Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
57 #Kenyataan


__ADS_3

Jeri yang tadi keluar sudah kembali dengan wajah yang berubah pucat pasi. Sepertinya dia baru mendapat informasi yang pasti akan semakin membuat Handian terkejut. Dengan langkah ragu, ia mendekati Handian.


"Maaf tuan, saham perusahaan memang sudah diambil alih oleh tuan Arganta. Saham yang tersisa hanya 15% saja."


Handian sontak menoleh ke arah Jeri yang tertunduk. Dia tidak menyangka kalau sekarang dia bangkrut. Amarahnya begitu besar sekarang, ia semakin membenci keluarga Abhimarta beserta keturunannya. Tatapannya sengit ke arah Arganta.


"Sudah dengar sendiri bukan dari asisten anda. Jadi mulai sekarang perusahaan ini ada ditangan saya. Sisa sa....."


"CUKUP!! Saya tidak akan pergi kemana pun. Ini perusahaan saya!! Tujuanmu apa?. Aku tidak pernah mencari masalah denganmu!!." tegas Handian dengan sorot mata yang tajam, tangannya terkepal kuat.


"Anda tanya apa tujuan saya? Jelas!! Tujuan saya adalah mengambil alih perusahaan anda. Kalau anda bisa mempermainkan saya, artinya anda sudah siap dengan konsekuensinya." balas Arganta berdiri dari duduk. "Termasuk dengan Dion dan Reno, tidak mungkin anda tidak mengenal mereka." tambah Arganta membuat Handian terkejut.


Sebisa mungkin Handian bersikap tetap tenang. Tidak dengan Jeri yang ketakutan, ia pasti tau karna dia asisten Handian. Bagaimana Arganta bisa tau tentang mereka berdua? Apalagi Reno yang sudah bekerja lama diperusahaan Abhimarta. Pasti tidak akan dicurigai. Kenapa sekarang Arganta malah menyinggung soal mereka. Pikir Handian penuh tanda tanya.


"Saya tidak mengenal mereka berdua. Jadi tidak usah mengada-ngada. Atau memang anda tidak suka dengan saya? Makanya anda merebut semuanya dari saya?." tuduh Handian malah berbalik menyalahkan Arganta.


"Harusnya anda ngaca sebelum berucap, dari dulu bukan kah keluarga anda berniat memghancurkan bisnis keluarga Abhimarta? Tetapi selalu gagal, bahkan tuan Afres ayah anda pernah sengaja menukar dokumen asli dengan palsu agar bisa merugikan perusahaan keluargaku. Tapi nyatanya semua itu gagal. Hanya saja tidak ada yang tau dan tadi anda bilang apa? Saya merebut semuanya dari anda? Bukan.....Bukan saya yang merebut segalanya darimu, tapi kaulah yang merebut orang yang berharga dalam hidupku!! Hanya karna kau ingin keluarga Abhimarta tidak punya keturunan lagi!." Arganta mulai tersulut emosi kalau sudah menyangkut kakaknya.


"Saya tidak mengerti dengan maksudmu. Saya tidak pernah mengambil apapun darimu. Kaulah yang mengambil segalanya dariku, kau ingin keluargaku hancur kan?. Tidak usah menutupi keburukanmu, ternyata begini seorang pewaris keluarga Abhimarta yang suka sekali bermain curang." Handian mendekati Arganta dan menatap tajam ke arahnya.


"Kau yang menutupi kebusukanmu. Selama ini kau menjalin kerjasama dengan perusahaan keluargaku hanya ingin menghancurkannya. Tapi lihat sekarang siapa yang hancur. Sudah cukup!! Saya tidak ingin berdebat lagi denganmu!!. Marlin kita pergi!." ucap Arganta mengajak Marlin untuk pergi dari sana. Dia sudah muak lama-lama berbicara dengan Handian. Buang-buang waktu saka, tujuannya kesana untuk memberi tau itu saja.


