
Arshana dan Zulfa telah pindah ke mansion atas perintah Kakeknya. Jadi mereka sudah tidak tinggal dikontrakan lagi. Tetapi kontrakan tersebut masih memiliki sisa sewanya. Zulfa awalnya merasa ragu untuk pindah ke mansion, sampai Yolanda meyakinkannya agar mau pindah bersama Arshana. Akhirnya dia mengiyakan dan memindahkan barang-barang mereka dari kontrakan ke mansion. Tidak banyak hanya beberapa saja, karna mereka tidak punya banyak barang.
Ayah Zulfa belum tau yang sebenarnya. Sehingga dia juga belum tau kalau Zulfa sudah pindah rumah. Zulfa ingin mengatakan yang sejujurnya, tetapi tidak diperbolehkan oleh Arshana untuk berbicara dulu. Karna misi dia belum selesai dan akan tetap berlanjut. Arshana akan menuntaskan misi dari Kakeknya. Biarkan sejenak dirinya menjadi seolah-olah pria cupu, nanti akan ada saatnya Arshana akan membungkam mulut mereka semua. Sehingga Zulfa akan tetap mengikuti alur main suaminya.
Jika pagi dia dan suaminya akan berangkat untuk bekerja agar tidak mendapat kecurigaan dari yang lain. Arshana juga menawarkan kepada Zulfa agar bisa membalas perbuatan ibu dan adik tirinya. Tapi Zulfa masih berpikir-pikir lagi. Selama di mansion, Zulfa merasa nyaman sebab ada Yolanda yang selalu menyayanginya. Hadirnya Yolanda membuat Zulfa merasa ada kehadiran mamanya.
Kali ini keluarga Abhimarta berkumpul untuk sarapan pagi. Mereka lengkap berenam, kalau biasanya berempat sekarang sudah beda. Selama tinggal dimansion, Zulfa memang nyaman hanya saja sikap dan tatapan Felix dan Kakek Abhi yang membuat dia merasa tak nyaman. Wajar karna mereka masih ragu dengan Zulfa. Felix sudah mencari tau tentang seluk beluk kehidupan Zulfa. Dan dia menemukan banyak informasi yang tidak terduga. Ternyata yang dikatakan oleh Arshana benar, kalau Zulfa tidak diperlakukan adil dirumahnya sendiri. Setelah mengantongi identitas menantunya, Felix perlahan bisa menerima Zulfa, walau belum di ucapkan. Sekarang ia akan mengatakannya selesai sarapan.
Tuan Felix akan pergi ke perusahaan bersama Arganta dan Arshana. Sebelum itu ia akan mengatakan sesuatu kepada Arshana dan Zulfa. Begitu pun dengan Kakek Abhi, selesai sarapan mereka tidak langsung berdiri. Karna Kakek Abhi belum menyuruh mereka bangkit. Sudah kebiasaan untuk menghormati Kakek Abhi. Jadi mereka tidak akan pergi sebelum Kakek Abhi selesai.
"Papa ingin mengatakan sesuatu kepada kalian berdua." ucap Felix menatap Arshana dan Zulfa.
"Papa mau mengatakan apa kepada kami?" tanya Arshana.
"Papa merestui kalian berdua."
"Kakek juga merestui kalian."
Mendengar kata restu dari kedua bibir ayah dan Kakeknya membuat Arshana terswnyum senang begitu pun dengan Zulfa yang tak kalah senangnya.
"Papa dan Kakek seriuskan?" Arshana memastikan kembali takut pendengarannya salah.
"Mau papa cabut lagi ucapan yang tadi! Gak ada kata kedua." ujar Felix terlihat ketus tapi aslinya tidak.
"Ya jangan lah pa, makasih sudah merestui kami. Makasih Kakek."
"Makasih papa dan Kakek mau merestui pernikahan kami. Makasih juga sudah menerima saya disini." ucap Zulfa sopan penuh lemah lembut. Membuat Felix tersenyum, ia tak salah merestui Arshana dan Zulfa. Menantunya jauh berbeda dengan pilihan putranya yang pertama.
"Iya, semoga kalian hidup bahagia selalu." doa Kakek untuk Arshana dan Zulfa.
