Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
80 #Secangkir Kopi


__ADS_3

Zulfa memandang suaminya seperti meminta penjelasan. Arshana yang paham pun mengangguk sambil tersenyum.


"Jangan gitu Mbak, aku merasa risih," ujar Zulfa.


"Sayang, mereka harus tau kalau kamu adalah istri Arshana Abhimarta. Kamu adalah nyonya disini, mereka harus hormat padamu. Oke," sahut Arshana.


"Tapi mas, Mbak Anin ini sudah aku anggap sebagai kakak sendiri. Dia baik banget sama aku, setiap bulan dia akan kasih aku uang. Jangan gitu lah, kalau dengan yang lain biarin. Asal dengan Mbak Anin dan Maira panggilan mereka untukku sama. Aku gak mau dirubah! Gak usah protes!" ujar Zulfa, saat Arshana akan menyela perkataannya segera ditimpali oleh Zulfa agar suaminya iti tidak bisa berucap lagi.


"Huufh, baiklah sayang terserah kamu saja," jawab Arshana, pada akhirnya dia tidak bisa berbuat apapun.


Anin yang melihat Arshana menurut dengan Zulfa merasa tidak menyangka. Seorang presdir yang teramat ditakuti para karyawan dan pebisnis lain bisa menurut seperti anak kucing kepada seorang wanita yang berstatus sebagai istrinya.


"Nah kak, panggil aku Zulfa saja gak perlu embel-embel Nyonya. Nanti kalau dia memarahi Mbak, bilang sama aku. Ohh ya Mbak Anin apa kabar?" tanya Zulfa.


"Baik, kamu sendiri bagaimana?" tanya balik Anin.


"Baik juga, hmm Mbak makasih ya atas semua kebaikan Mbak sama aku. Sudah mau membantu aku juga, maaf aku belum bisa membalas semua kebaikan Mbak Anin," kata Zulfa sambil memegang tangan Anin.


"Gak pa-pa, Mbak gak meminta kamu membalasnya, Zulfa. Mbak ikhlas kok, kamu tuh sudah Mbak anggap adik sendiri. Bahagia lah sekarang ya, jangan sedih terus. Kamu sudah punya keluarga yang menyayangi kamu. Gak ada lagi yang bisa menindas kamu, Fa. Mbak senang melihat kamu sekarang sudah bahagia. Mbak bisa melihat dari wajah kamu dan sekarang kamu makin cantik loh," ucap Anin panjang lebar sambil memuji Zulfa.


"Aahhh Mbak berlebihan, aku mah tetap sama seperti dulu. Sekali lagi makasih banyak ya Mbak, aku tidak akan melupakan kebaikan Mbak padaku," balas Zulfa lagi.


"Sama-sama, Fa. Mbak boleh peluk kamu?"


"Boleh banget dong."


Zulfa lantas memeluk Anin, mereka sudah seperti adik dan kakak. Arshana hanya memandang mereka, entah apa yang dia pikirkan sekarang. Setelah puas berpelukan, Zulfa menyudahinya. Ia berpamitan kepada Anin untuk pulang. Tidak enak melihat suaminya menunggu lama.


"Mbak, aku pulang ya," ucap Zulfa.


"Iya, silahkan," jawab Anin tersenyum lalu menatap Arshana dan membungkuk sejenak.


Arshana pun menggandeng tangan Zulfa keluar. Anin melihatnya ikut tersenyum, lalu dia pun pergi keruangannya. Saat pintu lift terbuka Anin berpapasan dengan Maira yang hendak masuk lift.


"Bu Anin, kebetulan Saya bertemu Anda disini Bu. Saya mau menyerahkan dokumen ini kepada Ibu," ucap Maira sambil memperlihatkan dokumen ditangannya.


"Biar Saya bawa sekalian, kamu mai kelantai atas?" tanya Anin.


"Iya Bu, Saya hendak menemui tuan Arganta. Tadi beliau memanggil Saya," balas Maira.


"Ya sudah kamu buruan sana temui, keburu ditunggu. Sini dokumennya biar Saya bawa, makasih ya Mai," kata Anin mengambil dokumen ditangan Maira.


"Sama-sam Bu, Saya permisi." Maira pun memasuki lift kelantai atas.

