Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
86 #Penasaran


__ADS_3

Arganta bergegas masuk untuk melihat keadaan Maira secara langsung. Dan benar saja saat sampai didalam, ia melihat Maira yang sudah terbangun dengan wajah ketakutan. Didekati oleh Arganta secara perlahan. Wajah yang biasanya ceria, sekarang berubah menjadi pucat pasi.


"Tenanglah, jangan takut lagi. Kamu sudah ada ditempat yang aman. Istirahatlah!" ucap Arganta ingin sekali mendekap perempuan didepannya untuk memberi ketenangan.


"Te-terima kasih, Tuan sudah menolong saya," ucap Maira dengan tulus dengan air mata yang lolos.


Dia terisak kembali saat bayangan pria yang hampir melecehkannya berputar dikepalanya. Pria yang dahulu amat dicintainya, namun cinta tersebut sudah lama menghilang dan sekarang menjadi rasa benci, amat sangat benci.


"Aku kotor sekarang, Denis keterlaluan," ucap Maira lirih sambil menunduk.


Arganta menggeleng pelan. "Tidak! Kamu bukanlah perempuan yang kotor. Sudah jangan dipikirkan, lebih baik kamu istirahat dulu. Gak perlu diingat," balas Arganta.


"Bagaimana saya tidak mengingatnya Tuan! Dia hampir merenggut kesucianku! Dia berhasil menjamah tubuhku! Tubuh ini kotor dengan tangan l*knaknya. Kalau saja Tuan tidak datang, saya sudah terjamah dengan dia!" sahut Maira dengan nada yang bergetar dan air mata yang terus meluncur tanpa henti.


Arganta tak tega melihat Maira mengutarakan rasa sakitnya. Dia raih tubuh Maira kedalam pelukannya. Memberi ketenangan dan kenyamanan. Terlihat Maira tak memberontak, karna yang sekarang dia butuhkan adalah pelukan untuk memberi rasa nyaman. Dekapan Arganta mampu membuat Maira tenang, perlahan isak tangis Maira telah berhenti.


Maira yang sadar dengan posisinya, langsung melepas pelukan dari Arganta. Ia hapus sisa air mata yang masih ada.


"Maaf Tuan," ucap Maira menunduk.


"Tidak apa! Sekarang kamu harus istirahat, tidurlah," kata Arganta mengusap lembut kepala Maira.


Maira merasa aneh dengan sikap bosya kepada dia. Namun, untuk sekarang pikirannya sedang kacau dan tak ingin memikirkan hal itu. Mungkin saja memang rasa empati yang ada, pikir Maira begitu.


Akhirnya Maira membaringkan tubuhnya kembali. Dan tak lama dokter kembali masuk untuk memberi tau kalau Maira akan dipindahkan keruang rawat. Awalnya Maira menolak, tapi Arganta tetap memaksa agar dia bisa diberi perawatan yang baik.


Sekarang Maira sudah berada diruang rawat. Arganta memesan kamar VIP agar Maira bisa istirahat dengan nyaman. Padahal Maira sudah mengatakan agar memesankan kamar biasa. Tapi Arganta tak menghiraukan perkataan Maira.


"Saya mau keluar sebentar, kamu istirahat saja. Diluar ada pengawal yang akan menjagamu," ucap Arganta sebelum pergi.


"Iya Tuan. Terima kasih atas bantuan Anda," balas Maira.


"Hmm...." lalu Arganta keluar meninggalkan Maira seorang diri diruang rawat.


Diluar Arganta melihat sudah ada Reyhan yang tengah duduk menunggunya keluar. Reyhan yang sadar akan kehadiran Arganta, langsung bangkit.


"Kalian jaga disini, jangan ada siapapun yang masuk kecuali perawat dan dokter. Awas sampai kecolongan, kalian yang akan terima hukuman dariku!" ancam Arganta kepada mereka.


"Baik Tuan muda," jawab mereka serempat, ada sekitar dua orang yang menjaga didepan pintu.


"Ayo Reyhan!"


Reyhan pun mengangguk dan mengekor Arganta dibelakang. Mereka menuju parkiran mobil, Reyhan berjalan kearah kursi pengemudi. Lalu mereka pergi meninggalkan halaman rumah sakit.


...*****...

__ADS_1


Esok harinya, Arganta sudah terbangun. Dia sedang berganti pakaian setelah mandi, begitu pun Zulfa yang sudah rapi sejak tadi. Wajahnya masih tampak menyembunyikan rasa khawatir, senyuman yang terbit hanyalah kepalsuan untuk menutupi ketakutan. Arshana menghembuskan nafas kasar, lalu mendekati Zulfa yang duduk dimeja rias sambik menyisir rambutnya. Namun tatapan Zulfa tampak kosong, Arshana mengambil alih sisir yang dipegang istrinya. Ia pun merapikan rambut Zulfa secara perlahan.


"Gak perlu kamu pikirkan terlalu dalam, biarkan Mas yang akan mencari tau. Kamu itu sedang hamil, jaga calon anak kita baik-baik. Kalau kamu terus begini, kasihan nanti dedenya jadi ikutan stres. Ingat kata dokter, kamu gak boleh banyak tekanan dan stres," ucap Arshana menatap cermin sambil tersenyum.


Tatapan Zulfa juga mengarah pada cermin yang ada didepannya. "Huufh....Iya Mas," jawab Zulfa menyunggingkan senyuman.


Arshana mengarahkan tubuh Zulfa agar menghadap kearahnya. Lalu dia cium wajah istrinya bedulang kali. Dari kening, pipi, hidung, dan terakhir bibir yang paling lama.


