
"Kemarin itu saat kamu pergi ke perusahaan, istrimu pengen makan manisan mangga dan rambutan. Sampai Mang Mamat disuruh metik mangga dan rambutan dikebun, karna istrimu minta mangga muda, padahal mangga itu masih asam banget, sama dia dihabiskan loh," jelas Yolanda.
Zulfa hanya nyengir saja. "Iya sayang?" tanya Arshana memastikan.
"Hehe, iya mas. Kemarin aku memang ingin buat manisan tapi sama mama malah dibuatkan," jawab Zulfa tersenyum.
"Ya sudah, sekarang kamu istirahat. Kalau mau minta apapun bilang saja biar aku belikan," ujar Arshana.
"Hmm lagi gak pengen apa-apa, Mas. Kepalaku pusing,"
"Istirahat saja dulu, Mama keluar ya," ucap Yolanda lalu pergi dari kamar Arshana.
Arshana mengambil ponselnya lalu memfoto resep obat tadi yang dkberikan Dokter Arsyi. Dia kirimkan kepada Brima, dia meminta untuk dibelikan obat yang ada diresep tersebut. Karna Zulfa tak ingin ditinggal olehnya. Dia letakkan kebali ponselnya dan berbating disebelah Zulfa sambil mengusap perut istrinya yang masih rata.
"Kamu mau dipanggil apa sayang sama anak kita nanti?" tanya Arshana.
"Hmm apa inginnya dipanggil bunda saja, Mas. Menurutku lebih mendekat dihati, kalau mama kan sudah sering jadi panggilan. Kalau mami terlalu gimana gitu menurutku, gak suka," jawab Zulfa.
"Bagus, Sayang."
"Kalau kamu, Mas?"
"Menurutmu apa yang cocok?"
Zulfa tampak berpikir sejenak. "Daddy tuh bagus, Mas. Jarangkan ada yang pakai," kata Zulfa.
"Gak ah, Sayang. Papi saja lebih pas," katanya.
"Hmm terserah kamu lah, Mas. Oke juga kok," balas Zulfa.
"Ohh ya mas, aku belum beri tau papa soal kabar gembira ini. Bagaimana kalau besok kita datang kerumah papa, Mas? Aku juga rindu dengan Papa," saran Zulfa karna sudah terlalu kangen dengan Devon.
"Boleh, Sayang. Biar besok aku antar kamu dulu, kalau sudah dari rumah papa. Aku akan ke perusahaan," balas Arshana mengiyakan.
"Ehh gak deh, kita kerumah sakit dulu periksa kandungan kamu setelah itu ke rumah Papa. Kalau masih ada waktu baru aku akan pergi keperusahaan," ucap Arshana lagi.
"Iya mas boleh, hm aku ke kamar mandi dulu," ucap Zulfa sambil bangkit dari ranjang.
"Kamu bisa sendiri? Mau aku bantuin?" tanya Arshana.
"Gak perlu mas, aku bisa sendiri," ujar Zulfa lalu berjalan pelan menuju kamar mandi.
Tok. Tok.
Arshana berjalan kearah pintu, entah siapa yang mengetuknya. Saat pintu terbuka, terlihat Brima berdiri didepan pintu kamarnya sambil membawa kantong plastik putih ditangannya.
"Ini pesanan Anda," ucap Brima sambil menyodorkan kantong plastik ditangannya.
"Thanks, Brim. Sikapmu biasa saja kalau dirumah gak perlu sok formal," ujar Arshana.
Brima sudah dianggap sahanat oleh Arshana. Hanya dalam lingkup perusahaan saja Brima bersikap formal. Walau begitu ada rasa tak enak hati bagi Brima. Dulu dia mengenalnya bukan Arshana, melainkan Verko. Masih bisa bagi Brima bersikap layaknya teman dekat. Tapi sekarang, saat dia sudah tau jati diri Arshana, Brima merada sungkan untuk bisa seperti dulu.
__ADS_1
"Iya, gak enak kalau dilihat tuan besar dan nyonya," balas Brima.
"Yaelah ngapain juga gak enak, udah biasa saja. Ohh iya besok kau gak usah jemput kesini, aku mau kerumah mertua. Kau langsung ke kantor saja," kata Arshana.
"Oke siap," jawab Brima.
