Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
29 #Menolong


__ADS_3

Didepan sebuah cafe, Maira berdiri sendiri menunggu taxi online yang dia pesan. Dia baru saja keluar dari cafe tersebut untuk membeli minum, sekalian pesanan Zulfa. Sudah hampir sepuluh menitan Maira menunggu, tapi taxi yang dia pesan tidak kunjung datang. Ia celingukan mencari kendaraan lain yang bisa ditumpanginya.


"Maira....." panggil seseorang dari arah belakang. Mendengar ada yang memanggil Maira pun menoleh dan betapa terkejutnya Maira melihat siapa yang memanggil. Seorang lelaki yang begitu familiar dan pernah bersinggah dihati Maira. Namun lelaki tersebut mengecewakannya.


"Denis.." ucap Maira yang terkejut. Lelaki itu bernama Denis, mantan pacar Maira dulu. Hubungan mereka terjalin sudah dua tahun, tapi harus berakhir karna kesalahan yang diperbuat oleh Denis yang masih membekas dihati Maira.


"Ternyata kamu masih ingat sama aku. Kirain sudah lupa, lama ya kita tidak bertemu. Sekarang kegiatanmu apa? Dan kamu sendirian?" tanya Denis.


"Iya.......Aku lagi kuliah semester akhir. Hmm aku harus pergi, lagi buru-buru maaf" ujar Maira hendak pergi karna tak mau berurusan lagi dengan lelaki yang bernama Denis itu. Tapi malah Denis menggenggam tangan Maira.


"Tunggu Maira........Apakah kamu masih membenciku? Aku minta maaf atas semua yang sudah aku lakukan. Aku tau sikapku tidak bisa dibenarkan dan pasti menyakiti hatimu. Apa sebenci itu kamu denganku Maira?" ucap Denis, dari matanya terlihat jelas bahwa Denis masih mengharapkan Maira.


"Aku memang tidak membencimu, tapi rasa kecewa yang kamu beri begitu menusuk Denis. Apa arti hubungan selama dua tahun berjalan, kurang apa aku sama kamu? Sudah lah jangan ganggu aku lagi. Aku sudah memaafkanmu tapi kalau kamu memintaku untuk kembali, maaf aku tidak bisa" ucap Maira mengibaskan tangannya agar pegangan Denis terlepas.


"Mai, aku masih cinta sama kamu. Aku khilaf Maira, aku minta maaf. Hanya kamu perempuan yang bisa menerimaku apa adanya. Aku memang bodoh sudah menyia-nyiakan perempuan sebaik kamu....."


"Cukup!! Tidak usah kamu berkata apapun lagi. Kalau kamu memintaku untuk menjadi teman tidak masalah, tapi kalau untuk kembali aku tidak bisa. Jangan paksa aku, cari perempuan lain yang bisa memuaskanmu!!" tekan Maira lalu pergi begitu saja dari sana. Denis tidak menyerah begitu saja, ia tetap mengejar Maira.


Maira yang melihat Denis terus mengejar, mempercepat langkahnya. Sampai dia berhenti didepan supermarket yang tak jauh dari tempat cafe tadi. Berjarak antara enam toko saja. Disana Maira melihat seorang pria yang berada didalam mobil dengan jendela kaca yang terbuka. Dihampiri oleh Maira untuk meminta bantuan. Karna Denis terus mengejarnya.


"Tuan bisa tolong saya?" ucap Maira berdiri disamping mobil agak menunduk menyeimbangkan tubuhnya dengan posisi pria yang ada dalam mobil.


Pria tersebut mengernyitkan dahi karna bingung melihat seorang wanita yang tiba-tiba saja menghampiri mobilnya dan meminta tolong. Karna pria tesebut masih diam membisu, Maira pun mengulangi lagi kata-katanya karna melihat Denis sudah ada dibelakang.


"Tolong bantu saya" ujar Maira menyatukan tangannya didepan dada, memohon agar pria tersebut mau menolongnya. Pria itu mengikuti arah dimana Maira menengoo ke belakang ada Denis yang semakin mendekat.


