
"Kamu memang perempuan baik Zulfa. Jarang sekarang perempuan sepertimu, kebanyakan yangku temui adalah perempuan yang tidak bisa menghargai orang lain. Suka merendahkan dan memandang dari tingkat kekayaan. Sejauh yangku temui sih" ujar Verko.
"Gak semua begitu, mungkin memamg selama ini yang dekat denganmu adalah orang-irang seperti itu. Sudah lah gak perlu dipikirkan, terkadang mereka hanya iri dengan kehidupan kita yang menurut mereka bahagia dan tidak ingin disaingi" tutur Zulfa lalu berjalan pergi ke arah kasir dan Verko pergi ke belakang untuk mengembalikan keranjang.
Tak lama Bu Aida kembali bersama seorang lelaki yang terlihat masih muda. Zulfa tidak tau siapa yang bersama Bu Aida, karna dia baru pertama kali melihatnya.
"Ibu sama siapa ini?" tanya Zulfa mengarahkan kepada lelaki yang berada disamping Bu Aida.
"Kenalin ini anak ibu, namanya Brima. Yang ibu ceritakan sama kamu. Dia kesini nganterin temennya itu Verko" jawab Bu Aida sambil mengenalkan Brima kepada Zulfa.
"Ohh jadi kak Verko temennya anak ibu ya. Saya Zulfa, ini sahabat saya, Maira" ucap Zulfa memperkenalkan diri.
"Salam kenal, aku Brima" Brima mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri juga.
"Eh Brima, kesini lagi kamu." sahut Verko baru saja keluar dari belakang.
"Iya, gimana nyaman gak kerja disini?" tanya Brima kepada Verko.
"Nyaman kok, makasih ya sudah dikasih pekerjaan."
"Sama-sama, ya sudah aku mau balik dulu. Tadi cuma nganterin ponsel ibu yang ketinggalan. Aku pamit dulu ya bu" pamit Brima.
"Kok buru-buru sih" sahut Maira.
"Gak pa-pa, ada keperluan lain soalnya. Lain kali aku mampir kesini lagi kalau ada waktu. Lagian Verko juga ada disini" balas Brima.
__ADS_1
"Ya sudah nak, hati-hati dijalan. Jangan ngebut loh kalau naik motor"
"Tenang saja bu, aku gak bakalan ngebut kok." kata Brima sambil mengecup punggung tangan Bu Aida.
Brima pun pergi mengendarai motornya. Beberapa hari yang lalu Zulfa sudah diberitau oleh Cherly kalau akan ada pegawai baru ditoko. Sehingga dia bisa mulai masuk kuliah pagi dan selepas itu lanjut ke toko untuk bekerja.
๐
๐
๐
Diperusahaan keluarga Dharvanta yang sekarang dipimpin oleh putra pertamanya yang bernama Handian Dharvanta. Dia sedang bersenang hati karna bisa mengalahkan rival bisnisnya. Dan berhasil merebut apa yang dimiliki oleh rival bisnisnya. Bukan merebut atau mengalahkan soal pekerjaan, tetapi dia berhasil menghilangkan nyawanya serta merebut pacarnya.
Handian dikenal sebagai orang yang sangat licik. Dia pintar sekali bermuka dua dan seolah-olah tak ada masalah dengan orang yang dia benci. Handi akan berbaik hati didepan musuhnya dan akan menusuk dibelakang. Sekali tusukan akan berakibat sangat mematilan dan langsung membuat musuhnya tak berdaya.
"Aku sangat senang, sekarang aku bisa menghancurkan perusahaan Abhimarta dengan mudah. Dengan perginya Arshana, aku bisa dengan mudah menyaingi mereka. Karna apa? Arshana sudah tidak ada. Gak ada lagi yang akan bisa meneruskan perusahaan Abhimarta. Kita lihat saja, sampai kapan perusahaan itu akan berdiri. Apa si tua itu yang akan melanjutkannya? Heeh aku kira dia tidak ada kemampuan lagi untuk bekerja." ucap Handi dengan sombong dan merasa dirinya menang sekarang.
"Iya bos, rencana anda memang sangat bagus. Mereka sudah masuk ke dalam perangkap kita. Sekarang perusahaan mereka bisa dengan mudah disaingi." balas Jeri sang asisten.
