
Sampai di Mansion, Arshana dan Zulfa langsung turun. Mereka masuk bersamaan, Zulfa sepanjang jalan pulang hanya diam saja. Dia merasakan kepalanya pusing, tapi Zulfa gak bilang sama Arshana agar tak membuat suaminya khawatir.
"Kami kenapa sayang?" tanya Arshana saat melihat Zulfa terdiam sejenak sampai diruang tamu.
"Kepalaku pusing mas," jawab Zulfa pada akhirnya jujur.
"Ayo ke kamar kalau gitu, kamu istirahat ya. Nanti aku panggil dokter kesini biar periksa keadaan kamu." Arshana menggandeng Zulfa ke lantai atas.
"Arshan, Zulfa, kalian baru pulang?" tanya Kakek Abhi.
"Iya Kek, nemenin Zulfa ini loh. Kakek mau kemana?" tanya Arshana.
"Gak kemana-mana, istrimu kenapa?" tanyanya.
"Kepalanya pusing, Kek. Aku mau bawa ke kamar," jawab Arshana sambil merangkul pinggang Zulfa.
Baru saja Kakek Abhi mau menjawab perkataan Arshana. Zulfa yang dipegang oleh Arshana malah pingsan, seketika dia terkejut. Kakek Abhi pun juga ikut kaget melihat cucu menantunya pingsan. Arshana dengan sigap menggendong Zulfa ke kamarnya. Setelah itu dia menelfon dokter pribadi keluarganya untuk datang ke rumah.
Dari kemarin pun Zulfa sudah mengeluh gak enak badan. Tapi tadi malah ngotot minta pergi ke perusahaan. Harusnya dibuat istirahat bukan malah pergi keluar. Yolanda turut masuk ke kamar Arshana tanpa minta izin, ia menyelonong begitu saja saat mendengar dari Bi Tarmi kalau Zulfa pingsan.
"Zulfa kenapa Arshan? Kok bisa pingsan begini," ujar Yolanda dengan wajah cemas duduk disamping Zulfa.
"Aku juga gak tau, Ma. Tadi dia mengeluh kepalanya pusing, terus aku mau ajak ke kamar. Tapi malah dia sudah pingsan duluan," jawab Arshana.
"Tenanglah Yolan, dokter akan segera kesini untuk memeriksa Zulfa. Arshan tadi sudah menelfonnya," sahut Kakek Abhi yang terduduk diujung ranjang.
Tak berselang lama dokter wanita datang setelah tadi ditelfon oleh Arshana. Dia Dokter Arsyi, entah kenapa Arshana malah memanggil Dokter Arsyi padahal Dokter pribadi keluarganya adalah Dokter Hanan. Ternyata tadi Arshana menelfon Dokter Hanan agar didatangkan dokter wanita kerumahnya. Ada alasan Arshana tidak membiarkan Dokter Hanan saja yang memeriksa. Karna dia gak mau istrinya diperiksa oleh dokter lelaki.
"Loh kok bukan Dokter Hanan yang datang, Arshan?" tanya Yolanda bingung melihat dokter wanita yang datang. Walau dia sudah mengenal Dokter Arsyi.
"Memang sengaja aku menyuruh Dokter Hanan buat memanggil dokter perempuan kesini. Ya baguslah kalau Dokter Arsyi yang datang. Aku gak mau istriku disentuh pria lain," cetus Arshana.
"Sudah, silahkan Dok, periksa cucu menantu, Saya. Dia tadi pingsan, kami akan keluar," lerai Kakek Abhi dan meminta Dokter Arsyi untuk segera memeriksa keadaan Zulfa yang masih dalam keadaan pingsan.
"Baik tuan besar, Saya akan memeriksa nona muda dahulu," jawab Dokter Arshi sambil meletakkan alat medisnya dimeja.
"Loh kok keluar sih Kek. Aku mau menemani istrilu disini," protes Arshana tak mau meninggalkan Zulfa.
"Sudah lah, Arshan. Keluar dulu, biar istrimu diperiksa Dokter Arsyi. Ayo keluar." Yolanda menarik lengan putranya keluar kamar. Kalau gak begitu Arshana tidak akan mau diajak keluar.
