Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
51 #Pengganti Arshana


__ADS_3

Pesan itu terus terbesit dikepala Verko sampai saat ini. Mau mengatakan yang sebenarnya atau tidak, dia takut Zulfa akan marah. Tapi kalau dibiarkan terlalu, benar apa kata Brima. Bisa jadi nanti Zulfa akan nyaman dengan Verko bukan dirinya yang sesungguhnya. Verko pun berniat untuk jujur kepada Zulfa hari itu juga. Biar pun nanti Zulfa marah padanya tidak mengapa. Setidaknya kekecewaan itu tidak terlalu dalam.


"Mas ini kopinya, special untuk kamu." Kedatangan Zulfa membuyarkan lamunan Verko. Ia menoleh kearah istrinya yang membawa secangkir kopi untuknya.


"Makasih." ucap Verko langsung mengambil kopi yang dibuatkan Zulfa. Ia ingin segera mencobanya.


"Waah kopi buatan kamu enak banget. Padahal aku juga biasanya bikin kopi, tapi kok gak seenak buatan kamu ya. Rasanya beda." ujar Verko setelah meminum kopi bikinan Zulfa tadi.


"Kan yang aku buat special buat kamu mangkanya rasa juga harus special." balas Zulfa membuat Verko terkekeh lucu.


"Hmm aku keluar dulu ya bentar mau beli makanan buat kita. Kamu mau makan apa?." tanya Verko menawarkan kepada Zulfa.


"Apa aja deh mas, aku juga bingung mau makan apa. Samain saja sama punya kamu nanti," jawabnya.


"Baiklah kalau gitu, aku pergi setelah menghabiskan kopi ini." ucap Verko.


"Iya mas."


Verko pun menghabiskan kopinya terlebih dahulu, lalu pergi membeli makanan untuknya dan Zulfa. Dia belinya juga tidak terlalu jauh dari kontrakannya. Jadi bisa cepat kembali, itu pun kalau tidak mengantri. Setelah kopinya habis, Verko mengambil jaket dan kunci motor. Ia akan berangkat sekarang. Tinggal Zulfa sendiri dirumah, ia lebih memilih menunggu didalam. Karna lingkungan baru jadi masih asing buat Zulfa.


Sementara Verko sudah sampai didepan warung padang langganannya. Ia langsung memesan makanan, beruntung tidak ramai jadi tidak perlu mengantri. Setelah pesanannya selesai, Verko membayar ke kasir lalu berniat langsung pulang.


Saat menyalakan hendak menyalakan mesin motornya, ia mendengar seseorang yang berbicara ditelfon tak jauh darinya. Seorang pria yang tidak asing bagi Verko. Dia sedang mengobrol entah dengan siapa didalam telfon. Verko terus menguping karna penasaran.

__ADS_1


"Tenang saja, perusahaan dia akan hancur sebentar lagi. Sebagian sahamnya sudah dijual untuk menutupi kerugian yang ada. Lebih baik lakukan saja rencana selanjutnya agar dia semakin terpuruk. Dia salah memilih lawan. Bentar lagi aku ke sana." ucap pria tersebut lalu masuk ke mobil yang berada didepan cafe. Samping warung padang tersebut ada cafe.


Setelah mobil pria tersebut pergi, Verko berpikir apa maksud dari perkataan pria itu. "Siapa yang dia telfon tadi, perusahaan siapa yang dibuatnya hancur. Apa dia berbuat kejahatan dan melakukan kecurangan. Apa dia berkhianat." gumam Verko terus memikirkan perkataan pria tadi.


"Aah aku pulang dulu deh, pasti Zulfa sudah menunggu." ujar Verko lali menyalakan mesin motornya dan pergi melesat untuk kembali pulang.


...☆☆☆☆☆...


Sebuah mobil baru masuk halaman rumah utama keluarga Abhimarta. Seorang pria membuka pintu mobil lalu berjalan masuk ke dalam. Sampai diruang tamu dia bertemu dengan tuan Felix, lalu dia menanyakan keberadaan Arganta. Karna sudah buat janji untuk datang ke kediamannya.


"Arganta ada om?." tanya Marlin menatap Felix.


"Ada, kamu dari tadi sudah ditunggu. Dia ada diruangannya. Temui saja disana. Kalau gak ada berarti dikamar." jawab Felix dengan ramah. Dia tau kalau Marlin adalah sahabatnya Arganta. Beberapa kali Marlin datang untuk menemui Arganta. Jadi Felix sudah hafal, seperti dahulu saat Arganta masih menjadi asisten Arshana.


Sampai didepan pintu, Marlin mengetuknya beberapa kali. Tapi tidak ada sahutan, sepertinya Arganta tidak ada didalam. Marlin pun hendak pergi ke kamarnya, tapi Arga sudah dibelakangnya. Marlin sempat terkejut melihat Arga tiba-tiba ada tepat dibelakangnya sat dia berbalik.


"Astaga, loh ngagetin gue tau, untung gue gak ada riwayat penyakit jantung. Loh dari mana sih." kesal Marlin kepada Arga yang membuatnya senam jantung.


"Selow dong, gue aja baru kesini mau nyapa loh. Tapi keburu loh nya noleh, ya sudah kalau kaget jangan nyalahin gue. Ayo masuk!." titah Arganta terkekeh melihat ekspresi kagetnya Marlin.


Ia pun membuka pintu menyuruh Marlin ikut masuk. Setelah itu dia menutup pintunya kembali agar tidak ada yang menguping pembicaraan mereka nanti. Tentu pembahasan mereka mengenai rencana selanjutnya yang akan dijalankan. Arga tidak mau sampai kakek dan Yolanda tau tentang pekerjaannga selain mengurus perusahaan.


