
Hari yang ditunggu oleh Zulfa pun tiba. Malam hari seperti janji Veeko, dia akan datang ke rumah Zulfa untuk meminta restu kepada kedua orang tua Zulfa. Sebelumnya Devon sudah diberi tau oleh Zulfa kalau ada seseorang yang ingin bertemu dengan ayahnya. Sudah dijelaskan pula oleh Zulfa semuanya, niat orang itu datang ke rumah. Dengan senang hati Devon menerima Verko agar datang ke rumah.
Sementara Elena dan Firsi hanya nyinyir, menghina Zulfa dengan kata-kata yang menyakiti hati. Semua itu diabaikan oleh Zulfa, karna bagi dia adalah restu ayahnya bukan kedua orang yang tidak menyukainya. Diabaikan semua perkataan Elena dan Firsi. Sekarang dia berada dikamar bersama Maira.
Maira diajak oleh Zulfa agar menginap dirumahnya untuk semalam. Karna Zulfa tidak bisa tenang kalau sendirian. Apalagi harus mendengar hinaan dari ibu tiri dan adik tirinya. Maira tak menolak ajakan Zulfa, ia malah menerima dengans enang hati. Karna Maira tau kalau Zulfa lagi dilanda rasa cemas dan harus menerima olokan terus-menerus dari ibu dan adiknya.
Diruang tamu sudah ada Verko, Devon, dan Elena. Sebenarnya Elena tidak mau memunculkan diri, tapi dia penasaran setampan dan sekaya apa calonnya Zulfa. Dan setelah dia tau, sungguh Elena mencibir terus-terusan melihat penampilan Verko yang tidak sesuai dengan kriterianya. Bahkan dia sempat mencibir didepan Verko langsung. Devon langsung menepis ucapan istrinya agar tidak membuat keributan sampai menyakiti hati Verko.
Akhirnya Elena memilih diam dari pada harus dimarahi oleh suaminya. Tatapannya sinis ke arah Verko, menunjukkan tidak suka. Verko hanya bisa diam dan tangannya mengepal saat dihina oleh Elena. Dirinya ingin memberontak, tapi dia sadar bahwa kedatangannya untuk meminta restu kepada ayah Zulfa. Bukan untuk mendengarkan hinaan Elena.
Pago harinya sebelum Verko datang menemui Devon. Zulfa sudah menceritakan semua seluk beluk kehidupannya. Bahkan tentang ibu dan adik tirinya yang sangat kejam. Zulfa juga memberi tau alasan kenapa dia lebih memilih tinggal diasrama dari pada dirumah. Semua Zulfa ceritakan tanpa terlewat, agar Verko tau dan tidak kaget kalau nantinya datang ke rumah melihat Elena bertatap sinis.
"Perkenalkan om, nama saya Verko Adianta. Kedatangan saya kesini berniat meminta restu kepada om dan tante untuk menikahi Zulfa. Saya harap om dan tante bersedia memberi restu kepada kami. Saya janji akan membahagiakan Zulfa om, tante" ucap Verko mengutarakan niatnya.
"Om sih tidak masalah kalau kamu ingin menikah dengan Zulfa. Om mau tanya pekerjaan kamu apa?" Devon hanya ingin tau agar memastikan kalau calon memantunya bisa membahagiakan anaknya.
"Saya bekerja ditempat yang sama dengan Zulfa om. Ditoko roti HanLy" jawab Verko apa adanya.
"Kenapa kamu ingin menikah dengan Zulfa? Karna om baru melihat kamu, Zulfa sebelumnya tidak pernah mengenalkan om dengan pasangannya. Bahkan tidak pernah membawa pulang pasangannya" ucap Devon.
Verko tak merasa gugup saat berhadapan dengan Devon, apalagi sampai ditanya-tanya. Dia tetap tenang dan menjawab apa adanya. Sebab hati Verko sudah yakin dan tak ada rasa takut sedikit pun.