"Pliis aku mohon tuan, bantu saya. Dia itu mantan saya" ujar Maira sedikit takut kalau pria didepannya malah mengabaikan permintaannya. Tepat disaat itu Denis sudah berada dibelakang Maira.


Maira yang menyadari hal itu langsung bersikap biasa saja tanoa menampakkan rasa khawatir yang tadi menyetuak dalam hatinya. Karna dia tidak mau lagi berurusan dengan Denis, tapi malah disaat yang tidak tepat dia bertemu Denis.

__ADS_1


"Maira, kenapa kamu malah pergi. Aku hanya ingin kamu kembali seperti dulu. Aku ingin memulainya dari awal lagi, aku janji tidak akan mengulangi hal bodoh yang membuatmu sakit hati" ucap Denis melihat Maira hanya melengoskan wajah saja.


Pria yang tadi berada dimobil langsung turun. Tanpa disangka-sangka oleh Maira, kalau pria tersebut mengatakan sesuatu yang membuatnya kaget. Bahkan Denis pun ikut terkejut mendengarnya.


"Kamu siapa? Jangan mengganggu wanitaku." ucap pria tersebut sambil merangkul pinggang Maira.


Belum juga keterkejutan Maira selesai, ditambah lagi dengan pria tersebut merangkulnya. Sebenarnya Maira risih, tapi karna didepannya ada Denis. Sehingga mau gak mau Maira harus menjalankan peran agar Denis percaya.


"A-apa maksudmu? Maira....." belum selesai Denis berbicara, Maira langsung memotong.


"Iya dia pacarku. Kamu gak usah ganggu aku lagi. Aku sudah menjadi milik orang lain, dan seharusnya puka kamj mencari penggantiku. Hubungan kita sudah berakhir dari dulu dan selama itu kamu juga tidak mencariku. Kenapa sekarang kamu tiba-tiba datang dan minta aku untuk kembali bersamamu? Apakah wanita yang kamu banggakan itu pergi, jadi sekarang kamu mau kembali bersamaku?. Dengar ya Denis, aku bukan boneka yang bisa kamu permainkan seenaknya. Aku juga punya hati yang bisa merasakan sakit!!" ucal Maira meluapkan kemarahan yang dari dulu dia pendam karna Denis menghilang begitu saja saat ketahuan selingkuh dibelakang Maira.


Denis pergi begitu saja dan hanya meninggalkan surat untuk Maira yang isinya hanya permintaan maaf. Setelah itu Denis sudah tidak pernah lagi menghubungi Maira atau memunculkan batang hidungnya. Hubungan mereka berakhir sejak Maira baru masuk kuliah. Yang artinya selama kurang lebih tiga tahun Denis menghilang tanpa kabar.


"Aku minta maaf Maira atas sikapku. Aku punya alasan kenapa harus pergu saat itu hingga sekarang aku baru bisa kembali. Tapi aku gak percaya kalau dia pacarmu, aku tau siapa kamu. Tidak semudah itu kamu bisa melupakanku" ujar Denis sangat percaya diri kalau Maira masih mencintainya.


"Anda mau percaya atau tidak, bukan masalah. Yang jelas dia wanitaku sekarang, dan kau tidak berhak menyentuh apa yang sudah menjadi milikku. Ayo sayang kamu masuk ke dalam mobil, percuma berbicara dengan lelaki yang keras kepala" ucap pria tersebut, meminta Maira untuk masuk ke dalam mobil.


Setelah melihat Maira sudah masuk ke dalam mobil. Pria itu pun ikut masuk dan menyalakan mesin mobil. Dia membawa mobilnya pergi dari supermarket tersebut untuk menghindari Denis agar tidak mengejar lagi.


"Tolong berhenti, anda mau membawa saya kemana. Jangan macam-macam" ucap Maira mulai takut karna pria disampingnya tak kunjung menghentikan mobilnya.


