Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
94 #Masa Sulit


__ADS_3

"Kalau gitu loh harus sembuh dan bantu Maira juga buat menghilangkan semua itu! Kalian bisa memberi semangat satu sama lain!" ucap Arshana serius.


"Belum tentu Maira mencintai gue! Sikapnya saja gak ada tuh menandakan kalau dia cinta sama gue!" ujar Arganta.


"Belum loh buktikan! Sifat perempuan gak bisa loh tebak! Kalau loh ingin tau, caranya dengan menyatakan secara langsung. Jangan diam begini, keburu dia diambil orang lain! Jangan sampai loh menyesal! Katakan saja apa adanya, gue yakin kalau Maira juga mencintai loh. Setidaknya loh bisa lega mendengar jawaban dia!" Arshana memberi nasihat dari hati ke hati.


"Perjuangin dia kalau memang loh benar-benar serius. Ingat Ga! Maira sudah pernah terluka sekali dan jangan mengukir luka yang baru. Jadilah pelindung baginya dan bahagiakan dia. Mangkanya loh harus berusaha buat sembuh!" ucapnya lagi.


"Iya, gue akan berusaha untuk bangkit. Hmm anterin gue ke rumah sakit sekarang!" pinta Arganta.


"Tapi....."


"Aku gak pa-pa. Aku ingin menjaga Maira, tolonglah anterin gue! Pliiiss! Atau gue berangkat sendiri nih!" ancam Arganta.


Arshana gak mau kalau Arganta pergi sendirian dalam keadaan begini. Apalagi sudah malam. Akhirnya dia mengiyakan permintaan Arganta. Emang kalau sudah bahas Maira, Arganta paling gercep.


"Ya udah loh ganti baju dulu sana, sekalian nanti minta perawat buat obatin luka ditangan loh. Jangan nolak, luka loh lumayan lebar. Bisa infeksi nanti!" ucap Arshana saat melihat Arganta ingin menolak.


"Hmm ya deh, gue ganti baju dulu!" balas Arganta sambil berjalan ke lemari untuk mengambil pakaian ganti.


"Gue mau ke kamar dulu, entar kalau sudah jangan kemana-mana tunggu gue disini. Jangan keluar, awas loh!" tekan Arshana.


"Iyaaa!" jawab Arganta.


Lalu Arshana keluar dari kamar adiknya menuju kamarnya. Dia melihat Zulfa berbaring diatas ranjang. Arshana tua kalau Zulfa belum tidur, terlihat dari gerak-geriknya. Ia tak banyak bicara dan langsung mengambil jaket serta kunci mobil.


"Aku mau pergi dulu nganterin Arganta ke rumah sakit. Kamu tidur duluan saja gak perlu nungguin aku!" ucap Arshana lalu pergi keluar kamar.


Dibalik selimut Zulfa ingin sekali ikut untuk melihat keadaan Maira. Namun, egonya memilih untuk tetap dirumah. Hatinya masih amat kecewa dengan Arshana. Dia merasa dibohongi selama ini. Zulfa pun memilih untuk tidur saja.


Sementara Arshana sudah balik ke kamar Arganta. Mereka pun berjalan beriringan turun ke bawah. Ternyata diruang tamu masih ada Felix dan Yolanda. Sedang Kakek Abhi sudah kembali ke dalam kamar. Sekalian Arshana meminta izin untuk keluar.


"Pa, Ma, aku sama Arganta keluar dulu ya. Aku minta tolong jagain Zulfa," ucap Arshana saat sampai diruang tamu.


Felix dan Yolanda malah menatap kearah Arganta yang berada disamping Arshana. Dia sudah terlihat baik-baik saja sekarang. Ingin sekali Yolanda memeluk anak bungsunya. Tapi tatapan Arganta hanya mengarah lurus kedepan, tanpa memandangnya. Sehingga dia urung untuk bertanya lebih banyak.


"Lama?" tanya Felix.

__ADS_1


"Kerumah sakit, Pa! Kemungkinan aku gak pulang malam ini. Jadi aku minta tolong jagain Zulfa, barangkali dia perlu apa-apa," balasnya.