"Saya ingin menikah dengan Zulfa karna memang saya mencintainya. Saya juga ingin membahagiakan Zulfa. Sebelumnya saya tidak mengenal Zulfa om. Saya kenal pun saat menjadi rekan kerja. Selama ini saya tidak pernah berpacaran dengan Zulfa. Saya berniat kesini, itupun baru kemarin lusa saya memberi tau kepada Zulfa. Karna saya mencari calon istri bukan pacar. Bagi saya buat apa menunda hal baik sampai berlarut-larut. Saya tidak mau akhirnya nanti terjadi kebencian diantara kami" jelas Verko panjang lebar membuat Devon jadi tersentuh.
"Baiklah melihat kamu yang gigih, om percaya kalau kamu bisa membahagiakan Zulfa. Om memberi restu kepada kamu untuk menikah dengan Zulfa. Tapi om serahkan lagi kepada Zulfa, dia mau atau tidak. Karna om juga tidak bisa memaksanya" balas Devon membuat Verko merasa bahagia.
"Bi Atin.....Panggilkan Zulfa kesini sebentar" suruh Devon kepada bi Atin art nya.
__ADS_1
"Baik pak" jawab bi Atin lalu bergegas pergi ke kamar Zulfa.
"Mas, kamu serius nerima mantu modelan begini? Kupel banget. Kok mau sih kamu" bisik Elena membuat Devon mendelik ke arahnya. Takut Verko mendengar dan merasa dihina.
"Diam!! Kalau dia dengar bagaimana." tegas Devon membuat Elena mencibik kesal.
Beberapa saat kemudian.
Zulfa menuruni tangga menuju lantai bawah sendirian. Maira akan menunggu dikamar saja sambil nanti menunggu Zulfa kembali. Baru sampai ditangga terakhir Zulfa sudah senam jantung. Dia takut papanya tidak memberi restu dan malah menyakiti hati Verko. Dengan pelan Zulfa menghampiri Devon lalu duduk disebelahnya.
"Papa memanggilku?" tanya Zulfa.
"Iya, papa mau minta jawaban dari kamu. Mau gak menikah dengan nak Verko?" tanya Devon membuat Zulfa menatap penuh tanda tanya. Lalu tatapannya mengarah kepada Verko yang tersenyum. Zulfa sudah bisa menebak apa jawabannya.
"Papa....."
"Papa merestui kalian, asalkan kamu bahagia. Papa pastu bahagia, karna yang menjalani rumah tangga kalian. Papa gak mau memaksa kamu untuk menikah dengan orang lain" ucap Devon membuat Zulfa langsung memeluknya.
"Papa senang melihat kamu bahagia." ucap Devon sambil mengelus pundak Zulfa.
"Tapi Zulfa tidak bisa menikah diwaktu dekat ini pa. Zulfa mau menyelesaikan kuliah dulu, aku gak mau beasiswaku dicabut." jelas Zulfa.
"Iya papa paham kok. Nanti kita atur saja tanggalnya. Ohh ya nak Verko, kenala kamu tidak kesini bersama orang tua?" tanya Devon kepada Verko.
Seketika Verko langsung menunduk mendengar pertanyaan dari Devon. Langsung saja Zulfa berbisik kepada ayahnya yang sebenarnya.
"Maaf nak Verko, saya tidak tau kalau orang tua kamu sudah tidak ada" ucap Devon merasa tidak enak hati dengan Verko.
__ADS_1
"Gak pa-pa om, saya mengerti. Om juga tidak tau." jawab Verko sambil tersenyum.
"Haduh kalau mau calon suami yang tampan dikit kek. Gak kucel kayak gitu, memalukan. Iiuuuww." sindir Firsi yang lewat mau ke dapur.
Tatapan Verko langsung mengarah ke sumber suara. Ada rasa benci didalam hatinya melihat Firsi apalagi mendengar sindiran yang menusuk hatinya. Dan perkataan Firsi malah ditambah oleh Elena lebih pedas lagi.
