Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
58 #Kaget


__ADS_3

Verko membawa istrinya duduk agar lebih tenang. Penampilan Verko memang beda seratus delapan pukuh derajat dari sebelumnya. Zulfa saja sampai tidak percaya kalau yang didepannya memang suami dia. Seperti penampilan Verko, eh maksudnya Arshana dulu. Khas dirinya, memakai kemeja putih dan celana yang senada dengan warna yang dia pakai juga. Benar-benar tampan, beda dari sebelumnya.


"Sekarang jelaskan." kata Zulfa lirih.


"Aku tidak berniat membohongi kamu. Sebenarnya memang aku sempat koma dirumah sakit setelah kecelakaan itu. Tidak ada yang tau tentang aku selain Brima dan Bu Aida. Mereka yang selalu membantuku. Aku menyamar agar tidak diketahui oleh musuh yang ingin membunuhku. Dari awal kakek memang menyuruhku untuk melakukan misi dengan menyamar untuk bisa mencari calon istri yang benar dan mencari tau pengkhianat yang ada diperusahaan. Karna mereka tidak merestui hubunganku dengan Firsi. Papa tau kalau Firsi bukan wanita baik-baik, tapi aku malah tidak percaya. Waktu itu aku dinas keluar kota dan saat pulang aku lewat daerah perbukitan. Ternyata mobilku sudah disabotase, tepat aku juga membawanya sendiri." Zulfa mendengarnya sangat terkejut, ternyata banyak rahasia yang disimpan oleh suaminya.


...****...


Flassback On


"Arrggh!!." Mobil Arshana terguling-guling ke dalam jurang. Arshana tidak bisa mengendalikan lagi saat berusaha menghindari pemotor malah menabrak orang didepannya.


Dalam mobil Arshana berusaha untuk keluar, namun terkunci. Kaca mobilnya pecah dan tubuhnya ikut terguling bersamaan dengan mobil yang lolos ke jurang. Jika dilihat dari luar, mobil Arshana sudah remuk terkena teping dan pepohonan yang diterobosnya. Darah mengucur dikepala Arshana saat kepalanya terbentur keras ke depan. Ia tetap berusaha keluar agar tidak semakin menyakiti tubuhnya yang mulai terhimpit pinggiran mobil.


"Arrgh, ssstth!!." Arshana meringis kesakitan tatkala tubuhnya semakin dihimpit pintu mobil. Terpaksa, Arshana nekat keluar dari kaca mobil yang sudah pecah. Dengan tubuh yang semakin lemah, dia perlahan keluar. Darah semamin banyak saat tangan dan kaki malah tergores kaca mobil yang lancip. Ia sudah tidak menghiraukan rasa sakitnya, yang penting adalah dia harus seegra keluar.


Usahanya tidak sia-sia, Arshana berhasil keluar dari mobil, namun perjuangannua tidak cukup disitu saja. Setelah keluar, tubuhnya ikut terjun ke bawah. Walau tangannya berusaha meraih apapun yang ada, tetap tenaganya lemah. Sampai posisinya sekarang ada dibawah jurang. Dengan tubuh yang lemah dan nafas yang memburuh. Kepalanua terasa sakit, seluruh tubuhnya berasa remuk.


Arshana berusaha bangkit untuk bisa menghindar dari sana. Sekarang tubuhnya berada dekat mobil dan pandangannya menatap asap yang semakin mengepul. Dia juga sempat melihat lelaki yang tadi dia tabrak tak jauh dari mobilnya. Dengan langkah yang tertatih-tatih Arshana pergi darisana entah kemana arahnya, dia sendiri pun tidak tau. Yang terpenting sekarang dia harus pergi menjauh. Tetesan darah terus membanjiri wajahnya, Arshana berusaha kuat.


Dia tak berhenti untuk berjalan sampai menemukan jalan untuk keluar. Dan saat itu juga dia mendengar ledakan yang begitu besar, Arshana menoleh ke belakang tepat dimana mobilnya berada. Mobil tersebut sudah terbakar, api melahap semuanya. Dia juga melihat lelaki tadi terpental dan ikut terbakar juga. Arshana sudah tida mempedulikan hal itu, dia ingin segera keluar dari sana.


