
Bahkan sudah dari minggu lalu, Felix memperkenalkan Arganta sebagai anak kandungnya diperusahaan. Sehingga sekarang para staf tau kalau Daniel yang dulu adalah anak kandung dari pemilik perusahaan yang dinyatakan meninggal, tapi ternyata tidak. Mereka sekarang lebih menghormati Arganta sebagai pimpinan baru yang menggantikan Arshana.
Namun Felix meminta para karyawannya untuk menyembunyikan identitas asli Arganta. Karna dia tau bahwa musuhnya pasti akan mengincar keturunannya lagi agar tidak ada yang meneruskan perusahaannya. Jadi sekarang identitas Arganta masih disembunyikan. Kalau diperusahan dia sebagai pimpinan, kalau diluar dia tetap menjadi asisten.
Tapi pekerjaan Arga menjadi khuwalahan tanpa ada yang membantunya. Dia sudah mencari orang yang tepat untuk menjadi asistennya. Namun belum ada yang cocok sesuai syarat yang dia ajukan dan kompetensi yang dimiliki. Susah memang untuk mencari orang yang bisa dia percaya.
"Pokoknya gue gak mau! Nanti malah gue harus bagi waktu antara dimarkas dan ngurus kerjaan yang loh minta. Haduh bayanginnha aja udah repot apalagi kalau beneran. Mending loh cari yang lain deh, emang gak ada ya diperusahaan loh yang bisa dipercaya? Kan bisa ngangkat salah satu dari mereka." Marlin tetap tidak mau untuk menjadi asisten Arganta.
"Huufh, ya sudah deh. Loh kelarin dulu tugas yang gue kasih, kalau sudah kelar loh jadi asisten gue. Gak mau tau titik." tegas Arganta membuat Marlin melongo. Bagaimana bisa Arga menentukan pilihannya sendiri, lantaran Marlin tidak mau. Pemaksaan itu namanya, pikir Marlin.
"Enak aja maksa-maksa, pokoknya gue gak mau. Enak dimarkas gak pusing mikirin harus ngerjian tugas kantor yang numpuk-numpuk. Puyeng kepala gue. Kenapa gak nyari yang lain gitu." ujar Marlin kesal mendengar Arganta mengambil keputusan seenaknya.
"Belum ada yang cocok. Gue percaya sama loh, jadi mendingan loh aja. Kalau urusan markas bisa loh serahin sama Reyhan. Gue percaya sama dia dan kalau waktu loh renggang kan bisa juga pergi ke markas untuk ngecek mereka." ucap Arganta membuat Marlin berdecak kesal.
"Terserah loh deh, keras kepala banget. Persis kayak kakak loh, kalau sudah ngambil keputusan gak bisa diganggu." Marlin akhirnya mengalah dari pada terus berdebat. Toh memang Arganta keras kepala, kalau sudah ngambil keputusan gak bisa dirubah.
"Oke, nanti loh gue yang akan ngomong sama Reyhan biar dia yang ngurus markas dan besok loh ikut gue ke perusahaan. Sekalian langsung kerja." ucap Arga, semakin membuat Marlin tak percaya dengan keputusannya. Dia saja belum mempersiapkan apapun sudah disuruh masuk kerja saja.
Arganta percaya dengan kompetensi dan keahlian yang dimiliki oleh Marlin. Dia mempunyai pengalaman dalam dunia usaha. Jadi Arganta percaya kalau Marlin bisa. Karna sebelumnya Marlin juga pernah bekerja diperusahaan.
"Heh gue belum menyiapkan apapun udah nyuruh masuk kerja aja. Gue juga butuh persiapan, lusa lah kan bisa." sahut Marlin.
"Gak bisa!!. Kerjaan gue numpuk dan butuh bantuan loh. Gue percaya kok loh bisa. Pokoknya besok loh datang kesini jemput gue. Nanti ke perusahaan bareng gue aja." kata Arganta.
Kalau sudah begini Marlin hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan Arganta. Ditentang juga percuma yang ada Arga semakin kekeh. Marlin menghembuskan nafasnya kasar. Disisi lain dia juga gak masalah untuk menguji skill nya lagi. Sudah lama tidak bergelut didunia kerja. Terlalu lama mengurus markas.
"Ya sudah gue pulang deh. Besok gue jemput, percuma gue debat sama loh." ujar Marlin berdiri dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Oke." jawab Arga.
Marlin pun keluar dari ruangan Arganta. Tak lama Arganta juga menyusul keluar. Ia beranjak untuk menemui tuan Felix membicarakan soal keputusannya untuk menjadikan Marlin sebagai asisten.
Diruang tamu ada tuan Felix dan Yolanda. Sekalian Marlin pamiy kepada mereka untuk pulang. Setelah berpamitan ia pun keluar menuju mobilnya. Ia menyalakan mesin dan berlalu pergi meninggalkan rumah Arganta. Besok dia harus kembali untuk menjemput Arganta ke perusahaan.
...🥀🥀🥀...
Pagi menjelang, Verko dan Zulfa sudah terbangun dari tidur mereka. Zulfa sudah mandi duluan dan menyiapkan satapan untuk suaminya. Pagi ini sangat berbeda, biasanya dia bangun akan melihat Maira. Tapi sekarang ia terbangun melihat orang yang dia cintai sudah menjadi suaminya.
