Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
56 #Beralih Tangan


__ADS_3

Suara pintu yang terbuka dengan kasar membuat keduanya terkejut dan sontak menoleh ke arah pintu. Keterkejutan mereka bertambah saat tau yang membuka pintu adalah Kakek. Arganta langsung berdiri dari duduknya begitu pun dengan Felix.


"Kakek..."


"Papa..."


Mereka berucap bersamaan, apakah Kakek sudah mendengar semuanya? Kalau iya habis riwayat mereka. Pasti Kakek akan marah besar. Apalagi kalau sampai mendengar perkataan Arganta yang terakhir tadi. Karna Kakek belum tau semuanya, begitu pun dengan kematian Arshana yang ternyata bukan murni kecelakaan.


"Sejak kapan papa ada disana?." tanya Felix takut melihat sorot tajam dari mata Kakek.


"Dari tadi!." jawab Kakek datar, namun tatapan matanya begitu tajam tertuju kepada Arganta. Kakinya berjalan mendekat dan samakin dekat. Arganta bukannya takut malah bersikap tenang saja. Seolah sudah menerima semua konsekuensinya. Beda dengan Felix ayahnya, yang sudah pucat pasi melihat kedatangan Kakek.


"Apa yang kamu katakan tadi semuanya fakta? Jawab Arganta!." tanya Kakek tepat didepan Arganta.


"Iya Kakek, semua yang aku katakan tadi benar. Maafkan Arganta yang tidak jujur dengan Kakek." ucap Arganta dengan rasa bersalah.


"Kenapa kalian sembunyikan kenyataan besar ini? Kenapa!! Arshana meninggal gara-gara mereka. Tapi kalian menyembunyikan semuanya. Kamu juga Felix, kenapa malah ikut tidak jujur." kini tatapan Kakek tertuju kepada Felix.


"Maafkan aku pa. Aku tidak ingin membuat papa sakit kalau mendengar kabar ini. Aku juga takut nanti papa menghukum Arganta dan tidak membolehkan dia melakukan semua ini." jelas Felix, alasannya sama dengan Arganta. Hanya saja Arganta tidak takut akan kemarahan sang Kakek melainkan takut dengan kesehatannya.


"Harusnya kalian bilang bukan bungkam!!. Kamu Arganta.....Tadi kamu mengatakan mau membunuh semua keturunan Dharvanta? Apa sekejam itu dirimu? Ucapanmu bukan Arganta yang Kakek kenal." ujar Kakek menatap Arganta yang juga menatapnya.


"Maaf Kek, itu memang diriku. Hanya saja Kakek belum mengetahuinya. Mungkin ini waktu yang tepat buat aku juga jujur sama Kakek. Iya aku kejam, aku penjahat, aku bukan Arganta yang Kakek kira. Dan kak Arshana selama ini bukanlah dia yang sebenarnya. Kakek tidak tau dan bahkan papa juga tidak tau sebelumnya kalau aku dan kak Arshana memiliki dunia hitam dibalik sisi kami. Kak Arshana adalah ketua mafia King Black, tapi sejak dia mengenal wanita j*l*ng itu, kak Arshana memilih untuk pergi dari dunia gelapnya. Dan aku yang menggantikan kak Arshana memimpin kelompok mafia King Black. Aku memang kejam tapi tidak sekejam kak Arshana. Saat aku tau bahwa kak Arshana meninggalkan karna ulah keluarga Dharvanta, rasa dendam ingin membalas perbuatan mereka." Arganta menarik nafas sejenak sebeluk melanjutkan ucapannya.


"Kedua orang tua angkatku meninggal karna dibantai oleh orang yang tidak dikenal. Dan aku melihatnya sendiri didepan wajahku! Sejak saat itu diriki berubah. Duniaku juga berubah." jelas Arganta, dadanya kembang kempis menjelaskan semuanya. Ia masih merasa sesak saat mengingat kejadian tersebut. Tubuhnya langsung terduduk disofa sambil tangannya mengusapkan ke wajah. Ia benar-benar sesak kalau mengingatnya.

__ADS_1


"Jadi kamu......Seorang mafia? Berapa orang yang sudah kau bunuh Arganta?." Kakek menatap lesu ke arah Arganta yang terduduk.


"Aku tidak akan membunuh orang yang tidak bersalah Kek. Aku hanya membunuh orang-orang jahat seperti mereka yang sudah membunuh orang tua angkatku. Mereka m*ti ditanganku! Dan aku merasa puas, karna nyawa harus dibalas dengan nyawa!!." sorot mata Arganta menatap lurus ke depan, tangannya mengepal kuat.


"Aku akan melakukannya lagi kepada dia, Handian Dharvanta yang sudah membunuh kakakku!! Dia juga harus m*ti. Tapi sebelum kepergiannya aku sudah menyiapkan hadiah terindah, perusahaannya bangkrut. Semuanya habis, itulah akibat jika mengganggu keluargaku!." Arganta tersenyum semrik, lalu tertawa kecil. Tawa yang mengejek dan kepuasan.


Tiba-tiba tangan Kakek memegang pundak Arganta. Seketiga Arganta mendongak menatap wajah Kakek yang juga menatapnya. Bukan kemarahan yang Arganta lihat, melainkan senyuman. Bukankah Kakek harusnya marah? Tapi kenapa sekarang malah tersenyum?.


"Lakukan apapun yang kamu mau, kalau bisa membuatmu puas. Asalkan jangan pernah berbohong sama Kakek. Mereka sesekali memang harus diberikan pelajaran agar tidak semena-mena. Dan kamu harus tau, keluarga Dharvanta memang sudah lama menjadi musuh keluarga kita. Bukan Kakek yang mencari masalah tapi mereka! Dari dulu Kakek suda diam, tidak pernah menanggapi. Tapi sekarang Kakek akan dukung apapun yang akan kamu lakukan kepada mereka. Ternyata diamnya Kakek malah membuat mereka semakin nekat sampai membuat Arshana pergi dari keluarga kita. Lakukanlah apapun yang kamu mau." perkataan Kakek tidak seperti yang dibayangkan oleh Felix.


