
"Gak, aku masih kuliah Handian. Kalau aku sampai nikah dulu pasti ribet, aku gak mau itu terjadi. Apalagi kalau sampai hamil, gak kepikir diotakku sampai kesana" Firsi menolak keras karna tak mau menikah dahulu. Yang dia inginkan hanya bersenang-senang semata. Handian adalah pelampiasan Firsi karna ditinggal oleh Arshana. Sebenarnya dia tidak betul-betul mencintai Handian.
"Aku janji tidak akan membuatmu kerepotan apalagi susah. Ayolah Firsi......Atau kita akhiri hubungan ini. Aku tidak mau menjalin hubungan dengan orang yang tidak serius" ancam Handian yang sebetulnya dia hanya menggertak. Dilelung hatinya tak mau kehilangan Firsi.
Ancaman itu berhasil membuat Firsi takut. Dia gak mau sampai Handian mengakhiri hubungannya. Kalau sampai semua itu terjadi, Firsi tidak akan bisa menikmati harga Handian lagi. Apalagi Handian punya kekuasaan besar yang sudah pasti membuat Firsi bisa melakukan apapun dan ditakuti oleh orang lain.
"Oke.......Aku akan turuti kemauanmu, tapi kamu harus janji tidak akan membocorkan ini semua kepada orang tuaku." akhirnya Firsi menurut sebab tak mau kehilangan atm berjalannya.
"Iya sayang aku tidak akan mengatakannya kepada siapapun. Sekarang kamu mau jalan-jalan kan, ayo aku akan menemanimu. Setelah itu kita ke apartemenku" ucap Handian penuh kegembiraan.
"Iya..." Firsi tampak senang karna Handian mau pergi bersamanya. Tapi bagaimana nanti setelahnya? Apalagi Handian mengajak untuk ke apartemen. Mau gak mau Firsi mengikuti saja dari pada harus mengakhiri hubungan yang tidak mau dilakukannya.
Beberapa jam kemudian..
Setelah mereka selesai jalan-jalan, seperti perkataan Handian sebelumnya. Bahwa dia akan mengajak ke apartemen miliknya. Firsi sudah takut duluan memikirkan apa yang akan mereka lakukan nanti.
Handian membukakan pintu apartemennya lalu mereka masuk berdua. Firsi menaruh tasnya diatas meja, kemudian Handian membawa Firsi ke kamar. Hasrat yang menjalar ditubuhnya sudah tidak bisa ditolerir lagi. Firsi sebenarnya tau apa yang harus dia lakukan. Tetapi ia memilih berlagak polos saja.
"Kamu sudah siapkan?" tanya Handian.
"Ya..." jawab Firsi singkat.
Dan terjadilah hal yang tidak seharusnya mereka lakukan pada malam tersebut. Sesuatu yang tidak pernah Firsi lakukan sebelumnya. Baru pertama kali itu Firsi melakukannya dengan Handian. Padahal selama bersama Arshana, tak pernah sekali pun Arshan meminta hal lebih diluar batasnya.
Flassback Off
🥀
__ADS_1
🥀
🥀
Maira datang ke toko siang hari saat Zulfa pergi keluar. Dia sengaja datang jam segitu bukan untuk menemui Zulfa melainkan bertemu dengan Verko. Ia ingin menyampaikan sesuatu kepada Verko tentang perasaan Zulfa. Sebenarnya Maira tidak mau melakukan ini semua, tapi melihat Zulfa yang selalu merenung dan tidak fokus saat kuliah. Membuat Maira jadi tidak tega, dia pun turun tangan.
Siang itu kebetulan Zulfa keluar, jadi Maira bisa mengobrol dengam Verko leluasa. Tapi juga harus melihat kondisi takutnya Zulfa tiba-tiba datang begitu saja. Maira mengajak ke cafe sebelah yang jaraknya tidak jauh, terpisah dua ruko saja dari toko. Sebelum pergi, Maira sempat berpesan kepada bu Aida agar tidak berkata apapun kepada Zulfa.
Setelah sampai dicafe, Maira langsung berbicara apa adanya kepada Verko. Agar jelas dan tidak membuat dirinya kepikiran lagi. Karna Zulfa sekarang malah lebih banyak diam dari biasanya sejak pulang dari pasar malam saat itu.
"To the point saja ya kak. Sebenarnya aku ngajak kesini mau membicarakan soal Zulfa. Apa yang selama ini dipendam sama dia. Dan kakak pasti bertanya-tanya, kenapa selama ini Zulfa terlihat cuek dan acuh didepan kakak." ucap Maira serius.
"Memangnya ada apa dengan Zulfa? Apa yang membuat dia selalu menghindar kalau sama aku Maira? Kesalahan apa yang sudah aku perbuat?" tanya Verko sangat ingin tau alasan Zulfa selalu menghindarinya.
"Sebelum aku jelaskan, aku mau tanya dulu deh. Kakak sudah punya pacar belum?" Maira balik bertanya untuk memastikan.
