Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
43 #Ketemu Lagi


__ADS_3

Siang yang terik, matahari bersinar dengan terang. Hawa kota menjadi sangat panas, ditambah padatnya kendaraan. Zulfa pergi bersama Maira untuk mengantarkan pesanan seperti biasa. Kali ini Zulfa tidak pergi bersama Verko, karna kekasihnya itu harus menjaga toko bersmaa Bu Aida.


Setibanya diperusahaan, Zulfa dan Maira langsung membawa masuk. Mereka menunggu Anin datang dilobi. Tadi staf resepsionis mengatakan kepada Zulfa bahwa Anin masih ada rapat. Jadi Zulfa disuruh menunggu sebentar. Akhirnya mereka berdua menunggu diruang tunggu yang disediakan.


"Kalau nunggu gini lama gak sih Fa?." tanya Maira sambil menengok kanan dan kiri.


"Enggak sih, biasanya lima belas menitan. Kalau rapatnya sudah dari tadi," jawab Zulfa.


"Oke...." sahut Maira bergutik dengan ponselnya.


Sekitar sepuluh menit berlalu, Anin keluar menemui Zulfa. Dia langsung membayarnya dan meminta maaf karna membuat Zulfa jadi menunggu. Anin memberi uang lebih kepada Zulfa sebagai tips dan memberi uang jajan juga seperti biasa dia berikan. Zulfa merasa tidak enak hati kalau Anin terus-terusan memberikan dia uang. Tapi kalau ditolak Anin pasti akan marah dan tidak akan mau membeli roti ditoko mereka.


"Maaf ya Fa membuat kamu menunggu lama. Ini uangnya kami hitung dulu." kata Anin menyerahkan uang tersebut kepada Zulfa.


"Gak lama kok mbak. Aku hitung dulu ya." Zulfa pun menghitung uang tersebut. Dan ternyata saat dihitung uangnya kelebihan.


"Mbak kok uangnya lebih, mbak gak salah hitung kah?." tanya Zulfa bingung.


"Enggak, itu tips buat kalian. Dan ini untuk kamu, jangan ditolak. Mbak akan marah kalau kamu menolaknya. Gak ada kata penolakan!!" tegas Anin agar Zulfa mau menerima uang pemberiannya.


"Ya ampun, mbak baik banget. Harusnya uang ini ditabung saja, gak perlu dikasih ke aku. Mbak juga pasti butuh." ujar Zulfa makin ngerasa gak enak.


"Gak pa-pa Fa, tabungan mbak masih banyak. Kamu lebih butuh dari pada mbak, udah simpan uangnya. Mbak tinggal dulu ya." ucap Anin tersenyum.


"Iya mbak makasih." jawab Zulfa.


"Fa, mbak Anin baik banget ya sama kamu. Orangnya royal, cantik, baik, hmm komplit. Pekerja keras pula, gak bergantung sama orang lain." ucap Maira yang sedari tadi berada disamping Zulfa.


"Iya Mai, mbak Anin baik banget. Ohh ya ini uang tipsnya buat kamu saja. Buat nambah uang jajan." kata Zulfa memberikan uang tips tadi kepada Maira.


"Bener gak pa-pa Fa? Tadi mbak Anin kan ngasihnya buat kita berdua, bukan untuk aku saja." balas Maira.


"Sudah ambil saja. Ayo balik, pasti Bu Aida nungguin." ajak Zulfa diangguki oleh Maira.


Zulfa jalan duluan meninggalkan sahabatnya. Maira yang tadinya ingin keluar diurungkan, ia membenahi tali sepatunya yang lepas. Zulfa tidak sadar kalau Maira masih tertinggal dilobi. Sementara Maira sudah selesai membenahi tali sepatunya yang lepas. Ia bangkit hendak keluar menyusul Zulfa. Tapi tanpa sadar dia menabrak seseorang saat hendak berdiri.

