Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
95 #Masih Kecewa


__ADS_3

Zulfa berjalan kearah lemari untuk mengambilkan pakaian Arshana. Walau rasa kecewanya belum kunjung mereda, Zulfa tetap menjalankan tugas sebagai seorang istri. Sesaat kemudian, Arshana sudah selesai mandi dan mengambil pakaian yang sudah disiapkan oleh istrinya. Setelah berganti pakaian Arshana melihat sudah tidak ada Zulfa didalam kamar. Dalam beberapa hari ini Arshana memang membiarkan istrinya untuk sendiri. Tapi bukan berarti tak mengawasi setiap gerak-gerik Zulfa. Karna dia juga mengkhawatirkan kondisi istrinya dan juga calon anaknya.


Arshana keluar ke lantai bawah untuk gabung bersama keluarganya sarapan dulu. Namun tidak ada Zulfa disana, Arshana menengok kanan dan kiri untuk mencari keberadaan istrinya, namun tetap tidak ada. Seolah tau apa yang dicari oleh Arshana, Yolanda tiba-tiba berbicara dan memberitahukan keberadaan Zulfa.


"Istrimu ada dibelakang, mama gak tau dia sedang apa," ucap Yolanda cuek.


Sejak Arshana menjelaskan semuanya, Yolanda tetap bersikap cuek bahkan tak ramah seperti dulu. Arshana memaklumi hal itu, dia tak masalah kalau harus melihat sikap acuh mamanya. Tapi dia tidak bisa kalau didiami. Dan yang dikhawatirkan Arshana adalah sikap mamanya ke dia akan sama kepada Aganta. Namun ternyata Yolanda tetap ramah kepada Arganta. Hati Arshana jadi tenang, tak masalah kalau kepada dirinya, jangan sampai kepada adiknya.


Arshana langsung pergi ke halaman belakang. Setelah sampai disana tidak ada Zulfa. Lalu dicarinya lagi kehalaman samping dan benar saja ada Zulfa. Dia sedang memegang satu tangkai bunga mawar putih dan hitam.


"Kamu lagi apa disitu sayang?" tanya Arshana saat berada disamping Zulfa.


Sama sekali Zulfa tak menoleh kearah suaminya yang sedang bertanya. Ia hanya menatap bunga mawar yang sedang dipegangnya. Tanpa permisi Arshana langsung duduk disamping Zulfa.


"Sayang.......Kamu lagi mikirin apa?" tanyanya lagi.


"Warna putih sangat indah jika disandingkan dengan warna hitam. Seperti bunga mawar ini, terlihat indah. Padahal masih banyak warna. Kamu tau mas kenapa?" tanya Zulfa tanpa menoleh.


Arshana menggelengkan kepalanya, tanda bahwa dia tidak tau.


"Sebab putih itu bersih punya warna yang netral dan hitam selalu diibaratkan dengan kegelapan, kejahatan, padahal tidak juga. Jika warna ini disatukan akan berubah jadi abu-abu, itupun kalau seimbang. Tapi jika warna hitam lebih sedikit dari warna putih, pasti warna abu-abu itu akan semakin terang. Hitam.....Selalu punya ketenangan sendiri dan keindahan sendiri. Andai satu ruangan gelap gulita, artinya berwarna hitam. Tapi jika disana terdapat warna putih pasti ada menjadi penerang. Dan kalau warna putih atau cahaya dikegelapan semakin terang, tidak akan ada lagi lingkup yang sunyi. Sama halnya ada siang dan malam, ada bulan dam matahari," lalu Zulfa menoleh kearah Arshana yang menatapnya.


"Kamu paham apa yang aku katakan tadi?" tanya Zulfa dengan sorot mata yang teduh membuat siapapun yang dekat dengannya akan mempunyai rasa tenang dan nyaman.


Arshana tau apa yang dimaksud oleh istrinya barusan. Dia sekarang paham arti dari semuanya. Dengan senyuman yang lebar, Arshana mengangguk.


