Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
49 #Hari Bahagia


__ADS_3

Rumah yang sederhana dengan dua kamar kecil. Dihuni oleh seorang pria sendirian tengah menemui temannya diruang tamu. Mereka sedang berbincang serius, sampai pintu pun ditutup agar tak terdengar oleh siapapun. Mereka tampak serius dan terlihat pria tersebut menghembuskan nafas berat beberapa kali.


"Sampai kapan kamu mau begini? Gak ada niat untuk balik ke rumah kamu? Mendingan kamu jujur kepada calon istrimu. Dia pasti mengerti." ucap Brima yang sedang berada dirumah Verko sekarang. Tampak Brima sedang memaksa Verko untuk mengatakan sesuatu yang jelas disembunyikannya selama ini.


"Aku akan mengatakan kepada Zulfa nanti setelah kami menikah. Aku gak mau dia pergi dan membatalkan pernikahannya. Aku butuh waktu gak segampang itu untuk bisa kembali kerumah. Dikira nanti aku hantu tiba-tiba kembali, sedang mereka menganggapku tiada," jawab Verko.


"Hmm, aku gak memaksa kamu sih kalau gak mau mengungkapkan sekarang. Tapi aku harap, kamu segera jujur kepada mereka. Kamu juga sudah tau kan siapa yang sudah berniat jahat kepada kamu. Kalau kamu pulang setidaknya ada yang membantu. Kamu bisa dengan mudah mengalahkan musuh. Kalau sendiri begini bagaimana bisa menyusup untuk melawan." jelas Brima memberi saran agar Verko tidak salah arah dan menyesal nantinya.


"Kau tenang saja, keluargaku tidak semudah itu untuk dibodohi. Mereka pasti akan mencari sampai tuntas siapa pelakunya. Nanti kalau aku sudah resmi menjadi suami Zulfa, aku akan jujur sama dia dan mengajaknya ke perusahaan. Kau tenang saja, aku gak mau kehilangan orang yang sudah aku cintai. Tau sendiri kan masa laluku bagaimana." Brima mengangguk mengerti.


Brima sudah mendengar cerita Verko sejak awal mereka berteman hingga akrab. Sekarang Brima tak ada segan menganggap Verko adalah teman bahkan sahabat. Brima yang dari kota lain dan pulang pasti tidak ada teman dekat. Dan dia dipertemukan dengan Verko yang sekarang menjadi temannya.


"Terus rencana setelah menikah nanti kamu akan ajak Zulfa pulang kesini? Apakah dia mau?." tanya Brima, walau dia percaya kalau Zulfa pasti akan mau asal ada Verko yang selalu disampingnya.


"Zulfa bukan perempuan yang suka menuntut. Dia sederhana, apa adanya, dan tutur katanya begitu lembut. Itulah kenapa sejak awal bertemu dengannya aku menaruh rasa. Memang awalnya aku kira dia gak mau dekat denganku melihat sikap cueknya. Setelah Maira mengatakan sejujurnya kepadaku, barulah aku tau bahwa Zulfa cinta denganku juga. Hanya saja aku yang memang tidak peka dengan perasaannya." terang Verko membayangkan wajah Zulfa yang meneduhkan dan membuat nyaman.


"Beruntung kamu memilikinya, kalau nanti sudah nikah jaga dia baik-baik. Sulit menemukan perempuan seperti Zulfa yang menerima apa adanya. Aku saja nyari pasangan gak dapat-dapat." keluh Brima merenungu nasibnya yang tak kunjung menemukan pasangan.


"Nantu pasti ada waktunya, sekarang kau mau menetap disini sama ibumu?." tanya Verko melihat Brima selama ini kerja disana dan tak ada niatan untuk balik ke tempat kerjanya semula.

__ADS_1


"Iya, kasihan ibu kalau ditinggal sendirian. Mangkanya aku mau menetap disini. Cari kerja daerah sini aja." balas Brima. Sebenarnya dia mau merantau untuk mencari pekerjaan, karna mengingat bu Aida yang sendiei dirumah membuat Brima memutuskan untuk mencari pekerjaan disekitar daerah situ saja.


"Baguslah lebih baik begitu," sahut Verko.


Mereka melanjutkan perbincangan lama, Brima pulang saat tengah malam. Karna asik mengobrol dan tidak melihat jam.


...🥀🥀🥀...


Tiba dihari pernikahan Verko dan Zulfa yang diadakan secara sederhana. Walau begitu Zulfa sangat bahagia, tak henti-hentinya senyum mengembang dibibirnya. Dia memakai gaun pengantin berwarna putih yang sangat cocok ditubuhnya. Gaun itu sengaja dibelikan oleh Devon untuk Zulfa agar terlihat cantik dihari pernikahannya.


