
Dikampus, Zulfa dan Miara baru saja menyelesaikan mata kuliah mereka. Dan hendak kembali ke asrama, sementara Zulfa mau langsung ke toko untuk membantu bu Aida. Zulfa hari ini masuk kuliah pagi dan setelai selesai siangnya Zulfa akan membantu bu Aida. Karna ditoko ada karyawan baru yang membantu bu Aida. Sehingga Zulfa bisa masuk kuliah pagi, tidak malam lagi.
Sebelum balik Zulfa dan Maira pergi ke perpustakaan dulu untuk meminjam buku yang diperlukan. Setelah yang mencari buku yang mereka perlukan, Zulfa dan Maira langsung pergi menuju keasrama. Tetapi menginjak pintu depan, ada Firsi dan Agnes yang secara tiba-tiba menyenggol Zulfa dan Miara dari belakang. Beruntung mereka tidak terjatuh dan hanya terkejut saja.
"Ups.....Sorry sengaja" ucap Firsi.
"Hahahah....." Firsi dan Agnea pun tertawa bersama.
"Kalian!!..." kesal Maira hendak membalas tetapi tangannya dipegang oleh Zulfa.
"Sudah lah Mai, gak perlu diladenin. Gak akan selesai ngeladenin mereka. Pergi aja yuk, malea berantem aku" ucap Zulfa kepada Maira.
"Eits....Mau kemana sih buru-buru banget. Tunggu dulu dong, gak baik loh main nyelonong saja. Gak sopan!" sahut Agnes mencegah Zulfa dan Maira untuk pergi.
"Mau kalian apa sih? Suka sekali menganggu kita. Salah kita itu apa sama kalian hah!!" ucap Maira kesal.
"Hei bodoh, berani ya kau membentak kami. Ternyata nyalimu kuat juga, salah kalian itu banyak. Aku gak suka liat kalian senang terutama kau!?" tunjuk Firsi kearah Zulfa dengan tatapan tidak suka.
"Hah? Kamu tidak suka denganku kenapa? Bukannya dirumah kamu anak satu-satunya, dimanja dan diturutin semuanya yang kamu mau. Bahkan kuliah pun aku pakai uangku sendiri, sementara kami dibiayayai oleh papa. Terus yang kamu tidak suka dariku apa Firsi? Aku menghargai kamu, tapi kamu gak bisa menghargai aku" ucap Zulfa.
"Iya memang, semua yang aku minta selalu diturutin sama papa dan mama. Tapi aku ingin kamu bisa menyingkir dari hidupku selama-lamanya. Aku gak suka melihat kau bahagia, walau pun bukan karna papa. Aku ingin selalu melihatmu menderita!" jawab Firsi dengan tatapan tajam membuat Zulfa sampai mengelus dada.
"Terserah apa yang kamu katakan. Sudahlah Mai ayo kita pergi gak perlu diladenin." Zulfa langsung menggandeng tangan Maira untuk pergi dari sana.
Tetapi saat Zulfa ingin pergi tangannya yang satu dicengkeram oleh Firsi lalu diputar agar Zulfa berbalik badan. Dan tidak disangka oleh Zulfa, tiba-tiba Firsi hendam melayangkan tamparan ke arah Zulfa. Sontak Zulfa berteriak dan memejamkan matanya.
"Aaahhrr!!"
"Ck, siapa sih" ternyata tangan Firsi tidak sampai memukul wajah Zulfa, karna tangannya dipegang oleh seseorang dari belakang.
"Rey......." ucap Firsi dan Agnea terkejut melihat kedatangan Rey yang menyelamatkan Zulfa.
Zulfa pun membuka matanya dan melihat Rey sedang memegangi tangan Firsi yang hendak menamparnya. Lalu dihempaskan oleh Rey dengan kuat membuat Firsi meringia kesakitan.
"Loh apa-apaan sih, sama kakak sendiri jahatnya minta ampun." ujar Rey marah.
"Ck, kamu kenapa malah belain dia sih Rey. Harusnya tadi kamu biarin saja Firsi kasih pelajaran sama dia." ucap Agnea yang kesal.
