
"Aku senang melihat papa selalu sehat, gak perlu berterima kasih. Sudah tugasku sebagai anak, walau sudah menikah masih ada orang tua yang juga harus dikunjungi." Zulfa tersenyum ke arah Devon.
Devon ikut tersenyum melihat Zulfa tersenyum ke arahnya. Walau istri dan anak keduanya selalu saja membuat masalah, setidaknya ada Zulfa yang menjadi penghangat hatinya. Dia beruntung memiliki Zulfa yang selalu mengerti akan kondisinya.
"Aku mau jujur sesuatu sama papa tentang Firsi. Mau nanti papa percaya atau tidak, gak masalah yang penting aku akan mengatakannya agar tidak beban untukku sendiri. Aku gak mau papa terus-terusan dibohongi oleh Firsi dan aku juga gak mau keterusan menutupi kesalahannya," ucap Zulfa membuat Devon bingung.
"Apa yang kamu tutupi tentang Firsi nak? Katakan saja, papa akan mendengarnya," jawab Devon.
Zulfa menarik nafas panjang lalu mulai menjelaskan. "Asal papa tau, sebenarnya Firsi sering keclub malam, keluar masuk bar. Selama dia masih ada hubungan dengan Arshana. Papa ingat saat Firsi ditolak oleh keluarga Abhimarta dan Firsi kan sempat bilang kalau mereka mengatakan dia suka keluar masuk bar. Itu memang kenyataan pa bukan penghinaan. Aku menutupinya karna males harus ribut dengan dia. Papa mau percaya atau tidak dengan terserah. Yang penting aku sudah mengatakannya. Kalau papa masih tidak yakin dengan ucapanku, papa bisa mencari taunya sendiri," jelas Zulfa membuat Devon tertegun. Dia gak habis pikir dengan Firsi, kok bisa dia melakukan sikap seburuk itu.
"Kamu beneran Fa? Firsi seperti itu? Kenapa kamu tutupi?" ujar Devon
"Iya pa, aku minta maaf. Aku takut dia marah dan makin nyalahin aku. Jadi aku diam saja, tapi makin lama sikapnya tambah diluar batas. Mangkanya aku mengatakan sama papa. Aku minta maaf pa," balas Zulfa menunduk.
Tiba-tiba Elena datang menghampiri Devon dan Zulfa yang tengah asyik berbincang tentang Firsi. Satu tangannya digunakan untuk menampar Zulfa dengan begitu keras. Devon yang mengetahui hal tersebut sontak bangkti dari duduknya dan memarahi sikap Elena yang menampar Zulfa tanpa sebab.
Zulfa yang mendapatkan tamparam mendadak hanya bisa meringis memegangi pipinya yang terasa panas. Tamparan Elena begitu keras sampai membekas cap merah dipipi Zulfa. Karna kulitnya yang putih sehingga bekasnya bisa terlihat jelas.
"Kamu apa-apaan Elena! Kenapa menampar Zulfa? Kamu sudah gak waras!" Devon begitu marah melihat sikap Elena yang seenaknya.
"Biarin! Dia sudah lancang mengatakan hal buruk tentang Firsi. Aku sudah dengar semua yang anakmu katakan. Semua omongannya bohong! Firsi tidak mungkin melakukan hal tersebut. Dia hanya ingin membuat Firsi buruk dimatamu! Dari dulu aku sudah menebak kalau anakmu ini jahat! Dia harus dikasih pelajaran." Elena kembali menyerang Zulfa secara tiba-tiba tanpa bisa dicegah oleh Devon.
Zulfa ditarik paksa, tangannya yang terluka dicengkram kuat sampai mengeluarkan darah segar. Zulfa hanya bisa meringis kesakitan dan meminta untuk dilepaskan. Tetapi Elena tidak peduli, dia malah kembali mendorong Zulfa sampai terjatuh dan kepalanya terbentur kaca meja. Amarahnya tidak bisa dikendalikan sampai mencelakai Zulfa.
"Auww!" ringis Zulfa memegangi kepalanya yang mengeluarkan darah.
"CUKUP ELENA!" bentak Devon menarik tangan istrinya dan dia hempaskan dengan kuat.
Sementara Zulfa merasakan pandangan matanya menjadi kabur. Rasa sakit akibat benturan yang keras membuatnya tidak bisa menahan sampai pandangan tersebut menjadi gelap. Zulfa pun pingsan, sontak Devon langsung menoleh.
