
"Dimana Zulfa?" tanya Arshana dengan nada ketus. Terlihat raut wajahnya yang sedang menahan amarah.
Maira sontak menoleh. "Ada diruang sana tuan, saya sudah memanggilnya dan menengkan Zulfa. Tapi dia tetap menangis," jawab Maira sedikit takut melihat tatapan Arshana yang berbeda.
"Sekarang ceritakan, apa yang sebenarnya terjadi? Sampai Zulfa bisa menangis begitu?" tanya Arshana menunggu jawaban Maira. Sedangkan yang ditanya malah menunduk.
"Begini tuan, tadi saya menemani Zulfa untuk berkeliling. Dan saat sampai diruang para karyawan, mereka malah menggina dan mencecar Zulfa dengan perkataan yang menyakiti hatinya. Awalnya tak dihiraukan oleh Zulfa, tapi makin lama perkataan mereka malah kemana-mana. Mereka mengatakan kalau Zulfa itu perempuan penggoda, suka menebar pesona, perempuan j*l*ng, dan menyamakan dengan kekasih anda yang dulu, sekaligus mereka mengatakan kalau Zulfa hanya ingin memeras harta anda saja," jelas Maira tak berani menatap Arshana secara langsung.
Mendengar penjelasan Maira barusan, membuat darah Arshan mendidih. Amarahnya benar-benar dipuncak sekarang dan siap untuk diletuskan. Dia bisa merasakan apa yang istrinya rasakan.
"Kamu boleh pergi!" titah Arshana.
"Baik tuan, permisi!" lalu Maira keluar dari ruangan Arshana dengan keringat dingin. Dia sudah takut duluan dengan kemarahan Arshana, Maira bersyukur tak dapat amukan dari Arshana.
Arshana menghampiri Zulfa ke ruang istirahat. Disana dia melihat istrinya berbaring membelakanginya sambil berbalut selimut. Arshana bisa mendengar isakan Zulfa yang begitu menusuk hatinya. Dia tidak bisa melihat Zulfa menangis. Dia mendekati ranjang, lalu duduk disamping istrinya.
"Sayang," panggil Arshana lembut.
Mendengar suara suaminya, Zulfa lantas berbalik badan dan berhambur memeluk Arshana sambil terisak. Hati Arshana berasa teriris melihat Zulfa sampai nangis sesegukan. Padahal selama ini Arshana tidak pernah melihat istrinya menangis sampai begitu. Bahkan jarang Zulfa menangis, hampir tak pernah dilihat oleh Arshana.
Dia ulurkan tangannya untuk membalaa pelukan Zulfa dan mengusap air mata yang terus mengalir. Dia biarkan sejenak Zulfa seperti itu, mungkim sekarang hatinya sedang butuh kehangatan.
"Aku cinta sama kamu tulus mas, aku bukan wanita j*l*ng seperti yang mereka katakan. Aku bukan perempuan penggoda, apalagi sampai menebar pesona didepan pria. Aku juga tak berharap harta darimu. Kamu tau sendirikan, aku baru mengenal kamu saat kita sudah menikah. Tapi kenapa mereka tega menghina dan mencaciku seperti itu. Dan mereka juga menyamakan aku dengan Firsi. Aku gak seperti yang mereka bayangkan. Aku bukan perempuan malam, hiks.....hiks.....Apa karna aku sebelumnya hanya seorang karyawan toko, sampai mereka bisa menghinaku. Padahal aku bisa saja tidak perlu bekerja, tapi saat itu papa tidak bisa leluasa memenuhi kebutuhanku karna dilarang mama dan Firsi! Mereka jahat mas! Hiks....hiks! Mereka memandangku sebelah mata!" ucap Zulfa panjang lebar sambil terus menangis.
Tambah nyeri saja hati Arshana mendengar curhatan istrinya secara langsung. Tangannya terkepal kuat menahan gejolak amarah dalam dirinya. Dia peluk tubuh Zulfa untuk memberi rasa nyaman dan ketenangan.
