
Mobil Arshana sudah terparkir ditempatnya. Dia pun menggandeng Zulfa masuk, sebelumnya Arshana sudah janjian dengan Dokter Arsyi. Sehingga mereka tinggal masuk, tidak perlu menunggu lama. Dokter Arsyi menyambut mereka dengan senyuman.
"Mari Tuan, Nona, ikut saya," ucap Dokter Arsyi. Mereka mengikuti Dokter Arsyi keruangan lain yang ternyata masih satu ruangan. "Anda bisa berbaring disini Nona," katanya.
Zulfa nenurut dan membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Dokter Arsyi mulai mengaktifkan alat USG dan mengoleskan gel khusus dibagian perut Zulfa. Lalu alat USG diletakkan diperut Zulfa dan mencari titik keberadaan janin yang ada dalam perutnya.
"Tuan dan Nona bisa melihat layar disana ada titik kecil. Nah ini adalah janin Nona yang masih berupa embrio, kecil memang," ucap Dokter Arsyi menjelaskan sambil mengamati.
Arshana dan Zulfa melihat itu merasa terharu. Tak terasa mereka akan segera punya anak. Tangan Zulfa tidak berhenti mengusap air mata yang lolos dengan sendirinya tanpa bisa dia cegah. Tangan satunya digenggam oleh Arshana.
"Mas, itu anak kita," ucap Zulfa bahagia.
"Iya, Sayang. Kita akan segera punya anak," balas Arshana sambil mengecup punggung tangan Zulfa, walau disana ada Dokter Arsyi. Arshana tak merasa canggung.
"Apakah bisa dilihat jenis kelaminnya, Dok?" tanya Zulfa penasaran.
"Bisa Nona. Tapi untuk sekarang belum bisa diketahui, jenis kelamin akan terlihat kalau usia kandungan nona memasuki enam belas minggu atau empat bulan," jelas Dokter Arsyi.
Setelah pemeriksaan selesai, Zulfa dibantu oleh Arshana untuk turun. Lalu mereka kembali keruangan depan tadi dan duduk dikursi yang berhadapan langsung dengan Dokter Arsyi.
"Kandungan Anda baik Nona, semuanya bagus. Tuan, istri Anda tidak boleh mengalami stres dan konsumsi makanan bergizi untuk tumbuh kembang janinnya agar baik," teranh Dokter Arsyi sambil.
"Iya Dok," jawab Arshana.
"Apa yang sekarang Nona rasakan?" tanya Dokter Arsyi kepada Zulfa.
"Hm mual sedikit Dok, tapi tidak sampai yang mual banget gitu. Kalau pusing sudah tidak, Dok," balas Zulfa.
"Baiklah, Saya akan meresepkan vitamin dan obat untuk meredakan rasa mual," kata Dokter Arsyi lalu dia memberikan buku berwarna merah muda yang harus dibawa oleh Zulfa setiap cek up.
Pemeriksaan sudah selesak dan Dokter Arsyi juga sudah menjelaskan semuanya. Namun masih ada yang mengganjal bagi Arshana, sedari tadi ia ingin bertanya. Tapi enggan segera diucapkan. Sampai pada akhirnya dia tanyakan juga. Karna baginya itu penting dan harus.
"Apakah ada yang Tuan dan Nona tanyakan lagi?"
"Hm apakah kami masih bisa melakukan hubungan suami istri, Dok? Apakah boleh?" Pertanyaan Arshana membuat Zulfa menoleh karna malu dengan Dokter Arsyi.
Zulfa mempelototi Arshana menahan malu. Pertanyaan itu menurutnya tidak harus ditanyakan. Dokter Arsyi hanya tersenyum mendengar pertanyaan Arshana. Mungkin karna sudah sering mendapat pertanyaan yang serupa dari pasangan yang baru akan mempunyai anak atau orang awam yang tidak mengerti tentang itu.
"Boleh Tuan. Asalkan pelan-pelan saja, karna kandungan Nona masih tremester pertama sangat rentan sekali," terang Dokter Arsyi.
