Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
59 #Kembali Sadar


__ADS_3

"Astaga bu, aku sampai tidak mengenalinya. Ya aku tau betul siapa dia. Dikalangan bisnis namanya pasti sudah dikenali. Diakan seorang presdir dari keluarga konglomerat Abhimarta. Aku gak nyangka bisa bertemu dengannya. Terus kita harus apa bu?." tanya Brima kepada ibunya.


"Mengikuti apa yang dia minta nak, pasti sekarang nyawanya sedang diincar. Kalau gitu kita sembunyikan dulu identitas aslinya. Kamu daftarin tuan muda pakai nama palsu saja. Terserah namanya siapa. Jangan sampai orang tau." jawab Bu Aida.


"Terus gimana dengan keluarganya bu? Pasti mereka sekarang sedang mencarinya."


"Asal kamu tutup mulut semuanya akan baik-baik saja. Yang terpenting sekarang adalah menyembunyikan identitas aslinya. Kalau masalah keluarganya biarkan dulu. Kan dia sendiri yang meminta kamu untuk tutup mulut. Sudah diamlah nanti banyak orang dengar."


Tak lama pintu IGD terbuka, dokter kembali menjelaskan kepada Brima dan Bu Aida tentang kondisi Arshana sekarang. Dia sedang tidak baik-baik saja, nyawanya dipertaruhhkan.


"Gimana dok dengan kondisi anak saya?." ucap Bu Aida tiba-tiba membuat Brima terkejut sejenak lalu ia sadar kalau ibunya pasti sedang menjalankan peran.


"Maaf bu, anak anda kondisinya kritis dan koma. Benturan keras dikepalanya tidak main-main, dia juga butuh transfusi darah sebanyak tiga kantong karna putra anda sudah mengeluarkan banyak darah. Kebetulan disini ada stoknya jadi anda tidak perlu resah akan hal itu. Untuk mengetahui lebih dalam, kami akan melakukan foto ronsen kepada putra anda. Saya takut nanti terdapat pendarahan serius dikepalanya dan bagian anggota tubuh lain. Kami akan memindahkan putra anda ke ruang ICU. Dan kami juga belum bisa memastikan kapan putra anda bisa tersadar kembali." jelas dokter membuat Bu Aida maupun Brima saling pandang dan merasa cemas dengan keadaan Arshana.


"Baiklah dok, lakukan yang terbaik untuk anak saya." jawab Bu Aida.


"Kalau begitu boleh anda mengisi data pasien terlebih dahulu." kata dokter tersebut.


"Iya dok."


Setelah itu Brima pergi ke bagian recepsionis untuk mengisi data Arshana. Ia memasukkan nama palsu dengan sebutan Verko Lhasian. Dengan begitu tidak ada yang tau jati diri asli Arshana. Selesai mengisi, Brima kembali ke ibunya yang sekarang berada didepan ruang ICU.


"Bu, Biaya rumah sakitnya bagaimana? Pasti akan banyak, aku memang punya tabungan tapi akan terkuras habis untuk membiayai rumah sakit. Dan kita tidak tau kapan sadarnya dia. Setau aku orang yang koma bakalan lama siumannya. Gimana dong bu." ucap Brima lesu.


"Kalau kamu keberatan, pakai tabungan ibu saja gak pa-pa. Nanti biar ibu ambil dirumah, kamu...... "


"Gak usah bu, biar tabungan Brima aja. Ibu simpan uangnya, barangkali nanti juga dibutuhkan." sahut Brima dengan cepat, ia tak mau tabungan ibunya habis dengan sekejab.


"Ya sudah kalau gitu." jawab Bu Aida.


...*****...

__ADS_1


Hari demi hari telah dilewati, namun Arshana tak menunjukkan respon apapun. Ia masih sama, terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit dengan berbagai alat medis yang menempel ditubuhnya. Setiap hari Brima selalu datang ke rumah sakit untuk menjenguk Arshana dan menanyakan kondisinya kepada dokter. Jawaban yang sama selalu ia dengar, Arshana belum menunjukkan perkembangan apapun.


