Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
62 #Canggung


__ADS_3

"Aku minta maaf, tidak mungkin saat itu aku membongkar penyamaranku. Yang ada semua orang bakalan tau. Dan aku tidak ingin Zulfa meninggalkanku. Kalau menurut kalian istriku sama dengan adik tirinya, kalian salah!! Zulfa perempuan baik, dia tidak sama dengan Firsi. Kalau memang dia hanya memanfaatkan aku saja, dia tidak akan menerimaku dengan penampilan yang buruk dan sebagai pria miskin. Bekerja saja satu toko dengannya. Dia tau diriku yang asli baru tadi malam, aku yang jujur padanya." sahut Arshana memberi pengertian agar tidak menyamakan Zulfa dengan Firsi.


Arganta pun menatap ke arah Zulfa dan dia baru mengingat kalau istri dari kakaknya adalah karyawan yang sering mengantarkan roti ke perusahaan. Walau tidak sering bertemu dengan Zulfa, Arganta bisa melihat kalau Zulfa memang perempuan baik.


"Dia yang sering mengantarkan pesanan Anin ke perusahaan kan?." sahut Arganta bersuara setelah diam lama mendengarkan.


"Iya benar, tuh kamu tau."


"Hmm kak Arshan tau kalau......"


"Iya aku sudah tau kalau kamu Arganta adik kandungku dulu. Aku senang kamu hadir saat aku tidak ada disamping Papa, Mama dan Kakek. Makasih sudah menjaga mereka selagi aku tidak ada." cetus Arshana tersenyum ke arah Arganta.


"Sama-sama, jadi kamu sudah tau dari kapan?." tanya Arganta.


"Dari lama, aku mencari tau semuanya. Termasuk dua pengkhianat itu, bagus lah kalau kamu berhasil menjatuhkan mereka. Terutama Handian itu, bisanya main curang!!." Arshana masih menyimpan dendam kepada Handian karna sudah membuatnya hampir mati. Beruntung dia masih bisa selamat.


"Sudah sekarang mama mau tanya sama menantu mama ini. Dari tadi diam saja, nama kamu siapa?." tanya Yolanda bersuara lembut membuat Zulfa mendongak dan merasakan ketenangan.


"Zulfa Adinda tante." jawab Zulfa sedikit gugup.


"Kok tante sih, kamu kan sudah menjadi menantu saya jadi panggil mama seperti suamimu. Jangan canggung gitu." Yolanda tau kalau Zulfa dari tadi merasa tegang terlihat dari gerak-gerik tubuhnya.


"Iya mama." bibirnya masih terasa keluh dan belum biasa memanggil Yolanda dengan sebutan mama.


"Jadi mama merestui kami?." mata Arshana berbinar berharap kedua orang tuanya maupun Kakek Abhi merestui pernikahannya dengan Zulfa.


"Iya.."


"Tidak semudah itu." celetus tuan Felix membuat Arshana mengerutkan keningnya dan Zulfa yang kembali tegang mendengar ayah mertuanya menolak dia.


"Kok gitu sih pa, tadi Arshana sudah jelaskan kalau Zulfa gak sama dengan adiknya. Lagian Firsi itu adik tirinya bukan adik kandung. Ayah Zulfa menikah lagi dengan mamanya Firsi. Mereka tuh jahat sama istriku. Kalau papa tidak percaya silahkan cari tau sendiri tentang kehidupan istriku selama ini. Maka papa akan tau sendiri!!." tantang Arshana geram melihat sikap ayahnya yang masih tidak percaya.


"Jelas papa akan cari tau, mana bisa papa percaya begitu saja dengan ucapanmu. Kau saja berani membantah papa hanya karna wanita itu. Papa tidak akan mudah percaya denganmu." sahut Felix menatal tajam ke arah Arshana.


"Terserah papa, aku datang bukannya disambut malah harus dengerin penolakan papa. Gitu tadi aku gak balik."