"Apa itu artinya kamu sudah......" Arshana tak jadi meneruskan ucapannya, ada rasa tidak yakin kalau Zulfa telah menerima semuanya.


"Aku akan menerima apapun keadaanmu, masa lalumu, dan semuanya yang terdapat pada dirimu. Walau diluaran sana orang mengatakan kamu kejam, jahat, dingin dan lainnya. Tetapi sikapmu dirumah berbanding terbalik dengan yang mereka lihat. Karna hitam tidak selalu jahat mas, ada sisi lain yang belum mereka lihat. Aku hanya minta satu sama kamu!"


"Apa? katakan saja aku akan mengabulkan apapun itu!" Arshana berpikir Zulfa akan minta dia untuk berhenti jadi ketua mafia. Ternyata dugaannya salah, bukan itu yang Zulfa minta.

__ADS_1


"Tetaplah jadi dirimu sendiri, selalu membawa ketenangan dan daddy yang hebat untuk anak kita nanti, itu saja yang aku minta darimu," ucap Zulfa tersenyum. Senyuman yang tidak pernah Arshana lihat beberapa hari ini.


"Aku kira kamu akan minta aku untuk......"


"Tidak mas, kan tadi aku sudah katakan jadilah dirimu sendiri. Senyaman kamu, asalkan jangan menyakiti orang kalau orang itu tidak menyakitimu. Aku sudah cukup ditindas oleh Mama dan Firsi. Menjadi orang yang lembek itu gak enak Mas. Gak bisa membela diri sendiri, gak bisa melawan dan gak bisa lari dari keadaan. Aku sudah pernah merasakannya dan aku tidak mau kamu juga merasakan hak itu. Arganta sudah pernah merasakannya, pantas kalau dia bisa bersikap begitu. Aku hanya minta itu saja," papar Zulfa tanpa menghilangkan senyuman manisnya.


"Maafin aku sayang, aku gak jujur dari awal sama kamu. Bahkan sudah banyak kebohongan yang gak aku katakan, dari awal kita menikah sampai sekarang," ucap Arshana merasa bersalah. Zulfa saja tidak pernah menyembunyikan apapun darinya. Tapi dia banyak sekali rahasia hang disimpan sendiri.


"Aku sudah memaafkanmu, Mas! Sudah ah, ayo sarapan. Kamu kan harus kekantot sekarang," ajaknya menggandeng tangan Arshana untuk masuk.


Arshana tersenyum lalu mengikuti istrinya masuk. Ternyata dimeja makan sudah ada keluarganya. Makanan mereka pun sudah hampir habis. Wajar sih karna Zulfa dan Arshana cukup lama dihalaman samping tadi. Zulfa melihat Mama mertuanya masih bersikap sama. Mungkin nanti dia akan berbicara agar tak berlarut. Biar suaminya tidak dicuekin terus.


"Loh dari mana saja sih! Ditungguin dari tadi gak keluar-keluar, ya sudah kami tinggalin makan!" ujar Arganta kesal, masih pagi loh ini. Sudah dibuat naik darah.


"Gak usah ngedumel gitu lah, kalau memang mau sarapan duluan saja," jawab Arshana enteng lalu duduk dikursi yang masih kosong bersama Zulfa.


"Kebiasaan!" ujarnya lagi.


"Jadwalmu ke psikiater, gue antar nanti. Jangan ke perusahaan dulu!" ucap Arshana.


"Biar mama saja yang nganter!" tiba-tiba Yolanda bersuara dan menawarkan diri untuk mengantarkan Arganta.


"Tidak perlu, Ma! Biar Arshana saja yang nganter, sekalian ke kantor," jawab Arshana secara halus.


"Memangnya kenapa kalau mama yang nganter? Gak boleh?" ujar Yolanda terdengar ketus.


"Bukan begitu Ma, boleh saja tapi........"


"Bilang saja kalau memang gak boleh, Arganta itu anak mama bukan orang asing! Mama juga berhak untuk tau perkembangannya!" sahut Yolanda memotong ucapan Arshana.