__ADS_1
Sekarang Arshana sudah tau jawabannya. Zulfa hanya tersenyum saja mendengar jawaban Dokter Arsyi. Lalu mereka pun keluar dari ruangan Dokter Arsyi untuk menebus obat dibagian farmasi. Zulfa pun menunggu dikursi yang disediakan, sedangkan Arshana meletakkan resepnya ditempat yang disediakan. Dia pun kembali duduk disamping istrinya sambil menunggu panggilan.
"Kamu mau makan sesuatu gak sayang?" tanya Arshana.
"Enggak deh, Mas. Aku gak pengen apapun," jawab Zulfa lalu menyandarkan kepalanya dibahu Arshan.
Ting.
Ada notif masuk keponsel Arshana. Dia pun segera membukanya dan melihat bahwa pesan tersebut dari Arganta.
("Gue udah tau siapa yang meneror istri loh. Pending dulu ke rumah mertua loh, sangat bahaya kalau sampai loh kesana. Mendingan antar Zulfa balik ke Mansion. Lalu loh pergi ke markas, gue tunggu.")
("Loh harus segera balik, ada yang mengintai pergerakan loh dan Zulfa. Gue sudah menyuruh pengawal untuk mengikuti mobil loh nanti, cepat kembali.")
Begitulah isi pesan dari Arganta. Arshana mengernyit membaca pesan dari adiknya. Lalu dia menoleh kesamping, melihat wajah Zulfa yang sedang bersandar dibahunya. Bagaimana caranya dia harus mengatakan kepada istrinya untuk tidak pergi kerumah orang tuanya. Pasti Zulfa akan bertanya alasan dan akan sedih tentunya.
Tapi memikirkan isi pesan dari Arganta membuat hati Arshana juga was-was. Apa maksud Arganta bahaya? Itulah yang sekarang dipikirkan Arshana. Apalagi dia tak membawa pengawal satu pun. Arshana takut akan mengancam keselamatan istrinya.
"Sayang?" panggil Arshana.
Lalu Zulfa mengangkat kepalanya dan menoleh ke suaminya. "Iya Mas, kenapa?" tanya Zulfa.
"Besok saja ya kerumah Papa, aku ada keperluan mendesak yang gak bisa aku tinggalkan. Kamu juga harus istirahat dulu, kelihatannya kamu capek banget," ucap Arshana, dia berharap Zulfa tak marah dan mengerti.
"Masih ada waktu besok sayang, urusannya ini sangat penting gak bisa aku tinggalkan. Maaf ya Sayang." Arshana terpaksa melakukan itu demi keselamatan istrinya. Dia belum tau kejadian apa nanti yang akan mengancam mereka berdua.
"Hmm ya sudah lah Mas," dengan wajah pasrah Zulfa mengiyakan, walau dalam hatinya dia ingin sekali berkunjung kerumah ayahnya.
"Jangan cemberut gitu dong, besok aku pasti akan antar kok. Jangan ngambek ya sayang." Arshana takut istrinya akan ngambek melihat wajahnya yang berbeda.
"Gak, Mas. Aku tau kamu banyak kesibukan," jawab Zulfa sambil tersenyum paksa.
'Maaf Sayang, ini demi keselamatan kamu dan calon anak kita. Aku gak tau siapa lagi yang mencari masalah denganku.' batin Arshana sambil mengelus lembut rambut Zulfa.
Tak lama nama Zulfa dipanggil, Arshana segera bangkit dan mengambil obatnya. Lalu mereka pergi dari sana, Arshana sambil waspada dengan sekelilingnya. Takut ada seseorang yang berniat jahat. Setelah tadi membaca pesan dari Arganta kalau ada orang yang mengintai mereka.
"Permisi Tuan," seorang pria memakai baju hitam datang menyapa Arshana.
"Kalian disuruh Arganta kesini?" tebak Arshana.
__ADS_1
"Iya Tuan muda, Tuan muda Arganta menyuruh kami mengawal Anda dan Nona," jelas pria yang bekerja sebagai pengawal keluarga Abhimarta.
"Hm, Saya mau pulang," ucap Arshan.
"Baik Tuan. Saya akan mengawal Anda dari belakang," katanya.
