Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
44 #Memo untuk Daniel


__ADS_3

Daniel pergi ke rumah utama untuk menemui kakek dan tuan Felix. Ada sesuatu yang ingin mereka bahas, entah tentang hal apa. Daniel pun juga tidak tau, kalau masalah dengan Handian. Daniel sudah mengatakannya, bahkan tuan Felix sangat menyukai kerja Daniel yang luar biasa.


Sampai didepan gerbang, satpam membukakannya. Lalu mobil masuk ke halaman. Daniel segera turun dan masuk ke dalam. Tak disangka kedatangannya sudah dinanti oleh kakek, tuan Felix, dan juga Yolanda yang menunggu diruang tamu. Daniel sedikit heran, sampai-sampai Yolanda ikut menantikan kedatangan dia. Kalau hanya sekedar membicarakan soal Handian, pasti tuan Felix tidak akan melibatkan Yolanda disana.


Dengan jalan perlahan, Daniel menuju sofa lalu duduk bareng disana. Daniel pun menanyakan perihal tuan Felix memanggilnya untuk datang ke rumah. Padahal baru kemarin dia datang ke rumah utama. Lalu sekarang disuruh untuk datang kembali. Walau memang kebiasaan Daniel begitu saat masih ada Arshana. Gak segan juga dia menginap, makan pun satu meja dengan mereka. Karna Daniel sudah dianggap seperti anak mereka sendiri.


"Tuan besar kenapa memanggil saya kemari? Apa ada sesuatu yang penting?." tanya Daniel melihat ke arah tuan Felix dan kakek bergantian.


Tuan Felix langsung menyodorkan sebuah foto. Daniel mengernyit saat melihat foto tersebut, ia mengenal betul siapa yang ada didalam foto itu. Berbagai pertanyaan melesat dipikiran Daniel. Bagaimana bisa foto dia ada pada tuan Felix. Dan kenapa satu keluarga seolah meminta penjelasan padanya.


"Ini punya kamu kan?." tanya Felix menatap kearah Daniel.


"Iya tuan ini milik saya. Memangnya kenapa tuan dan kenapa foto saya ada pada tuan?." tanya balik Daniel masih tidak mengerti dengan ini semua.


"Apa yang ada dalam foto itu adalah kamu?." tanya lagi, kali ini wajah Yolanda jadi tegang entah apa penyebabnya.


"Iya memang yang ada dalam foto itu adalah saya. Foto ini kenangan dari mama saya, sebelum mama meninggal. Foto tersebut diambil saat saya masih bayi. Kenapa tuan?." jelas Daniel, seketika wajah kakek, tuan Felix, dan Yolanda dibuat terkejut. Mereka saling pandang satu sama lain seolah tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.


"Foto kamu sangat mirip sekali dengan putra bungsuku yang sudah meninggal. Foto kamu ditemukan sama bi Yanti terjatuh saat kamu buru-buru. Lalu bi Yanti memberikannya kepada istriku." jawab Felix sambil menyodorkan foto lain kepada Daniel. Saat dilihat betapa terkejutnya Daniel.


Dia seolah tak percaya, karna foto keduanya tidak ada perbedaan sama sekali. Daniel mengambil kedua foto tersebut dan melihatnya satu-satu. Mencari cela untuk membedakan, tali mustahil.


"Itu foto putraku sebelum dia meninggal. Dari sini pasti kamu sudah tau apa yang ingin aku tanyakan kepadamu." ucap tuan Felix. Daniel langsung mendongam sambil meletakkan kedua foto tersebut.


"Tapi bagaimana bisa foto saya sama putra anda mirip sekali. Bukankah putra anda meninggal sejak bayi? Tapi....." Daniel sekarang jadi bingung, ada apa ini? Kenapa bisa wajah dia saat bayi mirip sekali dengan foto putra tuan Felix. Daniel jadi bertanya-tanya.