"Kalian ya memang gak punya hati. Bisanya menyakiti orang saja, awas kalau sampai aku lihat kalian menganggu Zulfa lagi. Sana pergi!" usir Rey yang tidak suka melihat Firsi dan Agnes menganggu Zulfa.
"Iihh awas ya kau, akan aku balas nanti. Ayo kita pergi Nes" Firsi pun pergi begitu saja dengan membawa rasa kesal karna tidak bisa memberi pelajaran kepada Zulfa. Aksinya gagal gara-gara kedatangan Rey.
__ADS_1
"Makasih ya Rey, kamu sudah nolongin aku tadi. Memang mereka berdua suka sekali menganggu kami" ucap Zulfa.
"Sama-sama, tidak perlu berterima kasih. Lain kali jangan diam saja kalau mereka menganggu kalian. Semakin didiemin mereka gak bakalan berhenti. Harus dilawan sesekali" kata Rey memberi arahan kepada Zulfa dan Maira.
"Sudah, pengenku pecek-pecek saja wajah mereka. Tapi selalu dicegah sama Zulfa, entah nih dia diam saja kalau diganggu sama mereka. Kayak barusan tadi, untung ada kamu Rey"
"Aku hanya gak mau berantem Maira. Males kalau harus diliatin mahasiswa yang lain. Mending aku ngalah deh dari pada dapat masalah. Nanti beasiswaku malah dicabut karma dikira kena masalah" ucap Zulfa.
"Hmm, ya sudah lain kali hati-hati deh sama mereka. Ohh ya sekarang kalian mau kemana? Ada kegiatan lain kah?" tanya Rey.
"Gak ada, kami sudah selesai kuliahnya. Ini mau balik keasrama palingan juga Zulfa nih yang nanti akan ke toko. Tapi......Aku ikut boleh gak Fa? Malea nih kalau diasrama sendirian gak ada temen"
"Iya ayo, aku malah seneng kalau kamu ikut. Tapi kamu gak capek habis kuliah ikut aku? Mendingan kamu tiur saja diasrama. Nantikan aku juga balik" ujar Zulfa mengkhawatirkan kondisi Maira.
"Halah, palingam disana juga ngawasin kamu saja. Dati pada dikamar sendirk gak ada yang bisa diajak ngobrol, mendingan ikut kamu. Bisa bantuin juga entar"
"Ya udah deh terserah kamu saja" jawab Zulfa pasrah.
"Kalau gitu aku duluan ya, kaian hati-hati" ucap Rey hendak pergi.
"Oke..." padahal tadi Rey berniat untuk mengantarkan Zulfa ke toko. Tapi berhubung Maira ingin ikut jadinya dia mengurungkan niatnya untuk mengantar Zulfa. Rey pun memilih untuk pulang saja.
🍀
🍀
🍀
"Kesini lah bu, saya kan juga harus kerja. Masa ya saya tinggak begitu saja. Yang katanya ibu karyawan baru mana bu? Apa dia belum datang?" tanya Zulfa dari tadi hanya melihat bu Aida sendirian.
"Ada neng....."
"Bu ini ditaruh mana?" tanya seseorang dari arah belakang kepada bu Aida.
"Lah ini dia, sudah datang dari pagi tadi" ucap bu Aida.
Zulfa terdiam sejenak memandangi seorang pria yang ada didepannya. Dia sedang membawa keranjang yang berisi roti untuk ditata dalam rak penyimpanan.
"Neng, kenalin ini namanya Verko. Dia yang akan membantu kita disini, tadi mbak Cherly sama pak Hanif sudah kesini tapi hanya sebentar lalu pergi lagi. Kenalin juga Verko, ini adalah Zulfa yang selalu membantu saya disini. Kalau yang disampingnya Maira sahabatnya neng Zulfa" ucap Bu Aida memperkenalkan masing-masing dari mereka berdua.
"Verko..." Verko mengulurkan tangannya memperkenalkan diri kepada Zulfa dan Maira.
__ADS_1
"Zulfa..."
"Maira...."