"Zulfa!" Devon langsung menghampiri Zulfa dan berusaha menyadarkan anaknya. Tetapi mata Zulfa masih tertutup rapat. Membuat Devon khawatir karna Zulfa tidak bangun-bangun.
"INI SEMUA KARNAMU! APA KAMU TIDAK CUKUP MENYAKITI ZULFA SELAMA INI? SEKARANG KAU BUAT DIA CELAKA. AKU AKAN KASIH PELAJARAN SAMA KAU NANTI!" bentak Devon dengan nada tinggi sampai membuat Elena ketakutan melihat tatapan suaminya.
"Mas, aku tid....."
__ADS_1
"CUKUP! GAK PERLU KAMU JELASKAN LAGI!" Devon langsung menggendong Zulfa untuk dibawa ke rumah sakit. Dia takut terjadi sesuatu kepada Zulfa.
Sementara Elena hanya bisa mendengus kesal. Hatinya diselimuti rasa benci dan amarah. Suaminya lebih membela Zulfa dari pada dia. Jelas! Karna selama ini sikap Elena selalu semena-mena dengan Zulfa. Devon sadar hal itu dan sudah ditegur olehnya. Tetapi sikap Elena tetap sama dan tidak berubah sama sekali.
Diperjalanan Devon menghubungi Arshana untuk memberi tau agar pergi ke rumah sakit. Melihat keadaan Zulfa yang masih pingsan, membuat Devon makin khawatir. Saat ini dia tidak menyetir sendiri, ada sopir yang membantu. Kalau dia sendiri tidak akan bisa fokus nantinya.
"Maafkan papa nak, gara-gara papa hidupmu jadi begini. Maafka papa," ucap Devon menangis tidak tega melihat Zulfa dalam keadaan begitu.
๐ฅ
๐ฅ
๐ฅ
Arshana terlonjak kaget saat mendapat telfon dari ayah mertuanya dan mengabari bahwa Zulfa dibawa ke rumah sakit. Dia yang sekarang sedang bergabung dalam rapat perusahaan langsung menghentikan. Disana ada tuan Felix, Arganta, Marlin dan juga Brima. Ada beberapa staf penting perusahaan juga. Dan Anin pun juga ikut bergabung. Karna mereka sedang menyambut kedatangan Arshaan yang dikabarkan telah meninggal, tetapi malah kembali lagi.
Awalnya mereka begitu terkejut dan tidak percaya dengan kenyataan yang ada. Mereka sempat bertanya-tanya, kenapa bisa pimpinan mereka yang sudah meninggal bisa kembali lagi. Namun semua pertanyaan mereka tidak ada jawabannya. Karna tuan Felix menutupi hal tersebut. Pada akhirnya mereka pun diam, walau berbagai pertanyaan terlintas dibenak masing-masing.
"Kamu mau kemana Arshana? Rapat belum selesai, kok kamu malah mau pergi begitu saja," tegur Felix melihat respon Arshana yang terlihat cemas setelah menerima panggilan telefon.
"Ada hal penting pa yang harus Arshana dahulukan. Besok kan masih bisa dilanjut, Arshana pergi dulu," jawab Arshana lalu pergi begitu saja dengan tergesa-gesa.
Satu notifikasi masuk ke ponsel Arganta. Segera dia buka dan melihat bahwa pesan tersebut dari Arshana yang memberi tau alasan dia harus pergi agar disampaikan kepada tuan Felix.
โ๏ธ"Sampaikan pada papa kalau aku ke rumah sakit. Zulfa dibawa oleh papanya ke rumah sakit dan memintaku kesana. Entah apa yang terjadi dengan istriku. Tolong kasih tau papa"
Pesan dari Arshana.
Arganta yang selesai membaca pesan tersebut langsung membisikkan sesuatu dekat telinga tuan Felix agar tidak didengar oleh semua staf. Sebab mereka belum mengetahui status Arshana yang sudah menikah. Mereka masih menyembunyikan dari kalangan publik maupun karyawan perusahaan.
Mendengar penjelasan Arganta membuat Felix kaget sekaligus paham kenapa Arshana bisa terburu-buru untuk pergi. Pada akhirnya tuan Felix menjeda dulu rapat mereka dan akan melanjutkan pada hari lain, entah besok atau lusa. Menunggu persetujuan Arshana mau atau tidak.