__ADS_1


Dia berjalan keluar saat pintu lift terbuka. Hatinya ragu untuk memasuki ruangan Arganta, entah apalagi yang akan diperintahkan Arganta kepadanya. Yang paling dihindari oleh Maira ya Arganta. Maira sangat kesal sekali melihat wajah bosnya satu itu, sudah jutek, ngeselin, kaku, cuek, gak ada bedanya dengan Arshana. Pikir Maira begitu, tapi ia sudah pernah beryeman dengan Arshana. Jadi menurut dia gak terlalu jutek seperti Arganta.


Didepan ruangan Arganta, Maira ragu untuk mengetuknya. Paling males kalau berurusan dengan Arganta. "Kamu ngapain berdiri disini?" Marlin mengagetkan Maira yang sedang bimbang.


"Astaga Pak, Anda membuat Saya terkejut. Untung gak ada riwayat jantung," gumam Maira sambil mengelus dada.


"Lah kamu ngapain berdiri saja disini? Mau temui tuan Arganta kan? Ayo masuk!" ujar Marlin membuka pintu duluan.


"Permisi tuan, Berkas yang Anda minta sudah Saya bawa." Marlin menyerahkan berkas ditangannya kepada Arganta.


"Oke, kamu boleh pergi!" kata Arganta.


"Baik tuan, Saya permisi." Marlin bergegas pergi dari ruangan Arganta.


'Ck, kenapa Pak Marlin harus keluar sih. Males banget harus berdua diruangan ini dengan dia. Bos yang nyebelin, kenapa dulu aku malah minta bantuannya. Ahhhh menyebalkan!' batin Maira mengumpat dalam hati.


"Tuan memanggil Saya ada keperluan apa?" tanya Maira tanpa basa-basi.


"Selesaikan laporan ini, besok harus sudah setor sama Saya," ucap Arganta sambil menyodorkan berkas yang tadi dibawa oleh Marlin padanya.


Maira menerima berkas tersebut, lalu dia membukanya sambil diamati. Sedetik kemudian, Maira mengernyit menatap berkas ditangannya. Apa gak salah bosnya ini? Meminta untuk dibuatkan laporan hanya dengan semalam? Bisa begadang dia nanti? Maira ingin sekali protes, karna tugasnya juga masih banyak. Ditambah harus disuruh buat laporan dalam waktu semalam.


"Tuan, jika laporan ini untuk besok, kenapa Anda tidak meminta dibuatkan dari kemarin?waktunya terlalu mepet untuk Saya menyelesaikannya. Tugas Saya juga banyak, biasanya Pak Marlin yang menyelesaikan ini, kenapa sekarang Saya yang diminta?" protes Maira tak suka.


'Bos sialan! Minta dibuatkan laporan tapi kok dadakan, kalau salah dikit dimarahi. Mana bisa konsen bikin laporan hanya semalam, waktunya mepet banget lagi. Sudah mumet tugas sendiri belum kelar, eeh malah ditambah lagi. Duuh hari apa sih ini, dia juga kenapa malah masuk!' sesal Maira dalam hati.


"Gak perlu mengumpat dalam hati, mendingan segera kerjakan jangan ngulur waktu," ucap Arganta seolah tau kalau Maira sedang mengumpat dalam hatinya.


'Kayak paranormal saja bisa baca pikiran orang, apa dia bisa denger suara hatiku? Ahhh mendingan aku segera pergi aja. Muak lihat mukanya.'


"Baiik tuan, Permisi," ucap Maira lalu berbalik untuk keluar.


"Tunggu......" Maira menghentikan langkahnya mendengar Arganta mencegahnya. Ia menarik nafas dalam-dalam berusaha sabar.


"Iya tuan, ada apa?" tanya Maira menoleh.


"Buatkan Saya kopi dahulu," ujarnya.


"Loh kok Saya tuan? Biasanya juga OB yang menyiapkannya," ucap Maira protes.


"Gak usah protes, cepat buatkan atau gajimu mau Saya potong!" ancam Arganta dengan wajah datarnya.


'Astaga dia benar-benar menguji kesabaranku! Kalau bukan atasan, sudah aku runyap itu muka!' gerutu Maira dalam hati.

__ADS_1


"Iya tuan," ucap Maira lalu pergi dari sana sambik terus mengumpat kesal dengan Arganta.