__ADS_1


Maira tidak melihat kalau ada orang yang jalan didepannya. Sehingga saat berdiri mau keluar, Maira menabraknya tanpa sengaja. Saat Maira melihat siapa yang dia tabrak, matanya memicing. Ia seperti mengenali orang tersebut, tapi lupa dimana.


"Maaf saya gak sengaja tadi." ucap Maira meminta maaf.


"Sengaja ya? Apa matamu gak ngeliat ada orang? Kalau mau benerin sepatu duduk yang bener, jangan ditengah jalan!." ujar pria tersebut yang tidak lain adalah Daniel.


"Tadikan saya sudah minta maaf. Saya gak sengaja, tadi saya buru-buru. Sudah minta maaf masih aja marah-marah." ketus Maira tidak suka mendengar ucapan Daniel.


"Gak sengaja apa emang disengaja? Mau caper (cari perhatian)? Disini bukan tempatnya!." mendengar ucapan Daniel, Maira jadi marah. Ia tidak suka dikatain seperti itu. Tadi dirinya sudah minta maaf baik-baik, namun Daniel malah menuduhnya sembarangan.


"Enak saja loh, gue gak caper ya. Gue sudah minta maaf dengan baik, tapi loh malah nuduh gue macem-macem!!." Maira jadi tersulut emosi.


Mendapati reaksi Maira yang marah padanya, Daniel hanya tersenyum miring. Belum ada yang berani menentangnya, apalagi sampai marah-marah padanya. Maira belum tau siapa Daniel, oleh sebab itu dia marah pada Daniel. Wajar sih karna Daniel menuduh Maira yang tidak seharusnya.


"Maaf pak ini ada apa ya?." tanya security yang mendengar keributan.


"Bawa perempuan ini keluar!." jawab Daniel tegas, merasa marah dibentak oleh Maira.


"Haduh Mai, kamu ngalain masih ada disini. Aku cari kamu dari tadi, aku kira kamu ikut keluar. Ngapain sih kok ada tuan Daniel disini?." sahut Zulfa datang dari luar saat menyadari bahwa Maira tidak ada.


"Iya tuan, dia sahabat saya." jawab Zulfa.


"Kamu bilangin sama dia untuk menjaga etika dan sopan santun." ucap Daniel bersendekap dada.


"Eh gue sudah minta maaf ya, tapi loh malah nuduh gue. Harusnya loh juga harus minta maaf sama gue." sahut Maira marah.


"Duh Mai, jangan cari masalah deh. Kamu gak tau apa yang didepanmu ini siapa?." bisik Zulfa agar Maira diam.


"Gak!!." jawab Maira ketus.


"Dia itu tuan Daniel, tangan kanannya tuan Arshana Abhimarta. Alias asisten pribadi, kamu jangan cari masalah deh. Pulang yuk." ajak Zulfa merasa hawa diruangan tersebut jadi berubah melihat tatapan Daniel yang menajam kearah mereka.


"What!! Jadi dia...." Maira terkejut mendengar perkataan Zulfa. "Tapi, gue gak peduli sih. Dia kan cuma asisten bukan pemilik perusahaan ini. Lagian orang salah harus minta maaf, gak mandang jabatannya setinggi apapun. Kalau punya attitude baik pasti salah ya sadar buat minta maaf. Aku tadi sudah minta maaf, tapi dia malah nuduh aku." tambah Maira jutek.


"Haduh, maaf tuan Daniel. Maafin sikap sahabat saya, kami pamit pergi dulu. Ayo Maira, pulang! Dari pada berurusan sama dia." ajak Zulfa menyeret sahabatnya keluar dari perusahaan sampai ditempat parkiran.

__ADS_1


Sementara Daniel hanya tersenyum melihat kepergian Maira dan Zulfa. Lali ia pun pergi ke lantai atas, setelah Maira hilang dari pandangannya.


"Ngapain sih Fa, nyeret-nyeret aku. Dia tuh emang salah. Orang yang ya harus minta maaf, gak mandang jabatannya tinggi. Percuma kalau jabatan tinggi, kalau attitude gak ada. Buat apa juga!." ketus Maira bersandar dipinggiran motor.