__ADS_1


Daniel tau kalau tuan Felix sebenarnya tidak hanya punya satu anak, melainkan dua. Tapi putra bungsunya harus meninggal dunia saat masih bayi. Bahkan baru dilahirkan, Daniel tau karna mendapat cerita dari Arshana langsung. Karna saat itu dia tidak sengaja melihat foto Arshan saat kecil berada disamping box bayi.


"Itulah yang saya tanyakan sama kamu. Mustahil kalau foto keduanya karna tidak sengaja. Pasti ada kaitannya, tapi saya juga gak bisa langsung menyimpulkan begitu saja. Harus ada bukti." balas Felix memegang bahu istrinya.


Daniel terlihat berpikir sejenak, ada sesuatu yang mengganjal dipikirannya. Dia teringat dengan barang pemberian mamanya yang tidak pernah dia buka sama sekali sejak kepergian orang tuanya. Barang itu masih utuh tak pernah disentuh oleh Daniel sama sekali. Dia hanya menyimpannya dilemari kamar apartemen. Kenapa tidak pernah dibuka oleh Daniel? Sebab mama nya pernah berpesan lewat surat. Kalau Daniel boleh membukanya saat dirinya sudah siap atau saat dia sudah menikah. Dan Daniel masih teringat dengan kejadian kelam tersebut yang membuatnya tidak mau menyentuh kotak pemberian mamanya.


Barang tersebut diberikan oleh art yang merawat Daniel. Dia memberikan barang itu karna merasa usia Daniel sudah dewasa. Dan dia sendiri tidak tau akankah seterusnya bisa merawat Daniel.


'Aden jaga barang ini dengan baik. Mama Aden yang menitipkan kepada bibi. Dan ini suratnya, Aden sudah dewasa. Bibi gak bisa menjaganya terus-terusan, saatnya bibi berikan sama Aden. Ini kunci untuk membuka kotaknya. Den Daniel harus bisa jadi lelaki yang mandiri, kuat, dan gak boleh pantang menyerah. Apapun keadaannya harus dijalani, pasti suatu saat Aden bisa bahagia.' pesan sang bibi sebelum keesokan harinya dia meninggal.


Daniel yakin kalau didalam kotak tersebut ada rahasia yang tersimpan. Atau pesan dari mamanya, Daniel pun izin kepada kakek dan tuan Felix untuk pergi ke apartemennya mengambil sesuatu. Dia akan segera kembali secepatnya.


"Saya izin pulang sebentar. Saya akan mencari tau kebenarannya." ucap Daniel lalu bangkit dan membungkuk sejenak. Setelah mendapat anggukan dari tuan Felix, barulah Daniel pergi untuk mencari kebenaran yang asli. Dia juga penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Rahasia apa yang masih tersimpan.


Sesampainya didepan gedung apartemen, Daniel langsung berlari menuju lift untuk ke lantai atas menuju apartemennya. Saat sudah sampai buru-buru Daniel membuka pintu dan masuk. Daniel pergi ke kamarnya menuju lemari tempat dirinya menyimpan kotam tersebut.


"Akhirnya ketemu," gumam Daniel langsung mengambilnya.


Kotak tersebut berbentuk persegi panjang dengan balutan pertama diluarnya. Warnanya abu-abu kecoklatan. Daniel mengambil kunci gembok untuk membukanya, karna kotak tersebut ternyata digembok dengan rapat. Daniel semakin yakin kalau kotak tersebut menyimpan rahasia dibaliknya.


Entah kenapa jantung Daniel jadi terasa berdetak lebih cepat. Perlahan dibukanya gembok yang terkunci rapat, bertahaun-tahun tidak pernah dia sentuh. Walau begitu Daniel selalu membersihkan agar tidak berdebu. Saat kotaknya sudah terbuka, yang Daniel lihat adalah foto, memo kecil, amplop yang terletak didalam memo dan sebuah gelang pertama. Inilah kali pertama Daniel membukanya.


Tangannya mengambil foto dan memo kecil. Daniel melihat dengan seksama yang ada didalam foto tersebut. Ada foto dirinya saat bayi, saat balita, dan ada juga foto kebersamaan bersama kedua orang tuanya. Daniel jadi teringat momen itu. Lalu matanya tertuju pada memo kecil yang bertuliskan nama mamanya dan terdapat namanya juga.