Padahal ada OB, kenapa harus minta dia yang membuatkan. Kemarin juga begitu, mibta ini dan itu malah kepadanya. Memang dia suruhannya gitu? Apa Arganta sengaja melakukan itu karna ingin balas dendam? Entah Maira masih berandak-andai.


Sedangkan Arganta menyunggingkan senyuman kecil melihat wajah kesal Maira yang tertahan karna ulahnya sendiri. Senang saja melihat wajah Maira seperti itu, kebiasaan Arganta selalu ingin Maira disampingnya. Maka dari itu Arganta sering memerintahkan Maira bukan orang lain.


Maira sekarang berada dikitchen room, ia akan membuatkan kopi untuk Arganta. Berkas yang dibawa sudah dia letakkan keruangannya terlebih dahulu. Disana ada Anin juga yang sedang membuat minuman. Tapi Maira tidka menyadari kehadiran Anin disana. Mungkin karna kesalnya dengan Arganta sehingga dia abai dengan sekeliling.


"Maira? Tumben kamu bikin kopi," sapa Anin.


Lalu Maira menoleh dan baru sadar kalau ada Anin disana. "Eh Bu Anin, maaf Bu, Saya tidak tau kalau Anda ada disini. Kopi ini bukan untuk Saya, Bu. Tapi untuk Tuan Arganta, beliau tadi minta Saya untuk membuatkan kopi. Entah, padahal juga ada OB, kenapa harus Saya yang disuruh," gerutu Maira terlihat wajahnya yang kesal.


"Ya mungkin buatan kamu lebih nikmat dari pada yang lain, Mai," ujar Anin sambil tersenyum.


"Ahh gak juga, Bu. Sama saja, memang dia tuh ngeselin, Bu. Tadi juga Saya diminta menyelesaikan laporan untuk besok. Mana banyak pula, bisa lembur Saya nanti dikantor Bu. Mintanya juga harus besok, huufh!" curhatnya pada Anin.


"Biasanya kan Pak Marlin yang membuat laporannya, kenapa diserahkan sama kamu ya, apalagi mendadak gitu. Gak mungkin Tuan Arganta menyuruh untuk membuat laporan secara mendadak, karna beliau orang yang teliti dan gak mau salah. Kalau semisal mendadak begini, resikonya kalau gak selesai ya bakalan kacau! Hmm coba deh nanti Saya cek," kata Anin sambil berpikir.


"Gak perlu, Bu. Tuan Arganta tidak ingin Saya meminta bantuan siapapun. Katanya harus Saya sendiri yang menyelesaikan, kalau nanti ketahuan Saya dibantuin malah akan marah. Saya akan mengerjakannya sendiri saja Bu tidak apa," balas Maira.


"Saya permisi dulu ya, Bu. Mau mengantarkan kopi."


"Iya silahkan," jawab Anin.


Maira pun berjalan ke lantai atas lagi untuk memberilan kopinya kepada Arganta. Setelah sampai didepan ruangannya, Maira mengetuk pintu terlebih dahulu, lalu ia masuk kedalam. Dia letakkan kopi tersebut diatas meja.


"Ini Tuan kopinya, Saya permisi dulu," ucap Maira dengan wajah dipaksa untuk tidak jutek.


Arganta hanya melirik dari balik layar laptop tanpa membalas apapun. Maira mendengus kesal sambil berjalan keluar. Setelah Maira keluar, Arganta mengambil cangkir berisi kopi yang dibuatkan Maira barusan. Ia meminumnya seteguk.


"Hmm enak juga buatan dia, pas!" gumam Arganta lalu kembali meminumnya beberapa teguk. Sepertinya dia akan sering meminta Maira untuk membuatkan kopi yang sama.


Maira kembali keruangannya untuk segera mengerjakan laporan yang tadi diberikan oleh Arganta. Laporan itu harus selesai besok, biarlah walau harus lembur. Asal tak dapat amukan dari atasannya.


...☘️☘️☘️...


...Hay guys, othor sapa kalian lagi ini 🤭...


...Sehat selalu untuk kalian semua, maaf harus nunggu lama 🙏 ...


...Ada yang ingin berteman dengan othor di IG? atau di FB? ...


...Follow IG othor (imeilda_akhwat) nanti difollback kalau enggak konfir ke Melda oke 🤭 FB othor ini guys (riska ayu) ...

__ADS_1


...See You All 👋👋...


__ADS_2