Namun kepalanya yang terasa sakot dan pandangan yang kabur membuat Arshana kehilangan kesadarannya. Sehingga ia terjatuh pingsan dibalik semak-semak yang terdapat pohon besar. Posisinya sekarang sudah jauh dari mobil.


Hingga mata yang terpejam itu kembali terbuka. Tapi suasana sudah berubah, tidak ada cahaya sama sekali. Sudah pasti hati telah malam, Arshana merasakan tubuhnya sangat sakit. Tangannya meraih pohom yang ada disampingnya sebagai pegangan. Perlahan dia mulai bangkit sambil memegangi kepalanya yang sakit.


"Tolong! Tolong! Siapapun tolong." sekuat yenaga Arshana berusaha berteriak meminta tolong. Mana ada orang dihari yang sudah gelap begini apalagi ditengah jurang yang dalam.


Arshana terus berjalan tanpa henti dan tak menghiraukan rasa sakitnya lagi. Entah kemana sekarang arah jalannya, dia sudah tidak peduli. Arshana menatap ke atas,hanya melihat sinar rembulan dan bintang. Sampai matanya tertuju pada teping yang menurutnya tidak terlalu curam untuk dia panjat. Pada akhirnya Arshana mencoba untuk naik ke atas. Beruntung banyak akar-akar pohon yang menjalar sehingga Arshana bisa memegang akar tersebut untuk memanjat.


"Arrgh!" ringis Arshana saat tak sengaja luka yang ada dilengannya malah tergores dahan pohon dan kembali memunculkan darah segar.

__ADS_1


Arshana tetap melanjutkan untuk sampai ke atas. Dia tak mempedulikan lagi darah yang keluar atau rasa sakit. Nafasnya begitu memburu tidak beraturan. Sampai akhirnya dia berhasil mencapai atas dan melihat jalanan yang sudah sepi tanpa ada penerangan. Tubuhnya sudah tidak kuat lagi untuk bertahan. Kakinya lemas, ia hanya bisa terduduk tak berdaya disamping pembatas jalan. Matanya mulai kabur, sinar rembulan yang tadi memancar mulai redup.


Disaat matanya hampir menutup, dengan sayu dia mendengar suara seseorang. Arshana juga merasakan orang tersebut menyentuh tubuhnya. Merasakan dia akan ditolong, Arshana berusaha kembali membuka mata dan benar saja dia melihat seorang lelaki sedang ada disampingnya.


"Kenapa anda bisa begini? Apa yang terjadi?." lelaki tersebut terlihat panik melihat tubuh Arshana yang sudah dipenuhi oleh darah. Bajunya pun acak-acakan dan terlihat sobek berlumur darah.


"To-tolong, a-ku su-dah ti-da-k ku-uat!." ucap Arshana terbata-bata sebelum matanya kembali tertutup.


"Astaga, bangun. Pak, tolong bantu saya untuk membawa pria ini ke rumah sakit. Sepertinya dia habis kecelakaan." ucap lelaki tersebut kepada sopir taxi yang tadi ditumpanginya.


"Iya mas, ayo dia harus mendapat pertolongan." akhirnya lelaki tersebut dibantu oleh sopir taxi mengangkat tubuh Arshana untuk dibawa ke rumah sakit.


Sesampainya dirumah sakit, dua orang suster membawakan brankar dengan tergesa-gesa. Lelaki tadi dan sopir taxi mengangkat pria yang ditemuinya untuk bisa berpindah ke brankar. Lalu mereka mengikuti arah suster tersebut membawa Arshana ke IGD. Lelaki tadi sampai lupa untuk membayar taxi karna panik.


"Maaf pak saya, ini uangnya. Bapak tidak perlu menunggu saya, biar pria tadi saya yang mengurusnya." ucap lelaki tersebut.


"Makasih mas, kalau gitu saya permisi." ucap sopir taxi tersebut dan hanya dibalaa anggukan oleh lelaki tadi.


