Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
77 #Kemarahan Arshana


__ADS_3

Zulfa juga sadar akan tatapan lain dari para karyawan. Ada yang sinis dan ada juga yang abai. Tak sedikit juga yang menyapanya ramah. Sampai didepan ruangan Maira bekerja. Dia menunjukkan kepada Zulfa.


"Nah ini ruanganku Fa, bersebelahan dengan ruangan Bu Anin, kamu pasti tau dong," kata Maira.


Yaa jelas Zulfa tau, karna Anin sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri. Anin terlalu baik kepada Zulfa sejak dahulu, bahkan sering memberi Zulfa jajan untuk kuliah. Tapi Zulfa sudah tidak pernah bertemu dengan Anin lagi semenjak keluar dari toko. Dan dia juga belum mengatakan yang sebenarnya kepada Anin. Mungkin tadi Anin syok melihatnya bergandengan dengan Arshana.


Ruangan Maira memang bersebelahan dengan Anin. Karna dia bertugas sebagai asisten Anin. Yang membantu untuk mengatur keuangan perusahaan. Tapi karna Anin juga ikut rapat, ruangan itu kosong.


Maira kembali mengajak Zulfa untuk ke lantai bawah. Saat berjalan dilorong tempat karyawan sedang bekerja, tatapan mereka semua langsung tertuju pada Maira dan Zulfa. Dan dari mereka ada salah satu yang mempertanyakan status Zulfa kepada Maira. Sekaligus menyindir yang membuat Zulfa merasa tersinggung.


"Siapa yang kamu bawa Mbak Maira? Bukannya yang tadi bersmaa tuan Arshana? Kekasih baru ya?" tanya salah satu perempuan yang duduknya ada dipaling pojok kanan bernama Rena.


"Hmm pasti gak beda jauh dengan yang sebelumnya, modal rayuan dan kecantikan. Semua juga bisa, ohh iya tuan Arshana kan kaya banget. Tampan juga, siapa sih yang gak mau. Pasti jadi konglomerat mendadak," cicit yang lainnya menyahut.


"Ya iyalah, tukang roti jadi ratu. Jelas beda dong, lihat aja penampilannya sudah berbeda. Pasti dimodalin, mana mampu beli pakaian mahal," sahut Rena sinis.


Hati Zulfa merasa tersentil dengan hinaan dan sindiran dari mereka. Dia merasa sakit hati dengan ucapaan yang tak seharusnya mereka ucapkan. Tanpa diberi uang oleh suaminya, Zulfa juga mampu beli pakaian mahal. Memang dirinya tidak ingin membeli barang yang tak bermanfaat. Dia juga punya tabungan yang setiap bulan diberi ayahnya. Mereka hanya tau Zulfa seorang karyawan toko roti, tapi mereka belum tau latar belakang Zulfa seperti apa.


Mereka hanya mampu menghina hanya dengan melihat luarnya. Padahal mereka belum tau didalam Zulfa bagaimana. Sungguh saat ini perasaan Zulfa seperti dicabik-cabik. Tanpa sadar perkataan mereka sudah menghina Zulfa sebagai wanita penggoda. Padahal kenyataannya tidak seperti itu.


Maira juga merasa tersakiti dengan ucapan mereka. Walau bukan dia yang dihina, tapi sahabatnya. Maira tidak suka dengan perkataan mereka yang tidak bisa disaring. Andai mereka tau kalau Zulfa adalah istri dari pimpinannya, apakah masih berani menghina begitu? Pasti akan berpikir dua kali, karna sekali milik Arshana disentuh akan berkali lipat kemarahannya.


"Kalian kalau bicara dijaga, kalau sampai taun Arshana dengar bagaimana? Kalian tidak tau yang ada didepan ini siapa? Kalau kalian tidak tau itu diam! Jangan malah menggunakan lisan untuk berkata yang bisa menyakiti orang lain!" tegur Maira berusaha menahan amarahnya.