"Sudah lah Mai, biarin. Kalau kamu ladenin, sama aja kamu sama dia." sepontan Maira menyahut karna tak suka dibandingin sama Daniel.


"Dih! Enggak ya. Aku ini gak ada persamaan sama sekali dengan pria itu. Wajar lah kalau aku marah. Sudah minta maaf malah dituduh caper. Gimana aku gak marah." sahut Maira dengan wajah juteknya.


"Owalah kamu marah gara-gara dituduh caper. Kirain dituduh apaan." ujar Zulfa sambil ketawa.


"Loh kok kamu malah ketawa sih Fa. Harusnya kamu belain aku, bukan malah menertawakan gini. Nyesel deh aku tafi ngomong sama kamu." wajah Maira makin kusut melihat Zulfa malah menertawakannya.


"Maaf deh, habisnya lucu sih. Masa dibilang caper kamu sudah baper. Jangan baperan lah, kali aja dia pengen ngetes kamu." ucap Zulfa sambil menyenggol bahu Maira.


"Apaan sih. Ngetes apa coba?.....Eit bentar deh, aku baru ingat wajah dia itu mirip seseorang. Tapi aku lupa." Maira mencoba mengingat kembali awal pertemuannya dengan Daniel.


"Oohh iya dia itu pria yang pernah nolongin aku saat dikejar sama Denis. Ya aku baru inget, jadi dia asistennya tuan Arshana. Duh pasti tadi dia ngenalin aku, makanya sikap dia begitu." celetuk Maira menepuk jidatnya sendiri.


'Kenapa harus ketemu dia lagi sih. Orang penting pula, tapi kok waktu itu dia mau aja ya aku mintain tolong. Aah tetap saja nyebelin, semoga saja selanjutnya gak bakal ketemu pria macam dia itu. Tau gitu tadi aku gak bakalan ikut Zulfa. Nyebeliiinnn bangeet!!.' batin Maira merututi dirinya sendiri yang harus bertemu dengan Daniel lagi.


"Ya ampun Mai, jadi dia itu tuan Daniel toh. Gimana ya reaksi dia tadi setelah ketemu kamu lagi. Hmm...." ucap Zulfa seolah berpikir menumpuh tangannya sambil memegang dagu. Ia sedang menggoda Maira yang tampak masih kaget.


"Aahh sudah lah Fa jangan dibahas lagi. Ayo balik, nanti kamu dicariin sama kak Verko loh. Dia kan gak bisa jauh-jauh sama kamu." ujar Maira mengalihkan pembicaraan agar Zulfa tidak terus-terusan menggodanya.


"Mana ada kak Verko begitu. Dia bukan pria yang lebay, kalau kangen ya tinggal bilang. Lagian kak Verko dari tadi gak telfon tuh kalau memang nyariin." Maira jadi merasa kalah telak sama Zulfa. Niat ingin menghindar dari pembahasan tadi, eh malah sekarang Zulfa berhasil membalikkan perkataan Maira.


"Terserah deh, yang penting ayo balik. Panas nih, aku pengen ngadem." ujar Maira naik keatas motor duluan dan mennyambar kuncinya ditangan Zulfa. "Kelamaan, aku yang boncengin. Ayo naik atau aku tinggal," tambahnya.


"Eh enak saja, ya sudah ayo balik." akhirnya Zulfa naik keatas motor. Ia sudah tak mau menggoda sahabatnya lagi, nanti yang ada malah jadi ngambek Si Maira.


...🍀🍀🍀...


...Assalamu'alaikum, pagi guys. Semoga kalian tetap sehat selalu 🌹....


...Siapa nih yang penasaran dengan Arganta? yei dibab selanjutnya akan ada penjelasannya. kira-kira siapa ya 🤔. Kalau kepo dibaca 😁....

__ADS_1


...Jangan lupa jempolnya dipencet, awas ketinggalan. 🤭...


__ADS_2