
"Kesalahan mereka memang tidak bisa dibenarkan, tapi pengorbanan mereka begitu besar. Kamu tenang saja nak, papa sudah memaafkan kesalahan mereka. Bagaimana pun mereka yang sudah mengasuhmu dan berkorban nyawa untuk melindungimu." ucal Falix memegang bahu Daniel.
"Walau masih ada rasa marah, mama aka berusaha untuk memaafkan mereka. Yang terpenting kamu bisa berkumpul lagi bersama kami." tambah Yolanda merangkul pundak Daniel.
"Papa...." panggil Felix pada kakek.
"Aku memaafkannya." jawab kakek membuat Daniel tersenyum senang. Lalu menghampiri kakek dan memeluknya.
"Makasih kek, sekarang Daniel bisa pergi dengan tenang karna tugasnya sudah selesai," ucapnya.
"Iya, namamu Arganta Abhimarta bukan Daniel lagi. Tinggal lah disini bersama kami, sekarang ini adalah rumahmu." ucap kakek tersenyum ke arah Daniel.
Daniel sudah pergi bersama keduaorang tuanya. Tinggal Arganta yang ada.
"Baik kek......" jawab Arganta.
"Tapi kakek mau kalian tetap lakukan tes DNA agar memastikan kembali," tambahnya lagi. Tuan Felix dan Arganta hanya mengangguk.
"Sekarang kamu kan putra kami, kamu pegang perusahaan. Kelolah dengan baik, karna kakakmu sudah tiada. Sebelum ada kamu papa bingung, siapa lagi yang akan menjadi penerus keluarga ini. Tapi sekarang kamu sudah kembali, kamu mau ya?." pinta Felix, dia punya harapan besar kepada Arga untuk mengelolah perusahaan keluarganya.
"Apa aku pantas, aku gak sehebat kak Arshan pa. Selama ini aku hanya membantunya." jawab Argan merasa minder untuk menduduki tempat kakaknya.
"Siapa lagi Argan, hanya kamu satu-satunya harapan kami. Papa tau kamu bisa, tiap hari kamu ada untuk Arshan. Pasti kamu juga tau apa yang harus dilakukan." kata Felix punya harapan besar pada Argan.
"Terimalah Argan, kembangkan perusahaan keluarga kita agar lebih luas lagi. Kakek tau kamu hebat, sama dengan Arshana. Kalian cucu kakek, kalian sama. Tidak ada bedanya, andai Arshan masih ada disini, pasti dia akan senang sekali bisa melihat adiknya." sahut kakek menatap ke arah Argan.
"Baiklah kek, Argan mau. Tapi kita lakukan tes DNA dulu ya. Aku gak mau membuat kalian kecewa." balas Argan.
__ADS_1
"Kita lakukan sekarang. Ayo ma kerumah sakit. Biar semuanya bisa jelas." ajak Felix, walai tanpa tes DNA dia yakin kalau Argan adalah putranya.
"Iya pa, mama siap-siap dulu." Yolanda pun pergi menuju kamarnya.
Tak berselang lama Yolanda kembali, mereka pun pergi bersama menuju rumah sakit untuk melakukan tes DNA agar tidak ada lagi rahasia diantara mereka.
🥀
🥀
🥀
Zulfa pulang ke rumah diantar Verko. Ayahnya mengajak Zulfa makan malam bersama, sekaliam disuruh mengajak Verko. Awalnya Zulfa ragu, pasti nanti akan mendapat cecaran lagi dari mama tiriya. Karna tidak mau membuat ayahnya kecewa, Zulfa pun mengiyakan ajakan Devon untuk makan malam bersama.
Baru masuk ke dalam rumah, Elena sudah menatap sinis ke arah Zulfa dan Verko. Seolah kehadirannya tidak diinginkan, memang begitu adanya. Zulfa hanya mengabaikan tatapan sinis Elena dan Firsi. Karna dia pulang bukan untuk mereka, tapi demi ayahnya.
"Papa apa kabar?." tanya Zulfa menyalami tangan Devon begitu pun dengan Verko.
"Aku baik juga, kuliahku lancar kok." kawab Zulfa tersenyum.
"Papa senang dengarnya. Ohh ya papa mau tanya rencana pernikahan kalian mau diselenggarakan kapan?." tanya Devon menatap ke arah Zulfa dan Verko bergantian.
"Tunggu aku wisuda pa. Kalau gak salah dua minggu lagi. Kuliahku sudah selesai." jawab Zulfa membuat Devon terkejut.
