
Dimansion Yolanda terus meminta kepada Arganta agar diantatkan kerumah sakit untuk melihat keadaan Zulfa. Padahal sudah dilarang oleh Arshana.
"Mama pengen banget lihat Zulfa, mama ingin melihat keadaannya. Anterin mama dong Arga, kamu telfon Arshana dulu." Yolanda terus merengek untuk diantarkan kerumah sakit. Padahal Arganta sudah menjelaskan kalau disana ada mertuanya Arshana. Tetapi Yolanda keras kepala, sampai pusing Arganta melihat kelakuan mamanya.
"Lewat video call kan bisa tanya kabarnya Zulfa ma. Kak Arshan melarang karna ada mertuanya. Kalau mama kesana dan ketemu dengan ayahnya Zulfa, makim ribet entar. Sudahlah mama tunggu aja dirumah, kalau ingin tau kabar tinggal tanya saja," jawab Arganta ingin pergi ke perusahaan malah dicegah oleh Yolanda.
"Yakan kamu bisa tanya ke Arshana apakah masih ada ayah Zulfa disana. Kalau gak ada kamu anterin mama Arga. Ayolah mama mohon." Yolanda terus memaksa Arganta dan tidak membiarkannya pergu bekerja.
"Sudahlah ma, kan tadi Arshana juga sudah bilang kalau keadaan Zulfa sudah baik-baik saja. Biarkan Arganta pergi bekerja, kenapa malah kamu cegah. Besok atau lusa kan Zulfa sudah bisa pulang. Kamu tunggu saja lah, ada hanphone untuk menghubunginya," sahut Felix jengah melihat istrinya yang terus meminta diantar kerumah sakit.
"Kamu gak ngerti sih mas, aku nih khawatir. Padahal juga aku pengen kesana sebentar, mama belum lega kalau gak lihat sendiri. Kalau memang gak mau nganterin ya sudah." Yolanda pergi begitu saja ke kamar, sepertinya dia sedang ngambek dengan Arganta maupun suaminya.
"Ck, mama ini keras kepala banget. Gimana tuh pa, mama malah ngambek. Kalau gak dituruti nanti ngambeknya malah keterusan." Arganta jadi bingung sendiri, dia paling gak bisa kalau melihat mamanya marah atau ngambek begini. Alhasil pasti akan Arganta turuti.
"Kamu mau menelfon siapa?" tanya Felix melihat Arganta ingin menghubungi seseorang.
"Kak Arshan lah, aku mau tanya disana ada ayahnya Zulfa atau enggak," jawab Arganta tanpa menoleh dan fokus mencari nama Arshana dikontaknya.
"Terserah kau saja, papa pergi duluan." tanpa menunggu jawaban dari Arganta, Felix pun pergi begitu saja dengan asistennya untuk ke perusahaan.
π±"Ada apa telfon lagi Arganta?" tanya Arshana dari seberang sana.
"Disana ada mertuamu gak kak?"
π±"Gak ada, papa pulang dari semalam belum balik. Memangnya kenapa?"
"Mama nih maksa mau kesana, sudah aku larang malah ngambek sekarang. Aku anterin kesana ya sebentar saja. Biar lega perasaannya, kasihan dari semalam minta kesana tapi dicegah sama papa."
π±"Terserah deh, tapi cepetan keburu papa kesini. Jangan sampai ketahuan, gua belum jujur sama mereka."
"Iya, nanti bilang deh kalau mertuamu ada disana. Biar aku sama mama gak masuk dulu."
π±"Oke.....Gua tunggu cepetan."
"Iya, aku samperin mama dulu ke kamar"
π±"Hmm"
Telfon dimatikan, Arganta pun bergegas ke kamar Yolanda. Semoga setelag ini mamanya tidak ngambek lagi, harapan Arganta. Sampai didepan pintu kamar Yolanda, dia mengetuknya beberapa kali. Hingga pintu terbuka memperlihatkan wajah mamanya yang ditekuk.
"Mau apa?" tanya Yolanda ketus.
"Mama jangan ngambek dong, aku anterin sekarang yuk kerumah sakit," ucap Arganta membuat wajah Yolanda yang tadinya masam sekarang berubah ceria.
__ADS_1
"Beneran?"
