
"Maaf kak, kalau memang sikapku selama ini menyakitimu. Bukan maksudku untuk melakukan itu. Tapi......Aku gak mau berharap sama orang yang belum tentu bisa aku miliki" Verko mengernyit mendengar perkataan Zulfa. Ia masih mencerna segala ucapan Zulfa barusan. Karna tak menemukan jawaban, akhirnya Verko langsung bertanya kepada Zulfa.
"Maksud kamu apa Fa? Berharap? Berharap apa?" tanya Verko membuat Zulfa makin kesal karna tidak peka dengan kode yang sudah dia berikan.
Pada akhirnya Zulfa hanya diam tak berminat untuk menanggapi pertanyaan Verko. Dia langsung berdiri dari tempat duduknya membuat Verko ikut berdiri juga.
"Kamu mau kemana Fa? Pertanyaanku belum kamu jawab" ujar Verko mencegah Zulfa yang hendak pergi.
"Sudah lah kak kalau memang tidak paham gak usah dibahas lagi. Aku mau pulang, besok harus ke kampus pagi. Percuma aku jelaskan panjang lebar, kamu juga gak akan paham" jawab Zulfa dengan nada ketus membuat Verko seketika menunduk.
"Aku antarkan pulang" Verko hendak jalan duluan tapi masih menunggu jawaban Zulfa.
"Gak perlu, aku bisa pulang sendiri. Lagian aku akan kembali ke asrama" balas Zulfa sambil membenarkan tasnya.
"Gak bisa gitu, aku yang mengajakmu kesini. Yang artinya sudah kewajibanku untuk mengantarkan kamu pulang dengan selamat. Jadi kamu gak boleh menolaknya" sahut Verko.
Akhirnya Zulfa menurut agar perdebatan mereka tidak semakin runyam melihat disana juga banyak orang. Zulfa tak bergeming atau pun mengatakan sesuatu saat diperjalanan. Hanya deru kendaraan yang saling bersahutan. Hatinya ingin memgatakan yang sejujurnya, tapi mulutnya seolah kaku.
Lagian Verko juga gak peka jadi pria. Sudah dikasih kode keras masih saja gak peka. Memang ya, saking polosnya jadi begitu. Apa gak pernah dia merasakan jatuh cinta sebelumnya. Harusnya langsung tau saat Zulfa mengatakan hal tadi.
Sampai akhirnya motor itupun berhenti tepat didepan gerbang asrama. Zulfa langsung turun dan berterima kasih lalu berangsur pergi tanpa ekspresi. Hatinya masih kesal dengam Verko. Saat sudah sampai didepan kamar, Zulfa langsung masuk begitu saja tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Membiat Maira yang ada didalam terkejut, karna mengira ada orang lain yang sengaja masuk. Ternyata saat ditoleh wajah Zulfa lah yang terpampang didepannya dengan kusut dan lesu.
Maira mengelus dada untuk menghilangkan rasa keterkejutannya tadi. Lalu mendekati Zukfa secara perlahan, tak ada niat untuk ngedumel atau semacamnya. Maira tau kalau sekarang perasaan sahabatnya tidak baik-baik saja, sudah terlihat dari ekspresi wajahnya.
"Kamu kenapa Fa? Dia gak menerima kamu? Kok wajah ditekuk gitu. Kalau dia memang gak suka sama ka.... "
"Aku gak bilang apa-apa. Dia itu gak peka banget Mai, sudah dikasih kode malah terus balik bertanya, kenapa, maksudnya apa, aku gak ngerti dan bla bla bla......Banyak yang dipertanyakan. Dia itu gak peka tau.." kesal Zulfa melepaskan tasnya ke sembarang arah.
"Ya ampun sabar Zulfa, jangan marah-marah begini. Mungkin memang dia belum menyadari kalau kamu suka sama dia. Harusnya tadi kamu tuh jujur saja gak perlu kasih kode-kode segala." Maira menenangkan Zulfa yang terlihat amat kesal.
"Bibirku kaku Mai. Mau ngomong aja rasanya gak bisa, aku terlalu takut dengan jawabannya. Lebih baik aku menghindar saja darinya" sarkas Zulfa lalu merebahkan tubuhnya diranjang.
__ADS_1
"Kamu mau menghindar sampai kapan Zulfa. Kalau kamu terus begini, bagaimana hatimu bisa tenang. Apalagi kalian kerja ditemoat yang saja. Jelas setiap hari bertemu, kamu gak bisa mengelak dari kenyataan. Lebih baik mengutarakan secara jujur, masalah jawaban bisa dipikirkan nanti. Kalau kamu gak bilang, pasti kamu terus dibayangi dengan pertanyaan apakah dia mencintai kamu atau tidak, apakah dia punya pacar atau tidak. Sudah lah Zulfa jangan takut dengan jawabannya nanti." tutur Maira panjang lebar.
"Aku mau tidur lah Mai, ngantuk kalau harus memikirkan itu sekarang. Besok mau ke kampus pagi, aku gak mau telat" ujar Zulfa pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu kembali untuk beristirahat.
🥀
🥀
🥀
Disebuah kamar bernuansa putih, seorang wanita baru saja terbangun dari mimpi indahnya. Silau mentari menelusup masuk menembus gorden yang masih tertutup. Membuat mata wanita itu terbuka lebar dan sejenak termenung melihat ke sekeliling kamar. Tubuhnya tertutupi oleh selimut tebal, karna sekarang dia tak memakai sehelai benang pun. Dia memikirkan kejadian semalam yang membawanya ke nirwana. Tatapannya tertuju kepada pria yang ada disampingnya.