"Aku mau tanya lagi, sekarang ada gak orang yang kakak suka? Maksudnya yang kak Verko cintai gitu" Maira tak mau berkata dahulu sebelum memastikan kalau Verko benar-benar tidak punya kekasih dan tidak ada yang dicintainya.
"Hmm.....Memangnya kenapa?" Verko tak menjawab dan malah balik bertanya.
"Pasti ada ya, sudah jelas dari pertanyaanku yang gak bisa kakak jawab." Verko terdiam sejenak, dia gak bisa kalau harus mengatakan tidak. Yang artinya nanti dia akan membohongi dirinya sendiri.
"Kak, sebenarnya Zulfa menghindar bukan karna ada kesalahan yang kakak perbuat. Tapi kakak tidak peka dengan perasaan Zulfa. Harusnya kakak bisa merasakan apa yang Zulfa rasakan. Dia itu suka sama kakak, apa kakak tidak menyadari hal itu?" papar Maira.
Sontak Verko terkejut bukan main mendengar penjelasan dari Maira. Verko sampai tidak bisa berkata apapun, mulutnya terdiam mencerna ucapan Maira barusan. Dia tak menyangka kalau Zulfa bisa mencintainya. Perasaan yang selama ini dipendam oleh Verko bisa terbalas. Verko memang suka dengan seseorang yaitu Zulfa. Selama bekerja bareng, Verko mulai menaruh hati dengan Zulfa. Tapi dia gak berani mengungkapkannya secara langsung.
Verko selalu merasa insecure dengan dirinya sendiri yang jauh berbeda dengan lelaki lain. Terutama dengan Rey yang notabennya dati keluarga orang kaya. Bisa dilihat oleh Verko bahwa Rey juga mencintai Zulfa. Itulah kenapa Verko selalu minder kalau mau menyatakan perasaanya.
__ADS_1
Setelah tau dari Maira kalau Zulfa juga mencintainya, Verko ada keberanian untuk menyatakan secara langaung kepada Zulfa. Bibirnya terangat membentuk senyuman yang bisa dilihat oleh Maira.
"Jadi gimana kak? Kalau perasaan kakak saja untuk......" belum Maira menyelesaikan perkataannya sudah disela oleh Verko.
"Untuk Zulfa......Cintaku hanya untuk dia Maira" mendengarnya Maira yang sekarang terkejut. Dia tak menyangka kalau Verko juga menyimpan perasaan yang sama.
"Jadi selama ini kalian saling mencintai dalam diam. Ya ampun......Berarti kalau aku gak mengatakannya sekarang sama kakak, cinta itu akan selamanya terpendam. Ck, kalian tidak ada yang mau mengutarakannya" Maira merasa senang juga kesal, lantaran selama ini Zulfa dan Verko ternyata saling mencintai tapi tidak ada yang berank mengungkapkan secara langsung.
"Aku merasa minder Mai kalau mau jujur kepada Zulfa. Tau sendiri aku bagaimana, gak sekaya dan setampan lelaki lain diluar sana. Apalagi ada Rey yang jauh lebih mapan dibandingkan diriku" Verko berkata apa adanya, alasan dia memendam perasaannya.
"Zulfa bukan perempuan yang selalu memandang fisik dan materi. Dia itu apa adanya, asalkan dirinya nyaman bersama orang tersebut. Nyatanya Zulfa lebih mencintai kamu kan dari pada Rey. Padahal Rey sudah pernah menyatakan cintanya, tapi ditolak sama Zulfa"
"Benarkah? Jadi malam itu Zulfa menolak cintanya Rey" Verko yang menyadari ucapannya langsung terdiam.
"Hah? Kamu kok tau kak kalau Zulfa sama Rey pernah......Ohh apa kamu membuntuti mereka ya" ujar Maira mengintimidasi. Verko yang tidak bisa mengelak pun mengiyakan.
"Iya, maaf karna aku penasaran. Tapi malam itu aku gak tau yang mereka bicarakan."
"Owalah, ya sudah sekarang kan kamu sudah tau apa yang ada dalam hati Zulfa. Dari pada diambil orang lain, mendingan buruan jujur deh. Jangan sampai menyes nantinya" saran Maira.
"Iya, aku akan mengungkapkannya sama Zulfa. Aku juga gak mau dia menjadi milik orang lain. Boncengan berdua sama Rey saja mataku sudah kepanasan" mendengar perkataan Verko membuat Maira tertawa karna merasa lucu saja.
"Haduh ya sudah deh aku pergi duluan kak. Mau balik. Nanti kalau ngajak Zulfa, pulangnya jangan kemaleman. Mentok jam sebelas deh, keburu pintunya aku kunci nanti" ujar Maira mengambil tasnya lalu berpamitan kepada Verko.
"Makasih Maira, berkat kamu, aku jadi tau sekarang" balas Verko.
"Oke santai saja. By kak" Maira pun pergi meninggalkan cafe. Ia tak berniat ke toko untuk mengampiri Zulfa, karna tadi Maira tak mengatakan apapun. Jadi ia pun langsung kembali pulang.
__ADS_1