"Iya, aku sudah telfon kak Arshan. Tapi buruan ya ma, takut ayah mertuanya datang."
"Oke mama akan siap-siap dengan cepat," jawab Yolanda dengan wajah senang.
"Aku tunggu diluar," ucap Arganta yang diangguki ole Yolanda, dia pun pergi menunggu diruang tamu.
Beberapa menit, Yolanda sudah rapi. Mereka pun pergi bareng menggunakan mobil Arganta. Sebelumnya Yolanda dan Arganta pamit pada Kakek Abhi untuk kerumah sakit agar tidak mencari nanti.
...πΏπΏπΏ...
Dirumah sakit, Arshana sedang menyuapi Zulfa makan. Dia sudah memberi tau istrinya kalau Yolanda dan Arganta akan berkunjung. Zulfa agak kaget dan takut nanti tiba-tiba ayahnya datang. Tapi Arshana menjelaskan kalau Yolanda dari semalam terus meminta untuk kerumah sakit dan tidak diperbolehkan oleh Arganta maupun Felix. Namun pagi ini malah jadi ngambek.
Zulfa pun paham kalau mama mertuanya pasti khawatir sekali. Dia hanya mengangguk, walau takut nanti tau-tau ayahnya datang. Dari pada dirumah Yolanda terus terpikir, Zulfa memakluminya. Dan dia berharap ayahnya tidak datang dulu sebelum, Arganta datang.
"Mas, nanti kalau mama tau kamu pakai pakaian begini gimana? Apa gak terkejut tuh. Kamu gak mau ganti baju aja?" tanya Zulfa melihat penampilan suaminya yang sudah pasti nanti bakalan membuat kaget Yolanda dan Arganta.
"Pakaianku dimobil kemarin, kan mobik aku dibawa pulang sama Brima. Bagaimana aku bisa ganti baju."
Zulfa baru ingat kalau suaminya tidak membawa pakaian ganti. Semalam Arshana meminta Brima agar membawa mobilnya pulang. Tidak mungkin Arshana membiarkan Brima menunggu dimobil semalaman. Akhirnya dia pun menelfon Brima agar dia pulang membawa mobilnya. Dan pagi ini Arshana meminta Brima agar kerumah sakit membawakan baju ganti.
"Iya juga, aku baru ingat. Terus gak pa-pa kah nanti mama lihat penampilan kamu begini mas?" tanya Zulfa sambil meraih apel yang sudah dikupas oleh Arshana tadi. Semalam dibelikan oleh Brima atas perintah dari Arshana.
"Entar mama kaget lagi, tapi sebelumnya kamu juga pernah menyamarkan mas?" tanya Zulfa mengingat lagi, sempat dia dengar waktu itu Felix mengatakan kalau Arshana pernah menyamar diperusahaan sendiri.
"Iya pernah sebelum kecelakaan itu, tau gak OB yang bernama Hans? Itulah aku," jawab Arshana mengingatkan Zulfa kembali.
"Ohh iya aku ingat, ternyata itu kamu mas. Beda banget ya, kamu pasti gak nyaman ya awalnya harus dipaksa begitu," terka Zulfa.
"Iyalah, malah aku berniat kabur. Tetapi Kakek malah mengancam akan mengambil semua yang aku punya termasuk mobil dan aksea lain. Terpaksa deh aku turutin, andai aku tidak meneruskan perintah Kakek dan papa seyelah kecelakaan itu, mungkin aku tidak akan bertemu denganmu sayang," ujar Arshana mengambil apel ditangan istrinya lalu diasuapkan ke mulutnya.
"Ihh mas kan bisa ambil yang baru malah dicomot," kesal Zulfa berbeda dengan Arshana yang malah terkekeh melihat ekspresi istrinya.
"Gak pa-pa lah, aku pengen kok. Lagian apa salahnya makan bekas kamu, harusnya kamu gak marah. Beda cerita kalau aku ngambil dari bekas wanita lain," celetus Arshana membuat mata Zulfa melotot tajam.
"Canda sayang, jangan dibawah emosi." Arshana mencubit hidung istrinya gemas.
"Bagaimana aku gak kesal, perkataan kamu yang buat aku ingin marah. Kalau kamu mau cari wanita lain sana gak pa-pa. Tapi ceraikan aku dulu, karna aku tidak mau dimadu," perkataan Zulfa terdengar ketus, Arshana malah terkekeh pelan.