"Apaan sih loh, tadi minta tolong sekarang marah-marah gak jelas. Bukannya berterima kasih, lagian gua ogah juga ngapa-ngapain loh. Bukan selera gue" sahut pria tersebut langsung menghentikan mobilnya ditepi jalan.


Mendengar perkataan pria disampingnya, Maira jadi merasa bersalah. Karna tadi dia sendiri yang meminta tolong. Dan sekarang malah dia menuduh yang enggak-enggak.


"Ma-maaf, aku cuma takut saja. Hmm makasih sudah nolongin aku tadi." ucap Maira mulai menstabilkan rasa takut yang menyeruak dalam dirinya. Ia bisa melihat kalau pria disampingnya tidak punya niat jahat apapun.


"Ya..." jawabnya singkat tanpa ekspresi.

__ADS_1


Tiba-tiba suara ponsel berbunyi milik pria tersebut. Setelah diangkat terdengar dari seberang suara seseorang sedang berbicara dengan nada kesal.


📱"Dimana sih loh, gue cariin gak ada. Loh ninggalin gue ya. Tadi ngajak-ngajak sekarang malah ninggal gitu aja. Cepetan balik sini gak loh" ujar pria yanga da diseberang telfon.


"Duh iya gue balik, tadi ada urusan bentar." balas pria tersebut lalu mematikan ponselnya begitu saja.


"Gue ada urusan, loh sudah bisa balik sendiri kan? Lagian pria tadi sudah gak ada" ujarnya cuek.


"Iya, makasih sudah dibantuin. Btw (by The way) namaku Maira, nama kamu siapa?" tanya Maira.


"Gak penting nama gue siapa. Mendingan cepetan keluar deh, gue ada urusan" ujarnya.


Maira sangat kesal melihat sikap pria yang ada disampingnya. Dia pun segera turun dari mobil dan menutupnya sedikit keras. Pria itu langsung tancap gas meninggalkan Maira begitu saja dipinggir jalan.


"Dasar pria dingin, cuek banget jadi lelaki. Tanya nama saja sombong banget. Awas saja, gak bakalan ada cewem yang mau sama dia. Cueknya sudah kayak kulkas dua pintu, lebih malahan" gumam Maira kesal.


...****...


Ditempat lain, Marlim menunggu kedatangan Daniel yang tiba-tiba saja menghikang. Padahal tadi dia hanya sebentar pergi ke supermarket, itupun juga permintaan dari Daniel. Tapi pas waktu keluar mobil Daniel malah gak ada. Dicari juga menghilang.


Setelah menunggu sekitar lima menitan, mobil Daniel pun terlihat. Marlin langsung menyerobot karna kesal ditinggal begitu saja tanpa memberi tau terlebih dahulu.


"Loh dari mana aja sih, pergi gak ngomong dulu. Sengaja ya loh mau ninggalin gue, dari mana loh" pungkas Marlin kesal.


"Duh kata-kata loh itu udah kayak ibu-ibu dikomplek. Bisa diem gak, gue gak ada maksud ninggalin loh. Tadi ada perempuan gak kenal minta tolong" lalu Daniel menceritakan semuanya dari awal hingga akhir. Sampai dia harus meninggalkan Marlin begitu saja disupermarket.


"Hah? Tumben loh mau nolongin orang, biasanya juga loh biarin. Cewek pula, bukannha loh anti banget dengan cewek" ujar Marlin.


"Kasihan aja gue, udahlah ayo pergi. Gak usah dibahas lagi." Daniel males kalau harus mendengar ocehan Marlin yang nantinya akan menjadi bulanan bagi dia sendiri

__ADS_1


Marlin pun hanya bisa menarik nafas panjang, lalu masuk ke dalam mobil. Dia bisa menebak kalau sekarang mood Daniel pasti turun. Marlin gak mau membuat Daniel semakin kesal. Sehingga dia pun hanya diam saja, padahal tadi niatnya ingin menggoda Daniel. Lama juga mereka gak saling mengobrol akran seperti sekarang.


__ADS_2