Zulfa merasa heran melihat pengawal datang secara tiba-tiba. Padahal tadi mereka hanya berdua saja. Dan kenapa harus adik iparnya yang menyuruh pengawalnya datang. Zulfa merasa ada yang ganjal dan ada yang disembunyikan oleh suaminya.
Arshana pun menggandeng Zulfa masuk kedalam mobil. Rasa penasaran Zulfa semakin besar, dia paling gak bisa kalau diam begini.
"Kenapa Arganta meminta para pengawal untuk menemani kita, Mas?" tanya Zulfa menyelidik.
Tatapan Arshana masih fokus menyetir. "Gak apa-apa, Sayang," jawab Arshana.
Jawaban tersebut tak membuat Zulfa puas. Tidak mungkin gak ada apa-apa, kenapa juga harus Arganta yang menyuruh. Kalau memang untuk mengawalnya, kenapa baru sekarang saat dirinya sudah mau pulang. Dan tadi Arshana juga mengatakan ada kepentingan mendadak. Sampai gak bisa mengantarkan dia kerumah ayahnya.
"Jawabanmu gak meyakinkan, Mas. Kenapa harus Arganta yang minta mereka dan kenapa juga gak dari tadi saja saat kita berangkat," ujar Zulfa menatap kedepan sambil menyandarkan kepalanya.
"Memang salah kalau untuk mengawal saja? Mungkin Arganta khawatir, kamu taulah sayang. Lingkunganku bukanlah orang-orang biasa, pasti banyak musuh yang ingin menjatuhkan suamimu ini. Lupa dengan peristiwa yang menimpa Mas sebelum kenal kamu?" terang Arshana meyakinkan.
Zulfa teringat kembali dengan cerita suaminya sebelum kenal dia. Sampai harus menyamar untuk menghilangkan jejak. Tak hanya suaminya yang menceritakan itu, ada Bu Aida dan Brima yang menolong Arshana. Zulfa pun mengangguk percaya, dia tak mau mempermasalahkannya lagi.
"Iya Mas." Zulfa pun diam sambil berpikir kembali. Walau hatinya masih merasakan hal yang ganjal.
...*****...
Markas King Black.
Arganta sedang menunggu kedatangan kakaknya. Didepannya sudah ada layar laptop yang menyala. Tak hanya dia disana, ada Alino, Marlin, dan Reyhan. Mereka semua stay melihat kearah laptop. Rasa jijik menjalar dengan apa yang mereka lihat dilayar laptop. Arganta tersenyum miring melihatnya.
"B*doh! Mereka sangat b*doh sekali. Ingin memberi kejutan, tapi sekarang mereka yang akan menerima kejutan dariku! Berani sekali mengganggu keluargaku, tak akan aku biarkan mereka lolos! Wanita ini sudah dibiarkan malah ngelunjak!" ucap Arganta dengan nada ketus.
Tak berselang lama, Arshana sudah tiba dimarkas setelah tadi mengantarkan Zulfa pulang sebentar. Walau dia harus mendapat berbagai pertanyaan dari Yolanda, alasan tidak jadi kerumah mertuanya. Lalu dia langsung meluncur kemarkas sesuai permintaan Arganta.
"Kenapa loh tadi ngirim pesan bahaya kepadaku?" tanya Arshana dengan wajah serius.
"Kalau ingin tau lihat kesini!" Arganta mengarahkan layar laptop kepada Arshana.
Arshana mengernyit heran tapi tetap mengamati yang ada dilayar laptop. Seketika matanya melotot tajam, tangannya terkepal kuat, dan video selanjutnya membuat Arshana merasa jijik.
__ADS_1
"Siapa pria br*ngsek ini? Gue gak pernah kenal dengan dia dan bahkan gak ada kerja sama bisnis dengannya!" kata Arshana.
"Dia memang gak ada kerjasama dengan perusahaan kita. Tapi orang tuanya ada! Semua identitasnya sudahku dapatkan. Mereka berniat menghabisi nyawa istrimu, maka dari itu loh harus hati-hati. Apalagi Zulfa sedang hamil sekarang!" sahut Arganta mengambil alih laptopnya lalu mencari sesuatu disana.