"Maa......" tegur Arganta tak suka melihat Arshana dimarahai oleh sang mama karna hal kecil.

__ADS_1


"Sudah kamu makan saja, habiskan nanti mama antar!" ucap Yolanda lembut sambil tersenyum kearah Arganta.


Melihat sikap mamanya yang berbeda kepada dirinya, membuat Arshana sedih. Disisi lain dia juga senang karna tak ada perubahan sikap apapun kepada Arganta. Kesehatan adiknya jauh lebih penting bagi Arshana sekarang.


Zulfa tau kalau sikap mama mertuanya berbeda kepada suaminya dan Arganta. Mungkin karna masih ada rasa kecewa atau amarah. Namun sudah beberapa hari sikap Yolanda belum berubah. Zulfa merasa kasihan dengan suaminya selalu dicueki oleh ibunya sendiri.


"Ya sudah, Ga. Pergi saja sama mama," ucap Arshana.


Setelah mereka selesai sarapan semua, Arganta pergi duluan bersama Yolanda untuk ke psikiater. Sedangkan Arshana masih dirumah karna tadi ia dan Zulfa terlambat sarapan, jadi selesai pun akhir. Sekarang dia berada diambang pintu depan bersama Zulfa. Ia akan berangkat ke perusahaan, hmm bukan tapi ke markas. Ya tempat itulah yang akan Arshana tuju sebenarnya. Namun enggan untuk mengatakannya kepada Zulfa.


"Mas, kamu sabar ya sama sikap mama. Mungkin sekarang mama masih menyimpan rasa kecewa sama kamu," ucap Zulfa memberi pengertian.


"Aku ngerti sayang, kamu gak perlu khawatir. Mama memabg butuh waktu untuk menerima semuanya. Sama seperti kamu kan dan aku bersyukur karna kamu sudah mau menerima keadaanku yang sebenarnya. Kamu juga sudah mau memaafkan aku. Mas kira kami bakalan meminta untuk bercerai, sungguh mas gak sanggup sayang," balas Arshana tersenyum sambil satu tangannya mengusap lembut kepala Zulfa.


"Aku gak akan pernah meminta itu sama kamu. Aku juga memikirkan masib anak kita kelak, aku gak mau dia tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah. Dia gak salah apapun, tapi dapat imbasnya. Melihat kamu bersikap begini saja aku sudah senang kok, aku tau kamu sebenarnya sosok suami dan daddy yang baik," jelas Zulfa membuat hati Arshana menghangat.


"Makasih banyak sayang. Aku sangat mencintaimu. Cup!" Arshana mencium kening Zulfa lama sebelum akhirnya berpindah ke pipi kanan dan kiri.


Zulfa membalasnya dengan mencium punggung tangan suaminya. Hari ini Arshana berangkat sendiri, memang sengaja karna dia akan ke markas terlebih dahulu sebelum ke perusahaan. Dia tidak benar-benar sendiri, sebab selalu ada bodyguard yang akan mengiringi mobilnya. Tadi Arganta dan Yolanda sama, keduanya diikuti oleh bodyguard yang menjaga. Sudah cukup mereka kecolongan sekali dan tidak mau mengulangi yang kedua kalinya.


Mobil Arshana sudah keluar dari halaman mansion. Dia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, ada sesuatu yang ingin diselesaikan oleh Arshana. Semalam dia sudah mengatakan hak tersebut kepada Arganta. Inginnya tadi selesai mengantar adiknya langsung ke markas, tapi karna Yolanda memaksa untuk mengantar, akhirnya Arshana membiarkan saja.


...*****...


...Jangan lupa Like, Komen, and Vote....


...Thank guys ๐Ÿ’•...


...Follow IG Author (imeilda_akhwat)...


...Dan FB author (Riska Ayu) profil sama seperti di IG. ...

__ADS_1


...Terima kasih banyak-banyak sama kalian๐ŸŒน ...


...See All, bu by ๐Ÿ‘‹...


__ADS_2