"Mas, siapa? Eh Kak Brima, kamu nyuruh Kak Brima beli obatnya, Mas?" tanya Zulfa yang sekarang sudah berada disamping suaminya.
"Kok kamu keluar sih, sayang. Istirahat saja, iya aku memang nyuruh Brima belikan obat," balas Arshana sambil memegang bahu Zulfa.
"Selamat ya atas kehamilanmu, Zulfa," ucap Brima.
"Eh iya Kak, makasih,"
"Auuw! Sakit Sayang," ringis Arshana merasakan lengan tangannya dicubit oleh Zulfa, terasa sakit memang.
"Kasihan Kak Brima, nanti Bu Aida jadi sendirian dirumah. Kok malah nyuruh Kak Brima sih, suruh yang lainkan bisa. Kak Marlin kek, atau ajudan kamu kan banyak," celoteh Zulfa memarahi Arshana.
"Yaa aku spontan saja telfon Brima, maaf lah sudah biasa minta bantuan dia," kata Arshana sendu.
"Issh! Kak Brima itu sebenarnya asisten kamu atau sahabat kamu sih, Mas! Kalau diluar jam kerja harusnya buka Kak Brima yang kamu suruh! Kebiasaan deh," ucap Zulfa ketus.
"Gak pa-pa, Zulfa. Santai saja, Ibu dirumah juga sudah ada yang jagain kok. Kan sudah ada ART, kamu tenang aja. Berkat suamimu juga, Ibu gak harus repot kerja di toko. Aku juga sudah bisa bantuin buat Ibu untuk gantian kerja," ucap Brima tulus.
"Memang pantas Kak Brima mendapatkan itu semua atas kebaikan yang sudah kakak tanam. Sekarang tinggak menikmati hasilnya," jawab Zulfa.
"Tanpa loh, gue gak akan bisa bertemu orang-orang yang gue sayangi dan mungkin gak akan bisa menikah dengan Zulfa," sahut Arshana.
"Oke, thanks,"
"Sama-sama," jawab Brima lalu beranjak pergi dari sana.
Arshana pun mengajak Zulfa untuk kembali masuk kedalam kamar. Niat Zulfa besok mau ke supermarket sekalian beli susu ibu hamil. Jadi. Dia akan minta suaminya buat nganterin dulu beli susu baru kerumah ayahnya.
*****
Seorang pria memakai hoodie hitam dengan penutup kepala menghampiri seorang wanita yang sekarang ada bersamanya. Wanita tersebut duduk diruang tamu, mereka pun duduk bersama. Pria tadi melepas penutup hoodie yang dia pasangkan dikepalanya, lalu bersandar sejenak disofa.
"Gimana? Mau dijalankan kapan?" tanya wanita tersebut sambil meminun teh yang tadi dibuatnya.
"Secepatnya, sesuai rencana yang sudah dirancang," jawab Si pria.
"Oke, gue tunggu. Pokoknya dia harus disingkirkan, gue gak mau melihat wajahnya lagi. Kalau bisa dia dilenyapkan dari dunia ini! Gara-gara dia semua yang gue miliki diambil! Gue benci banget sama dia!" kata wanita tadi.
"Tenang saja, gue akan lakukan dengan baik dan mulus. Tenang saja, gue juga akan menuntaskan dendam gue sama dia. Sekarang temenim gue dulu," ucap pria tersebut mengiba.
"Ck! Loh ya sudah dikasih minta lagi. Hmm ya sudah deh ayo, loh kalau main bikin candu!" balasnya.
Pria tadi pun tanpa diminta langsung menggendong wanita tersebut menuju kamar yang ada dibagian depan. Mereka kembali bertempur diranjang seperti yang mereka lakukan kemarin. Satu per satu pakaian terlempar entah kemana. Ranjang menjadi berantakan karna pertempuran sengit mereka yang tiada habis.
...*****...
__ADS_1
Arshana turun bersama Zulfa untuk sarapan pagi. Disana sudah ada Kakek Abhi dan Felix, sementara Arganta belum turun. Arshana menyeret satu bangku untuk diduduki istrinya. Senyuman tak pernah memudar diwajah Arshana.
"Terima kasih," ucap Zulfa dan dibalas anggukan oleh Arshana.
