Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
79 #Risih


__ADS_3

Arshana menggebrak meja yang ada didekatnya dengan keras. Sampai mereka semua terkejut, bahkan Brima dan Maira yang ada didekatnya juga ikutan terkejut. Amarah Arshana sudah tidak bisa ditahan lagi. Kesabaran doa benar-benar diuji sekarang.


"JANGAN SAMAKAN ISTRI SAYA DENGAN DIA! APA KAMU TIDAK DENGAR ATAU TULI, HAH! ISTRI SAYA JAUH BERBEDA DENGAN DIA! KAU YANG HINA, BODOH!" marah Arshana.


"KAU YANG WANITA RENDAHAN, BUKAN ISTRI SAYA. NGACA SEBELUM BERUCAP! SAYA JUGA BISA MEMBALAS APA YANG KAU KATAKAN KEPADA ISTRIKU! MODAL GONTA-GANTI PASANGAN, SOMBONG! CIIH!"


Perkataan Arshana berhasil membuat malu Bella. Dia tertunduk malu karna menjadi pusat teman kerjanya. Arshana sungguh mempermalukan dia balik. Kemarahan Arshana tidak bisa ditahan lagi melihat wajah orang yang sudah menyakiti istrinya.


Mereka sangat ketakutan melihat amarah Arshana yang memuncak. Kalau sudah begini tak ada yang berani bertindak atau hanya sekedar bergerak. Lalu dari belakang Felix dan Arganta datang menghampiri Arshana.


"Jaga emosimu Arshana," sahut Felix sambil memegang bahunya dari belakang.


"Mana bisa aku sabar pa! Istriku dibuat menangis sama mereka. Aku gak bisa lihat istriku menangis, mereka keterlaluan! Apalagi sampai menghina dan merendahkan" ujar Arshana menoleh ke papanya.


"Kalian dengar semua! Yang tadi kalian lihat memang benar menantu Saya. Alasan apa yang membuat kalian malah merendahkan sampai menghinanya? Salah apa dia kepada kalian? Apa pernah menantu Saya menyakiti kalian? JAWAB?"


"Ti-tidak tuan besar!" jawab mereka serentak.


"Saya tidak akan merestui pernikahan putraku kalau perempuan yang dinikahinya bukan wanita baik-baik. Zulfa adalah perempuan baik dan Saya beruntung dia bisa menikah dengan Arshana! Gak sepantasnya kalian malah menghina dia!" terang Felix.


"Saya peringatkan sama kalian semua, disini hanya menerima karyawan yang punya attitude baik. Percuma kalian bisa dalam segala hal, tapi attitude buruk!" tambahnya.


"Kalau untuk tempat ghosip, bukan disini!" sahut Arganta.


"Jika kalian bertanya kapan Saya menikah? Sudah dari tiga bulan lalu dan sekarang hampir 4 bulan pernikahan Saya! Gak perlu Saya jelaskan alasan kenapa tidak mempubliknya. Gak semua harus kalian tau juga!" ucap Arshana.


"Untuk kalian berdua, Bella dan Rena. Kemasi barang-barang kalian, Saya tidak menerima karyawan seperti kalian!" tegas Arshana lalu berjalan pergi dari sana.


Bella dan Rena langsung menghampiri Arshana yang hendak pergi. Mereka tidak mau dipecat, mencari pekerjaan sekarang susah. Bisa bekerja diperusahaan Abhimarta adalah sebuah kesempatan emas. Tapi malah mereka sia-siakan dengan perkataan yang tidak berfaedah.


"Saya mohon tuan, jangan pecat Saya. Pekerjaan ini sangat berarti bagi Saya," ucap Rena memohon dihadapan Arshana.


"Kalau memang berarti untukmu, KENAPA KAU SIA-SIAKAN, PUNYA OTAK DIPAKEK!" sentak Arshana marah.


"Saya mengaku salah tuan, tolong maafkan Saya. Saya janji tidak akan mengulangi hal sama lagi. Saya mohon tuan jangan pecat Saya," ucap Rena.