"Sudah membuat susah keluarga, sekarang malah mau menikah dengan modelan begini. Kalau mau cari suami yang kaya gitu, udah jelek, culun, dan miskin pula. Sangat tidak enak dipandang!! Ck males lama-lama disini" ujar Elena menghina Verko habis-habisan, dan tanpa rasa bersalah dia pergi begitu saja.
Verko masih berusaha menahan amarah agar tidak memuncak. Zulfa pun berusaha sabar dan menghiraukan hinaan dari ibu dan adik tirinya. Karna yang ingin Zulfa dengar adalah jawaban dari sang ayah. Itu yang penting bagi Zulfa, bukan ocehan tanpa manfaat.
Selepas Verko pulang, Zulfa bukannya tidur tenanh malah kena hinaan dari Elena maupun Firsi. Hanya karna Verko orang miskin dan berpenampilan aneh menurut mereka. Elena tidak yakin kalau Verko bisa membahagiakan Zulfa kedepannya.
"Heh kalau mau cari suami jangan yang kampungan begitu. Gimana nanti dipandang orang. Kita bukan keluarga yang miskin seperti dia. Haduh taruh mana mukaku kalau sampai orang tau kamu menikah dengan pria miskin. Lebih baik pernikahanmu gak usah dibuat mewah, sederhana saja. Gak usah berhatap pesta pernikahan!!" tegas Elena dengan tatapan tajam.
"Mama ini ngomong apa sih. Gak usah menggina Zulfa sebegitunya. Dia berhak memilih jalan hidupnya sendiri, yang berumah tangga dia bukan kamu. Kalau kamu gak setuju terserah!! Papa gak butuh komentar dari mama. Kamu ke kamar saja Zulfa, Maira pasti menunggu kamu" ucap Devon berusaha membuat Zulfa tetap nyaman. Walau hinaan istrinya begitu menohok.
"Iya pa, aku ke kamar dulu" Zulfa pun pergi ke kamarnya. Baru saja mau membuka pintu, Firsi kembali menghina Zulfa.
"Malu-maluin, pasti nanti nikahnya sederhana dan tinggal dirumah yang kumuh. Jangan harap numpang disini!! Pulang-pulang malah bawa pria kampungan. Apa segak laku itu dirimu? Sampai-sampai mau dengan pria miskin" hina Firsi membuat Zulfa naik pitam.
"Aku gak berharap juga tinggal disini, satu atap dengan orang-orang busuk seperti kamu!! Aku cinta sama dia, bukan melihat dari harta atau fisik. Aku juga gak berharap pernikahan mewah, sederhana sudah cukup asalkan bahagia. Dari pada harus menjual diri kepada pria demi nafsu sementara!!" perkataan yang terakhir seolah menyindir Firsi. Kata-kata tersebut membuat Firsi tersulut emosi.
"Apa maksudmu hah!! Loh menuduhku jual diri dengan pria br*ngs*k!! Loh sama saja menghina harga diriku" marah Firsi terlihat dari matanya yang menyala.
"Aku gak sebut namamu kan? Kok merasa gitu sih. Emang tadi aku nyebut nama Firsi? Gak kan? Kau yang dari tadi menghinaku." jawab Zulfa dengan emosi meluap dari hatinya yang ditahan sejak tadi.
Maira mendengar keributan didepan kamar, langsung membuka pintu dan mendapati Zulfa sama Firsi sedang berantem.
__ADS_1
"Zulfa? Kamu ngapain didepan pintu, ayo masuk. Percuma kamu ladenin dia, gak ada ujungnya. Gak ada bedanya kamu ngomong sama angin. Sudah ayo masuk" ujar Maira menarik tangan Zulfa agar masuk ke dalam kamar. Maira langsung menutup pintu.
"Ck, awas saja loh. Gua bakal bales, kok dia bisa ngomong gitu. Apa jangan-jangan dia tau kalau selama ini.......Ahh tidak mungkin rasanya dia tau." gumam Firsi memikirkan omongan Zulfa tadi.