"Mas, aiish! Kamu ya, aku sampai kehabisan nafas. Gak kira-kira kamu ini," protes Zulfa memanyunkan bibirnya.


Arshana malah tertawa melihat ekspresi istrinya. "Kamu cantik sayang kalau begini, udah ah ayo turun sarapan. Pasti dede juga lapar ya," ucap Arshana sambik mengelus lembut perut Zulfa yang masih rata.


Mereka pun turun kebawah bersamaan. Disana sudah ada kedua orang tuanya dan Kakek Abhi. Namun Arshana tidak melihat Arganta disana, entah kemana adiknya itu.


Arshana menarik satu kursi untuk diduduki istrinya. Zulfa pun tersenyum dan mengucapkan terina kasih.


"Arganta kemana? Kok belum turub juga," tanya Kakek Abhi.


"Arshan gak tau, Kek. Semalam sih masih ada tuh, masa pagi begini sudah keluar! Biasanya juga selalu ikut sarapan bareng," ujar Arshana menerka-nerka kemana perginya Arganta.


"Tumben sih kok masih pagi sudah pergi! Bi Tarmi! Bi!" panggil Yolanda pada kepala pelayan keluarganya.


"Iya Nyonya? Ada apa?" tanya Bi Tarmi menghampiri Yolanda.


"Saya tidak tau Nyonya, dari tadi saya juga tidak melihat Tuan muda Arganta keluar," jawab Bi Tarmi.


"Gak keluar? Apa masih dikamar, coba kamu cek sana. Panggil suruh turun sarapan," perintah Yolanda yang langsung dilaksanakan oleh Bi Tarmi.


Setelah Bi Tarmi kembali, malah dia mengatakan kalau Arganta tidak ada dikamarnya. Membuat mereka yang ada dimeja makan terdiam sejenak.


"Kemana perginya Arganta, masih pagi loh ini! Dia gak bilang apa-apa sama kamu, Arshan?" tanya Felix.


"Enggak tuh Pa. Dia juga gak ngirim pesan apapun," jawabnya.


"Hmm, ya sudah kalian teruskan sarapannya," kata Felix.


Setelah mereka selesai sarapan, Felix pergi duluan ke perusahaan. Sedangkan Arshana masih belum beranjak dari duduknya disofa. Tadi dia sempat mengirim pesan kepada Arganta untuk menanyakan posisinya sekarang. Namun belum ada baladan apapun. Bahkan pesan yang dikirim masih centang satu.


"Tuan muda memanggil saya?" tanya salah satu seorang pengawal yang dipanggil oleh Arshana tadi.


"Iya, kau lihat Arganta pergi gak tadi?" tanya Arshana.


"Tuan muda Arganta semalam pergi keluar menggunakan motornya dan bersama beberapa pengawal. Sampai sekarang belum kembali Tuan," jawab pengawal tersebut.


"Hah? Pergi dari semalam! Belum pulang juga! Kemana perginya dia," ujar Arshana menerka kemana perginya Arganta.

__ADS_1


"Kau boleh pergi!" ujarnya.


Pengawla tersebut menunduj sejenak lalu pergi dari sana. Sekarang Arshana kembali berpikir kemana Arganta pergi malam-malam sampai gak pulang. Pucuk dicinta ulam pun tiba, Arganta menelfon Ardhaan secara langsung.


"Loh dimana? Pergi gak pamit, dicariin sama papa dan mama! Loh semalam peri kemana?" tanya Arshana dengan berbagai pertanyaan.


"Duh iya gue pergi semalam, jangan terika-teriak. Gue dirumah sakit ini!" jawab Arganta dari seberang telfon.


"Apa! Dirumah sakit mana? Loh ngapain disana?" pekik Arshana kaget.


"Panjang ceritanya, mendingan loh ke markas sekarang. Biar Reyhan yang jelasin dan urus pria br*ngs*k itu! Dia ada dimarkas!" ucap Arganta dengan nada ketus.


Arshana berpikir pasti ada sesuatu yang sudah terjadi, namun dia tidak mengetahuinya. Karna rada penasaran yang tinggi, Arshana mengiyakan ucapan Arganta dan mematikan telfon. Lalu dia bergegas pergi menuju markas. Pasti pria yang dimaksud oleh Arganta tadi adalah musuh incarannya.


"Sayang, Mas pergi dulu ya. Kamu baik-baik dirumah, kalau butuh apapun bisa minta sama Bibi atau mama," ucap Arganta sebelum dia pergi.


"Iya Mas, hati-hati dijalan," balas Zulfa mencium punggung tangan suaminya.


Arshana membalas dengan mencium kening Zulfa. "Iya, by sayang." Arshana berjalan memasuki mobil.


Zulfa masih setia ditempat memandangi suaminya sampai mobil berjalan keluar dan menghilang dari hadapannya. Barulah Zulfa masuk ke dalam rumah.


...*****...


...Assalamu'alaikum ...


...Hay Readers 👋...


...Lama nih author gak sama kalian 😁...


...Bagaimana kabarnya? Sehat dong. ...


...Semoga kalian tetap sehat selalu dan semangat beraktivitas ✊. ...


...Terima kasih sudah setia menemani author ya guys 😊. Kalian adalah penyemangat author 💕. ...


...Dukung terus othor dengan cara Like, Vote, and Komen disini. Dan dikarya author yang lain 😁. ...


...Follow IG author guys (imeilda_akhwat) dan FB author (Riska Ayu). Profil FB sama seperti di IG ya guys. ...


...Nanti bakalan di follback 😉 DM author biar tau kalau itu kalian. Pakai password "Mampir" 😀...


...See You All Guys 👋...


...By By ...

__ADS_1


__ADS_2