Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
70 #Kamu Kebahagiaanku


__ADS_3

Marlin menunjukkan ruangannya sampai didalam. Handian memasuki ruangan bersama Jery. Didalam hanya ada satu orang yang duduk membelakangi Handian. Dia tak menoleh sedikit pun, saat Handian berucap barulah dia membalikkan badan. Dan sontak saja Handian maupun Jery langsung terkejut. Mereka tertegun menatap lurus tak percaya.


"Hey, kita bertemu lagi Handian Dharvanta. Bagaimana kabarmu?" sapa Arshana menatap Handian. Ya yang tadi adalah Arshana memang sengaja muncul dihadapan Handian. Dia sudah lama bersembunyi dari rivalnya. Sekarang waktunya Arshana untuk bertindak.


"Ar-Arshana, ko-kok bisa ada disini. Bukannya anda sudah......"


"Tewas maksudmu? Ck, kau kira aku sudah mati? Sayangnya aku masih hidup," ucap Arshana bangkit dari duduk lalu menghampiri Handian yang terpatung ditempat.


"Tapi berita yang tersebar itu." Handian sudah tertipu selama ini. Dia kira Arshana sudah tewas, tapi nyatanya malah berdiri dihadapannya sekarang.


"Harusnya kau cari tau lebih dalam lagi, bukan malah hanya mendengarkan dari berita. Kukira kau lebih pintar ternyata....Tidak!" sindir Arshana sambil tertawa.


"Apa maksudmu?" tanya Handian bingung. Dia berusaha bersikap tenang didepan Arshana agar tidak dicurigai. Padahal Arshana pun tau kalau Handian yang menyebabkan dia kecelakaan.


"Tidak perlu pura-pura bego, aku sudah tau kalau loh yang menyabotase mobil gue!" tekan Arshana muak melihat wajah kebohongan yang ditunjukkan Handian.


"Kok loh malah nyolot, gue memang gak tau apa-apa. Gue kesini ingin ketemu sama adik loh, bukan sama loh!" tunjuk Handian, dia sudah tidak bisa lagi berisikal profesional. Karna Arshana sudah menyulut emosinya.


"Tidak perlu marah, santai dong," sahut Arganta entah dari mana datangnya sudah ada disampingnya.


"Maksudnya semua ini apa? Gue gak ngerti, kalian malah nuduh macem-macem!" ucap Handian sedikit meninggikan ucapannya.


"Anda tidak perlu mengelak lagi dari kenyataan. Kami sudah punya banyak bukti tentang kejahatan anda yang sudah menyabotase mobil kakak saya. Sampai kakak saya hampir tewas gara-gara ulah LOH!" bentak Arganta diucapan terakhirnya. Dia juga sudah muak bersandiwara terus.


Handian berusaha untuk tenang, walau dirinya sudah terpojok. Dia tetap tidak mau mengakui kesalahannya. Ternyata Arshana dam Arganta sudah merencanakan ini semua untuk menjebak Handian agar bisa masuk dalam perangkapnya.


"Gue gak melakukan apapun, terserah kalian mau ngomong apa. Gue hanya minta kembalikan perusahaan yang sudah loh ambil. Itu perusahaan keluarga gue!" tunjuk Handian pada Arganta.


"Ngapain juga gue harus balikin sama loh! Perusahaan itu sudah menjadi milik gue. Loh kan gak bisa bayar kerugiannya, jadi mendingan loh jual aja saham yang tersisa. Gue bakalan beli dengan harga tiga kali lipat. Penawaran gue gak datang dua kali loh!" kata Arganta duduk disofa dengan santai.

__ADS_1


"Loh! Kalian balas dendam hah! Gue sudah bilang kalau bukan gue yang melakukannya. Kenapa kalian masih ngotot sih! Kalian menuduh orang yang salah!" bentak Handian marah.


