Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
85 #Ketakutan dan Syok


__ADS_3

Arshana melihat wajah Zulfa yang pias menahan rasa takut. Dipeluknya tubuh Zulfa dengan erat untuk memberi ketenangan kepada Sang istri. Susah paya Arshana menjaga pikiran istrinya agar tak tertekan. Sekarang malah kejadian.


"Mas......Aku takut! Mereka siapa?" ucap Zulfa lirih.


"Tenanglah sayang, jangan dipikirkan. Bisa saja itu pesan nyasar, nomer yang iseng," balas Arshana sambil mengusap lembut rambut istrinya.


"Gak mungkin, Mas. Pasti ada orang yang berniat jahat kepadaku! Aku takut, Mas!" air mata Zulfa tumpah. Dia menangis dipelukan Arshana, rasa takut yang begitu hebat membuatnya tidak bisa berpikir jernih.


"Sayang, jangan nangis. Mas akan cari tau siapa yang sudah menerormu, makan yuk aku temenin," kata Arshana menatap mata Zulfa yang sudah bergenang air mata.


Tangannya terulur untuk mengusap air mata tersebut. "Sudah, makan yuk!" ajaknya.


"Aku sudah gak berselera, Mas," ucap Zulfa.


"Kamu harus makan sayang, kasihan dedeknya. Ingat kamu sekarang berbadan dua, gak hanya memenuhi kebutuhan kamu saja. Juga calon anak kita, makan yuk!" ajaknya lagi membujuk Zulfa.


Zulfa pun mengangguk, walau selera makannya telah hilang setelah membaca pesan ancaman dari orang yang tidak dikenal. Arshana menggandeng tangan Zulfa menuju lantai bawah. Disana hanya ada Arganta seorang. Yang lain sudah selesai makan malam. Mereka tadi memang pulang terlambat dan Zulfa tidak mau makan kalau suaminya belum pulang. Ya akhirnya Yolanda tidak memaksa Zulfa lagi dan membiarkannya menunggu Arshana.


Arganta melirik kearah kakak iparnya yang terlihat berbeda dan terlihat jelas seperti orang habis menangis. Padahal tadi saat dia pulang, wajah kakak iparnya masih tersenyum senang. Kenapa sekarang jadi beda begini? Arganta bingung dan ingin menanyakannya. Mungkin nanti selesai makan malam.


Arshana memberi kode agar Arganta diam. Dia tau kalau adiknya sedari tadi menatap Zulfa penuh tanda tanya. Tak ada yang suara dimeja makan, hanya gesekan garbu dan sendok.


Selesai makan malam, Arshana mengajak Zulfa kembali kekamar. Dia tau istrinya butuh ketenangan. Zulfa pergi ke kamar mandi, tak lama dia kembali. Dia pun duduk disisi ranjang sambil menatap suaminya.


"Tidur yuk!" ajak Arshana tersenyum.


Zulfa pun mengangguk. "Lepas dulu bajumu, Mas," ucap Zulfa membuat Arshana mengernyit.


"Maksudnya?" tanya Arshana memastikan.


"Ya buka bajumu Mas. Kamu tidur gak usah pakai baju," ujar Zulfa membuat Arshana terbengong.


"Lah terus kamu menyuruh Mas polosan gitu?" tanyanya masih tidak paham.


"Enggaklah! Lepas bajumu saja yang lain jangan!" jelas Zulfa.


Sekarang Arshana paham, walau aneh penurutnya. Tapi tak mau ambil pusing, suasana hati istrinya masih kacau. Apa salahnya menuruti saja. Dia pun menuruti permintaan Zulfa.


Mereka tidur saling berhadapan, tangan Zulfa tak berhenti memeluk Arshana. Pelukannya begitu erat dan wajah yang dia pendam didada bidang Arshana.


Arshana membelai rambut Zulfa dengan lembut. Lalu mengecup kening, kedua pipi, dan terakhir bibir Zulfa. Akan dipastikan orang yang sudah membuat istrinya tidak tenang akan menerima akibatnya.


Perlahan pelukan Zulfa merenggang seiring matanya yang tertutup. Arshana memastikan kembali kalau istrinya sudah tidur pulas.


