Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
84 #Teror


__ADS_3

"Lihat! Mereka sudah meluncurkan rencana. Ada sesuatu yang akan mereka kirim kerumah, entah itu apa. Yang jelas tujuannya pasti ke istri loh," ujar Arganta kembali menunjukkan layar laptop kepada Arshana.


"Si*lan! Jangan sampai barang itu jatuh ke tangan Zulfa. Entah apa yang ada didalamnya. Gue gak mau Zulfa stres saat melihat isi didalamnya." tangan Arshana mengambil ponsel yang ada disaku dan menelfon seseorang.


"Hallo, kalau ada paket yang datang kerumah dengan mengatasnamakan istriku, jangan diberikan padanya. Kalian simpan, nanti saya sendiri yang akan mengambil. Ingat kangan berikan pada istriku atau kepada siapapun!"


"Baik Tuan Muda, akan kami laksanakan!" jawab seseorang dari seberang telefon.


Arshana langsung mematikan telfonnya dan mengamati kembali video yang ada dilaptop serta bukti lain yang ada.


"Apa suruhan loh yang dapetin ini semua?" tanya Arshana pada adiknya.


"Iya, ditambah meretas CCTV apartemen itu dan bukti yang lain," jawab Arganta.


"Lalu siapa orang tua dari pria br*ngs*k itu?" tanyanya.


"Keluarga Ghairon!" jawab Arganta sambil tersenyum sinis.


"Ohh jadi dia anak dari keluarga Ghairon, hmm alasan apa yang membuat dia ingin mencelakai Zulfa? Keluarga dia gak ada masalah denganku!"


"Memang lupa atau pura-pura lupa! Musuh loh sebelumnya juga begitu, dia baik sama kita tapi apa? Dia menusuk dibelakang sampai membuat loh celaka! Jangan percaya dengan manipulasi mereka!"


Benar, memang apa yang dikatakan Arganta tidak salah. Handian sebelumnya juga begitu, dia berpura-pura baik. Tapi kenyataannya dia malah membuat rencana licik untuk membuat Arshana celaka, bahkan ingin menghancurkan usaha keluarganya.


"Benar apa kata loh! Kalau gitu kita ikuti permainan mereka. Gue mau lihat seberapa berani mereka bermain-main denganku!" kata Arshana sambil tersenyum miring. Siapapun yang melihatnya pasti akan bergidik ngeri. Aura yang dipancarkannya sanhat menyeramkan seperti orang yang siap mengkuliti musuhnya hidup-hidup.


"Alasan apa yang membuat dia ingin mencelakai Zulfa? Hubungannya apa?" tanya Arshana penasaran dengan hal itu. Kalau perempuan yang bersamanya Arshana tidak kaget. Tapi kalau dengan Si pria membuat Arshana berpikir.


"Dia mantan dari sahabat istrimu, Maira. Setelah dicari tau, dia mempunyai dendam dengan Zulfa," jelas Arganta membuat Arshana mengernyit.


"Dendam? Memangnya salah istri gue apaan?" tanya Arshana bingung.


"Jadi dulu Zulfa pernah memergoki Denis selingkuh....."


"Tunggu......Nama pria ini Denis?" tanya Arshaan memotong ucapan adiknya.


"Iya, nama dia Denis Ghairon. Gue pernah ketemu dia sekali, itupun tanpa sengaja karna saat itu gue nolongin Maira dari kejaran Denis, saat disupermarket," jelas Arganta.


Marlin yang sedari tadi hanya diam, angkat bicara. "Supermarket? Bentar, saat loh ninggalin gue waktu itu?" tanya Marlin.


"Iya, waktu itu gue nolongin Maira sahabatnya Zulfa. Awalnya gue gak tau, asal nolong aja. Baru tau setelah semua bukti ini terkumpul," jawab Arganta.

__ADS_1


Marlin mengangguk paham. Lalu Arganta kembali menjelaskan maksud dari Denis menyimpan rasa dendam kepada Zulfa.


"Oke, gue jelasin lagi. Zulfa pernah memergoki Denis selingkuh dibelakang Maira. Nah saat itu Zulfa dan Maira baru bertemu dikampus yang sama. Intinya gitu, terus Zulfa memberikan video perselingkuhan Denis kepada Maira. Detailnya gue gak tau, loh minta penjelasan dari Zulfa saja langsung," kata Arganta.


"Gak lah! Entar istri gue kepikiran. Oke sekarang gue ngerti, sebelum mereka melakukan aksinya. Kalian bawa dua cecunguk itu kehadapan gue! Biar gue yang memberi pelajaran kepada mereka!" tegas Arshana dengan wajah penuh amarah.


"Oke, dengarkan kalian? Kerjakan sekarang!" perintah Arganta kepada kepercayaannya, siapa lagi kalau bukan Marlin dan Reyhan.


"Siap Tuan!" jawab Reyhan hendak pergi.


"Tunggu......" cegah Arshana.


"Iya Tuan?" tanya Reyhan kembali berbalik badan.


"Buat mereka tertekan, bermain dahulu gak pa-pa kan!" ujar Arshana tersenyum semrik, tatapannya lurus.


Arshana pasti punya rencana yang lebih menakjubkan lagi. Sudah dia pikirkan begitu matang dan Arganta juga menyetujui ide dari kakaknya. Permainan bagi mereka akan dimulai dari sekarang.


