Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
76 #Berkeliling


__ADS_3

Arshana dan Zulfa telah sampai didepan perusahaan. Sebelum sampai perusahaan, Arshana sempat memberi pesan kepada Arganta bahwa dirinya akan berkunjung bersama Zulfa. Walau awalnya Arganta sempat kaget karna tiba-tiba saja Arshana ke perusahaan, apalagi bersama Zulfa. Bukankah dia mengambil cuti? Lantas kenapa harus ke perusahaan? Pikirnya Arganta begitu.


Ada sopir yang membawa mobil. Sehingga Arshana bisa duduk manis dibelakang bersama Zulfa. Mereka pun turun bersamaan, diluar sudah ada Brima yang menyambut mereka. Seketika itu tatapan para staff dan karyawan lain tertuju pada Arshana yang menggandeng tangan Zulfa.


Sebagian dari mereka sudah ada yang mengenal Zulfa. Karna dahulu Zulfa sering datang untuk mengantarkan pesanan roti. Terlebih Anin yang begitu dekat dengan Zulfa. Kebetulan dia ada dimeja resepcionis dan melihat Zulfa datang bersama Arshana.


Dia terkejut melihat Zulfa bisa digandeng oleh Arshana. Pertanyaan dikepalanya sama dengan staff lain. Anin melihat perubahan dalam diri Zulfa. Yang lebih cantik dan anggun sekali. Setelah Arshana dan Zulfa sudah memasuki lift, barulah mereka berani mengeluarkan suara, alias berghosip tak berfaedah.


("Siapa perempuan yang bersama tuan Arshana ya?")


("Mungkin dia kekasihnya")


("Bukannya perempuan itu yang sering antar roti kesini?")


("Beruntung banget bisa dapetin tuan Arshana")


("Palingan juga dengan hasil menggoda, sama tuh seperti mantan sebelumnya")


("Iya bisa jadi, perempuan rendahan seperti dia mana cocok dengan tuan presdir")


Begitulah ghosipan hangat mereka. Ada yang iri, ada yang malah menghina dan menyamakan dengan Firsi. Belum tau saja kenyataannya bahwa Zulfa sudah menjadi istri Arshana.


"Apa aku gak mimpi? Tadi Zulfa kan? Kok bisa dia datang kemari bersama tuan Arshana? Dan penampilan Zulfa sudah beda, lebih cantik dan anggun. Apakah dia ada hubungan dengan tuan Arshana?" batin Anin dalam hati didepan meja resepcionis


"Anin?" panggil wanita didepannya yang tak lain adalah karyawan bagian resepcionis.


"Aniiin!" sentaknya karna Anin tak merespon panggilan dia.


"Ehh iya kenapa?" tanya Anin baru tersadar dari lamunan setelah ditepuk pundaknya.


"Kamu melamun? Pasti mikirin perempuan yang tadi bersama tuan Arshana ya? Bukannya dia Zulfa yang sering antar pesanan kesini dulu? Pantes sih aku sudah gak pernah lihat dia antar kesini lagi," ujar Lani, petugas resepcionis.


"Dia memang Zulfa, aku gak tau ada hubungan apa dia dengan tuan Arshana. Udah ah aku mau balik kerja lagi, aku harus setor laporan," jawab Anin tak mau ambil pusing.


Pintu lift terbuka, Arshana mengajak Zulfa ke ruang pribadinya. Sampai didalam Zulfa berdecak kagum. Karna ruangan Arshana sangat luas dan berada dilantai paling atas. Zulfa melihat kesekeliling sampai menemukan ruangan lain yang ada dibagian pojok. Lalu Zulfa menanyakan ruangan apa itu kepada Arshana yang berjalan ke arah dia.


"Ini ruangan apa mas?" tanya Zulfa.


"Bukalah kalau ingin tau, nih kuncinya." Zulfa menerima kunci yang diberikan oleh Arshana.


Kening Zulfa mengernyit saat melihat isi ruangan tersebut yang mirip dengan kamar. Bahkan ada kamar mandi didalamnya. Persis seperti kamar tidur, ada lemati juga.