"Ohh jadi kamu tidak menganggap orang tuamu ini ada? Ya sudah sana balik lagi." usir Felix membuat Arshana berdecak kesal.

__ADS_1


"Mas sudah jangan berantem sama ayah sendiri gak baik. Kamu dengarin saja apa kata papa kamu. Jangan jadi pembangkang." nasihat Zulfa membuat Arshana menoleh ke arahnya dan langsung mendapat senyuman manis.


Tanpa ada yang tau Felix tersenyum kecil mendengar perkataan Zulfa. Begitu pun dengan Yolanda, naluri seorang ibu tidak pernah salah. Dia sudah yakin sejak awal tadi melihat Zulfa, bahwa menantunya memang orang yang baik. Mangkanya tadi dia langsung menyetujuinya. Beda dengan Felix maupun Kakek Abhi yang masih ragu. Kalau Arganta sama dengan Yolanda, dia tau sikap Zulfa sejak sering mengantarkan roti ke perusahaan.


"Iya, aku gak akan marah kalau papa gak buat aku marah." jawab Arshana melembutkan nada bicaranya.


"Malam ini kalian tidur disini saja ya, mama masih kangen sama kamu Arshan. Biar mama juga lebih dekat dengan menantu mama ini." ucap Yolanda.


"Kalau istriku mau, bagaimana sayang?." tanya Arshana pada Zulfa.


Zulfa sebenarnya masih canggung dan takut kalau bersitatap dengan ayah mertuanya apalagi dengan Kakek Abhi. Aura mereka mengerikan menurut Zulfa. Tapi melihat mama mertuanya yang begitu merindukan Arshana, Zulfa pun mengangguk setuju. Tidak mungkin dia menolak dan membiarkan ibu serta anak yang sudah berpisah lama harus dipisahkan lagi.


"Baiklah karna istriku setuju, maka malam ini aku tidur disini." jawab Arshana membuat Yolanda tersenyum senang.


"Permisi tuan......" tiba-tiba Marlin datang dan betapa terkejutnya dia melihat Arshana ada disana. Bukankah dia sudah meninggal? Kenapa bisa ada dimansion?.


"Tuan muda Arshana, ini beneran anda?. Saya gak mimpikan tuan?." Marlin sangat terkejut melihat kehadiran Arshana secara tiba-tiba ada didepan matanya.


"Iya lah siapa lagi, kau kira hantu? Ceritanya panjang, jangan tanya lagi. Kau pasti menyuruhku untuk ke perusahaan kan. Ya sudah ayo, nanti aku jelaskan." sahut Arganta membuat Marlin pun diam dan hanya mengikuti Arganta.


"Hati-hati kamu"


"Iya pa." Arganta pun keluar bersamaan dengan Marlin yang mengekor dibelakangnya.


"Marlin jadi asistennya Arganta pa?." tanya Arshana.


"Iya....." jawab Felix.


🥀


🥀


🥀


Zulfa diajak oleh Arshana untuk berkeliling dimansion. Setiap sudur ditunjukkan oleh Arshana agar nanti Zulfa tau dan tidak bingung lagi. Berkali-kali Zulfa berucap kagum, walau rumahnya juga bagus tapi tak semegah rumah milik suaminya. Banyak ruangan dan tempat yang membuat Zulfa bingung. Sampai akhirnya mereka lelah sendiri dan memilih duduk ditaman belakang yang banyak ditumbuhi tanaman dan bunga.


"Mama suka sekali mengoleksi berbagai macam tanaman apalagi kalau menyangkut bunga. Mama paling suka, jadi jangan heran kalau disini banyak sekali bunga yang cantik. Ada bermacam-macam jenis, bahkan yang sulit ditemukan pun ada disini." ucap Arshana menjelaskan.

__ADS_1


"Iya mas, bunganya cantik semua. Aku juga suka merawat berbagai macam bunga. Dan yang paling aku suka adalah mawar putih. Warnanya yang natur dan bersih, tampak indah." balas Zulfa menatap ke arah pot yang berisi mawar putih dan ada juga berbagai jenis mawar lainnya.