Kalau Felix sudah tau duluan saat mengikuti mobil Arga sampai dimarkas. Karna dia curiga ada yang disembunyikan oleh putranya itu. Dan benar saja saat dibuntuti mobil Arga memasuki perkarangan yang luas persis seperti rumah. Tapi didalamnya ada markas tempat mereka berkumpul. Saat itu Felix langsung masuk dan Arga tau.

__ADS_1


Disaat itu juga Arga menjelaskan semuanya tanpa ada yang dia tutupi lagi. Karna ayahnya juga sudah tau, selesai Arga menjelaskan. Felix terlihat tidak menunjukkan ekspresi apapun atau kemarahan. Malah ia memegang pundak Arganta dan mengatakan bahwa dia suka dengan sikap putranya. Membuat Arganta senang mendapat dukungan dari ayahnya. Tapi ia belum berani mengatakan kepada kakek dan Yolanda. Takut mereka tidak bisa menerima hal itu.


Arganta sudah positif anak kandung Felix dan Yolanda. Hasil tes DNA menunjukkan kepuasan bagi mereka. Senyum menghiasi wajah Yolanda saat tau kalau putra bungsunya masih hidup. Dan kini dia tidak kesepian lagi karna ada Arganta. Walau Arshana sudah pergi.


"Jadi gimana? Mau langsung menstak mereka? Bentar lagi tuh sudah bangkrut. Tinggal merusak akarnya saja. Gimana?." tanya Marlin menunggu jawaban dari Arganta untuk meluncurkan rencana mereka selanjutnya.


"Lakukan saja, retas data perusahaannya. Dan alihkan kepada perusahaanku. Tapi kangan sampai mereka tau. Setelah itu aku akan membeli sahamnya. Gak sabar untuk melihat kehancuran dia." jawab Arga tersenyum senang melihat perusahaan Handian diambang kebangkrutan.


"Oke. Terus perempuan itu gimana? Dia sedang hamil sekarang. Tapi keluarganya belum tau, sementata Handian mencampakkannya. Dan menganggap kalau dia hamil anak kakakmu." ujar Marlin, selama ini mencari tau tentang Firsi yang ternyata sedang hamil dan dibuang begitu saja oleh Handian.


"Dasar j*l*ng, pantas dia mendapatkan karmanya. Mana mungkin kakakku menghamilinya. Aku tau betul kalau kak Arshan tidak pernah menyentuh wanita itu. Dasar gila harta, melihat kakakku meninggal. Dia malah pacaran dengan pembunuhnya. Bagaimana kalau kita kasih hadiah saja kepada wanita j*l*ng itu. Keluarganya kan belum tau, kalau kita yang bantu kasih tau gimana?." ucap Arga tersenyum miring sambil tatapannya lurus dan dingin.


"Ide bagus, aku akan lakukan itu. Sekalian saja beri tau dia kalau yang selama ini menghamilinya adalah seorang pembunuh. Pasti dia akan syok. Hahah." sahut Marlin tertawa mengejek.


"Lakukan saja, aku ingin melihat kehancuran mereka berdua. Dia sudah membunuh kakakku, maka akau akan membuatnya menderita sebelum ajalnya datang. Nyawa harus dibayar dengan nyawa!!." pungkas Arga mempunyai dendam teramat dalam dengan Handian yang sudah merenggut nyawa Arshana.


Dia bisa saja mengulit Handian hidup-hidup, tapi baginya itu terlalu mudah. Yang diinginkannya adalah melihat Handian m*ti secata perlahan dengan rasa sakit yang tidak akan pernah dia lupakan. Jelas Arganta tidak akan membuat Handian m*ti dengan mudah. Tindakannya juga didukung oleh Felix, karna ayahnya juga menyimpan rasa dendam kepada keluarga Handian. Mereka selalu ingin bersaing tapi dengan cara kotor sampai merenggut nyawa putranya.


"Loh tidur sini saja, gue butuh loh untuk membantu menyelesaikan pekerjaan gue. Gak ada asisten berasa berat. Apalagi papa numpukin tugas kak Arshan sekarang sama gue. Loh jadi asisten gue aja deh, gue gak bisa nyari asisten yang bisa dipercaya dengan mudah." mendengarnya Marlin ingin menolak karna tugasnya hanya dimarkas dan mengontrol anak buahnya. Kalau tugasnya dibagi dengan menjadi asisten Arga, bisa-bisa dia akan repot sendiri.


"Enggak, gue gak mau. Tugas gue hanya menjaga markas dan ngontrol anak-anak. Ngapain nyurh gue jadi asisten loh. Lagian nih, dulu kan loh juga asisten. Semua bisa tuh loh kelarin sendiri. Kenapa sekarang jadi manja hah!! Mending loh cari asisten yang lain deh. Gue gak mau." sahut Marlin menolaknya.


"Sekarang beda, kalau dulu gue hanya sebagai asisten yang membantu dan mengatur jadwal kerja kakakk gue. Lah sekarang, gue malah disuruh gantiin posisi kak Arshan. Gak ada asisten mana bisa beres kerjaan gue." ujar Arganta.

__ADS_1


Dia memang disuruh Felix untuk menggantikan posisi Arshana diperusahaan. Arganta tidak menolak, karna kakek juga memintanya untuk mengelola perusahaan. Felix tau kalau Arganta punya kemampuan dalam mengolah perusahaan. Melihat selama ini cara kerja Arga yang tekun dan profesional. Membuat Felix tidak ada keraguan untuk meminta Arga menggantikan posisi Arshana.


__ADS_2