"Aku pastikan orang yang menerormu akan menerima akibatnya, Sayang. Tidur lah dengan nyenyak," ucap Arshana lirih lalu mengecup kening Zulfa.


Setelah itu dia ambil baju yang tadi dan pergi keluar kamar. Arshana pergi keruangan pribadinya. Disana sudah adiknya yang telah menunggu. Tadi saat Zulfa pergi kekamar mandi, Arshana memberi pesan kepada Arganta agar menunggu diruangan kerjanya.

__ADS_1


"Kakak ipar kenapa? Kalian gak lagi berantem kan?" tanya Arganta menyelidik saat melihat kakaknya baru masuk ruangan.


"Gak! Gue gak berantem sama Zulfa. Cecunguk itu mengirim pesan teror lagi keponsel Zulfa. Dan sudah dibaca sama istri gue. Mangkanya dia tadi habis nangis ketakutan. Sialan! Gue mau lakukan rencana yang tadi sekarang! Gue gak bisa menahannya lagi. Melihat Zulfa menangis ketakutan seperti tadi, membuat hati gue sakit, Ga! Dia sedang hamil, pasti setelah membaca pesan sampah tadi akan membebani pikirannya," ucap Arshana panjang lebar sambil bersandar disofa.


"Pintar banget mereka!" ucap Arganta tersenyum miring. "Oke gue akan suruh Alino mengerjakan sekarang," ucapnya lagi lalu menelfon Alino.


"Lakukan rencana A sekarang, buat mereka dihakimi massa!" tegas Arganta.


("Siap Tuan, akan saya kerjakan sekarang,")


Sambungan terlfon terputus.


"Sudah beres!" kata Arganta.


Arshana tersenyum miring. "Permainan akan dimulai, kalian mencari musuu yang salah!" gumam Arshana.


"Terus rencana loh yang kedua gimana?" tanya Arganta menyilangkan kedua tangannya didepan dada sambil bersandar dikursi kerja.


"Tunggu mereka dihujani massa, baruku akan meluncurkan permainan selanjutnya," ujar Arshana tersenyum sinis.


"Ya sudah sana balik, nanti kalau Zulfa bangun gak ada loh disampingnya pasti nyariin!" kata Arganta.


"Hmm, loh cepetan ungkapin dari pada diembat orang lain malah nyesel!" ucap Arshana sambil berjalan keluar.


Arganta bingung dengan perkataan kakaknya barusan. Mengungkapkan apa? Kok tertuju orang lain segala?. Tak mau mengambil pusing, Arganta juga kembali ke kamarnya.


Belum sempat langkahnya sampai dikamar, Arganta mendapatkan telfon dari seseorang.


"APA? BR*NGS*K!"


Entah apa yang diucapkan orang tersebut sampai membuat Arganta marah besar. Rahangnya mengeras sampai memperlihatkan ototnya. Tangan dia terkepal dengan wajah yang sudah merah padam.


"Loh buntuti dia, jangan sampai kehilangan jejak! Kirim juga lokasinya sekarang!" kata Arganta lali mematikan telfonnya secara sepihak.


Setelah mendapat titik lokasi. Dia bergegas lari ke kamar mengambil kunci motor sportnya dan jaket. Lalu dia berlari kebawah menuju garasi. Pengawal yang ada diluar menatap bingung kepada tuan mudanya. Mungkin mereka bertanya-tanya, mau kemana Arganta malam begini.


"Kalian buntuti motor saya dari belakang. Cepetan!" sentak Arganta.


Mereka yang mendapat bentakan dari Arganta mengangguk dan langsung memasuki mobil. Motor Arganta sudah melesat duluan membela jalanan malam yang sangat menusuk tulang. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


Dengan kecepatan penuh, dia berkendara. Beruntung jalanan lumayan sepi. Amarah sedang menyelimuti hati Arganta. Entah apa yang sudah membuatnya seperti itu. Selang lima belas menit, Arganta berhenti dititik lokasi yang baru saja dikirimkan oleh anak buahnya.


Seorang pria menghampirinya. "Dimana pria br*ngs*k itu?" tanya Arganta.