__ADS_1


"Tidak ada kata maaf untuk kalian! Silahkan kemasi barang-barang kalian, S-E-K-A-R-A-N-G!" tegas Arshana lalu segera pergi dari sana.


Arshana berpapasan dengan Anin yang memang ada disana. Tapi ia hanya berlalu saja dan Anin juga menunduk tak berani menatap Arshana. Karna dia sudah mendengar semuanya tadi. Entah apa yang sudah diperbuat oleh rekan kerjanya sampai membuat Arshana marah besar.


"Untuk kalian semua, jika Saya temui kejadian ini lagi. Tak ada tolelir lagi dan kamu Bella, Reni, segera kemasi barang kalian. Besok Saya tidak mau melihat kalian ada disini! Marlin awasi mereka, pastikan barang mereka tidak ada lagi diperusahaan," ucap Arganta lalu pergi bersama Felix.


"Baik tuan," jawab Marlin.


Arshana kembali keruangannya, dia ingin melihat Zulfa. Sebelum sampai diruang kerja, Arshana mendapat telfon dari seseorang yang dia perintahkan untuk melacak nomer asing diponsel Zulfa.


"Bagaimana?" tanya Arshana.


"Identitasnya sudah ada tuan, nomer yang dipakai adalah nomer baru. Saya sudah mengirim ke anda, semua sudah ada," jawabnya dari seberang telfon.


"Bagus Alino, Saya akan mengeceknya," balas Arshana lalu mematikan telfon.


"Siapa yang loh hubungi?" tanya Arganta dari belakang. Sedari tadi dia menguping pembicaraan Arshana. Sedangkan Felix sudah pergi duluan keruangannya.


"Alino, gue suruh dia buat ngelacak nomer asing yang mengirim pesan ancaman keponsel Zulfa. Lihat!" Arshana menyodorkan ponselnya kepada Arganta.


Sebelum pesan tersebut dia hapus dari ponsel Zulfa, terlebih dahulu dia foto dan kirim ke ponselnya. Agar ada bukti, dia ingin mencari tuntas pelakunya. Melihat pesan yang ada, membuat Arganta tertegun sejenak. Dia jadi ikut berpikir, kira-kira musuh mana lagi yang akan mengusik mereka.


"Iya, ini mau gue cek." Arshana membuka pesan dari Alino, disana berjejer dokumen pesan yang dikirim Alino.


"Keruangan loh saja, biar gak diketahui orang. Bisa saja musuh itu dari orang dalam perusahaan sendiri," ucap Arshana melenggang jalan duluan.


Arganta pun mengikutu langkah Arshana sampai didepan ruangannya. Lalu mereka masuk ke dalam, Arshana meminjam laptop Arganta untuk menyambungkan ponselnya ke laptop, agar lebih mudah dicek. Setelah tersambung Arshana membuka satu per satu dan dia mengamati bersama Arganta.


Setelah diamati, Arshana tidak mengenal orang yang mengirim pesan tersebut kepada Zulfa. Disana sudah lengkap nama dan data diri orang tersebut, tapi Arshana tidak mengenalnya. Bahkan Arganta pun juga tidak mengenal orang tersebut


"Pasti yang dipakai dia adalah data palsu atau bisa juga dia hanya orang suruhan sedangkan pelaku utamanya bukan orang ini. Bentar, Alino mengirim pesan lagi coba cek," lalu Arshana mengecek kembali pesan dari Alino yang baru saja masuk.


("Orang tersebut memakai data palsu tuan, Saya sulit untuk mendapatkan data aslinya, tapi Saya berhasil mendapatkan lokasi nomer ini berada. Sudah Saya kirimkan.")


Pesan dati Alino sudah terbaca, benar apa kata Arganta bahwa orang itu memakai data palsu. Arshana segera melihat lokasi orang tersebut berada. Saat diamati, Arshana merasa lokasi itu dekat dengan kampus Zulfa dulu. Tepatnya disebuah apartemen yang memang jaraknya tidak begitu jauh dari sana.