"Memang mereka itu bodoh, mudah sekali ditipu dan dimanipulasi. Entah aku yang memang cerdas atau mereka yang sangat bodoh!! Semua bukti sudah dilenyapkan, kita lihat saja sampai kapan mereka akan berhasil mencariku. Hahahaha" ujar Handi tertawa licik.
Tok......Tok.......Tok.....
Ada seseorang yang mengetuk pintu dari luar beberapa kali, entah siapa yang mengetuknya.
__ADS_1
"Masuk!" ucap Handi.
Ceklek.
"Hai sayang......" ucap seorang wanita yang baru saja masuk sambil menyapa Handi dengan manja. Sepertinya dia adalah kekasih Handian yang tak lain dan bukan yaitu Firsi. Jeri melihat kedatangan Firsi langsung pamit keluar agar tak mengganggu momen dari keduanya.
"Saya permisi keluar tuan" ucap Jeri yang hanya diangguki oleh Handi.
Setelah kepergian Jeri, Firsi mendekati Handi dan bergelayut manja dipangkuan Handi. Padahal belum lama Firsi ditinggal Arshan pergi, tapi sudah ada pengganti yang baru. Dan penggantinya malah orang yang menyebabkan Arshan meninggal. Firsi belum tau kalau Hardi adalah pelaku yang menyebabkan Arshan pergi untuk selamanya. Hardi menyembunyikannya dari Firsi dan memang Firsi tidak tau penyebab kematian Arshan.
Hardi sudah lama ingin merebut Firsi dari Arshan. Ia sudah lama menyukai Firsi, setelah Arshan menjalin hubungan dengannya. Kala itu Hardi sedang rapat bersama Arshan dan kebetulan Firsi datang untuk mengajak Arshan makan siang. Hardi melihat Firsi yang menghampiri Arshan. Sejak saat itu lah Hardi bertekad untuk memiliki Firsi. Dan rencananya memang berhasil. Firsi berpaling mendekatinya, bukan Firsi sih lebih tepatnya Handi yang datang untuk menggantikan posisi Arshan.
Firsi memang benar-benar tidak tulus mencintai Arshan. Nyatanya Arshan belum lama pergi, dia sudah memiliki yang baru. Tangisannya hanyalah tangisan palsu, sebenarnya yang ada dalam pikiran Firsi hanya untuk menguasai harta Arshana. Entah masih ada rasa cinta atau tidak dalam hatinya. Yang pasti sekarang dia sudah berpaling ke pelukan pria lain.
"Bagaimana kabarmu hari ini sayang? Apakah hatimu senang?" tanya Hardi membiarkan Firsi bermanja-manja padanya.
"I am very good. Hatiku senaang sekali, karna aku bisa berjumpa denganmu sayang. Kamu mau ikut aku gak? Aku pengen jalan-jalan keluar sama kamu. Shopping, makan, nonton, pokoknya aku pengen seharian ini sama kamu" ujar Firsi bersandar didada bidang Hardi sambil memainkan jari-jarinya untuk menggoda Hardi.
"Apapun untukmu sayang, asalkan kamu senang aku akan turutin semuanya yang kamu suka. Tapi hari ini pekerjaanmu banyak sayang, kalau kamu pergi sendiri saja gimana? Aku kasih uangnya" kata Hardi karna pekerjaannya masih menumpuk.
"Hmm, aku maunua sama kamu. Ya sudah deh gak pa-pa aku sendiri, nanti aku ajak sahabatku saja. Tapi lain kali kamu ikut aku ya, jangan pekerjaan mulu yang dipentingkan" ucap Firsi bernada manja.
"Iya sayang, lain waktu aku temanin kamu. Aku transfer sekarang ya uangnya" Hardi mengambil ponselnya lalu mengirimkan sejumlah uang kepada Firsi. Dengan sekejab Firsi sudah mendapat notifikasi kalau uang yang dikirim oleh Hardi tadi sudah masuk ke dalam rekeningnya.
๐ป๐ป๐ป
__ADS_1
Dukung Imeilda terus ya guys ๐นtinggalkan jejaknya dibawah dan jempolnya yuk dipencet
Syukron โค