"Maafkan suamimu yang tidak bisa menjaga kamu sayang, sampai mereka berani membuatmu menangis seperti ini. Tenanglah, jangan menangis lagi. Kamu bukan perempuan seperti itu, kamu wanita baik Zulfa. Kamu wanita baik yang pernah aku temui. Aku beruntung mendapatkanmu, jangan nangis sayang. Aku gak bisa melihat kamu seperti ini. Akan aku balas nanti mereka, jangan menangis!" balas Arshana mengecup kening Zulfa.
"Tetaplah disini," ucap Zulfa.
"Iya aku akan disini," balas Arshana sambil mengelus lembut rambut Zulfa.
__ADS_1
...♡☆♡☆♡☆♡☆♡...
Melihat Arshana yang keluar ruang rapat dengan terburu-buru membuat semua orang jadi penasaran termasuk Felix dan Arganta. Karna mereka belum tau apa yang sebenarnya terjadi. Lalu Felix menanyakan kepada Marlin alasan Arshana langsung keluar dengan wajah marah. Sekarang diruang rapat hanya ada mereka berempat termasuk Brima.
Marlin menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Sampai hinaan yang dilontarkan kepada Zulfa. Persis seperti yang diceritakan Maira tadi. Felix maupun Arganta melotot tajam mendengarnya. Pantas saja Arshana langsung mengumpat marah dan berlari keluar. Ternyata menyangkut Zulfa. Brima yang masih ada disana juga ikutan terkejut sekaligus marah.
"Mereka memang harus diberi pelajaran, omongannya gak bisa dijaga. Memandang orang hanya sebelah mata! Mana tau mereka kenyataannya bagaimana. Tapi sudah berani menghina dan merendahkan orang lain!" kesal Arganta ikut emosi.
"Biarkan Arshana yang menyelesaikan, papa percaya dia akan melakukan tindakan bijak," sahut Felix menahan amarah dan berusaha sabar.
"Pecat aja sekalian! Perusahaan kita gak menerima karyawan yang tidak punya attitude baik, nanti seterusnya pasti akan ada aja kelauan mereka. Bagaimana kalau yang dihina itu malah partner kerja, bisa tercemar nama perusahaan kita pa!" tegas Arganta lalu pergi keluar dengan wajah kesal.
Tapi belum sampai keluar masih diambang pintu, Arshana datang dengan wajah yang tak bisa digambarkan. "Brima, ikut Saya!" panggil Arshana.
"Baik tuan!" Brima pun mengekor Arshana dari belakang.
"Mau kemana kak?" tanya Arganta mencegah.
"Menyelesaikan para sampah, Brima panggilkan Maira kesini, cepetan!" titah Arshana.
"Keterlaluan mereka itu, Zulfa dibuat nangis. Aku saja suaminya berusaha buat dia bahagia dan selalu tersenyum, hampir gak pernah aku melihat Zulfa nangis. Mereka bi*d*p memang!" marah Arshana.
"Emang sesekali mereka harus diberi pelajaran, mulut sampah!" sahut Arganta.
"Karna mereka belum tau status istrimu, Arshan. Kalau gitu sekalian saja katakan yang sebenarnya agar mereka gak mengganggu Zulfa lagi," kata Felix menghampiri Arshana.
"Pa, walau mereka gak tau status Zulfa. Kalau dia pinya attitude pasti gak akan menghina Zulfa sampai begitu. Bilang wanita penggoda, wanita malam, lah emang Zulfa seperti itu? Papa juga tau kakak ipar bagaimana sifatnya. Jauh berbeda dari yang mereka kataka!" sahut Arganta kesal.
"Permisi tuan, ini Maira sudah Saya panggil," ucap Brima datang bersama Maira.
"Kalian ikut Saya," ucap Arshana lalu pergi menuju lift.
__ADS_1
Brima dan Maira pun mengekor dibelakang. Arganta juga ikut menggunakan lift lain karna Arshana sudah keburu masuk. Felix juga ikut masuk lift bersama Arganta. Kelihatannya akan ada hal yang terjadi, mereka akan menerima akibat dari perbuatannya yang telah menghina dan merendahkan Zulfa.