"Ya sudah kalian hati-hati!" ucap Felix.


Arshana mengangguk, lalu mencium punggung tangan kedua orang tua secara bergantian dan Arganta sama halnya Arshana. Setelah itu mereka berjalan keluar menuju mobil Arshana.


Sepanjang jalan Arganta banyak diam. Arshana hanya bisa menghela nafas kasar melihat perubahan pada diri Arganta dalam sekejab. Mengingatkannya pada masa pertama kali melihat Arganta begitu.


...*****...


Rumah Sakit.


Arshana dan Arganta masuk ke dalam ruang rawat Maira. Saat pintu terbuka memperlihatkan Maira yang sedang tertidur pulas. Perlahan Arganta mendekatinya dan duduk disamping Maira. Tangannya terangkat mengelus rambut Maira, sehingga membuat tidurnya terusik.


Maira terbangun dan sudah melihat Arganta berada disampingnya bersama dengan Arshana. Ia sedikit kaget melihat Arganta dan juga suami sahabatnya ada dirumah sakit, apalagi waktu sudah semakin larut malam. Dan tak sengaja tatapan Maira melihat kearah tangan Arganta yang terluka. Membuatnya khawatir dan bertanya-tanya penyebab luka tersebut.


"Tanganmu kenapa, Ga?" tanya Maira.


"Gak pa-pa hanya luka kecil, maaf sudah menganggu waktu tidurmu!" jawab Arganta tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Maira.


Tatapan Maira beralih pada Arshana yang juga ikut ke rumah sakit, namun tidak bersama Zulfa. Maira semakin bingung, karna merasa ada yang aneh dengan sikap Arshana maupun Arganta.


"Hem, apa?"


"Ikut gue bentar!" kata Arshana.


"Sebentar ya Mai." Arganta mengikuti arah pergi Arshana.


"Ada apa sih?" tanya Arganta saat berada diluar ruangan Maira.


"Obati dulu luka loh! Nanti bisa infeksi, biar gue yang jagain Maira selagi loh pergi. Udah sana obati dulu biar dianter sama salah satu dari mereka! Jangan membantah kalau dibilangin!" tegas Arshana saat melihat Arganta ingin protes.


Arganta pun pergi begitu saja sambil mendengus kesal dengan kakaknya. Memang selalu begitu, sikap Arshana tidak bisa dibantah. Diikuti salah satu bodyguard yang tadi menjaga Maira, Arganta pergi ke ruang IGD untuk mengobati luka ditangan.


Sedangkan Arshana kembali ke ruangan Maira. Ternyata Maira belum kunjung kembali tidur, matanya masih terbuka lebar. Mungkin dia tidak bisa tidur lagi. Jadi Arshana hanya menemani Maira selagi Arganta pergi. Hanya kesunyian diantara keduanya, karan Arshana tak berniat bicara apapun. Sehingga keadaan jadi canggung.


"Hmm, tangan Arganta kenapa tuan? Kenapa bisa terluka?" tanya Maira memberanikan diri bertanya, walaupun dia sudah tidak memanggil Arganta dengan embel-embel Tuan.

__ADS_1


"Gak apa-apa, tidak perlu dipikirkan," jawab Arshana cuek tanpa mau menjelaskan yang terjadi. Ia menghargai adiknya yang belum mau bercerita, jadi apa haknya untuk mendahului.


'Issh! Kenapa sih dengan mereka berdua? Kakak adik sama saja, jawabnya gak pa-pa. Padahal udah jelas tangannya terluka! Keselin emang mereka!' batin Maira kesal.


"Maira!" tiba-tiba Arshana memanggil.


"Iya Tuan?"


"Apakah ada orang yang kau cintai dalam hatimu?" tanya Arshana.


'Eitdah! Kenapa dia bertanya begitu, dia kan sudah punya Zulfa. Apa dia mau selingkuh? Hmm awas saja kalau berniat mendua dari Zulfa, sahabatku mau disakiti!' gumam Maira dalam hati.