Dia berusaha bangun dan memunguti pakaian yang berserakan kemana-mana karna ulah mereka tadi malam. Tapi tangannya tertahan oleh pegangan dari tangan lain yang tidak lain adalah pria tersebut. Sontak wanita itu menoleh dan mendapati pria disampingnya sudah terbangun.
"Morning sayang" ucap pria tersebut.
"Kamu mau kemana?" tanyanya.
"Apa kamu yakin mau pergi dengan keadaan begini. Nanti temanmu mengira kamu jalan seperti pinguin. Jadi mendingan sekarang kamu disini saja sama aku, kita lanjutin yang semalam." ucap pria tersebut.
"Aku capek sayang, nanti ya. Tolong ngertiin aku dong" wanita itu memohon agar bisa pergi ke tempat kuliahnya.
"Kalau gitu temenin aku mandi deh, setelah itu kamu boleh pergi" ujar lelaki tersebut.
Terlihat wanita itu sedang berpikir, namun lelaki tersebut malah langsung menggendong dia pergi ke kamar mandi. Sontak wanita tersebut langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos, tapi keburu dia dibawah duluan. Akhirnya dia pun pasrah.
...****...
Flassback On
Digedung perusahaan Dharvanta, Firsi berjalan masuk kedalam gedung menuju lantai atas tempat ruangan Handian. Para karyawan yang melihat Firsi, ada yang sinis, ada juga yang iri karna Firsi bisa menjadi kekasihnya Handian. Setelah pintu lift terbuka Firsi segera keluar dan berjalan ke ruangan kekasihnya.
__ADS_1
Ceklek.
Pintu terbuka, Handian yang ada didalam ingin marah karna mengira yang masuk adalah stafnya sendiri tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Tetapi saat melihat yang datang kekasihnya, Handian tidak jadi marah dan malah tersenyum lebar.
Firsi langsung menghampiri Handian seperti biasa. Dia bersikap manja kalau didepan Handian agar bisa mendapatkan perhatiannya. Dan sikapnya itu malah disukai oleh Handian. Padahal kalau dilihat malah menjijikkan seolah Firsi sedang menjatuhkan harga dirinya sendiri.
"Sayang.......Aku bosen nih, keluar yuk." ajak Firsi bergelayut manja dipangkuan Handian.
"Kamu gak kuliah sayang? Kok jam segini kamu sudah kemari? Bolos ya.." bukannya menjawab ajakan Firsi, Handian malah balik bertanya.
"Gak, aku males......Bosen lah. Gimana mau gak? Ayolah sehari ini saja" Firsi benar-benar memohon agar Handian mau keluar bersamanya. Jari-jemari Firsi mengelus dada bidang Handian yang membuat hasratnya naik.
"Gak bisa sayang, lihat nih kerjaanku masih banyak. Kalau weekend saja ya" Handian memperlihatkan dokumen yang menumpuk dimejanya. Tetapi gak dihiraukan oleh Firsi, malahan dia seolah terus menggoda Handian.
Handian yang sudah tidak tahan dari tadi dengan sikapnya Firsi langsung menggenggam tangan kekasihnya agar berhenti menggoda. Sikap Firsi yang seperti itu bisa membuat hasrat yang tadinya tidak ada malah menyala. Apalagi selama ini Handian menahannya agar tak melakukan hal lebih. Tapi kali ini entah angin dari mana sampai-sampai dia tidak bisa menahan semuanya.
Firsi tak mendengar Handian berkata lagi. Kepalanya didongakkan ke atas dan mendapati Handian menatapnya dengan tatapan lain seolah ingin meneterkam Firsi.
"Kamu kenapa sayang? Kok menatapku seperti itu sih?" ujar Firsi merasa bingung.
"Baiklah aku akan menemanimu tapi dengan satu syarat"
"Apa syaratnya?" tanya Firai penasaran.
Lalu Handian pun berbisik ke telinga Firsi dengan lembut. Dan bisikan itu berhasil membuat Firsi merinding sampai membulatkan matanya. Ia tak menyangka kekasihnya akan meminta hal yang lebih kepada Firsi.
Sontak Firsi langsung turun dari pangkuan Handian. Tatapannya seolah tak percaya dengan permintaan Handian yang menurutnya tidak logis diakal.
"Gak, aku gak mau. Aku gak berani melakukan hal berlebihan seperti itu. Orang tuaku akan marah kalau tau aku begitu." ucap Firsi menolak karna dia memang tidak berani melakukannya dengan Handian maupun dengan pria lain. Firsi mempertimbangkan dampak akhirnya.
"Ayolah, aku janji akan bertanggungjawab nantinya. Kamu percaya kan denganku? Aku sangat mencintaimu" ucap Handian meyakinkan Firsi yang tampaknya masih ragu dengan Handian.
__ADS_1
Firsi masih tampak terdiam, Handian pun bersuara lagi dan kali ini membuat Firsi terkejut. "Kalau memang kamu gak mau melakukannya diluar pernikahan, aku akan menikahimu. Aku ini pria normal Firsi yang jelas membutuhkannya, apalagi kalau aku dekat denganmu. Rasanya tidak bisa aku tahan lagi" tambah Handian.