"Kamu serius sudah selesai? Cepet banget Fa. Gak terasa kamu mau wisuda aja. Maafkan papa Zulfa, kamu kurang perhatian sampai papa saja gak tau kalau kuliah kamu hampir selesai." ucap Devon tidak menyangka. Ia tak pernah mengikuti perkembangan kuliah Zulfa, karna jarak mereka tidak dekat. Komunikasi jarang apalagi bertemu. Sehingga sekali bertemu Zulfa sudah mau wisuda.
"Gak pa-pa kok, Zulfa ngerti. Nanti papa datang ya diwisuda Zulfa. Pokoknya Zulfa tunggu, dua minggu lagi." balas Zukfa dengan senyuman yang membuat hati menjadi tenang.
__ADS_1
"Papa pasti akan datang. Bagaimana kalau pernikahan kalian diselenggarakam dua hari setelah kamu wisuda. Lebih cepat lebih baik, toh kalian sudah saling mengenal. Kasihan tuh nak Verko, bilangnya satu bulan. Ini mah lebih Fa." ucap Devon.
"Hehe, yakan Zulfa gak bisa sesuaikan tepat waktu pa. Tapi kak Verko tetap mau nunggu kok. Mana bisa pindah ke lain hati." jawab Zulfa tersenyum kikuk.
"Hmm, percaya deh." sahut Devon ikut tersenyum melihat kebahagiaan yang terpencar diwajah putrinya.
"Ayo kita makan malam bersama. Semua sudah disiapkan. Keburu gak enak." ajak Devon berjalan duluan menuju meja makan.
Zulfa dan Verko ikut mengekor dibelakang. Tatapan sinis Elena mengarah kepada mereka saat sampai dimeja makan. Zulfa sebenarnya risih dengan tatapan ibu tirinya. Karna ayahnya lah Zulfa tidak memghiraukan sikap Elena.
"Firsi kemana ma? Kok dia belum turun. Dia gak ikut makan bareng?." tanya Devon kepada Elena.
"Gak tau, biar aku samperin saja ke atas. Kalian makan dulu aja." ucap Elena berlenggang pergi meninggalkan meja makan.
Didepan kamar Firsi, Elena mengetuk beberapa kali. Tapi tidak ada sahutan dari Firsi, ia coba buka gagang pintu ternyata tidak dikunci. Elena langsung masuk ke dalam. Tapi tidak menemukan keberadaan Firsi dikamarnya. Elena mengedarkan pandangan keseluruh kamar tapi tidak menemukan Firsi juga. Telinganya mendengar suara air, pasti Firsi dikamar mandi. Pikirnya Elena. Dia pun mengetuk pintu kamar mandi untuk memastikan kalau Firsi ada didalam.
"Firsi kamu didalam sana?." panggil Elena sambil mengetuk pintu. "Dicariin papa tuh disuruh makan malam bareng," tambahnya.
Tapi tidak ada sahutan dari Firsi, Elena jadi khawatir dengan keadaan Firsi. Ia mengedor kembali pintu kamar mandi sedikit lebih kencang agar didengar oleh Firsi. Beberapa saat akhirnya Firsi membuka pintu, dengan wajah yang terlihat pucat pasi. Elena jadi heran melihat wajah Firsi yang berubah.
"Kamu kenapa? Dari tadi mama gendorin pintu dibuka. Kamu sakit?." tanya Elena sambil meletakkan punggung tangannya dikening Firsi.
"Issh, aku gak sakit ma. Kran airnya nyala mangkanya aku gak denger waktu mama manggil tadi. Ada apa sih?." tanya balik Firsi kesal.
"Ditungguin papa tuh disuruh makan bareng." jawab Elena.
"Gak ah, males kalau makan bareng mereka. Ogah lihat wajahnya, suruh bibi deh nganterin makananku ke kamar. Pokoknya aku gak mau makan satu meja sama mereka. Mama gak usah protes." ucap Firsi saat Elena hendak bicara.
__ADS_1
"Siapa yang mau protes, mama aslinya juga gak mau makan bareng dia. Tapi nanti papamu bakalan marah lagi sama mama. Kalau kami emang gak mau turun, ya sudah." ujar Elena melenggang keluar dari kamar Firsi.
Setelah pintu kamar tertutup, Firsi mendudukkan tubuhnya ke samping ranjang. Sambil menghela nafas panjang, dari tadi Firsi menyembunyikan benda tipis panjang ditangan kanannya.