__ADS_1


"Gue tau, tempat ini dekat dengan kampus Zulfa. Tepatnya diapartemen, coba loh suruh seseorang untuk mengintai diapartemen itu. Gue mau pelakunya segera ditangkap agar tidak melukao istri gue," ucap Arshana.


"Oke."


Arganta mengambil ponsel yang ada disaku jasnya. Lalu dia menghubungi seseorang, lalu dia matikan kembali. "Sudah, kita tunggu dulu kabar dari dia. Mendingan loh awasi saja ponsel Zulfa dan jangan biarkan dia keluar sendiri tanpa pengawalan. Sudah pasti pelaku ini sedang mengintai istrimu," tutur Arganta yang diberi anggukan oleh Arshana.


"Gue balik dulu," kata Arshana, lalu dia bangkit untuk kembali keruangannya.


...♡☆♡☆♡☆♡☆♡...


Zulfa terbangun namun tak menemukan suaminya disana. Dia pun mencari keluar tetap tidak ada, Zulfa kembali masuk untuk pergi ke kamar mandi. Dia ingin cuci muka dahulu untuk mengembalikan fress wajahnya setelah tadi banyak menangis.


Lalu dia kembali duduk disisi ranjang dan mengambil tasnya. Dia oleskan sedikit make up untuk menutupi bekas sembab dimatanya dan sedikit lipstik. Dia tidak ingin terus larut dalam kesedihan hanya karna sebuah hinaan dan cacian. Dia harus kuat dan seharusnya bisa membalas perkataan perempuan tadi. Tapi kenapa malah dirinya jadi lemah! Zulfa pun tidak tau.


"Duh kenapa kepalaku makin pusing," gumam Zulfa merasakan pusing dikepalanya. Tapi dia tetap abai dan menganggap bahwa dirinya hanya kecapean.


Ceklek.


Zulfa mendengar suara pintu terbuka. Pasti itu suaminya, Zulfa bangkit dan pergi keluar. Benar saja, Arshana sudah kembali keruangannya. Dia melihat Zulfa sudah cantik kembali dan tersenyum kearahnya. Syukurlah isyrinya sudah baik-baik saja, pikir Arshana.


Zulfa pun berhambur memeluk Arshana sambil melontarkan senyum. Arshana berbalik tersenyum lalu mengecup sekilas bibir Zulfa. Membuat yang punya melotot tajam sekaligus malu. Setelah itu Zulfa malah membalas mengecup kedua pipi suaminya.


"Kamu gemesin tau gak sayang, kalau gini kan cantik. Pulang yuk!" ajak Arshana. Zulfa mengangguk dan melepaskan pelukannya untuk mengambil tas.


"Ayuk," ucap Zulfa.


Arshana menaruh tangan Zulfa dilengannya. Lalu mereka keluar dari ruangan tersebut dan memasuki lift. Sampai lift terbuka, mereka berjalan bersama menuju meja resepcionis. Para karyawan yang tau kejadian tadi hanya bisa diam dan tak berani menatap ke arah Arshana mupun Zulfa. Tentu apa yang dilakukan Arshana sudah diketahui seluruh staff dan karyawan perusahaan. Apalagi bagi mereka yang ada secara langsung diruangan tersebut.


"Leni, sampaikan kepada papa dan Arganta kalau Saya sudah pulang," ucap Arshana.


"Baik tuan," jawab Leni membungkuk sejenak.


"Mbak Anin tunggu..." panggil Zulfa saat melihat Anin baru saja keluar dari lift dan hendak keluar. Mendengar panggilan dati Zulfa, Anin pun berhenti sejenak.


"Iya Nyonya, Anda memanggil Saya?" kata Anin.

__ADS_1


Zulfa tidak suka dengan panggilan Anin kepadanya. Dia merasa tidak enak hati dan risih. "Jangan panggil Nyonya dong Mbak, panggil namaku saja," protes Zulfa cemberut.


"Maaf Nyonya, Anda sudah adalah istri tuan Arshana. Tidak sopan kalau Saya memanggil Anda dengan nama," jelas Anin.


__ADS_2