Ucap mereka memperkenalkan diri masing-masing. Zulfa terus memandangi Verko, seperto ada yang aneh. Zulfa merasa Verko seperti mirip seseorang. Tapi ia gak tau siapa.
"Ohh ya buini ditaruh mana?" tanya Verko lagi kepada Bu Aida.
"Sini biar saya saja yang menata." Zulfa mengambil alih keranjang yang dibawah oleh Verko.
"Neng, ibu minta tolong ya ajarin nak Verko tugas apa saja yang harus dia kerjakan. Dan cara penyusunan masing-masing roti, tempat dan sesuai penataan" ucap Bu Aida.
"Iya bu tenang saja, nanti biar Zulfa yang memberi taunya." jawab Zulfa.
"Lalu aku ngapain Fa? Masa aku diam saja sih, kasih aku tugas lah biar ada kerjaan gitu. Aku ikut kesini kan biar gak bosan diam mulu." ujat Maira masih berdiri ditempatnya.
"Neng Maira jagain kasir saja sama ibu. Neng Maira tolong jagain kasir ya, ibu mau keluar sebentar. Gak lama kok" ucap Bu Aida.
"Iya bu siap!?" balas Maira semangat.
Zulfa mulai menata satu per satu roti yang ada dikeranjang untuk dipindahkan ke rak. Sambil mengajari Verko apa saja tugasnya selama bekerja disana. Zulfa mengajarinya dengan teliti sampai tak ada yang terlewatkan. Verko juga seperti enjoy bekerja sama Zulfa. Tutur kata yang lembut membuat Verko nyaman kalau didekat Zulfa dan sikapnya yang baik.
"Apa kamu sudah paham yang aku jelasin tadi? Kalau belum paham kamu tanya saja, jangan malu-malu." ucap Zulfa, barangkali ada yang belum dimengerti oleh Verko.
"Aku sudah paham kok, makasih atas penjelasannha. Ngomong-ngomong kamu masih kuliah atau memang sudah kerja?" tanya Verko melihat dari penampila Zulfa kalau dia seperti mahasiswa.
"Aku masih mahasiswa semester akhir. Bentar lagi lulus kok, masih ngerjain skripsi. Kalau kamu memang sudah bekerja ya? Hmm aku harus panggil kamu bagaimana? Gak enak rasanya kalau panggil nama. Sepertinya aku lebih muda darimu" balas Zulfa.
"Iya memang aku sudah bekerja. Terserah kamu mau memanggilku apa. Mas, kakak, abang, atau apapun lah terserah kamu. Semanyannya kamu saja." kata Verko.
"Kakak saja kali ya, berubung aku gak punya kakak. Karna aku anak pertama" balas Zulfa.
"Yaa terserah kamu, aku juga anak pertama kok. Kita sama hanya beda umur saja" sambil menggeser keranjang yang ada disamping Zulfa untuk dibawah ke belakang. Karna sudah beres merapikannya.
"Hmm.....Tapi kamu nyaman kerja bareng aku? Nanti sahabatmu malah jauhin kamu lihat penampilanku begini" ujar Verko merasa minder kalau dekat dengan Zulfa karna penampilannya yang bisa dikatakan kayak orang culun. Rambut dibelah dua ditambah poni, pakai kaca mata dan ada tanda lahir dibagian dagunya yang terlihat tapi tidak besar. Verko juga mempunyai lesung pipi, kalau dia tersenyum akan sangat terlihat. Style baju yang gak bisa bergaya.
Zulfa langsung tersenyum mendengar perkataan Verko kepadanya. "Aku gak malu atau pun gak nyaman. Sahabatku bukan orang yang pilih-pilih dalam pertemanan. Dia gak akan memandang orang dari bentuk fisiknya. Aku juga gak menilai orang dari penampilannya kok. Buatku asalkan dia baik saja, aku akan baik pula dengannya" kata Zulfa sambil tersenyum membuat Verko ikut tersenyum juga.
🍏🍏🍏
Tiga part khusus hari senin, kalau hari-hari selanjutnya author up satu/dua part saja ya.
__ADS_1
Dukung Imeilda terus, Syukron 🌹