Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
74 # Makin Kesal


__ADS_3

Malam harinya, Arshana baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat Zulfa duduk dimeja rias sambil menyisir rambut hitamnya yang tergerai. Arshana tersenyum lalu menghampiri Zulfa dan berdiri dibelakang istrinya.


"Mas, besok kamu beneran libur kerja kan? Tadi pagi kamu sudah janji loh sama aku," ucap Zulfa sambil menyisir rambutnya.


"Iya sayang, aku sudah ambil cuti kok. Demi kamu, asal istriku ini bahagia, turun yuk kita makan malam bersama," kata Arshana sambil tersenyum ke arah pantulan cermin dan mengecup pipi kanan Zulfa sekilas.


Pipi Zulfa jadi merona dan salah tingkah. Dia berusaha mengubah raut wajahnya agar terlihat biasa saja. Walau bukan pengantin baru, Zulfa tetap ada rasa malu kalau diperlakukan demikian. Apalagi dengan orang yang dia cintai.


Mereka pun turun ke bawah bersamaan. Sudah ada Kakek, Felix, dan Yolanda. Mereka turut bergabung untuk makan malam bersama. Tak lama Arganta juga bergabung dimeja makan. Sifat usilnya Arshana keluar, dia suka sekali menggoda saudaranya itu. Hanya dilingkup keluarga saja Arshana bisa bersikap ramah dan lembut. Beda lagi kalau sudah diluar, sikap cueknya akan kelihatan.


"Ga, loh gak mau nikah? Umurmu sudah cukup buat menikah," ucap Arshana secara tiba-tiba, membuat Arganta langsung menoleh ke arahnya.


"Gak! Nanti juga bisa," jawab Arganta malas. Kalau sudah bahas masalah pernikahan, Arganta sangat males untuk menjawab.


"Kapan? Umurmu sudah cukup buat membangun rumah tangga," sahut Yolanda sambil menuangkan minum ke gelas Felix.


"Gak mau apa belum ada calonnya? Loh kan sulit kalau masalah cinta, kenapa gak papa sama mama jodohin saja dia," cetus Arshana.


Ide yang g*la menurut Arganta. Perjodohan? Ohh no, dia gak kepikiran sampai sana. Mencari pasangan aja susah karna tak mengenal cinta. Lah ini malah dijodohkan, mau dibawa kemana rumah tangga dia nanti.


"Enggak-enggak, enak saja mau jodohin! Kalau mau situ saja sana yang nikah, kok malah jadi aku yang disuruh," protes Arganta tak terima.


Seketika tatapan Zulfa melotot tajam ke arah Arganta. Apa maksudnya? Arganta nyuruh suaminya untuk menikah lagi? Tidak akan! Arshana hanya akan menjadi miliknya. Mendapatkannya susah, eh sekarang malah mau dikasih ke orang lain. Memang hatinya untuk mainan? Entah kenapa Zulfa tak suka dengan perkataan Arganta tadi. Walau mungkin hanya candaan.


Arganta yang tau kalau Zulfa menatap tajam ke arahnya langsung mengalihkan pandangan. Perkataannya terhenti seiring Zulfa menatapnya tajam. Dia pun memilih diam dan meminum air yang ada digelas.


"Kenapa malah jadi diam kamu, Arga?" tanya Felix heran.


"Gak pa! Arga mau makan saja," jawab Arganta tanpa bicara lagi.


Sedangkan Arshana tertawa lirih melihat perubahan sikap saudaranya. Dia tau kalau Arganta terdiam saat melihat tatapan mematikan dari Zulfa. Salah sendiri berucap tidak disaring. Padahal juga yang memancing obrolan tersebut adalah Arshana. Eh malah Arganta sendiri yang kena imbasnya. Makan malam pun berlanjut hingga selesai tanpa ada pembicaraan lagi dari mereka.


...☆o☆o☆o☆...

__ADS_1


Sinar mentari menelusup masuk dari sela-sela jendela dan tirai yang masih tertutup. Si pemilik kamar masih betah dibalik selimut. Sampai salah satu mereka terbangun karna cahaya matahari bersinar mengenai matanya. Dia terbangun, tapi belum beranjak dari tidurnya. Tatapannya tertuju pada seseorang disampingnya yang tidur menghadap dia.