Pada akhirnya Arshana keluar dengan terpaksa karna ditarik oleh Yolanda. Kakek Abhi juga ikut keluar agar Dokter Arsyi bisa leluasa memeriksa keadaan Zulfa. Sedangkan didalam sana, Zulfa sudah tersadar dari pingsannya.
__ADS_1
"Syukurlah nona sudah sadar, Saya Dokter Arsyi yang diperintahkan tuan Arshana untuk memeriksa Anda," ucap Dokter Arsyi saat melihat Zulfa seperti bingung dengan kehadirannya.
"Tadi Anda pingsan, apakah masih pusing?" tanya Dokter Arsyi.
"Iya Dok, kepala Saya pusing. Dari kemarin rasanya gak enak," jawab Zulfa.
"Apa ada keluhan lain selain pusing, Nona?" tanyanya lagi.
"Hm, sedikit mual tapi gak terlalu hanya sesekali saja," jawab Zulfa sambil berpikir dan merasakan tubuhnya.
"Nona sudah datang bulan?" tanya Dokter Arsyi.
Mendengar pertanyaan itu membuat Zulfa berpikir dan mengingat lagi bahwa bulan ini dia memang belum kedatangan tamu bulanan. "Belum Dok, Saya sudah telat sekitar tiga mingguan," jawab Zulfa kemudian.
Lantas Dokter Arsyi tersenyum. "Sepertinya Anda tidak sakit, Nona," jawab Dokter Arsyi.
Gak sakit bagaimana? Kepalanya pusing dam badannya gak enak. Kok bisa Dokter Arsyi mebgatakan dirinya tidak sakit. Tapi tunggu......Tadi Dokter Arsyi menanyakan tentang datang bulan, apakah itu artinya....Ahh Zulfa tak mau banyak berpikir, kepalanya sudah pusing malah dibuat mikit. Dia ingin mendengar langsung dari Dokter Arsyi.
Dokter Arsyi lantas keluar. "Silahkan Tuan dan Nyonya, Nona Zulfa sudah sadar." Dokter Arsyi membuka pintu kamar.
Arshana langsung menyerobot masuk kedalam. Dia sangat khawatir dengan keadaan istrinya. Sampai didalam, Arshana langsung duduk disamping Zulfa yang sudah terbangun.
"Iya mas, kepalaku masih pusing," jawab Zulfa.
Arshana pun mengusap lembut kepala Zulfa. "Jadi menantu Saya sakit apa, Dok?" tanya Yolanda kepada Dokter Arsyi.
"Iya Dok, istriku sakit apa?" tanya Arshana juga.
Dokter Arsyi pun tersenyum. "Istri Anda tidak sakit tuan," kata Dokter Arsyi.
"Gak sakit bagaimana sih Dok! Istri Saya tadi pingsan karna kepalanya pusing, gimana gak sakit," ujar Arshana bingung.
"Wajar tuan bagi perempuan hamil ditremester pertama. Pusing itu wajar," terang Dokter Arsyi.
"A-apa? Istri Saya hamil?" tanya Arshana memastikan.
"Apakah benar menantu Saya hamil, Dok?" Yolanda ikut memastikan, karna kalau benar begitu akan menjadi kabat gembira nagi keluarganya.
"Benar Tuan, Nyonya. Nona Zulfa sedang hamil, diperkirakan kandungannya menginjak tiga minggu. Untuk lebih jelasnya besok Tuan dan Nona bisa ke rumah sakit, sekarang Saya akan meresepkan obat untuk meredakan pusing dan mual jika nanti terasa lagi," jelas Dokter Anin.
"Ini adalah kabar yang menggembirakan, Papa harus tau," gumam Yolanda lalu pergi keluar.
__ADS_1
"Mas, aku hamil. Disini ada anak kita," ucap Zulfa menangis bahagia, bukan lagi tangisan kesedihan seperti tadi yanh dialaminya.
"Iya sayang, terima kasih sudah mau mengandung anakku. Kita jaga dia sama-sama dan membesarkannya bersama." Arshana mencium kening Zulfa lama lalu turun kedua pipi Zulfa.
