Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
31 #Menyimpan Rasa


__ADS_3

Ditoko Zulfa dan Verko melayani banyak pelanggan hari ini. Belum lagi pesanan yang harus diantarkan. Beruntung ada Cherly yang ke toko jadi bisa membantu. Sehingga Zulfa dan Verko bisa nganter pesanan tepat waktu. Selesai nganter pesanan, mereka langsung kembali ke toko.


"Mbak, ini uang dari pelanggan dan kata mbak Anin nanti uangnya ditransfer saja." ucap Zulfa setelah sampai ditoko, ia menyetorkan uang hasil dari pelanggan tadi.


"Iya, uangnya sudah masuk kok. Habis ini mbak mau pulang, besok kamu gak usah nganter dulu ke perusahaan Abhimarta. Kata Anin tadi, besok mau ada acara makan-makan, jadi dia gak pesan roti dulu" balas Cherly sambil menghitung uang yang ada dikasir.


"Ohh iya mbak, terus besok ada pesanan lain gak? Barangkali ada yang harus aku antar?" tanya Zulfa.


"Gak ada kok, jadi kamu besok jaga toko saja. Bu Aida mau izin sehari gak kerja. Kamu jaga sama Verko ya, mbak besok juga gak bisa kesini" ucap Cherly memberi pesan.


"Bu Aida mau izin?" tanya Zulfa kepada bu Aida.


"Iya neng, cuma sehari saja kok. Mau diajak anak ibu keluar besok, ada keperluan." jelas bu Aida.


"Gitu ya, baiklah bu." balas Zulfa.


"Eh besok kamu kuliah kan? Lalu Verko harus jaga toko sendiri dong paginya, apa gak khuwalahan?" Cherly baru ingat kalau sekarang Zulfa masuk kuliah pagi.


"Gak pa-pa mbak, aku bisa izin dulu, lagian tinggal skripsi saja kok. Gak perlu khawatir mbak" jawab Zulfa tersenyum.


"Owalah iya deh. Mbak baru ingat kalau kamu lagi ngerjain skripsi"


Ting.


Terdengar bunyi notifikasi dari ponsel Cherly. Saat dibuka ternyata pesan dari suaminya yang meminta Cherly untuk segera keluar toko. Sebab Hanif menunggu dimobil. Cherly pun membalasnya sejenak lalu berpamitan kepada bu Aida, Zulfa, dan Verko untuk segera pergi. Setelah itu ia kekuar dari toko untuk menemui suaminya yang sudah sampai untuk menjemput.


Tak lama setelah kepergian Cherly, datang lah Rey seperti biasa. Sudah lama Rey tidak mendatangi toko, baru kali ini dia kembali datang lagi. Setelah menemukan roti kesukaannya, dia pun membayar ke kasir dan tak lupa juga Rey membelikan untuk Zulfa setiap kali datang.


"Nih Fa buat kamu, jangan ditolak" ucap Rey memberikan paper back kepada Zulfa.


"Hmm kebiasaan kalau kesini pasti beliin aku. Ngapain sih, lagian aku juga bisa beli sendiri. Makasih loh" ujar Zulfa tetap menerima pemberian dari Rey untuk memghargainya.


"Iya sama-sama. Kan gak setiap hari aku kesini Fa, lagian sudah lama kan aku gak kesini. Masa iya aku kesini cuma beli buat diri sendiri. Harus bagi-bagi dong" balas Rey.


"Bagi-bagi nya sama neng Zulfa saja nak Rey. Itumah berbagi sama teman sendiri" sahut bu Aida membuat Rey tersenyum malu. Tanpa ragu dia pun mengambil roti yang sama lalu diberikan kepada bu Aida agar tidak disangkanya dia hanya memberi kepada Zulfa. Tapi emang kenyataannya begitu.


"Nih bu Aida, biar samaan kayak Zulfa. Dimakan ya bu jangan sampai enggak" ucap Rey, kali ini bu Aida yang merasa gak enak dengan Rey. Karna tadi dia hanya bercanda saja untuk menggoda Rey.

__ADS_1


"Ya ampun nak, tadi ibu cuma bercanda saja kok malah dibuat serius. Ini beneran buat ibu?"