Tangannya terangkat mengusap lembut wajah pria disampingnya. "Kamu perfek banget sih mas, aku gak nyangka loh bisa dapetin kamu. Yang dulunya kita gak saling kenal, bahkan kamu tuh selalu disebut kulkas dua pintu. Karna apa? Ya karna kamu cueknya minta ampun. Beruntung kamu dulu gak jadi sama dia, kalau sampai menikah. Aku gak bisa bayangin deh, eh tapikan dulu aku belum mengenal kamu ya! Tapi sekarang malah jadi pangeranku," gumam Zulfa sendiri.


"Aku memang pangeranmu sayang dan kamu tuan putrinya," ucap Arshana secara tiba-tiba membuat Zulfa terkejut sekaligus malu. Ternyata Arshana sudah terbangun sedari tadi, namun dia masih betah berpura-pura. Karna ingin tau apa yang akan dilakukan istrinya itu. Artinya sepanjang Zulfa meracau sendiri, Arshana sudah terbangun. Ohh tidak, malunya!


Zulfa hendak menyingkirkan tangannya dari wajah Arshana, namun tangan Arshana menahannya. "Good morning sayang," ucap Arshana lalu mengambil tangan Zulfa dan mengecupnya.


"Morning too," jawab Zulfa malu-malu dan salting melihat tatapan Arshana kearahnya.


Arshana tersenyum lebar menatap Zulfa lalu memeluknya dengan erat dan dibalas oleh Zulfa. Hari ini dia benar-benar mengambil cuti untuk menemani Zulfa. Entah nanti mereka akan kemana atau hanya dirumah saja.


Zulfa belum mau beranjak dari tempat tidurnya. Dia masih betah berlama memeluk Arshana. "Jalan-jalan yuk? Kamu mau kemana pun akan aku turuti," ucap Arshana menawari. Tapi Zulfa tidak mau kemana pun. Dia ingin dirumah saja asal dengan suaminya.


"Aku gak mau kemana-mana, dirumah saja. Asal ada kamu," jawab Zulfa tanpa melepas pelukannya, malah makin erat.


Tiba-tiba saja Arshana mendengar isakan kecil dari istrinya. Sontak Arshana pun melihat wajah Zulfa yang sudah berembun. Entah apa yang membuat Zulfa sampai meangis. Padahal sedari tad dia juga hanya diam saja.


Arshana lantas menangkup kedua pipi Zulfa dan dia usap air mata yang sudah meluncur kebawah. "Kamu kenapa Sayang, kok nangis. Aku ada buat salah ya sama kamu, aku minta maaf ya. Jangan nangis dong, aku gak bisa kalau melihat kamu menangis begini. Coba jelasin ke aku, apa yang membuat kamu nangis?" tanya Arshana sambil menenangkan Zulfa.


Segera Arshana membawa Zulfa kedekapan yang membuat kenyamanan. "Ya sudah, kalau kamu pengen menangis. Menangislah sepuas kamu, tapi setelah ini kembalilah tersenyum," kata Arshana mengelus rambut istrinya dengan lembut.


Zulfa langsung mengusap air matanya lalu mendongak menatap Arshana. Entah kenapa ada perasaan aneh dalam hatinya. Setiap menatap Arshana bawaannya sedih mulu. Perasaan Zulfa tidak menentu tanpa sebab.


"Kamu jangan pernah tinggalin aku ya mas. Aku gak mau hidup sendiri, aku gak mau kembali dalam kehidupanku yang dulu. Aku capek mas, aku ingin kehidupan yang tenang dan damai. Tapi kalau nanti aku pergi dulu setialah kepadaku, kalau kamu mau menikah lagi pun tak masalah. Asalkan dia benar-benar menerima kamu apa adanya, bukan karna fisik dan harta," ucap Zulfa sambil menatal Arshana.