Arganta tertegun sejenak mendengar perkataan Kakek yang malah mendukungnya. Ia pun mengira Kakek akan maraj dan menghukumnya, tapi nyatanya tidak. Arganta langsung bangkit dan memeluk Kakek.


"Arganta akan melakukannya Kek, Arganta tidak bisa diam saja melihat kak Arshana pergi sementara mereka bebas diluar sana." balas Arganta memeluk Kakek.


"Lakukan saja, Kakek aka mendukungmu. Dan kamu Felix, berani kamu berbohong." ucap Kakek sambil melepas pelukannya dan tatapan itu tertuju pada Felix.


"Kau juga berbohong!." sahut Kakek menatap tajam.


"Sudab Kek, jangan salahka papa. Aku yang minta papa buat tutup mulut. Kakek jangan marah sama papa." ucap Arganta membuat Kakek menoleh ke arahnya dan mengangguk.


"Ya sudah sekarang Kakek duduk sini. Arganta belum selesai bicara sama papa, sekalian Kakek biar tau." tambah Arganta meminta Kakek buat duduk.


Arganta pun mulai menceritakan semuanya. Walau pun dia sudah memberk tau duluan pada Felix. Arganta tetap menceritaka kembali agar Kakek bisa mengerti. Dan dia mengingat kembali pertemuannya dengan Handian tadi diperusahaan Handian sendiri. Arganta sudah mengambil semuanya dari Handian, sebentar lagi perusahaan itu akan bangkrut dan akan menjadi milik keluarga Abhimarta berkat Arganta dengan cara liciknya.


Arganta ditemani oleh Marlin dan beberapa bodyguard yang menunggu diluar takut akan ada kekacauan nanti untuk berjaga-jaga saja. Ia memasuki perusahaan Dharvanta diikuti oleh Marlin dibelakang. Para karyawan menunduk hormat dan menyambut kedatangannya. Handian dan asistennya Jeri juga ikut menyambut kedatangan Arganta. Mereka sudah mendengar fakta yang mengejutkan bahwa pewaris keluarga Abhimarta masih ada selain Arshana.

__ADS_1


Berita itu membuat Handian marah, ia mengira rencananya sudah sukses. Ternyata semua itu baru permulaan, dia tidak menyangka bahwa Arganta yang dulu asiaten Arshana adalah anak bungsu dari keluarga Abhimarta yang dia benci. Arganta bisa melihat bahwa Handian tengah menahan amarah, walau bibirnya tersenyum. Arganta tau kalau senyumannya hanya kepalsuan.


Diruangan rapat, ada Handian beserta asistennya dan Arganta juga Marlin. Mereka sedang duduk bersama membicarakan kerjasama yang dijalani. Padahal Arganta disana ingin membuat kejutan untuk mereka. Setelah ini pasti wajah mereka akan berubah.


"Jadi ini dokumen yang akan menjadi......" ucapan Handian terpaksa dipotong oleh Marlin karna Arganta akan berbicara.


"Maaf tuan Handian, kami kesini bukan ingin membicarakan kerjasama dengan anda. Saya tau perusahaan anda ini sedang dalam masalah. Dan saya dengar juga banyak investor yang tidak mau bekerjasama dengan anda." ucap Marlin menjelaskan.


Handian mendengus kesal, ia berushaa tetap bersikap biasa walau perasaannya sudah diambang pucuk untuk meluapkan emosi. "Lalu anda kemari untuk apa tuan Arganta?." tanya Handian.


"Marlin berikan berkasnya kepada mereka." ucap Arganta memerintahkan Marlin untuk memberikan berkas yang sedari tadi dia pegang.


Handian pun menerimanya dan mulai membaca isi dari berkas yang diberikan oleh Arganta. Dan saat itu juga wajahnya berubah menjadi merah padam. Matanya membulat sempurna sekaligus menatap tajam ke arah Arganta. Amarahnya sudah tidak bisa dia tahan lagi saat melihat isi berkas yang diberikan oleh Arganta.


"Maksudmu apa!! Mana bisa saham perusahaan saya bisa menjadi milik anda." marah Handian sampai berdiri dari tempat duduknya dan membanting berkas yang ada ditangannya.


Arganta hanya tersenyum. "Bisa, nyatanya sekarang 85% saham perusahaan Dharvanta sudah menjadi milik saya sekaligus perusahaan ini." jawab Arganta dengan santai ditempatnya.


"Tidak!! Ini perusahaan saya bukan milikmu. Jadi anda tidak ada hak untuk memiliki perusahaan saya. Lebih baik anda pergi dari sini sekarang juga!!." pekik Handian dengan kemarahan yang memuncak, dalam sekejab perusahaannya harus habis bahkan berpindah tangan. Ia tidak bisa membayangkannya.


"Saya tidak peduli, saya beri waktu untukmu membereskan semuanya. Dan saya ada penawaran bagus untukmu, 15% saham yang kamu miliki biar saya yang membeli dengan harga tinggi, tiga kali lipat."


Brak.


Handian menggebrak meja dengan keras membuat seisi ruangan jadi terkejut. Arganta hanya tersenyum melihat kelakuan Handian.

__ADS_1


"Sampai kapan pun ini perusahaan saya. Kau tidak berhak mengambilnya dariku. Kalian pergi dari sini!!." usir Handian dengan emosi yang meluap


__ADS_2