"Kok ada kamar disini mas?"

__ADS_1


"Iya, ini buat aku istirahat kalau selesai bekerja. Kadang aku tidur disini kalau pekerjaan banyak," jawab Arshana sambil berjalan kembali duduk disofa.


Zulfa kembali menutup ruangan tersebut, lalu ikut duduk disamping Arshana. Baru pertama kali inilah Zulfa bisa melihat gedung perusahaan keluarga suaminya. Karna dahulu dia hanya bisa melihat nagian luar tanpa tau bagian didalamnya.


Tok. Tok. Tok.


"Masuk," sahut Arshana.


Ceklek.


"Loh ngapain masuk sih? Kan kemarin udah ambil cuti, kenapa sekarang malah kesini? Gue harus batalin ke perusahaan cabang demi gantiin loh disini. Tau gitu tadi gue gak kesini," gerutu Arganta saat baru saja masuk ruangan Arshana.


"Gue juga gak berniat kesini, kemauan Zulfa yang maksa ingin lihat perusahaan. Entah deh nih, padahal masih banyak tempat lain yang bisa dikunjungi," jawab Arshana apa adanya sesuai kenhataan yang ada memang begitu.


"Hah?" lalu Arganta menatap Zulfa yang hanya tersenyum dan mengangguk.


"Ngapain? Tempat lain juga masih banyak, lalu kenapa harus minta suamimu ambil cuti kakak ipar!" jelas Arganta menahan emosi. Dari kemarin kesabarannya sangat diuji.


"Maaf ya Ga, aku pengen aja kesini. Dulu aku ingin sekali berkeliling keseluruh penjuru perusahaan ini. Tapi mana berani aku masuk ke dalam. Dulu aku hanya karyawan toko, selesai nganter pesanan ya langsung balik, sekarangkan aku adalah istri kakakmu, gak pa-pakan kalau aku pengen beekunjung kesini," kata Zulfa menjelaskan.


"Huusfh, ya terserah kakak ipar saja!" ucap Arganta dan tak lama Felix tiba-tiba masuk ke ruangan Arshana.


"Nah kebetulan kamu disini, ikuti rapat. Tanpa ada bantahan, salah sendiri malah pergi ke perusahaan padahak susah ambil cuti. Gak lama sebentar aja, papa pinjam suami kamu bentar," ucap Felix yang baru datang dan tak membiarkan Arshana mengambil kesempatan untuk membantah perkataannya.


"Kok gitu sih pa, aisshh. Lihat tuh sayang, kan aku jadi harus ikut rapat. Ahhh gak asik," gerutu Arshana kesal.


"Gak pa-pa aku suruh dia kesini saja untuk temenin kamu. Arga panggilkan Maira sana," pinta Arshana pada Arganta.


"Loh kok malah gue sih, enggak ah panggil saja sana sendiri. Males!" bantah Arganta lalu melenggang pergi begitu saja. Dan diikuti Felix dibelakangnya.


"Cepetan papa tunggu," kata Felix sebelum pergi.


"Ck, menyebalkan!" umpat Arshana kesal. Lalu dia mengambil ponselnya untuk menghubungi Brima.


"Keruanganku sekarang sekalian panggilkan Maira kesini juga," ucap Arshana lalu menutup telfonnya.


"Kamu marah ya mas? Maaf, karna aku kamu harus kerja lagi," ucap Zulfa merasa menyesal telah memaksa suaminya pergi ke perusahaan.


Arshan menoleh kearah istrinya. "Enggak sayang, emang papa tuh sengaja. Aku gak marah kok sama kamu, kita tunggu Brima dan Maira kesini," ucap Arshan sambil mengusap lembut tangan Zulfa.


"Tapikan kalau kamu gak kesini pasti papa tidak menyuruhmu ikut rapat mas. Padahal kamu ambil cuti untukku, malah aku ajak kemari," balas Zulfa sendu sambil menunduk.


Tangan Arshana terulur menyentuh dagu Zulfa lalu dia angkat. Agar Zulfa menatap ke arahnya. "Hanya sebentarkan, tak masalah bagiku, nanti kamu berkeliling sama Maira saja ya. Kalau sudah kembali kesini, aku aka temui kamu lagi setelah selesai rapat," ucap Arshana sambil tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah mas,"


Tok. Tok.