"Iya buat bu Aida. Harus dimakan loh kan sudah saya kasih" ujar Rey sambil tersenyum.


"Makasih nak Rey, jadi ngerepotin deh"


"Sama-sama, gak ngerepotin bu" Rey pun mengalihkan pandangan kepada Verko yang baru saja keluar dari belakang membawa keranjang. Ia baru pertama kali melihat Verko, karna memang Rey sudah lama gak main ke toko.


"Itu karyawan baru Fa?" tanya Rey sambil melihat ke arah Verko yang sedang merapikan roti yang ada dikeranjang ke dalam rak.


"Lah kamu ketinggalan, gak pernah kesini sih. Dia mah sudah dari minggu-minggu lalu, sebelum aku skripsi malah. Sejak aku mutusin ambil kuliah pagi. Itulah alasanku, karna kalau pagi sudah ada Verko yang bantuin bu Aida." papar Zulfa.


"Ooh namanya Verko" ujar Rey mendengar Zulfa menyebit nama Verko tadi.


"Iya....." Rey hanya manggut-manggut saja.


Sementara Verko yang masih bisa mendengar percakapan mereka walau pun jauh, bertanya-tanya dalam hati. Siapakah lelaki yang bersama dengan Zulfa, karna mereka terlihat akrab sekali. Bahkan Zulfa terlihat tersenyum dan tertawa mengobrol dengan Rey.


'Dia siapanya Zulfa ya? Apa pacarnya? Tapi kok Zulfa gak pernah diantar jemput dan gak pernah bahas pacarnya. Mereka akrab sekali' batin Verko sambil merapikan rak.


"Aah kalau emang pacarnya ya gak pa-pa lah. Lagian aku siapanya? Hanya partner kerja, sudah lah aku beres-beres saja" gumam Verko lalu pergi ke belakang agar tak melihat Zulfa bercanda riang dengan Rey. Entah kenapa Verko berasa terbakar api cemburu melihat Zulfa dekat dengan Rey.


"Iya lah sendiri seperti biasa, emangnya kenapa?" tanya balik Zulfa.


"Mau aku jemput gak? Berhubung nanti aku gak ngapa-ngapain" tawar Rey, tapi Zulfa menolak katna merasa tidak enak dengan Rey. Padahal yang Rey inginkan adalah dekat dengan Zulfa.


"Gak usah Rey, aku bisa pulang sendiri kok. Nanti malah ngerepotin kamu" balas Zulfa.


"Gak ngerepotin Fa, sekalian aku mau ngajak kamu keluar. Ada yang ingin aku sampaikan" Zulfa memikirkan lagi mau atau tidak. Setelah mendengar kalau ada yang ingin disampaikan oleh Rey, Zulfa pun mengiyakan ajakan Rey untuk keluar.


Kalau pun dia kembali pasti juga sendirian diasrama. Lantaran Maira kembali ke rumahnya, jadi sudah pasti Zulfa akan sendirian diasrama. Sudah tiga hari ini Zulfa tinggal sendiri, karna orang tua Maira memintanya untuk balik ke rumah. Sehingga Zulfa hanya bertemu Maira saat kuliah saja.


"Baiklah, nanti jemput saja seperti biasa jam tutup toko." ucap Zulfa.


"Oke....lima menit sebelum kamu pulang, aku sudah sampai disini" ujar Rey senang mendengar Zulfa mau dijemput olehnya.


Zulfa hanya tersenyum menanggapi ucapan Rey. Ia penasaran apa yang akan Rey katakan kepadanya, apakah sepenting itu? Atau Rey hanya ingin mengajaknya keluar saja?.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari ada orang lain yang mendengar percakapan mereka selain bu Aida. Dibalik pintu menuju ruang belakang, Verko menguping pembicaraan Zulfa dan Rey. Dia penasaran dan berniat untuk mengikuti Zulfa nanti.


...*****...


Malam pun tiba, Zulfa sudah bersiap unthk menutup toko bersama bu Aida dan Verko. Disana juga sudah ada Rey yang datang tepat waktu untuk menjemput Zulfa seperti yang tadi siang dia katakan. Selesai toko ditutup, Zulfa pun pamit dengan bu Aida dan Verko untuk duluan. Lalu Rey menyalakan motor spornya dan Zulfa pun naik ke atas motor. Mereka pun pergi bersama.