"Gak usah mengelak lagi, bukti sudah ada! Gue tau loh ingin menghancurkan bisnis keluarga guekan? Gue tau, dari dulu orang tua loh itu ingin bersaing, tapi bersaing dengan tidak sehat. Kalau mau bisnis lancar dan sukses, usaha! Jangan malah ingin menjatuhkan bisnis orang lain! Eh sekarang malah menurun keanaknya, mau ikut-ikutan menghancurkan gue!" sarkas Arshana memancing kemarahan Handian yang sudah ditahan sejak tadi, kini makin meluap dengan ucapan Arshana.


"IYA! Gue ingin loh hancur, tidak hanya bisnis keluarga loh saja. Harusnya loh gak mudah percaya sama gue, tapi ternyata loh segampang itu untuk dibodohi! Dari dulu sampai sekarang loh akan tetap jadi musuh gue. Gak ada kata pertemanan atau apapun! Gue memang ingin melihat loh mati Arshana, tapi loh malah bisa lolos dari ajal!"


Arshana tersenyum tipis mendengar jawaban dari Handian yang secara tidak langsung mengakui perbuatannya.


Sedikit cerita masa lalu mereka.


Dari duduk dibangku SMA, Handian dan Arshana sudah menjadi musuh. Sampai suatu ketika, mereka bisa berdamai dan menjalin pertemanan. Sampai Arshana memegang perusahaan keluarganya dan Handian yang juga memegang perusahaan Dharvanta. Disitu mereka menjalin kerja sama dengan baik. Ternyata dibalik sikap baik Handian terdapat udang dibalik batu. Dia ingin menjatuhkan perusahaan keluarga Arshana dan sekaligus ingin menewaskan Arshana.


"Karna memang gue belum waktunya untuk mati! Gue sudah percaya sama loh, tapi kepercayaan gue malah loh hancurin begitu saja. Jadi sekarang kalau gue gak bersikap baik sama loh, itu karna diri loh sendiri," cecar Arshana menatap Brima sambil memberi kode.


"Baik." Brima keluar entah kemana, hanya beberapa saat saja Brima kembali dengan beberapa aparat kepolisian. Ternyata Arshana benar-benar sudah merencanakan semuanya dengan matang. Sehingga Handian bisa masuk ke dalam perangkapnya dengan mudah.


Mata Handian melebar seketika. Dia tak menyangka kalau Arshana akan merencanakan sedemikian rupa. Dengan bodohnya dia bisa masuk ke dalam perangkap Arshana. Kalau tau begini tadi Handian tidak akan pernah datang. Apalagi polisi pasti sudah merekam semua percakapan mereka.


"Sialan loh!" Handian berniat menghajar Arshana, tetapi polisi langsung mencekeram pergelangan tangannya. Tidak hanya dia saja, Jery ikut terseret. Karna Jery juga ikut terlibat dalam rencana Handian.


"Anda saya tangkap karna sudah melakukan aksi pembunuhan kepada saudara Arshana. Semua percakapan anda sudah kami rekam, jadi anda tidak bisa mengelak lagi. Anda ikut kami ke kantor polisi," ucap salah satu aparat kepolisian yang memborgol kedua tangan Handian.


"SIALAN LOH ARSHANA! GUE AKAN BALES PERBUATAN LOH! LEPASIN! GUE GAK SALAH!" bentak Handian marah. Dia terus mengelak padahal bukti sudah ada. Walau Handian berusaha memberontak percuma juga. Karna kedua tangannya sudah diborgol.


Arshana dan Arganta hanya tersenyum puas melihat Handian yang dibawa oleh polisi. Memang ini adalah rencana mereka ingin menjebloskan Handian kedalam penjara. Bisa saja Arshana langsung menghabisi Handian dengan tangannya sendiri. Tetapi dia lebih memilih untuk menyerahkan semuanya kepada kepolisian. Arshana tidak mau menjadi seorang pembunuh, walau dia bisa melakukannya.


Arshana memikirkan perasaan istrinya dirumah, semisal Zulfa tau kalau dia membunuh orang. Pasti akan sangat kecewa dna bahkan marah besar. Apalagi kalau ketahuan Yolanda, pasti mamanya juga akan sangat kecewa dengan Arshana.