Hari ini mereka berencana kerumah Devon lalu pergi ke rumah sakit untuk mengecek kandungan Zulfa. Arshana sudah mengambil cuti lagi sehari, tak tega kalau harus meninggalkan istrinya. Apalagi Zulfa lengket banget dengannya seperti perangko.
"Tumben wajahmu kelihatan senang gitu, papa lihatin dari kemarin loh," ujar Felix melihat perubahan sikap Arshana.
"Mama belum......." ucapan Arshana terpotong karna disela langsung oleh Yolanda.
"Belum," jawab cepat Yolanda.
"Lah kok belum, kirain udah,"
Yolanda hanya nyengir saja, memang sengaja dia belum memberi tau suaminya dan Arganta. "Habis ini mama kasih tau, tunggu adikmu turun dulu," ujar Yolanda menuangkan air digelas suaminya.
"Kenapa nyebut-nyebut aku, Ma?" tanya Arganta hang ternyata sudah turun dan berjalan kemeja makan.
"Ada berita gembira." Yolanda sangat antusias ingin mengatakannya.
"Kabar apa, Ma?" tanya Arganta penasaran.
"Mama akan segera punya cucu!" kata Yolanda sambil tersenyum lebar.
Uhuk. Uhuk.
Felix yang tadi sedang minum langsung tersedak mendengar istrinya mengatakan akan segera punya cucu. "Apa Ma? Cucu? Maksud Mama....." ucapan Felix tertahan sambil melirik kearah Arshana dan Zulfa.
Yang ditatap hanya tersenyum dan diangguki oleh Arshana. "Wah kabar bahagia ini, kamu bakalan punya ponakan, Ga! Papa gak sabar deh jadinya," ujar Felix ikut merasa bahagia.
"Apa ini yang Mama maksud kemarin, kalau ada sesuatu yang akan mengejutkanku dan Papa?"
"Iyalah,"
"Ampun, Ma. Tinggal bilang dari kemarin kan bisa, kenala baru sekarang. Selamat atas kehamilan istri loh, jagain dengan benar. Ponakan gue itu!" kata Arganta ketus.
"Tanpa loh minta pun, bakalan gue jagain. Dia anak gue, ya pasti akan gue jaga dengan baik," jawab Arshana ikutan ketus.
"Kalau gitu kalian lakukan resepsi saja, belum banyak yang tau kalau kamu sudah menikah, Arshan. Hanya karyawan perusahaan saja yang tau," ucap Felix namun ditolak oleh Zulfa.
"Tidak perlu, Pa. Pernikahan kami bukan pernikahan baru dan aku juga mau punya anak. Biarkan saja tidak perlu pakai resepsi," sahut Zulfa menolak halus.
"Iya, Pa. Benar apa kata istriku, tidak perlu resepsi. Lagian pernikahan kami juga sudah ada resepsi. Ngapain mengadakan resepsi lagi," timpal Arshana juga menolak tawaran ayahnya.
Arshana mengkhawatirkan istrinya. Mau ada resepsi atau enggak, bukanlah itu yang dipermasalahkan. Arshana berpikir kalau banyak yang tau dia sudah menikah dan akan mempunyai keturunan. Sudah pasti musuhnya yang lain akan menyerang kelemahannya, yaitu istri dan juga calon anaknya. Apalagi Arshana belum menemukan pasti pelaku yang sudah meneror Zulfa lewat pesan.
"Beda dong! Kan dulu itu bukan menjadi kamu, Arshan. Mana orang tau kalau itu pernikahan kalian. Ini tuh dilingkup keluarga kita, biar semua orang tau," sahut Yolanda.
"Sudah, kalau mereka tidak mau gak perlu dipaksa. Zulfa juga sedang hamil muda, rentan sekali. Jangan membuat dia capek." Kakek Abhi pun ikut menjawab agar anak dan cucunya bisa diam.
Ada hal lain juga yang membuat Kakek Abhi melerai. Dia merasa ada yang disembunyikan Arshana. Harusnya Arshana menerima agar pernikahan mereka diketahui publik bukan malah tersembunyi. Tapi kenapa sekarang malah Arshana menolak? Sudah pasti ada yang disembunyikan. Begitulah pikiran Kakek Abhi.
__ADS_1
Mereka pun diam dan melanjutkan sarapan sampai selesai. Setelah itu Arshana mengantarkan Zulfa kerumah sakit dahulu untuk melakukan pemeriksaan kandungan.