"Ada didalam rumah ini Tuan muda, saya tidak tau apa yang dia lakukan dengan nona Maira," ucap pria didepan Arganta.


"Sialan!" umpatnya langsung berlari menerobos rumah Maira.

__ADS_1


Diruang tamu tak ada siapapun. Telinganya menangkap suara dari kamar bawah yang pintunya sedikit terbuka. Arganta bergegas masuk dan seketika matanya melotot tajam.


"B*J*NGAN!"


Bugh. Bugh. Bugh


"Pria biad*b!" umpat Arganta sambil memukuli pria yang sudah terjatuh dilantai.


Pria itu pun bangkit sambil mengusap darah segar yang keluar dari hidung dan sudut bibirnya.


"Loh siapa HAH! Berani ganggu gue!" bentak pria tersebut.


"Ck, loh yang siapa! Loh itu hanya pria br*ngs*k yang suka menyakiti perempuan!" kata Arganta lalu mencekeram kuat kera baju pria tadi dan menghajarnya kembali dengan membabi buta.


"Tuan, berhenti! Dia bisa m*ti," cegah Reyhan.


Yaa Reyhan ada disana, sebab dialah yang menelfon Arganta tadi.


Arganta menghentikan aksinya. Kalau bukan Reyhan yang mengingatkannya, pasti Arganta sudah menghabisi pria tersebut.


"Urus dia!" kata Arganta.


Lalu dia mendekati Maira yang sedang ketakutan dibalik selimut. Baju yang sudah acak-acakan dengan bekas sobekan. Sekujur tubuh Maira bergetar. Bagian belahan atas sudah terekspos, beruntung ditutupi oleh Maira dengan selimut.


Arganta duduk disamping Maira. "Ja-jangan men-de-kat!" ucap Maira terbata karna rasa takut yang masih menyelimutinya.


"Tenanglah, Saya tidak akan menyakitimu." Arganta mendekati Maira berniat untuk menenangkannya. Namun Maira malah tidak sadarkan diri, membuat Arganta terkejut.


Dia pun melepas jaketnya untuk menutupi tubuh yang sudah terekspos. Lalu dia mengangkat tubuh Maira keluar.


"Reyhan, loh bawa motor saya buntuti dari belakang. Dan kalian cepat antarkan saya kerumah sakit," ucap Arganta memasuki mobil yang tadi dibawa oleh pengawalnya.


Mereka mengangguk paham, Reyhan segera mengambil alih motor Arganta dan membuntuti mobil dari belakang. Sedangkan pria tadi sudah diamankan oleh anak buah Reyhan.


Arganta begitu cemas melihat keadaan Maira yang lemah. Entahlah, hati dia berasa nyeri melihat Maira tak berdaya seperti itu. Tangannya terangkat membelai rambut Maira dengan lembut.


Sesampainya dirumah sakit, Arganta segera menggendong Maira masuk. Dan memanggil petugas, dua orang perawat membawa brankar. Lalu Arganta menidurkan Maira disana, dia begitu cemas dan khawatir.


"Anda tunggu diluar dahulu, agar dokter bisa memeriksa pasien," ucap perawat tersebut lalu memasuki ruang IGD.


Arganta menunggu diluar IGD, tak lama Reyhan menghampirinya. "Katakan sama Marlin, jangan sampai pria itu lolos!" ucap Arganta.


"Baik Tuan," jawab Reyhan.


Tak lama dokter keluar, Arganta berdiri dan menanyakan keadaan Maira sekarang, sebab dia begitu khawatir. "Bagaimana keadaan Maira, Dok?" tanya Arganta.


"Pasien sudah sadarkan diri, Tuan. Keadaannya masih lemah, pasien mengalami syok berat. Itulah yang menyebabkan pasien pingsan. Untuk beberapa hari kedepan, pasien akan dirawat dahulu sampai keadaannya membaik. Sedari tadi pasien terus ketakutan. Mentalnya terganggu dengan peristiwa yang dialami. Saya harao Tuan bisa menenangkan Nona Maira," jelas Sang Dokter.

__ADS_1


"Baik Dok, apakah Saya boleh masuk?" tanya Arganta.


"Silahkan, Tuan."


__ADS_2