Zulfa menghadap cermin yang memperlihatkan dirinya. Beda dari hari biasanya, karna sekarang hari bahagia bagi Zulfa. Banyak yang dipikirkan Zulfa sekarang, terutama dia senang bisa terbebas dari rumah yang menyakitinya. Dikamar Zulfa sendiri hanya ditemani perias yang membantu. Elena dan Firsi seolah enggan untuk menunjukkan muka. Mereka malu karna pernikahan Zulfa hanya diadakan


Padahal dilingkungan rumahnya, mereka yang dianggap paling mampu alias kaya dibandingkan dengan yang lain. Bisik-bisik orang membuat Elena marah dan memilih berdiam dikamar. Ia merasa dipermalukan hanya karna pernikahan Zulfa diadakan secara sederhana. Sampai Devon sendiri yang memaksa Elena untuk keluar. Kalau gak dipaksa sudah pasti Elena tidak akan mau.


Pernikaham akan dimulai, jantung Zulfa terasa berdetak lebih cepat. Ia merasa deg degan yang luar biasa. Karna sebentar lagi dia akan berganti status menjadi istri orang. Tangannya menyatu dingin, harusnya dimomen sekarang ada yang bisa menenangkan Zulfa agar tidak terlalu gugup. Tapi nyatanya tidak ada, Elena atau Firsi seolah tidak sudi untik dekat dengan Zulfa.


Beruntungnya ada Maira sahabat yang selali menemani Zulfa kapan pun dan dimana pun. Sekarang dia sedang memegang tangan Zulfa, memberk ketenangan. Dia datang awal memang untuk menemani Zulfa.


"Sebentar lagi kamu akan menjadi istri orang. Gak terasa deh, kamu akan menilah saja. Perasaan baru kemarin kita bertemu, skripsi bareng, dan lulus. Eh sekarang kamu udah mau jadi milik orang." ucap Maira yang berada disamping Zulfa.

__ADS_1


"Iya Mai, aku juga ngerasa waktu berputar cepat. Gak nyangka udah mau jadi istri orang. Semoga kamu bisa cepat nyusulin aku." jawab Zulfa mengelua tangan Maira.


"Iya, aku pengennya juga gitu." balas Maira lalu mereka saling berpelukan.


Senyum Zulfa semakin lebar saat kata sah sudah terucap. Bahagia yang sekarang dirasakan oleh Zulfa bahkan Verko. Mereka sudah berganti status menjadi suami istri. Zulfa pun menyalami tangan Verko. Berganti Verko yang mengecup kening Zulfa. Lalu mereka bergantu menyalami Devon dan Elena. Tapi Elena seolah enggan dan langsung melepas tangan Zulfa setelah menyalaminya.


Bahkan Firsi juga langsung pergi begitu saja, telinganya panas mendengar bisik-bisik orang. Dia mengumpat kesal didalam kamar dan merututi Zulfa yang mau menikah dengan pria miskin tak ada guna. Semua itu sudah terjadi dan tidak bisa dirubah lagi. Ayahnya juga setuju, tidak ada penolakan sedikit pun. Membuat Firsi menjadi kesal.


"Ck, gak ada pria lain apa. Kenapa harus dengan pria itu sih. Sudah miskin, jelek, kupel. Aah menjijikkan, bukan selera gue banget. Telinganya gak panas ya dengerin gunjingan orang yang jelas-jelas tertuju pada mereka. Mungkin sudah tidak punya rasa malu mereka. Aarrg, sialan!!." umpat Firsi kesal.


Sampai detik ini tak ada yang tau tentang kehamilan Firsi. Handian juga sudah tidak ada kabar lagi. Nomer Firsi diblokir saat dia mengatakan putus. Firsi ingin sekali menggugurkan kandungannya, juga sudah pergi ke dokter. Tapi dokter tidak bisa melakukan aborsi tanpa sebab. Itu akan menyalahi aturan. Kecuali kalau ada hal bahaya yang bisa merenggut nyawa sang ibunya. Seperti penyakit yang berbahaya.


...☆☆☆☆☆...


...Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. ...


...Selamat Hari Raya Idul Adha 1444 H 😊🙏...


...Kalau author ada salah dalam penulisan dan kata mohon dimaafkan ya readers. Author meminta kerendahan hati kalian 😊....

__ADS_1


...Dukung Imeilda ya dengan cara Like, Vote, dan Komen. Pencet jempolnya 😉. Thank You guys 🙏. See you all, by by 👋...


__ADS_2