Terdengar aneh tidak kalau Zulfa tiba-tiba berkata begitu? Masih pagi ini, baru saja bangun tidur. Dari perkataannya terdengar seperti akan pergi jauh. Padahal dia sendiri masih ada bersama Arshana.


"Huush, kok bicaranya begitu sih. Aku akan selalu ada untuk kamu, aku tidak akan membiarkan kamu mengalami kejadian seperti dulu yang penuh tekanan dan kekerasan. Aku akan tetap setia kepada kamu sayang apapun yang terjadi nantinya, hanya kamu yang ada dalam hatiku. Sekarang maupun selamanya. Dan aku berharap kita pergi bersama-sama," balas Arshana.


Zulfa pun tersenyum dan mengangguk. Dia bahagia bisa mendapatkan Arshana. Yang dulunya tidak dia kenal, tak tau latar belakangnya, sifat dan juga karakternya. Tapi sekarang malah jadi suaminya. Pikir Zulfa dulu bahwa Arshana adalah makhluk kulkas yang tidak bisa romantis. Dilihat dari sikapnya yang cuek dan dingin. Hawa saat melihatnya pun sangat mengerikan.


"Dah ah, kamu mandi dulu mas. Aku akan siapkan baju untukmu," ucap Zulfa turun dari ranjang.

__ADS_1


"Bareng saja gimana?" ujar Arshana sambil mengedipkan sebelah matanya.


Mata Zulfa melebar, sedetik kemudian pipinya berasa panas. Ia palingkan wajahnya ke arah lain agar tak bertatap langsung dengan Arshana.


"Masih pagi loh, sudah ahh aku mau siapin baju kamu dulu," kata Zulfa sambil berjalan ke lemari.


Tapi belum juga sampai depan lemari, Arshana malah menggendong tubuhnya secara tiba-tiba membuat Zulfa terkejut.


"Arrgh!" teriak Zulfa karna terkejut.


"Mas, kamu apa-apaan, turunin gak. Kamu ihh, khiaak!"


Arshana tak mengindahkan perkataan Zulfa. Dia malah membawa istrinya masuk ke dalam kamar mandi. Pada akhirnya Zulfa hanya bisa pasrah. Pasutri itu pun mandi bersama. Agak lama mereka dalam kamar mandi sebelum akhirnya mereka keluar.


Saat ini Arshana dan Zulfa sudah ada dimeja makan untuk sarapan bersama. Arganta dan Felix sudah bersiap untuk ke perusahaan. Melihat Arshana datang membuat Arganta menjadi kesal, dia masih teringat kejadian semalam. Ternyata kekesalannya belum hilang juga.


Arshana yang baru bergabung menatap bingung ke arah Arganta. Lantaran adiknya itu hanya diam saja dan bersikap acuh. Tangannya fokus menyuapkan makanan ke dalam mulut.


"Kau kenapa Ga? Masih pagi kok sudah terlihat kesal gitu," ucap Arshana pada Arganta. Membuat Felix dan Kakek Abhi menatap ke arah Arga.


"Gak ada!" jawab Arganta cepat tanpa menoleh.


"Aneh, masih pagi udah jadi kutub utara," cetus Arshana.


"Serah!" pungkas Arganta cuek.


"Pms loh ya Ga? Kayak perempuan aja,"


"Ck, diam deh loh ahh. Buat moodku hancur aja pagi-pagi," celetuk Arganta dengan wajah kesalnya.


"Loh kok marah," ujar Arshana dengan nada terdengar mengejek, dia makin jail saja kepada Arganta. Padahal dia tau pasti Arganta masih kesal karna ulahnya semalam. Pikir Arshana begitu.


"Sudah-sudah, kalian kok malah berantem. Masih pagi ini, ada Kakek. Kalian gak malu," lerai Felix.

__ADS_1


Akhirnya Arshana dan Arganta diam tanpa suara. Kalau Felix sudah angkat bicara, mereka mana ada yang berani membantah lagi. Selesai sarapan, Felix dan Arganta berangkat ke perusahaan. Kecuali Arshana yang memang sudah mengambil cuti. Karna telah berjanji dengan Zulfa kalau dia akan libur sehari untuk menemaninya.


__ADS_2