Dia sangat bahagia sekali mendengar Zulfa hamil. Apalagi Yolanda yang sudah menduga dari awal, tapi belum bisa mengutarakan kecurigaannya. Karna dia tak melihat reaksi lain dari Zulfa seperti mual, ya memang Zulfa tak muntah-muntah. Tapi Zulfa merakan mual juga tidak terlalu.
"Kakek akan segera punya cicit, Jaga kandunganmu dengan baik. Kakek akan menantinya lahir ke dunia, jaga istrimu, Arshan. Jangan dibuat stres," kata Kakek Abhi mendekati Arshana dan Zulfa.
"Iya, Kek. Arshan pasti akan menjaga Zulfa dengan baik, sekarang ada anak Arshan juga yang harus dijaga," jawab Arshana berjongkok disamping Zulfa lalu mencium perut istrinya.
"Baik-baik diperut mama ya sayang," ucap Arshana membuat Zulfa terharu sampai tak bisa membendung air matanya.
"Permisi Tuan, ini resep obat untuk istri Anda," ucap Dokter Arsyi.
"Terima kasih." Kakek Abhi menerima resep yang diberikan oleh Dokter Arsyi.
"Kalau begitu Saya permisi, Tuan," ucap Dokter Arsyi.
Kakek Abhi mengangguk, Yolanda masuk kedalam kamar Zulfa kembali. Entahlah dia keluar kemana tadi, mungkin menghubungi suaminya. Dengan wajah ceria, Yolanda mendekati ranjang. Tampak raut wajah kebahagiaan yang terpancar pada Yolanda.
"Mama senang sekali sayang, itu artinya Mama akan segera punya cucu. Pasti nanti dia imut lucu gitu, aahh gak sabar melihatnya lahir. Kira-kira perempuan atau laki-laki ya?" ucap Yolanda beranjak sekaligus bahagia.
"Hmm kamu gak nuntut anak kita laki-laki kan, Mas?" tanya Zulfa ragu.
Zulfa takut kalau suaminya akan menuntut anak laki-laki. Kebanyakan keluarga konglomerat akan seperti itu, kata mereka anak perempuan hanyalah beban dan ujung-ujungnya akan didapur. Padahal tidak semua anak perempuan akan berakhir ditempat yang sama. Malahan perempuan lebih kuat dan hebat jika mereka sudah bergelut didunia bisnis. Tapi mereka malah memandang lain dan menganggap hanya beban. Sampai ada bercerai hanya karna anak yang lahir perempuan. G*la memang!
"Tidak, Sayang. Aku tak akan menuntut anak laki-laki padamu. Menurutku mau laki-laki atau perempuan sama saja. Mereka tetap anak kita, kenapa kamu bisa bertanya seperti itu?" tanya balik Arshana.
"Aku takut saja, Mas. Kebanyakan orang diluaran sana menuntut anak laki-laki sebagai keturunan mereka. Karna perempuan hanya dianggap bebam oleh mereka, maka dari itu aku takut," jawab Zulfa jujur sambil menunduk, sekarang ia lagi duduk bersandar.
"Ngapain kamu ada pikiran begitu, kami tak akan menuntut apapun darimu cucu menantu. Mereka yang seperti itu, pikirannya sangat dangkal. Sudah tenanglah, mau perempuan atau laki-laki dia tetap keturunan Abhimarta. Tak ada pembeda!" ucap Kakek Abhi menegaskan.
"Iya, Kek," jawab Zulfa lega.
"Kakek mau ke kamar dulu, jaga istrimu Arshan," kata Kakek Abhi.
"Siap, Kek."
"Mama sudah curiga sejak kamu minta dibuatkan manisan waktu itu sayang, tapi Mama gak mau langsung berstetmen kalau kamu hamil. Karna gak ada reaksi lain darimu, mual atau ngidam yang lainnya. Jadi Mamam beranggapan kalau kamu memang hanya sekedar pengen aja," terang Yolanda teringat kemarin saat Zulfa merengek minta diambilkan mangga.
"Kapan ma, istriku minta dibuatkan manisan?" tanya Arshana.
__ADS_1