Saat panggilan tersambung lelaki itu pun menjelaskan semuanya dan menyuruh ibunya agar bisa datang ke rumah sakit. Ia tidak bisa sendiri mengurus pria asing yang baru ditemuinya.


Beberapa menit kemudian.


"Brima?." panggil seorang wanita yang tak lain adalah ibunya.


"Bu, akhirnua ibu datang juga. Aku gak tau pria tadi siapa, aku menemukannya dengan tubuh yang sudah terluka didekat jurang." jelas Brima kepada ibunya yang tak lain adalah Bu Aida.


"Kok bisa sih nak, apakah dia korban pencurian? Kamj hanya menemukan dia saja? Gak ada motor atau batang lain gitu?". tanya bu Aida ikut khawatir.


"Gak ada bu, benar-benar dia sendiri. Aku menemukannya sudah berlumuran darah. Banyak luka ditangan, kaki, dan kepalanya. Kalau aku menduga sih dia kecelakaan, tapi anehnua kenapa gak ada kendaraan pun." jawab Brima berpikir keras tentang hal itu.


Ceklek.

__ADS_1


"Keluarga pasien?." panggil dokter membuat Brima dan Bu Aida menoleh.


"Iya dok, bagaimana keadaan pria tadi?." tanya Brima khawatir.


"Dia sudah sadar dan ingin berbicara dengan anda." kata dokter tersebut menunjuk ke araj Brima.


"Baiklah, ibu tunggu disink dulu ya." Bu Aida pun mengangguk.


Brima mengikuti dokter tersebut memasuki ruang IGD untuk bertemu dengan Arshana. Disana dia melihat pria tadak sudah ditangani dengan berbagai alat yang terpasang.


"Anda memanggilku?." tanya Brima menatap Arshana.


"I-ya, tolong ja-ngan men-ca-ri keluarga-ku. Na-maku Arshana Abhimarta. Tapi aku mo-hon ja-ngan beri tau siapapun ka-lau aku ada disini. Pa-nggil aku dengan na-ma lain. Ji-ka nan-ti dokter ber-tanya ten-tang na-maku. Ang-gap a-ku ke-luargamu sa-ja. A-ku mohon, aku akan mem-ba-las ke-baikanmu nan-ti. Ber-janji-lah." ucap Arshana lemah.


"Kenapa begitu? Keluargamu berhak tau." jawab Brima.


"Aku mo-hon, ber-jan-jilah. Sstt!. A-ku di-incar un-tuk di-bu-nuh." ringis Arshana.


"Baiklah aku janji tidak akan mengatakan apapun dan akan menganggapmu keluargaku." sahut Brima tak banyak berpikir saat melihat Arshana kesakitan.


"Te-ri-ma ka-sih...." mata Arshana kembali terpejam membuat Brima semakin panik dan memanggil dokter maupun suster.


"Dokter, suster...." panggil Brima dan tak lama dokter dan dua orang suster datang menangani Arshana. Brima pun disuruh keluar dulu.


Diluar Brima menjelaskan kepada ibunya tentang permintaan Arshana kepadanya. Ia juga tidak tau maksud Arshana mengatakan hal tersebut. Yang dia tau Arshana mengatakan dia diincar untuk dibunuh. Artinya ada yang berniat jahat kepadanya.


"Namanya Arshana Abhimarta." mendengar nama yang tidak asing ditelinga Bu Aida membuatnya tertegun sejenak. Dia gak mungkin tidak tau, malah tau betul siapa Atshana Abhimarta yang disebut oleh putranya.


"Yang benar nak? Dia tuan muda Arshana?."


"Tuan muda? Ibu kenal dengannya?." tanya Brima bingung.

__ADS_1


"Jelas tau, siapa sih yang gak tau tentang dia. Arshana Abhimarta, kamu pura-pura lupa atau memang gak tau. Coba lihat gelar nama dibelakangnya, Abhimarta. Dia itu tuan muda Arshana dari keluarga Abhimarta. Masa kamu gak tau sih." kata Bu Aida memperjelas dan pada akhirnya Brima tersadar dan pasti tau siapa itu Arshana Abhimarta.


__ADS_2