Sekarang ia sudah berada dirumah sakit lagi. Tentu dia kesana untuk melihat Arshana sudah empat minggu ini dirinya bolak balik ke rumah sakit. Bu Aida juga terkadang datang berkunjung, namun tak setiap hari. Brima berjalan menuju ruangan dokter, setelah dari ruang ICU. tadi salah satu suster menyuruhnya untuk keruangan dokter. Ia pun pergi kesana, penasaran dengan apa yang akan dikatakan dokter nantinya.


Sesampainya didepan pintu, Brima mengetuknya terlebih dahulu lalu ia pun masuk ke dalam. Dan melihat hanya ada dokter pria yang sekalu menanngani Arshana. Setelah dipersilahkan duduk, Brima pun menyeret kursi yang ada didepan meja dokter tersebut.


"Bagaimana dengan kondisi kakak saya dok? Apakah ada perkembangan baru?." tanya Brima berharap dokter tersebut bisa memberinya kabar gembira.


"Kondisi kakak anda mulai membaik, dia sudah lepas dari masa kritisnya. Tapi saya belum bisa memastikan kapan pasien akan siuman kembali. Kamu berdoa saja, kami akan memantau kondisinya setiap saat." jelas dokter tersebut membuat Brima bisa bernafas lega walau pun Arshana belum siuman setidaknya kondisi dia bisa membaik dan bisa melewati masa kritisnya.


"Syukurlah dok, saya berharap kak Verko bisa cepat sadar." jawab Brima tersenyum senang.


Dokter itupun mengangguk. "Kalau begitu saya permisi dulu dok." ucap Brima ingin segera mengabarkan hal tersebut kepada ibunya.


"Iya silahkan." setelah mendapat jawaban dari dokter tersebut, Brima pun pergi dari ruangan dan duduk sejenak untuk memberi kabar ibunya.


"Hallo bu, kata dokter tuan muda sudah melewati masa kritisnya dan sekarang keadaan dia mulai membaik, tapi dokter gak tau kapan dia bisa sadar kembali." ucap Brima menjelaskan.


"Baik bu, nanti Brima jemput. Sudah dulu ya bu, aku matikan telfonnya."


📱"Iya nak."


Panggilan pun berakhir, Brima pergi keluar dari rumah sakit menuju tempat parkiran motor. Ia mengambil motornya untuk segera pulang, tadi ibunya minta dijemput biar gak menunggu ia pun lebih memilih pulang duluan. Masih ada waktu dua jam untuk ibunya selesai dari toko.


Setelah pulang dan menunggu ibunya dirumah selama dua jam, Brima kembali ke rumah sakit bersama Bu Aida untuk melihat kondisi Arshana sesuai kemauan ibunya. Sampai didepan rumah sakit, Brima terlebih dahulu memarkirkan motornya dan berjalan beriringan dengan Bu Aida menuju ruang ICU tempat Arshana dirawat.


Sebelum masuk terlebih dahulu Bu Aida memakai baju khusus baru ia boleh masuk ke dalam ruangan. Brima hanya menunggu diluar saja, tadi dia sudah melihat kondisi Arshana. Sekatang giliran ibunya, begitulah tiap hari dirinya harus bolak balik. Tapi tak apa bagi Brima apa salahnya menolong sesama. Dia juga mengkhawatirkan kondisi Arshana kalau sampai waktu itu dia benar memberi tau keluarganya. Walau tabungannya harus terkuras habis ditambah dengan tabungan ibunya. Bu Aida juga tak keberatan memberikan tabungannya untuk membiayai rumah sakit Arshana.


Didalam ruang ICU Bu Aida mengajak ngobrol Arshana yang masih terpejam. Begitulah setiap dia berkunjung berharap Arshana bisa mendengar suaranya.