...♡☆♡☆♡☆♡...


Arshana dan Arganta pulang ke Mansion secara bebarengan, menggunakan mobil yang berbeda. Satpam yang berjaga diluar berjalan menghampiri Arshana sembari membawa sebuah box berbentuk persegi ditangannya.


Arshana menerima tanpa basa-basi lalu mengangguk. Satpam tersebut kembali bertugas ditempatnya. Arshana menoleh learah Arganta, lalu mereka berjalan kehalaman belakang tanpa lewat pintu utama. Melainkan lewat halaman samping rumah.


Sampai disana, Arshana membuka box persegi tersebut. Saat terbuka, mata Arshana dan Arganta terbelalak lebar. Isi didalamnya membuat mereka tetegun. Arshana mengumpat kesal, ternyata benar bahwa paket tersebut memang ditujukan untuk istrinya.


Sebuah foto Zulfa yang ditusuk dengan paku tepat diwajahnya. Bangkai tikus yang sudah dipenuhi oleh belatung dan surat kaleng yang berisikan dengan ancaman.


(LOH AKAN M*TI)


Arshana meremas kertas tersebut dengan kuat. Dia tutup kembali box tersebut lalu memanggil salah satu pengawalnya.


"Bakar kotak ini sampai tak tersisa. Jangan sampai diketahui siapapun. Jika kotak ini masih ada, kalian akan terima akibatnya!" tegas Arshana membuat pengawal yang tadi mengangguk dengan gemetar mendengar ucapan Arshana.


"Ba-baik Tuan," jawabnya.


Arshana dan Arganta langsung pergi dari sana. Mereka kembali lewat pintu depan agar tak dicurigai. Sampai diambang pintu ada Zulfa yang tersenyum sambil menghampiri Arshana. Sedangkan Arganta langsung berlalu begitu saja menuju kamarnya.


"Mas dari mana saja? Aku kangen!" ucap Zulfa dengan manja sambil memeluk tubuh Arshana.


"Kan tadi aku udah bilang ada urusan. Kamu kok tumben sih manka gini, bikin aku gemes," ucap Arshana sambik menangkup kedua pipi Zulfa, membuat bibirnya mengerucut kedepan.

__ADS_1


"Issh! Kamu ya mas suka banget deh jail," kesal Zulfa tanpa melepas pelukannya.


"Gak pa-pa dong sama istri sendiri, kami sudah makan belum?" tanya Arshana merangkul pinggang Zulfa sambil berjalan menuju kamar mereka.


"Belum, kan aku nunggu kamu," jawab Zulfa.


"Harusnya kamu makan duluan jangan nunggu aku. Mas mau mandi dulu ya, gerah rasanya gak betah," ujar Arshana setelah sampai didalam kamar.


"Jangan Mas!" cegah Zulfa.


Arshana mengernyit, padahal badannya dah bau. Kenapa juga Zulfa mencegah buat dia mandi.


"Kenapa?" tanya Arshana.


"Aku suka dengan baumu, jangan mandi Mas!" kata Zulfa lagi membuat Arshana makin heran.


"Tapi Mas gak betah sayang. Gerah rasanya, Mas gak akan pakai parfum kok. Boleh ya?" ucap Arshana mengiba.


"Hmm ya sudah deh, beneran gak pakai parfum loh!"


"Iya sayang! Cup!" Arshana mengecup sekilas kening Zulfa sebelum akhirnya masuk kedalam kamar mandi.


Zulfa berlalu pergi mengambil baju ganti untuk suaminya. Setelah itu dia duduk sisi ranjang. Tangannya fokus mengotak-atik layar ponsel. Dia melihat berbagai macam model pakaian balita di Olshop.


Ting.


Sampai sebuah notifikasi masuk keponselnya. Dari whatsapp dengan nomer yang tak dikenal. Melihat dari layar depan membuat jantung Zulfa berdegup kencang. Tangannya jadi gemetaran.


(LOH AKAN SEGERA MAT.....)


Zulfa pun membuka pesan tersebut. Seketika dia tertegun, perasaan bercampur aduk menyelimuti hatinya. Dia sempat terdiam sejenak mencerna pesan yang masuk barusan.


(LOH AKAN SEGERA M*TI ZULFA ADINDA. HIDUP LOH AKAN HANCUR, TERIMA KEMATIAN LOH DIMULAI DARI SEKARANG. BERSIAPLAH!!!!!)


Ponselnya terjatuh diranjang, beruntung tidak sampai jatuh ke lantai. Tangan Zulfa sampai gemetaran memegangi sprei. Dan saat itu Arshana sudah keluar dari kamar mandi. Melihat istrinya yang terdiam lurus kedepan dan melihat tangannya bergetar. Arshana yang khawatir langsung dihampirinya.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Arshana merasakan tubuh istrinya yang menegang.


Zulfa masih terdiam tanpa menjawab ucapan suaminya. Tatapan Arshana beralih kepada layar ponsel yang masih menyala. Dia ambil dan melihat isi pesan tersebut. Wajah Arshana langsung berubah seketika. Dia gak menyangka kalau mereka akan kembali mengirim pesan teror kepada Zulfa. Baru saja tadi paketnya dia buang, sekarang malah pindah lewat pesan.


Tak hanya pesan saja, melainkan ada foto istrinya yang sudah tertusuk p*sau dan bercak merah seperti darah.

__ADS_1


__ADS_2