"Hmm tidak Tuan! Saya tidak ingin berhubungan dengan siapapun untuk sekarang! Memangnya kenapa Tuan?" tanya Maira bingung sekaligus bertanya-tanya dalam hati.


"Tidak apa-apa, hanya tanya saja!" jawab Arshana.


Ceklek.


Arganta masuk ke dalam ruang rawat Maira. Tangannya sudah terobati dengan baik, ia kembali duduk disamping Maira. Arshana melihat kondisi adiknya sudah membaik. Ia sangat khawatir melihat Arganta kembuh kayak tadi. Maka dari itu ia memilih untuk menemaninya ke rumah sakit. Biasanya selepas kambuh, Arganta tidak bisa kembali sehat atau baik-baik saja seperti sekarang. Dia akan termenung sendiri dan melamun.


Mungkin karna sekarang support systemnya adalah Maira. Membuat Arganta jadi bisa mengalahkan separuh rasa takutnya. Arshana senang melihatnya, dia sekarang tau kalau Maira berpengaruh besar untuk kesehatan Arganta. Tapi mendengar jawaban Maira tadi membuat Arshana kembali berpikir. Apakah bisa Arganta mengembalikan hati Maira yang sudah rapuh?. Yang ditakutkan oleh Arshana hanya satu, yaitu penolakan. Andai Arganta ditolak oleh Maira dan makin mengganggu mentalnya bagaimana? Itulah yang sedang dipikirkan oleh Arshana sekarang.


"Aku mau keluar sebentar, loh mau nitip sesuatu gak?" tanya Arshana sambil bangkit menuju pintu.


"Kamu mau dibelikan sesuatu Mai?" Arganta malah bertanya kepada Maira.


"Tidak perlu!" jawab Maira singkat.


"Gak usah deh!" balas Arganta.


"Ya sudah gue pergi dulu." Arshana keluar dari ruangan Maira sambil otaknya berpikir keras tentang jawaban Maira nanti, andaikan Arganta mengutarakan isi hatinya.


Arshana sudah berusaha keras selama ini agar bisa memulihkan keadaan Arganta seperti semula. Tanpa dihantui rasa ketakitan yang luar biasa. Jika diingat ke masa dahulu membuat Arshana sedih. Gak mudah untuk bisa membuat Arganta sembuh dan menghilangkan rasa trauma yang sudah dipendamnya bertahun-tahun. Arshana saja tidak bisa membayangkan saat Arganta masih sendiri, belum bertemu dengannya. Dalam keadaan sendiri dia harus berjuang agar tetap hidup, sedangkan dirinya malah hidup serba kecukupan bahkan lebih dari cukup. Sejak Arganta lahir semasa bayi, Arshana yang paling senang dan menyambut dengan gembira.


Bahkan Arshana pernah menangis hanya gara-gara tidak diajak kerumah sakit untuk melihat adiknya yang baru saja dilahirkan. Dan saat mendengar kabar kalau adiknya meninggal, Arshana sampai termenung dikamar tanpa mau diganggu siapapun. Hingga satu bulan berlalu, keadaan Arshana tetap sama. Dia belum bisa menerima kepergian Sang adik yang amat disayanginya. Berbagai cara Felix dan Yolanda lakukan agar Arshana bisa kembali menjadi anak yang ceria. Namun hasilnya nihil, hingga Arshana bertumbuh dewasa. Tapi sejak kembalinya Arganta dan hadirnya Zulfa, membuat Arshana kembali bisa tersenyum dan tertawa.


Jika mengingat masa itu membuat Arshana sedih. Sampai dia harus tumbuh dan menjadi seseorang yang kejam dan sadis. Dan sekarang dia harus melihat Arganta kambuh lagi, Arshana tak menyalahkan siapapun. Karna sejak awal memang Arganta yang bersikap cuek dan seolah ingin membongkar semuanya.

__ADS_1


"Semoga saja kau bisa menemukan kebahagiaanmu, Ga! Sudah cukup penderitaan yang kau alami selama ini. Aku akan selalu mendukungmu!" gumam Arshana didalam mobil.


__ADS_2