"Gak mungkin lah aku cari wanita lain. Istriku ini sudah paket lengkap dan cantik. Mana bisa aku berpaling. Yang ada aku makin cinta sama kamu sayang," ucap Arshana lalu mencuri kecupan dipipi Zulfa.
"Issh mas, bilang dong kalau mau cium jangan main nyosor aja kan aku kaget." Zulfa memukul lengan Arshana pelan karna terkejut.
__ADS_1
"Ya sudah kalau gitu kamu cium aku deh sini biar impas," tunjuk Arshana pada pipinya mengkode Zulfa.
"Modus deh kamu mas, malu ih dirumah sakit. Nanti kalau tiba-tiba ada dokter masuk atau suster gimana?"
"Pintunya aku kunci jadi gak ada yang bisa masuk. Cuma dua pipi sini saja, lanjutannya kalau dirumah," pinta Arshana mau gak mau Zulfa pun menuruti.
Cup. Cup.
"Sudah tuh jangan minta lebih," ujar Zulfa malu, pipinya dah merah merona.
"Aku akan minta sisanya kalau kamu sudah pulang, jadi siap-siap saja," bisik Arshana didekat Zulfa membuat bulu kuduknya merinding. Lalu dia kembali ke posisinya semula.
Terdengar pintu diketuk beberapa kali, membuat keduanya melihat ke arah pintu. Arshana beranjak untuk membukanya. Zulfa takut kalau yang datang adalah ayahnya. Kalau iya, bagaimana nanti dengan Arganta dan Yolanda.
Ceklek.
"Ngapain pintunya kamu kunci segala, lagi apa kalian berdua didalam. Istrimu jangan diajak main, dia masih sakit. Gak ngerti situasi," omel Yolanda saat pintu sudah terbuka. Sejenak dia terkejut melihat penampilan Arshana yang berbeda, begitu pun dengan Arganta yang melongo.
"Astaga, kamu ini siapa. Kok ada didalam ruangan menantu saya. Kamu temannya Arshana atau Zulfa?" tanya Yolanda bingung, dia bekum mengenali kalau didepannya adalah Arshana.
Arshana hanya diam saat Yolanda mengomeli dan bertanya. Dia pun berlalu mendekati ranjang pembaringan Zulfa. Males kalau harus mendengar omelan mamanya.
"Hey saya belum selesai bicara, dasar gak sopan," gumam Yolanda tidak suka.
"Lah memang mama gak ngenali anak sendiri? Ini Arshana ma, siapa lagi? Yakali aku biarin pria lain masuk ke ruangan istriku tanpa izin, apalagi sampai berduaan," ketus Arshana membuat Yolanda maupun Arganta tertegun melihat penampilannya yang gak banget.
"What? Are you really?"
"Yes mom."
"Kenapa penampilanmu begini kak? Bukannya kemarin gak pakai baju ginian ya. Beda banget," cetus Arganta melihat penampilan Arshana dari bawah hingga atas.
"Lah loh gak mikir kemarin ada papa mertua, bisa habis gua ditanya-tanya. Yang ada malah gak ngenali menantunya sendiri. Papa belum tau yang sebenarnya. Lupa?" ujar Arshana kesal sendiri.
"Eh iya juga, baru ingat. Jangan marah lah, kan aku gak tau," bujuk Arganta.
"Aahh ya sudah, mama kesini mau lihat putri mama. Bukan unthk mendengar perdebatan kalian. Mau penampilan gimana pun terserah lah, kamu mikir dulu dong. Mama mau duduj sebelah Zulfa," usirnya pada Arshana yang duduk dikursi dekat Zulfa.
"Hadeh, iya nih." Arshana mengalah dan memilih duduk disofa saja.
"Mama ngapain maksa datang kesini, aku sudah gak pa-pa," ucap Zulfa saat Yolanda sudah duduk disampingnya.
"Mama tuh khawatir sama kamu, mama gak tenang kalau gak lihat sendiri keadaan kamu sayang. Sekarang mama lega melihat kamu sudah baikan," ucap Yolanda sambil mengelus rambut Zulfa.
__ADS_1