"Tau kok, dia kan hanya karyawan toko roti, kami juga tau. Setiap hari dia kesini untuk mengantarkan pesanan. Bu Anin juga yang sering menghampirinya. Halah wanita begini sudah sering aku temui, ujungnya-ujungnya juga sama seperti sebelumnya. Mana mau kalau gak ada hartanya," ucap Bella yang tadi ikut menghina Zulfa.


"Kamu kalau....." ucapan Maira terpotong karna Zulfa memegang tangannya agar diam.


"Saya bukan perempuan seperti yang ada dalam pikiran kalian. Kalau tidak tau kenyataannya jangan asal bicara. Nanti yang menyesal juga kalian sendiri, yang kalian ucapkan dari apa yang kalian lihat. Tapi apa kalian tau seperti itukah yang Saya alami? Dan saya bukan perempuan penggoda atau hanya menginginkan harta dalam menjalin hubungan. Apa diri kalian sudah lebih baik dari Saya? Yakin sebaik itu? Lain kali jaga perkataan kalian!" ucap Zulfa panjang lebar, walau amarahnya sudah melual. Dia berusaha menahannya.

__ADS_1


Entahlah dia lebih sensitif dari biasanya, ingin sekali langsung pergi. Tapi hatinya terlalu sakit mendengar hinaan mereka. Dia bukan perempuan penggoda, dia juga bukan perempuan gelap harta. Bukan pula wanita penebar pesona.


"Hmm, sudahlah gak perlu mengelak. Sudah banyak tampang wanita sepertimu, kata-kata saja tinggi tapi gak bisa intropeksi diri!" cicitnya.


What? Tidak bisa intropeksi diri? Apakah dia membicarakan diri sendiri? Gak kebalik tuh perkataannya? Memang ya kalau bicara tidak bisa lihat diri sendiri. Hanya bisa menilai orang lain dari sebelah mata saja.


"Gak kebalik perkataanmu tadi? Yang gak bisa intropeksi diri itu kamu! Sadar diri sebelum berucap, nanti bakalan malu sendiri loh! Haduuh!" sahut Maira dengan nada mengejek.


"Sudah lah Maira, ayo pergi. Aku kesini bukan ingin mendengarkan perkataan mereka, biarin lah mau mengatakan apapun. Yang tau statusku hanya orang terdekat, mana tau mereka," ucap Zulfa agak memelankan suaranya.


"Mulut mereka sesekali harus dibungkam Zulfa, biar gak dibuat menghina orang dan berghosip. Memangnya mereka digaji untuk membicarakan orang lain, enggak kan! Tugas mereka bekerja bukan mencecar orang," tegas Maira.


"Palingan juga jadi j*lang bayaran, tampilan babu kok mau jadi ratu!" ucap Bella santai tanpa menatap kearah Zulfa Maupun Maira.


"Kalau bicara dijaga song Bel, kasihan tuh," ucap rekan disebelah Bella menasehati.


Kali ini kesabaran Zulfa benar-benar habis. Perkataan mereka sudah kelewatan, sesekali memang dia harus tegas agar tidak ditindas. Sakit! Itulah yang dirasakan Zulfa sekarang.


Setelah berucap begitu, Zulfa langsung berlari menuju lift untuk keruangan suaminya. Maira juga langsung menyusul Zulfa, karna Arshana sudah menugaskan untuk menjaga Zulfa selama rapat berlangsung. Jadi sudah tanggung jawabnya menemani sekaligua menjaga Zulfa.


Sepanjang jalan Zulfa hanya mengusap air matanya yang tak berhenti keluar. Hatinya sakit, perih, terluka, semua dia rasakan. Bagaimana tidak, dia perempuan baik malah dapat hinaan yang berbanding terbalik. Sungguh menyakitkan bagi Zulfa. Dia bukan seperti Firsi yang dengan mudahnya merelakan diri untuk dinikmati pria br*ngs*k.


Sampai didalam ruangan Arshaan, Zulfa langsung dusuk disofa sambil terus menangis sesegukan. Maira sudah mencoba menenangkan Zulfa, namun tetap saja sahabatnya menangis. Kalau sampai Arshaan tau, pasti dia akan marah besar. Apalagi jika mendengar hinaan karyawannya yang dilontarkan kepada Zulfa.


