantarkannya sampai rumah.
Lalu supir itu pun pergi. Verko mengambil alih koper Zulfa dan membawanya masuk ke dalam. Ia mengambil kunci disakunya dan membuka pintu. Zulfa pun ikut masuk ke dalam sambil membawa tas ditangannya.
__ADS_1
"Maaf ya, rumah aku kecil tidak seperti rumah kamu. Semoga kamu bisa betah tinggal disini." ucap Verko menaruh koper Zulfa dikamar yang paling depan.
"Gak pa-pa mas, aku selama ini juga tidak tinggal dirumah tapi diasrama. Jadi buat aku sudah biasa, asalkan sama kamu." balas Zulfa tersenyum lembut ke arah Verko.
"Makasih sayang." ucap Verko membuat Zulfa malu sendiri dipanggil sayang. Pipinya merona seperti kepiting rebus.
"Ahh kamar kita yang depan kan?." tanya Zulfa gugup menutupi sikapnya yang tadi. Untung Verko tidak melihat saat pipi Zulfa merah merona.
"Iya, aku taruh koper kamu didekat lemari. Besok saja diberesi. Pasti kamu juga capek, mending sekarang kamu istirahat saja." kata Verko.
"Aku gak capek mas, mendingan aku beresi sekaranh saja. Biar besok bisa nyantai, kamu mau banti gak?."
"Mau dong, masa aku biarin istriku beresin sendiri sih. Ayo aku bantu menata dilemari." karna Zulfa mengatakan tidak capek, Verko pun membantunya untuk memberesi koper. Membuka satu per satu, menaruh pakaian dilemari,dan barang-barang lain.
Walau sederhana Zulfa merasa sangat bahagia bisa menikah dengan orang yang dicintainya. Terlebih suaminya juga bersikap apa adanya. Membuat Zulfa kagum melihatnya. Ia pun memberk pakaian yang ada dalam koper untuk dimasukkan ke dalam lemari.
Setelah beres semuanya, mereka beristirahat sebentar. Lalu Zulfa pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Lalu ia berniat memasak, tapi berhubung tidak ada persediaan bahan jadi dia tidak bisa memasak.
"Mas, didapur tidak ada bahan makanan apapun. Nanti kamu makannya gimana?." tanya Zulfa menghampiri Verko yang ada diruang tamu.
"Nanti kita beli saja ya, aku memang tidak nyetok bahan makanan. Gak ada yang masakin, kalau makan ya diluar biasanya." jawab Verko.
"Yakan sekarang ada aku istri kamu. Besok ikut aku belanja ya, aku mau nyetok bahan makanan biar gak beli terus. Uangnya kan bisa buat nabung dan lebih sehat kalau buat sendiri. Kamu mau aku buatin kopi?." tanya Zulfa yang diberi anggukan oleh Verko.
Zulfa pun pergi ke dapur untuk membuatkan kopi suaminya. Sepeninggal Zulfa, terlihat Verko gelisah. Dan beberapa kali menghembuskan nafasnya kasar. Ia seperti memikirkan sesuatu, entah apa. Yang jelas mengganggu dibenaknya. Verko teringat ucapan Brima tempo hari sebelum pernikahannya. Saat Brima pulang tengah malam.
"Kamu harus jujur dan terbuka sama Zulfa setelah menikah. Jangan sampai dia kecewa karna kamu menyembunyikan kenyataan. Kalau kamu mengatakannya nanti-nati terus dan dia sudah menima kamu sebagai Verko.
Pasti sulit baginya untuk menerima jadi dirimu yang asli. Berhubung cintanya belum terlalu dalam sama kamu, katakan sejujurnya setelah menikah nanti. Agar nanti kecewanya tidak terlalu dalam. Jangan sampai kamu menyesal nanti kalau menunda-nunda."
__ADS_1