"Ohh ya, pikirkan penawaranku tadi. Penawaran itu tidak akan datang dua kali." tambah Arganta sebelum benar-benar pergi membuat Handian makin marah. Dia tidak terima dan akan menghancurkan keluarga Abhimarta bukan lagi keturunannya.


"TIDAK!! Perusahaan ini adalah milikku dan selamanha menjadi milikku. Kau! Tidak berhak mengambilnya!." sentak Handian mendekati Arganta.


"Ohh ya? Nyatanya sekarang perusahaan ini milikku. Bukan milikmu!! Kalau mau jadi pebisnis hebat, pakai pikiran. Bukan emosi sehingga menghalalkan segala cara untuk bisa bersaing. Dan ingat, kau sekarang tidak punya apapun. Anggap saja ini penebus kesalahanmu pada keluargaku." balas Arganta degan senyum menyeringai membuat Jeri yang ada disana bergidik ngeri.


Arganta pun berlalu pergi dari ruangan tersebut bersama Marlin. Tatapan semua mata karyawan tertuju padanya. Ada yang takut, ada yang memuji ketampanannya, dan ada juga yang diam saja. Langkah Arganta berhenti sejenak melihat ke arah semua karyawan yang menatapnya.

__ADS_1


"Kalian dengar semuanya, perusahaan Dharvanta Group sudah menjadi milik saya. Jadi bos kalian bukan Handian Dharvanta." ucapan Arganta membuat semua karyawan terbelalak kaget. Mereka gak yakin kalau perusahaan tersebut sudah beralih tangan.


Apa kah iya? Kenapa bisa?


Para karyawan jadi berbisik-bisik mempertanyakan hal tersebut. Kalau iya bagaimana riwayat mereka. Arganta tersenyum puas melihat kehancuran musuhnya. Berbeda dengan Handian yang mengamuk diruangannya. Dengan wajah yang kacau, bisa-bisanya dia dikalahkan oleh keluarga Abhimarta. Padahal dia sudah menyingkirkan penghalangnya. Tapi sekarang malah muncul yang lain.


🌺


🌺


🌺


Verko sudah siap untuk berbicara semuanya kepada Zulfa. Ia akan jujur dan tidak akan menutup-nutupi lagi. Perasaan cintanya semakin besar dan tidak ingin Zulfa pergi darinya. Benar apa kata Brima bahwa bisa saja Zulfa tidak akan menerima jadi dirinya yang asli kalau Verko tidak segera berkata jujur. Akhirnya malam ini dia memberanikan diri untuk bercerita dengan Zulfa. Dia akan menerima kalau Zulfa marah tapi yang tidak bisa diterima olehnya adalah kalah Zulfa pergi dari hidupnya.


"Sini sayang duduk disampingku." Verko menepuk ranjang disampingnya untuk diduduki oleh Zulfa.


"Kamu harus janji sama aku, kalau nati kamu sudah tau apa yang akan aku jelaskan. Jangan marah apalagi pergi dariku sayang. Aku mohon." walau ada yang aneh dengan ucapan suaminya, Zulfa tetap mengangguk. Tangam Verko menggenggam kuat tangan istrinya lalu mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.


Zulfa merasa aneh dan berpikir ada sesuatu yang memang serius. Entah Zulfa juga tidak tau apa. Melihat sikap suaminya Zulfa bisa merasakan hal lain.


"Aku punya rahasia yang tidak pernah orang ketahui selama ini. Aku akan jujur padamu, karna aku gak mau kamu merasa terbohongi." ucap Verko menatap wajah Zulfa.


"Rahasia apa mas?. Katakan saja aku akan siap mendengarnya apapun itu." jawab Zulfa membalas tatapan Verko padanya.


"Sebenarnya namaku bukan Verko dan diriku yang sekarang bukan lah aku yang asli." jelas Verko membuat Zulfa mengerutkan dahinya. Ia masih memikirkan maksud perkataan suaminya.