"Ehem...." tiba-tiba saja Arganta berdegem membuat mereka sontak menoleh ke arahnya.
"Kamu kenapa? Kalau kesedak ya minum." sahut Arshana belum paham dengan sikap Arganta.
"Hadeh enggak! Papa sudah selesaikan ngobrolnya. Ayo berangkat." Arganta merasa kesal melihat kakaknya yang gak bisa peka.
__ADS_1
"Iya iya, buru-buru banget sih. Lagian masih jam berapa ini, gak bakalan telat. Perusahaan juga milik sendiri. Kalau iri buru cepetan nikah, jangan suka menjomblo terus." celetuk Arsyana membuat raut wajah Arganta kesal.
"Ck, mentang-mentang sudah nikah, sekarang malah nyindir adiknya sendiri. Andai dulu nikahnya masih sama si j*l*ng itu pasti hidup....." Arganta langsung menghentikan ucapannya saat sadar kalau perkataannya terlalu kasar, apalagi ada Zulfa disana.
"Maaf kakak ipar, aku gak bermaksud untuk....."
"Gak pa-pa, aku sudah tau kok sifat dia memang begitu. Cuma aku diam saja karna males harus berdebat dengannya yang ujung-ujungnya nanti aku tetap kalah. Biarin papa dan mama tau sendiri nanti." jawab Zulfa membuat semuanya tertegun kecuali Arshana yang memang sudah tau.
"Ohh jadi memang kerjanya memuaskan hasrat pria. Ck ck ck, pintar juga ya menyembunyikan fakta." ujar Arganta geleng-geleng kepala.
"Udah, ayo pa berangkat. Mau sampai kapan ngobrol terus. Jadi ke perusahaan gak?." timpal Arshana agar tidak terus berlanjut membalas Firsi. Bukannya membela, tetapi lebih ke males untuk membahas.
"Ya sudah, pa aku berangkat dulu." tuan Felix mengecup punggung tangan Kakek Abhi begitu pun dengan Arshana dan Arganta.
Yolanda pun mengantarkan suaminya beserta anaknya keluar, disusul Zulfa yang ikut mengantarkan Arshana. Setelah kepergian mereka bertiga, Zulfa juga akan pergi kerumah ayahnya. Semalam dia sudah meminta izin kepada suaminya. Arshana ingin mengantarkan, tetapi karna harus ke perusahaan akhirnya dia membiarkan Zulfa pergi sendiri. Tentu akan ditemani oleh beberapa suruhannya. Lebih tepatnya mengikuti dari belakang untuk memastikan istrinya tetap aman.
Zulfa akan pergi menggunakan taxi saja. Ia berpamitan kepada Yolanda dan Kakek Abhi sebelum pergi. Sudah ada empat orang yang akan mengikuti Zulfa dari belakang.
"Kamu hati-hati ya sayang, kalau sudah sampai hubungi mama." pesan Yolanda sambil menerima uluran tangan Zulfa.
"Tidak perlu, kamu langsung pulang saja. Mama tidak ingin apapun," jawabnya.
"Baiklah ma, Zulfa pergi dulu."
"Iya sayang."
Zulfa pun melangkah keluar gerbang. Taxi yang dia pesan sudah sampai. Setelah kepergiannya tak lama para suruhan mertuanya juga mengikuti dari belakang. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu kepada Zulfa. Dia sangat beruntung bisa mendapatkan suami yang baik dan menyayanginya dengan tulus. Ditambah keluarganya yang begitu sayang tanpa memandang kekurangan Zulfa.
🥀
🥀
🥀
Sementara dirumah Devon, Firsi yang baru saja sampai malah disidang oleh kedua orang tuanya. Dia juga bingung kenapa ayah dan ibunya menatap penuh selidik kepadanya. Devon menyuruh Firsi untuk duduk dengan nada bicara yang terlihat marah. Mamanya pun sama, terlihat percikan kemarahan dikedua matanya.
__ADS_1
Firsi sudah berpikir kemana-mana, padahal sebelum dia pergi Devon dan Elena masih baik-baik saja. Bahkan masih welcome dengannya. Kenapa sekarang tatapan mereka begitu tajam? Ada sesuatu kah yang membuat mereka marah? Tapi apa?.