"Tuan muda, ini saya Bu Aida, saya datang kembali. Tuan muda apa kabar? Cepatlah sadar agar tuan muda bisa kembali untuk menuntaskan keinginan tuan muda. Keluarga anda juga pasti sedih merasa kehilangan sosok anak yang mereka sayangi." ucap Bu Aida berbisik ditelinga Arshana agar bisa mendengar suaranya.

__ADS_1


"Saya tidak tau apa tujuan tuan muda meminta anak saya untuk menyembunyikan ini semua. Tapi yang saya tau, pasti anda punya tujuan lain. Maka cepat sadarlah agar tujuan anda bisa terlaksana." tambah Bu Aida tersenyum ke arah Arshana.


Tak disangka oleh Bu Iada, saat ia hendak pamit untuk pulang. Tiba-tiba matanya menangkap jari jemari Arshana bergerak. Ia memastikan kembali kalau penglihatannya tidak salah. Dan benar saja pergerakan tangan Arshana makin terlihat. Ia pun memanggilkan dokter untuk memeriksa keadaan Arshana. Tak lama dokter datang atas panggilan Bu Aida tadi. Namun Bu Aida harus keluar dulu agar dokter bisa memeriksa keadaan Arshana.


Diluar Brima dan Bu Aida menunggu dokter untuk keluar. Mereka menunggu dengan cemas, sampai pintu ruang ICU terbuka. Bu Aida segera berdiri dari duduknya lalu menghampiri doktee yang baru saja keluar.


"Bagimana keadaan Verko dok?." tanya Bu Aida cemas.


"Putra anda baik-baik saja, dia sudah sadar dari komanya. Dan sekarang pasien ingin menemui anda." jelas dokter membuat Bu Aida maupun Brima bisa bernafas lega dan bahagia mendengar kabar Arshana sudah siuman.


"Apakah saya boleh ikut masuk juga dok?." tanya Brima.


"Silahkan." jawab sang dokter mempersilahkan keduaya untuk masuk.


Didalam Arshana benar-benar sudah siuman. Bu Aida bisa bernafas lega dan menatap haru pada Arshana. Walau dia bukan anaknya, tapi Bu Aida sudah menganggap Arshana sebagai anak kandungnya sendiri.


"Akhirnya tuan muda bisa sadar kembali. Saya senang melihat tuan muda." ucap Bu Aida sesampainya didalam ruangan.


"Berapa lama saya ada disini?." tanya Arshana lirih.


"Satu bulan anda koma." sahut Brima yang ada dibelakang ibunya.


"Keluargaku?." seolah tau Brima langsung menjawabnya.


"Anda tenang saja, tidak ada yang tau identitas asli anda tuan. Jadi anda masih aman, keluarga anda menganggap anda sudah tiada, karna kecelakaan yang anda alami. Saya tidak tau siapa yang mereka anggap tiada, sedangkan anda sendiri ada disini."


Brima memang mencari tau tentang keluarga Arshana selama dia koma. Dan Brima mendapatkan informasi kalau keluarga Abhimarta menganggap Arshana sudah meninggal. Yang diherankan oleh Brima adalah kenapa bisa keluarganya menganggap Arshana sudah meninghal, sedangkan dia saja ada dirumah sakit.


Arshana tertegun mendengar ucapan Brima barusan. Ia berpikir kembali kenapa keluarganya bisa menganggap dia tiada. Bentar....


Arshana baru ingat kalau saat dia kecelakaan mobilnya menabrak seorang pemuda dan terseret bersama mobil dia. Apakah pemuda itu yang dianggap keluarganya adalah dia. Tapi kok mereka gak mengenali wajah Arshana. Aahh ya saat itu mobilnya meledam mungkin pemuda tersebut ikut terbakar. Pikir Arshana.

__ADS_1


__ADS_2