"Kamu suka? Ambil aja gak papa. Lagian mama juga gak bakalan keberatan kalau untuk menantunya sendiri." lantas Arshana memetik satu tangkai bunga mawar putih untuk diberikan kepada istrinya.


"Loh mas kok dipetik sih, kan sayang banget. Harusnya kamu biarin aja, nanti mama marah gimana." ujar Zulfa panik melihat suaminya malah memetik mawar putih tersebut untuknya.


"Gak bakalan marah kok, hanya satu tangkai masih banyak yang lain. Biasanya juga mama petik untuk dipindah atau dicangkok. Gak perlu khawatir, ambil lah." Zulfa pun menerima mawar tersebut yang diberikan oleh Arshana.


"Makasih." Ia pun mencium mawar tersebut yang berbau harum.


"Mawar putih ini begitu cantik, tapi lebih cantik istriku. Cantik, baik, lembut, penuh kasih sayang. Paket komplit gak ada duanya." puji Arshana membuat pipi Zulfa jadi bersemu merah, begitu terlihat karna kulitnya yang putih.


"Ciiee istriku ini lagi malu ya. Pipinya kok merah sih." Arshaan semakin menggoda Zulfa yang makin salah tingkah.


"Aah sudahlah mas, gak asik ih. Aku masuk deh." Zulfa pun kabur gak ingin digoda terua-terusan oleh suaminya. Yang ada nanti dia harus senam jantung. Begini saja rasanya sudah deg degan.


Sampai langkahnya terhenti didapur melihat dua art yang sedang mengotak-atik disana. Zulfa ingin mendekat tapi langkahnya harus berhenti saat Yolanda memanggilnya. Sontak Zulfa menoleh ke sumber suara.


"Mama....."


"Kamu mau kemana sayang? Biarin para pelayan membereskan pekerjaan mereka. Ayo ikut mama." ajak Yolanda bibirnya mengukir senyuman. Zulfa akui kalau ibu dari suaminya memang cantik. Kecantikannya tak pernah pudar walau sudah berumur.


"Mama mau ajak istriku kemana?." tiba-tiba Arshana datang dari belakang membuat keduanya menoleh.


"Terserah mama lah, dia menantu mama. Kenapa sih kamu itu ganggu mulu, sana loh temui Kakekmu. Jangan ganggu mama, biarin istri kamu ini sama mama." ujar Yolanda berasa diikuti terus oleh Arshana.


"Aiish, kenapa Kakek memanggilku?."


"Iya, sudah sana." Yolanda mendorong tubuh Arshana untuk menjauh. Ia kesal sendiri melijat kelakuan putranya yang terlalu posesif.


"Ck, mama ih. Iya deh iya gak usah dorong-dorong juga kali." Arshana mendengus kesal lalu pergi dari sana untuk menemui Kakeknya.


Sementara Yolanda mengajak ke ruang keluarga. Ia ingin mengobrol banyak dengan Zulfa agar lebih dekat lagi dengan menantunya. Sebelum itu dia pergi ke kamar sebentar untuk mengambil album foto. Sepertinya Yolanda ingin menunjukkan foto-foto masa kecil Arshana.


Setelah itu mereka pergi ke ruang keluarga. Zulfa masih merasa canggung walau sikap Yolanda lembut padanya. Tetap saja dia masih menyesuaikan diri. Terlebih ayah mertua dan Kakek Abhi belum seratus persen mempercayainya. Hanya Yolanda dan Arganta yang menerima kehadirannya.


"Dalam sini ada banyak foto suamimu semasa kecil. Dia itu dulunya sangat menggemaskan, tapi makin dewasa selalu buat mama jengkel. Tapi kalau gak ada suamimu, rumah ini jadi sepi gak ada suara yang selalu membuat mama memarahinya." Yolanda curhat tentang isi hatinya saat ditinggal oleh Arshana.

__ADS_1


__ADS_2