"Masuklah!"


Klek.


"Permisi tuan, ada apa anda memanggil saya? Dan ini Maira sudah saya panggil," ucap Brima.


"Kenapa papa minta aku buat ikut rapat? Kan aku sudah ambil cuti, rapatnya bisa diganti besokkan. Lalu kenapa harus sekarang?" tanya Arshana dengan nada kesal.


"Tuan besar memang meminta rapatnya diajukan setelah melihat bahwa anda akan kemari. Maaf tuan, saya tidak membantah permintaan tuan besar," jawab Brima jujur.


"Ck, ya sudah. Kau bawa berkasnya yang kemarin?"


"Sudah tuan,"


"Maira, kamu temenin Zulfa disini. Aku mau rapat sebentar, jangan tinggalkan istriku sebelum aku kembali," perintah Arshana kepada Maira.


"Baik tuan," jawab Maira.


Dia tidak bisa membantah perintah Arshana. Sekalipun dia sudah mengenal Arshana sebelumnya. Sekarang posisi Maira sudah berbeda. Arshana adalah atasannya dan dia adalah karyawan. Walau masih ada pekerjaan, Maira harus meninggalkan sebentar untuk menemani Zulfa. Kapan lagi bisa bersama sahabatnya, inilah kesempatan yang pas. Sejak bekerja, Maira jarang bertemu Zulfa. Hanya sesekali saja atau saat weekend.


"Ya sudah sayang, aku pergi dulu. Nanti kalau sudah balik kesini oke?"


"Iya mas," jawab Zulfa tersenyum.


Arshana pun bangkit dari duduknya lalu mengecup kening Zulfa sekilas sebelum dia pergi keluar. Setelah itu Arshana pergi keruang rapat, diikuti Brima dari belakang. Kini tinggal Zulfa dan Maira yang ada diruangan tersebut. Maira duduk disamping Zulfa sambil bertanya kabar.


"Bagaimana kabarmu, Fa?" tanya Maira.


"Baik Mai, kamu bagaimana?" tanya balik Zulfa.


"Seperti yang kamu lihat, aku baik kok. Lama ya Fa, kita gak ngumpul seperti dulu. Saat masa kuliah, kita sering bersama. Bahkan pergi keluar pun sama-sama, jadi kangen masa kuliah deh," curhat Maira sambil berangan kebelakang saat dirinya masih kuliah beraama Zulfa.


"Iya Mai, kan sekarang sudah beda. Aku punya tanggung jawab dan kamu pun juga punya kesibukan sekaligus tanggung jawab bekerja, makin dewasa kita. Makin sedikit pula waktu untuk bertemu, seperti sekarang ini. Kita hanya bisa berkumpul kalau ada kesenggangan waktu saja," balas Zulfa menerangkan.


"Benar Fa, hmm kamu mau apa sekarang?" tanya Maira.


"Tadinya aku mau keliling melihat seisi perusahaan. Tapi mas Arshan masih rapat, jadi kamu saja yang temenin yuk," ajak Zulfa bersemangat.


"Ohh oke, ayuk!" Maira menggandeng tangan Zulfa keluar dari ruangan Arshan.

__ADS_1


Mereka berjalan berdampingan menyusuri setiap inci dan ruangan yang ada. Sesekali Maira menjelaskan ruangan yang mereka leqati tempat untuk apa saja. Jadi Zulfa mengerti, ternyata banyak sekali ruangan dan tempat yang tidak pernah Zulfa ketahui. Baru kali inilah dia benar-benar masuk ke perusahaan suaminya sendiri.


Setiap langkah mereka, tak lepas dari tatapan karyawan laim yang menatap sinia dan penuh tanda tanya kepada Zulfa. Maira jelas tau kalau para rekan kerjanya pasti sedang bertanya-tanya siapa yang ada disampingnya dan status apa yanh melekay pada Zulfa sampai bisa bergandengan dengan atasan mereka.


__ADS_2