Tunggu...
Kenapa mamanya membawa alat persegi panjang yang ada ditangan kanannya. Firsi baru menyadari hal itu, sejak kapan benda tersebut dibawa oleh Elena. Dan dari mana mamanya bisa mendapatkan barang tersebut. Padahal pintu kamarnya selalu dia kunci, tidak mungkin Elena bisa masuk dan mencari benda tersebut yang tak lain adalah tespack. Lagian Elena juga belum tau kalau dirinya tengah hamil. Apa karna perutnya yang terlihat agak besar dan badannya yang berbeda?.
Firsi sudah cemas duluan melihat tayapan tajam dari Devon yang mengarah padanya. Sekuat mungkin Firsi tetap bersikap biasa, walau hatinya berbohong untuk tidak mengatakan takut. Apa yang akan terjadi padanya nanti. Firsi sudah membayangkan kemarahan besar dari kedua orang tuanya. Terlebih dia tidak jujur dari awal sampai kandungannya lebih dari satu bulan. Jelas saja ada perubahan dalam tubuhnya.
Dia berniat membunuh janinnya tapi tidak bisa. Berulang kali selalu gagal, meminta pertanggung jawaban pada Handian juga tidak bisa. Firsi telah mendapat kabar kalau perusahaan Handian sudah diambil alih alias bangkrut. Apakah karna hal ini dia dicampakkan? Atau memang Handian tidak serius padanya?.
"Katakan yang sejujurnya sama mama dan papa. Alat ini milik siapa? Bukan milikmu kan sayang?." tanya Elena masih dengan nada lembut.
"Kenapa mama malah bawa tespack dan menanyakannya padaku? Apa hubungannya sama aku?" Firsi malah balik bertanya, walau dia tau pasti alat itu miliknya.
"Tolong jangan berbohong sama mama sayang. Taspack ini mama temukan dikamarmu, sekarang mama tanya ini milik siapa?" Firsi tersentak kaget mendengar kalau mamanya menemukan tespack tersebut dikamarnya. Bagaimana bisa masuk? Kamarnya saja selalu dikunci.
Firsi masih terdiam belum ingin membalas. "Pasti kamu terkejut karna mama bisa membuka kamarmu kan? Kamu lupa kalau kamarmu tidak hanya memiliki satu kunci? Mama juga punya kunci cadangannya. Mama sudah curiga dengan tingkah lakumu yang aneh. Apalagi kamar selalu terkunci. Mangkanya mama berniat mencari tau keanehanmu. Sekarang jawab pertanyaan mama, alat ini milik siapa?" jelas Elena masih merendahka nada bicaranya.
"Bukan milikku!" jawab Firsi mengelak.
"JAWAB YANG JUJUR FIRSI!" sentak Devon yang tersulut emosi, dari tadi dia menahannya dengan Elena yang berbicara. Tapi mendengar perkataan bohong dari Firsi membuatnya jadi emosi.
"Mas! Firsi belum jawab, jangan terbawa emosi." Elena mengingatkan Devon agar bisa menahan amarahnya. Karna Elena belum tau pasti apakah betul tespack tersebut milik Firsi.
Devon kembali diam menunggu jawaban dari Firsi yang masih betah untuk bungkam. "Katakan yang jujur sama mama. Apakah benar ini milikmu atau bukan?" Elena kembali bertanya dengan nada lembut tidak seperti suaminya yang sudah terlanjur marah.
"En-enggak ma, itu bukan milikku," jawab Firsi gagap karna rasa takut untuk mengakuinya.
"Jangan berbohong sayang, katakan dengan jujur." Elena yakin kalau Firsi sedang berbohong. Dia punya firasat kalau tespack tersebut memang milik Firsi.
"Aku tidak berbo...."
"CUKUP FIRSI! PAPA MUAK DENGAN OMONG KOSONGMU. KAMI TAU KALAU TESPACK ITU ADALAH MILIKMU. MAU MENGELAK?" sentak Devon sudah tidak tahan lagi untuk menahan amarahnya.
"IYA......"
__ADS_1