Perlahan tangannya membuka halaman pertama yang berisi namanya bersanding dengan nama yang tidak dia kenal. Tapi Daniel mengetahui nama yang disematkan dibelakangnya.

__ADS_1


...Daniel Afrenda ...


...(Arganta Abhimarta) ...


"Arganta Abhimarta? Kenapa namaku disanding nama anaknya tuan Felix." gumam Daniel terkejut. Lalu tangannya membuka kembali halaman berikutnya.


Daniel,


Papa sama mama meminta maaf sama kamu. Mungkin saat kamu baca memo ini, kami sudah tidak ada. Papa sama mama mau bilang kalau kami sangat menyayangimu lebih dari apapun. Kami akan melakukan apapun demi kebahagiaan kamu.


Mama hanya bisa menjelaskan semuanya setelah kami sudah tiada. Karna kami tidk sanggup kalau harus berbicara jujur langsung kepadamu. Sebenarnya kami bukan lah orang tua kandung kamu.


Nama yang tersemat disamping namamu itulah nama aslimu. Dan mungkin sekarang kamu sudah tau siapa keluarga aslimu. Felix Abhimarta dan Yolanda Quella adalah orang tua kandung kamu Daniel. Mereka lah keluarga aslimu bukan kami. Mama sebetulnya tidak tau kalau kamu bukan anak kandung mama. Papa kamu yang menceritakan sama mama saat kamu berusia lima tahun. Hati mama sudah terlanjur sayang sama kamu dan tidak ingin kehilanganmu. Oleh sebab itu mama tidak pernah cerita sama sekali, usiamu juga terbilang masih kecil. Maafkan mama dan papa, Daniel.


Papa menukar bayi mama yang sudah meninggal dengan kamu. Kebetulan saat itu kamu lahir bersamaan dengan anak mama, tapi anak mama tidak bisa selamat. Jadi papa menukar kamu yang berada tepat disamping box anak kandung mama. Papa juga menukar selimut yang kamu pakai agar tidak dicurigai oleh keluarga aslimu. Papa melakukan itu agar mama tidak sedih dan terpukul. Tapi pada akhirnya mama sedih juga mendengar cerita sebenarnya dari papa.


Maafkan papa dan mama yang tidak jujur sama kamu. Mama hanya bisa menuliskan kejujuran itu didalam memo ini. Mama gak sanggup kalau nantinya kamu harus pergi dari mama. Kembalilah kepada keluargamu, mereka sangat merindukan kamu. Papa sudah tau tentang keluarga aslimu sejak penukaran itu. Karna dibox tersebut tertulis namamu. Kembalilah sayang, orang tua kandungmu sangat menyayangi kamu.


Simpanlah gelang itu sebagai kenangan dari mama. Suatu saat kalau kamu sudah menikah, pakaikan gelang pemberian mama kepada istrimu. Agar bisa kamu kenang selamanya, jangan sampai hilang ya. Dan jaga foto-foto kenangan kita. Mama harap kamu mau menyimpannya. Sampaikan maaf kami kepada orang tua kandungmu dan keluarganya. Berikan pesan mama dalam amplop itu kepada orang tuamu.


Pesan mama, jangan pernah lupakan kami. Walau kami sudah tiada, sampai kapan pun kamu tetap anak mama. Memang kamu tidak lahir dari rahim mama, tapi kasih sayang kami seutuhnya untukmu. Jaga dirimu baik-baik, tetaplah jadi Daniel yang mama kenal. Ceria, hebat, kuat, dan tidak mudah putus asa. Sekali lagi papa dan mama minta maaf, semoga kamu tidak membenci kami. Terima kasih sudah hadir dalam hidup papa dan mama, mewarnai keseharian kami dengan senyum dan tawamu. Sampai jumpa dilain hari, ditempat yang indah.


Salam sayang


Papa dan mama.

__ADS_1


__ADS_2