Sekarang Zulfa sedang tertidur diruangan Arshana. Mungkin karna kelelahan menangis, sehingga dia tertidur dipangkuan Arshana tadi. Saat itu Arshana langsung membenarkan posisi Zulfa dan menyelimutinya. Lalu dia pergi keluar menemui Brima diruang rapat.
Ting.
Pintu lift terbuka, Arshana berjalan dulu diikuti Brima dan Maira dibelakang. Maira sudah hatap-harap cemas, dia takut kena amarah Arshana. Sampai diruang kerja para karyawannya, Arshana menatap mereka satu per satu. Mereka yang melihat Arshana datang langsung berdiri dan membungkuk hormat.
"Katakan sekarang Maira, siapa yang sudah membuat Zulfa menangis tadi?" tanya Arshana kepada Maira.
Maira lantas mengangkat kepalanya menatap Arshana yang bertanya padanya. Maira pun menjawab apa adanya. "Bella dan Reni, tuan," jawab Maira.
Yang namanya disebut sontak saja saling bertatap. Apaka yang akan terjadi sekarang? Kenapa wajah pimpinan mereka jadi terlihat menyeramkan begitu? Apa karna masalah tadi. Jika betul, habis riwayat mereka. Bella dan Reni hanya menunduk, bahkan mereka semua yang ada diruang kerja tersebut juga ikut menunduk takut melihat tatapan tajam dari Arshana.
Pandangan Arshana langsung tertuju pada mereka semua. "Kalian sudah berani lancang? Kalian gak tau siapa yang kalian hina dan rendahkan tadi? Kalau kalian tidak tau apa-apa gak perlu banyak omong! Saya tidak menggaji kalian untuk ikut campur urusan orang lain! Tugas kalian bekerja bukan malah merendahkan, ISTRI SAYA!" tekan Arshana dikata akhir agar mereka tau siapa yanh sedang dihadapi.
"A-apa? Istri?" mereka semua sangat terkejut mendengar Arshana menyebut istri. Apakah tuan mereka sudah menikah? Lalu kapan pernikahannya diadakan.
Tak ada berita apapun dan undangan yang disebar. Mereka saja baru tau sekarang, haduh habislah mereka semua. Apalagi Bella dan Reni yang sudah pucat pasi melihat Arshana begitu marah.
Anin yang kebetulan lewat disana juga ikut tertegun mendengar Arshana menyebut kata istri. Apakah yang dimaksud Arshana tadi adalah Zulfa? Anin jadi penasaran dan memilih diam ditempat untuk mendengarkan perkataan Arshana. Karna dia juga penasaran kenapa wajah Arshana terlihat marah begitu.
"Yang kalian hina dan rendahkan tadi adalah istri Saya! Kalian gak tau apa-apa sudah berani merendahkan, dia perempuan baik! Bukan seperti kalian yang hanya bisa mencecar orang lain tanpa tau kenyataan!" ucap Arshana lagi.
Tak ada yang berani membantah ucapan Arshana. Ruangan tersebut jadi senyap dan sunyi. Hanya suara Arshana yang menggelgar diruangan tersebut.
"Maaf tuan, kami tidak tau kalau dia adalah anda. Kami tau siapa dia dan kapan anda menikah kami juga tida tau, kami kira...." ucapan Bella terpotong dengan bantahan Arshana.
"Kamu kira apa? Dia kekasih Saya begitu? Jangan menyamakan istri Saya dengan wanita sebelumnya. Mereka jauh berbeda, jangan disamakan!" marah Arshana.
"Bisa saja tuan, dia hanya baik didepan anda, seperti kekasih anda sebelumnya," perkataan Bella menjadi pusat mereka semua.
__ADS_1
Kok bisa Bella malah berucap yang malah memantio emosi Arshana. Apa dia pira-pura bjta atau bagaimana, yanh sedang dihadapannya adalah pimpinan sendiri yang dinginnya minta ampun. Apalagi kalau sudah marah, wajahnya akan terlihat menyeramkan.
Brak.