Diperjalanan Arshana menyetir mobilnya sendiri dengan kecepatan tinggi. Dia begitu khawatir setelah mendapat kabar dari mertuanya yang menyuruh ke rumah sakit. Devon tadi tidak menjelaskan alasannya hanya menyuruh Arshana agar segera menyusul kerumah sakit. Sambil menyetir, Arshana sempat menelfon bodyguard yang tadi memantau istrinya. Dia ingin mendapat penjelasan, kenapa Zulfa bisa masuk rumah sakit.
Telfon pun tersambung.
__ADS_1
"Kenapa istriku bisa masuk rumah sakit?" tanya Arshana setelah telfon terhubung.
๐ฑ"Kami tidak tau tuan muda, tadi kami memantau nyonya muda dari luar. Karna ada satpam yang menjaga. Mana bisa kami masuk, yang kami lihat nyonya muda sudah digendong oleh pria yang seumuran dengan tuan besar Felix ke dalam mobil dengan keadaan pingsan. Dan kami sempat melihat keningnya berdarah."
"Apa! Istriku terluka. Ck sekarang katakan rumah sakit mana yang dituju?"
๐ฑ"Rumah sakit *** tuan"
Tut tut tut.
Arshana langsunh mematikan panggilannya begitu saja. Dia langsung mengarahkan mobilnya ke rumah sakit tujuan. Dia ingin tau alasan istrinya bisa masuh rumah sakit kalau tidak terjadi sesuatu. Dan dugaannya benar kalau Zulfa terluka, entah apa penyebabnya.
Sebentar.......Ada yang terlupa.
Arshana sekarang tidak sedang menyamar. Mertuanya belum tau kenyataan yang ada. Bagaimana kalau nanti dia pergi ke rumah sakit dengan keadaan dirinya yang asli. Sudah pasti Devon akan terkejut dan malah mengusirnya. Arshana lupa tidak mengajak Brima karna terlalu cemas. Dia pun menepikan mobilnya dan langsung menghubungi Brima agar ketempatnya berada sekarang. Beruntung Arshana selalu membawa alat penyamarannya dimobil.
Sekarang dia harus menunggu Brima datang. Butuh waktu juga untuk menunggu kedatangan Brima, jaraknya dari perusahaan sudah lumayan jauh. Arshana menghubungi Devon kembali untuk menanyakan kabar istrinya. Perasaannya terlalu khawatir terjadi sesuatu dengan Zulfa.
๐ฑ"Kamu dimana Verko? Apakah sudah dijalan?"
"Iya pa, aku sudah dijalan. Tapi jalanan sedang macet, jadi aku butuh waktu untuk kesana. Bagaimana dengan istriku pa?"
๐ฑ"Masih diperiksa dokter, papa juga belum tau. Masih nunggu diluar"
"Ya sudah pa nanti kabari Verko lagi."
๐ฑ"Iya, hati-hati dijalan"
Tak lama Brima datang menggunakan taxi online. Dia pun turun dan menghampiri Arshana dalam mobil. Satu tangannya mengetuk kaca jendela agar Arshana keluar. Melihat Brima sudah datang, Arshana turun dati mobil dan meminta Brima untuk menggantikannya menyetir. Brima pun menurut tanpa bertanya banyak.
Mereka pun melanjutkan perjalanan ke rumah sakit sesuai yang dikataka Arshana. Ditengah perjalanan Brima menanyakan perihal tujuan ke rumah sakit. Dan Arshana pun menjelaskan kalau Zulfa dibawa kesana. Brima sempat terkejut dan menanyakan alasannya, tapi Arshana juga tidak tau penyebabnya.
"Kamu cari pom dulu, aku mau ganti pakaian. Mana bisa aku kesana dengan pakaian seperti ini. Nanti mertuaku malah terkejut," ucap Arshana dan mendapat anggukan dari Brima.
...โกโกโกโกโก...
__ADS_1
...Hay ๐ ketemu lagi sama othor yang kece nih ๐ . Author mau mengucapkan Selamat Tahun Baru Islam 1445 Hijriyah...
...Telat ya ๐, author baru bisa update soalnya ๐ maaf guys ...