"Maksud kamu apa mas?." Zulfa sudah merasa ada hal yang tak mengenakkan setelah ini.


"Namaku yang asli adalah Arshana Abhimarta, bukan Verko Lhasian." seketika Zulfa melepaakan pegangan tangannya dari tanagn Verko. Ia tak percaya suaminya mengatakan hal itu.

__ADS_1


"Kamu jangan berbohong, aku tau tuan muda Arshana sudah meninggal. Jangan coba-coba bohongi aku." kata Zulfa dengan suara yang bergetar. Jaraknya agak menjauh dari Verko.


"Tolong sayang jangan jauhi aku. Aku akan jelaskan, jangan takut." ucap Verko berusaha meraih tangan Zulfa kembali tapi langsung ditepis oleh istrinya.


"Jangan bohongi aku mas!! Kamu siapa?." sentak Zulfa.


"Aku beneran Arshana Abhimarta yang kamj maksud. Dia belum meninggal, dia masih ada disini. Dengarkan penjelasanku dulu sayang." ucap Verko meraih tangan Zulfa kembali dan kali ini tidak ada penolakan.


"Baiklah jelaskan dan buktikan kalau memang benar apa yang kamu katakan!." balas Zulfa.


"Aku akan buktikan, kamu tunggu disini." ucap Verko pergi keluar kamar sambil membawa paper bag entah dari mana asalnya tiba-tiba ada disamping ranjang belakang Verko.


Zulfa mengikuti arah pergi suaminya, teenyata menuju kamar mandi. Zulfa kembali ke kamar sambil dadanya berdetak cepat. Ia bergemuruh tak karuan. Rasanha campur aduk, antara tidak percaya dan nyata. Mana yang bisa dia percayai. Tangannya menakup dan menggenggam kuat. Tatapannya menghadap cermin yang menyatu dengan lemari.


Dan muncullah seseorang yang membuatnya terkejut. Tatapannya terus tertajam menuju cermin sampai akhirnya dia berbalik menatap ambang pintu yang sudah berdiri Verko disana dengan penampilan beda. Sontak Zulfa sangat terkejut, dia seolah tidak mengenali suaminya sendiri. Yang awalnya dia duduk, posisinya berubah berdiri. Menatap tak percaya.


"Aku sudah membuktikannha kepadamu. Sekarang kamu percayakan?." kata Verko berjalan mendekati Zulfa.


"Tidak mungkin!! Bagaimana bisa semua ini terjadi. Kau bukan suamiku!!." sentak Zulfa mundur sampai badannya menabrak lemari.


"Sayang jangan takut, aku benar-benar suamimu. Bukan orang lain." Verko mendekati Zulfa ingin menangkannya tapi ditepis oleh Zulfa.


"TIDAK!! Kau bohong!." Zulfa hendak pergi dari sana, tapi Verko berhasil menarik Zulfa dan membawa kepelukannya.


Tangannya Zulfa memberontak memukul dada Verko ingin lepas dari dekapan suaminya. Namun Verko tak melonggarkan pelukannya, yang ada malah Zulfa lelah sendiri. Tangannya mulai melemah dan membiarkan posisinya seperti itu. Dia meresapi dan merasakan bahwa memang itu adalah pelukan suaminya yang selama ini dia rasakan. Zulfa terisak disana, kenyataan apa ini? Suaminya bukan orang biasa? Zulfa tak pernah membayangkan hal tersebut.


"Kenapa kamu berbohong." suara lemah terdengar dari mulut Zulfa. Merasa istrinya sudah tenang, Verko melepaskan pelukannya lalu menangkuo kedua pipi Zulfa dan menciumnya.


"Aku akan jelaskan, tapi aku minta kamu tenang." ucap Verko menatap wajah Zulfa yang dibasah dengan air matanya. Zulfa pun mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2