Arshana dan Arganta ikut mengiringi mobil polisi. Mereka akan ikut ke kantor polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut lagi. Dan menyerahkan semua bukti yang sudah terkumpul. Felix maupun Kakek Abhi sebenarnya sudah tau rencana mereka. Felix juga mendukung Arshana agar menjebloskan Handian kedalam sel. Sudah lama Felix menahan agar tak melakukan tindakan dulu kepada Handian maupun keluarganya. Karna dia menunggu keputusan Arshana.

__ADS_1


🌿🌿🌿


Dalam kamar yang nuansa putih dan luas. Zulfa duduk disamping ranjang menunggu Arshana keluar dari kamar mandi. Ia menatap layar ponsel sampai tak sadar kalau suaminya sudah keluar dari kamar mandi. Arshana keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk yang dia lingkarkan dipinggangnya. Sehingga bagian dada dan perutnya terekpost, tapi Zulfa belum sadar.


Arshana menautkan alisnya melihat Zulfa yang asyik menatao layar ponsel sampai gak melihat kearah manapun. Lalu Arshana berdehem untuk mengalihkan tatapan Zulfa.


"Ekhem!" Arshana berjalan mengambil pakaian yang sudah disipkan oleh istrinya diatas ranjang.


"Eh mas, sejak kapan kamu keluar dari kamar mandi?" tanya Zulfa saat mendengar suara Arshana dan baru menyadari kalau suaminya sudah selesai dari kamar mandi.


"Sejak tadi!" jawab Arshana sambik melirik kearah layar ponsel Zulfa.


Jantung Zulfa tidak aman sekarang. Apalagi melihat perut sixpack suaminya yang benar-benar terlihat oleh matanya. Rasanya dag dig dug, Zulfa berasa gugup sekali. Ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain agar matanya tidak terus tertuju kesana saja.


"Kamu lihatin apa sih mas, itu baju kamu sudah aku siapin," ucap Zulfa menetralkan rasa gugupnya. Eh sekarang malah Arshana menatap kearahnya membuat Zulfa jadi salting dan membeku seketika.


"Iya sayang, kamu mau sampai kapan menatapku seperti itu? Suka ya melihat tubuhku, kamu mau?" goda Arshana membuat wajah Zulfa jadi bersemu merah, kedua pipinya sudah seperti kepiting rebus.


"Sudah ah sana ganti baju," dorong Zulfa agar Arshana segera berganti pakaian. Ia tak tahan kalau lama-lama ditatap suaminya dan melihat tubuh Arshana yang sempurna. Malu, itulah yang dirasakan oleh Zulfa sekarang.


Walau Zulfa sudah pernah melihatnya, tetap saja dia masih merasa gugup kalau berdekatan dengan Arshana, terlebih kalau tubuh suaminya terlihat olehnya. Dia berasa baru mengenal Arshana, maklum sih karna sebelum itu Zulfa hanya tau Verko bukan Arshana yang sekarang.


"Kalau aku gak mau gimana? Aku lagi pengen, boleh ya," ucap Arshana menatap Zulfa penuh permohonan.


"Kamu kan baru mandi mas!" ujar Zulfa.


"Gak pa-pa lah, biar wangi. Jadi bolehkan?" tanyanya lagi, kemudian Zulfa pun mengangguk membuat mata Arshana berbinar.


Tanpa pikir panjang lagi Arshana menggendong tubuh Zulfa keatas ranjang. Tidak ada yang bisa memuncakkan hasrat Arshana selain Zulfa. Hanya dengan istrinya Arshana bersikap manja dan selalu bersikap romantis. Berbeda kalau diluar, wajah dingin dan cuek menjadi ciri khasnya.

__ADS_1


Kedua pasutri kini melakukan penyatuan yang akan membawa mereka kenirwana. Rasa menyenangkan yang tidak bisa digambatkan oleh kata-kata. Bulan dan bintang menjadi saksi keduanya. Malam yang dingin, tidak bagi mereka. Sampai malam semakin larut, Arshana mengakhiri kegiatannya dengan mengecup kening Zulfa dan merebahkan tubuhnha disamping istrinya. Tangannya dia lingkarkan untuk memeluk Zulfa.


"Kamu adalah kebahagiaanku," batin Arshana.


__ADS_2