Semalam tidak terjadi apapun, Verko tau kalau Zulfa capek. Setelah makan, Verko meminta Zulfa agar segera istirahat. Zulfa tidak menolak karna memang tubuhnya terasa lelah. Disisi lain Verko juga punya alasan kenapa tidak segera meminta haknya. Ia mau melakukan penyatuan kalau Zulfa bisa menerima sisi aslinya. Agar Zulfa tidak merasa menyesal, walau Verko berhak meminta. Tapi ia menghargai Zulfa sebagai istri yanh dicintainya.
"Mas, kamu mandi dulu ya setelah itu sarapan bareng aku." ucap Zulfa saat melihat suaminya sudah terbangun.
"Iya aku mau mandi dulu." balas Verko berlalu ke kamar mandi.
Setelah makan, Zulfa mencuci semua piring dan menatanya kembali ke rak. Lalu ia pergi ke kamar untuk mengambil tas. Hari ini mereka tidak kerja, Cherly memberi cuti mereka tiga hari. Tapi Zulfa tidak mau lama-lama libur. Cukuo hari ini daja dan besok ia akan kembali bekerja bersama suaminya. Walau Verko sudah melarangnya bekerja, tapi Zulfa menolak. Sebab pengeliaran pasti banyak dan kalau pemasukannya sedikit maka kebutuha sehari-hari akan kurang. Jadi Zulfa meminta izin agar dibolehkan tetap bekerja.
Pada akhirnya Verko membolehkan, toh mereka kerja satu tempat yang sama. Hari ini Verko akan mengantar Zulfa untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, seperti bahan pokok, sayur dan perlengkapan mandi. Dan masih banyak yang harus mereka beli. Setelah siap Verko menutup pintu rusah sedang Zulfa menunggu disamping motor.
Verko siap menyalakan mesin dan Zulfa naik ke atas motor. Mereka pun berangkat ke supermarket yang dekat dengan rumah.
Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai. Verko memarkirkan motornya terlebih dahulu lalu menyusul Zulfa masuk ke dalam. Tak lupa ia mengambil keranjang untuk menaruh barang mereka. Satu per satu diambil oleh Zulfa, mulai dari perlengkapan rumah dahulu. Setelah itu mengambil bahan makanan. Satu keranjang dibawa oleh Verko dan satunya lagi dibawa oleh Zulfa.
"Kamu suka makan apa mas? Biar nanti aku bisa masakin makanan kesukaan kamu" tanya Zulfa belum tau makanan yang disukai oleh suaminya mangkanya dia tanya terlebih dahulu.
"Udang, aku suka itu. Dimasak apapun terserah kamu. Aku gak pandai mengolah, biasanya aku beli kalau pengen." jawab Verko, padahal bukan itu makanan kesukaannya. Tidak mungkin dia mengatakan makanan favoritnya yang asli. Bisa tercengang Zulfa mendengarnya.
__ADS_1
"Ya sudah aku ambil udang ini dua pak. Nanti aku masakin buat kamu. Kayaknya sudah deh ma, bayar yuk." kata Zulfa melihat-lihat barangkali ada yang masih terlupa. "Sudah nih gak ada yang ketinggalan. Bayar dulu deh mas," tambahnya.
"Baiklah, ayo dibawa ke kasir." Zulfa pun mengangguk. Mereka membawa barang belanjannya ke kasir.
Setelah dihitung dan dibayar, mereka membawa barang belanjaan ke motor. Verko menenteng dua kantong plastik. Merasa semua sudah, Zulfa mengajak Verko untuk kembali pulang. Ia tidak ada niat kemana pun hari ini. Jadi setelah dari supermarket, mereka memutuskan untuk pulang.
"Kamu tadi kenapa beli udangnya hanya dua? Gak sekalian beli untuk kamu?." tanya Verko mengingat tadi Zulfa hanya mengambil udang dua pak.
"Gak mas, aku alergi udang. Jadi gak bisa makan. Nanti kamu saja yang makan ya." balas Zulfa, Verko baru tau kalau istrinya alergi udang.
"Ohh gitu, ya sudah. Kalau makan dihati-hati." ucap Verko perhatian.
"Iya mas, tenang saja."
Verko pun mengangguk lalu mulai menjalankan motornya untuk kembali pulang. Sepanjang jalan Zulfa memeluk Verko. Tangannya mengunci ke depan, Verko yang sedang membawa motor tersenyum bahagia.
'Apakah kamu akan tetap menerimaku, andai kamu tau siapa diriku yang asli. Aku takut kamu pergi dari sisiku. Aku gak bisa hidup tanpamu, aku benar-benar takut kehilanganmu. Semoga kalau kamu tau yang sebenarnya, cintamu tidak akan berubah padaku Zulfa,' batin Verko.
...🥀🥀🥀...
...Hay readers 👋. ...
...Author mau beri tau ada typo dipart 42 antara kepercayaan Daniel dan Handian. Alino adalah kepercayaan Daniel bukan Handian. Author salah ketik 😖, bisa dibaca ulang dipart 42 agar kalian tidak bingung nantinya. ...
...Syukron guys, dukung author ya....
...See You All 👋...
__ADS_1