"Fa, jangan menangis. Aku gak tega lihat kamu begini, sabar ya. Mereka memang keterlaluan, aku akan menegurnya nanti," kata Maira sambil memegang bahu Zulfa.


"Menegur bagaimana Mai? Kamu gak lihat tadi, perkataanmu saja tidak didengar. Apalagi aku, lihatkan! Mereka makin menghinaku. Sakit Mai hatiku, aku bukan perempuan sepeeti itu! Hiks....Hiks! " tegas Zulfa sambil terus menangis.


Maira tidak tau lagi harus bagaimana. Biasanya Zulfa akan tegar walau berbagai hinaan tertuju padanya. Menangis pun hanya sebentar lalu berusaha bangkit, tapi Maira tak melihat itu sekarang. Zulfa malah nangis sesegukan. Memang perkataan mereka tadi sudah keterlaluan sekali, pikir Maira begitu.

__ADS_1


Tak ada cara lain selain memanggil Arshana. Tapi bagaimana bisa? Rapat saja belum selesai. Nanti dia malah mengganggu, tugasnya kan untuk menjaga Zulfa. Kalau dipikir kembali, apakah Arshana tidak semakin marah nanti kalau dia gak mengatakan duluan?.


Akhirnya Maira memutuskan untuk memanggil Arshana saja. Semoga rapatnya sudah selesai, batin Maira. "Zulfa, aku keluar sebentar ya, kamu tunggu sini," ucap Maira, mengusap tangan Zulfa sebentar lalu pergi.


Maira pun bergegas turun keruang rapat, dia berharap Arshana sudah selesai. Setidaknya dia ingin memberi tau kondisi Zulfa sekarang. Sepertinya Zulfa hanya bisa tenang kalau ada Arshana disana. Sampai didepan ruang rapat, pintunya memang terbuka sedikit dan terlihat masih berlangsung. Maira jadi ragu untuk masuk, takutnya mengganggu dan terlihat tidak sopan.


Maira hanya mondar mandir didepan ruangan tersebut. Dia bingung harus berbuat apa, meninggalkan Zulfa terlalu lama juga gak bisa. Saat ingin kembali keruangan Arshana, Maita melihat ada Marlin yang keluar dari ruang rapat. Seketika Maira langsung menghentikan langkah Marlin.


"Maaf pak, boleh Saya bicara sebentar?" ucap Maira.


"Mau bicara apa? Saya buru-buru mengambil dokumen, nanti saja," jawab Marlin ingin berlalu tapi Maira langsung mencegahnya.


"Ini tentang Zulfa!" mendengar nama Zulfa disebut, pandangan Marlin langsung menoleh kearah Maira dengan tatapan bingung.


"Kenapa dengan nona Zulfa?" tanya Marlin.


Lalu Maira menjelaskan kepada Marlin yang sebenarnya. Seketika raut wajah Marlin berubah, dia sekarang paham kenapa Maira terlihat bingung. Marlin mengangguk lalu kembali masuk ke dalam ruang rapat.


"Mana dokumennya Marlin?" tanya Arganta saat melihat Marlin cepat sekali kembali.


"Maaf tuan Arganta, Saya ada perlu sesuatu dengan tuan Arshana," lalu Marlin membisikkan sesuatu kepada Arshana. Karna disana ada rekan kerja lain.


Tangan Arshana terkepal kuat saat mendengarkan penuturan Marlin barusan. "Sialan!" umpat Arshana lalu berlari keluar tanpa menjelaskan apapun lagi.


Dia berlari menuju lift untuk segera sampai diruangannya. Sementara Maira sudah kembali duluan saat selesai berbicara dengan Marlin tadi. Dia tidak mau meninggalkan Zulfa terlalu lama.


Ting.


Pintu lift terbuka, Arshana segera berlari memasuki ruangannya. Disana dia hanya menemukan Maira yang terduduk cemas disofa. Lalu Arshana menanyakan keberadaan istrinya.

__ADS_1


"Dimana Zulfa?"


__ADS_2