Sampai tiba didepan restoran yang mewah. Rey memarkirkan motornya dan Zulfa pun turun. Ia melihat ke sekeliling restoran tersebut yang tampak mewah. Ia bertanya-tanya dalam hati, kenapa Rey mengajaknya kesana. Restoran tersebut pernah dikunjungi oleh Zulfa sekali saat masih tinggal dirumah. Yang artinya sebelum dia kuliah. Sudah lama sekali memang.


"Kamu kenapa ngajak aku kesini Rey?" tanya Zulfa bingung.


"Untuk apa? Ya makanlah, pasti kamu belum makan kan. Ayo masuk" ajak Rey jalan duluan. Mau gak mau Zulfa pun mengikuti arah jalan Rey sampai didepan meja yang memang sudah dipesan sebelumnya oleh Rey.


"Duduklah.." ucap Rey menarik satu kursi untuk diduduki oleh Zulfa.


"Kamu kenapa ngajak aku makan direstoran sini. Inikan restoran mewah, pasti mahal" ujar Zulfa.


"Haduh Zulfa, emangnya kenapa sih. Lagian kalau mahal kenapa? Bukannya dulu kamu pernah makan disini?" ucap Rey hanya menanggapi dengan senyuman.


Tak lama datanglah dua orang pelayan membawakan pesanan yang sudah dipesan oleh Rey sebelumnya. Dua stik dan dua moccacino. Zulfa bengong sejenak, ia berpikir kapan Rey memesan itu semua. Memang rata-rata orang yang datang ke restoran tersebut sudah memesan sebelumnya agar bisa mendapatkan tempat yang sesuai. Tapi Zulfa gak habis pikir kalau Rey juga sudah memesan makanan yang merupaka favoritnya.


"Kamu sudah nyiapin ini sebelumnya Rey? Untuk apa? Dan tau dari mana kamu kalau aku suka dengan stik?" tanya Zulfa terheran-heran.


"Kepo banget deh......Sudah makan saja, gak perlu banyak tanya." balas Rey tersenyum.


"Katanya ada yang mau kamu katakan?" pertanyaan laun diajukan oleh Zulfa, karna Rey tak mau menjawab pertanyaan yang sebelumnya.


"Nanti setelah makan, gak baik bukan makan sambil bicara. Apa lagi sudah dihidangkan" jawab Rey, lagi-lagi Zulfa pun terdiam dan memilih untuk menyantap makanan yang sudah dihidangkan.


'Hmm ternyata rasanya gak berubah tetap enak. Lama sekali aku gak kesini, terakhir sama papa. Kapan aku bisa kesini lagi bareng papa' batin Zulfa dalam hati mengingat kembali masa lalunya bersama ayahnya.


Setelah selesai makan dan semua sudah diberesi. Zulfa pun kembali mempertanyakan apa yang ingin dikatakan oleh Rey. Dilihat dari sikap dan perilaku Rey, ada hal yang penting sekali.


"Apa yang ingin kamu katakan Rey?" tanya Zulfa.


"Huufh...." Rey menarik nafas panjang untuk menghilangkan rasa gugup dalam hatinya. "Aku ingin mengatakan hal jujur kepadamu Zulfa. Sesuatu yang sudah aku simpan dan aku pendam lama. Jujur saat awal aku bertemu denganmu, hatiku tertarik sama kamu Zulfa. Aku mencintai kamu" ucap Rey membuat Zulfa terkejut sampai gak bisa berkata apapun.


"Apakah kamu mau jadi pacarku?" kai ini pertanyaan Rey membuat Zulfa semakin terkejut. Dia tak menyangka kalau selama ini Rey menyimlan perasaan terhadapnya. Zulfa kira kebaikan dan perhatian Rey itu hanya sekedar yaa sebagai teman. Ternyata pikiran Zulfa salah, tanpa disadari Rey malah menyimpan rasa suka padanya.

__ADS_1


"Zulfa.....?"


__ADS_2