Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
75 #Pesan Ancaman


__ADS_3

Herannya Zulfa tak berniat keluar untuk jalan-jalan. Padahal Arshana tadi sudah menawari dia keluar, namun ditolak oleh Zulfa. Lantas apa gunanya dia harus cuti? Arshana jadi bingung. Sekarang mereka ada dibalkon kamar.


"Sayang, kamu beneran gak mau jalan keluar?" tanya Arshana menoleh kearah Zulfa.


"Tidak mas, aku mau dirumah saja asalkan kamu temani," jawab Zulfa lalu menyandarka kepadanya dipundak Arshana.


"Kamu sakit? Wajah kamu terlihat pucat loh," ucap Arshana lalu menempelkan punggung tangannya dikening Zulfa. "Gak panas padahal, kamu kenapa sayang?" tanyanya khawatir. Arshana teringat tadi saat sarapan Zulfa hanya mengambil porsi yang sedikit sekali. Mungkin inilah sebabnya.


"Aku gak pa-pa mas, cuma agak pusing aja. Nanti juga mendingan kalau buat istirahat," jawab Zulfa tetap dalam posisinya.


"Kalau gitu kamu istirahat saja yuk, balik ke kamar. Aku temenin," ucap Arshana perhatian juga khawatir.


Lantas Zulfa mengangguk. Mereka kembali masuk kedalam kamar. Zulfa memang tidak demam, tapi wajahnya terlihat pucat. Arshana jadi khawatir melihat itu. Dia berniat memanggil dokter pribadi keluarganya nanti untuk memeriksa keadaan Zulfa.


"Mas, kamu duduk sini," panggil Zulfa sambil menepuk kasur disebelahnya.


Arshana hanya menurut lalu duduk disamping Zulfa. Setelah itu Zulfa merebahkan kepalanya diatas paha Arshana. Dan dia sembunyikan wajahnya keperut Arshana. Sambil melingkarkan sebelah tangannya kebelakang. Walau Arshana bingung dengan tingkah istrinya, dia tetap abai saja, tak ambil pusing. Tangannya terulur mengelus lembut pipi Zulfa.


"Kamu kenapa sih sayang, beda banget. Kok jadi manja gini, bikin gemes," ucap Arshana lalu mengecup sekilas pipi Zulfa.


"Gak pa-pa lah, kan aku begini hanya sama kamu aja. Gak sama yang lain, emang mau aku bersikap manja sama orang lain?"


"Eeh ya enggak lah, kamu harus begini kalau sama suami kamu saja," jawab Arshana cepat.


Enak saja miliknya harus dinikmati orang lain. Tidak akan Arshana biarkan apa yang sudah menjadi miliknya, direbut oleh orang lain. Sekali pun itu adalah keluarganya. Dia sudah terlalu mencintai Zulfa. Tak ada bisa menembus tameng hatinya untuk Zulfa.


"Mas, aku mau tanya deh," ucap Zulfa tampak sambil berpikir.


"Tanya apa sayang?" balas Arshana.


"Kamu dulu kok kaku banget sih kayak kulkas dua pintu. Aku sampai berpikir begitu loh, karna wajah kamu tuh cuek, acuh, dan dingin kalau dilihat," kata Zulfa.


Arshana tersenyum sambil tertawa lirih mendapat pertanyaan seperti itu dari istrinya. Memang iya kenyataannya begitu, bahkan sampai sekarang pun tidak berubah. Hanya saja Arshana akan bersikap enjoy kalau bersama orang yang dia sayangi dan cintai. Seperti keluarga dan istrinya yaitu Zulfa. Kalau dengan yang lain, sikapnya akan tetap sama bersikap acuh dan cuek. Alias bodoamat dan Arshana sampai sekarang belum menunjukkan sisi kejamnya.


Andak ada yang mengusik keluarganya, Arshana akan menjadi garda terdepan. Ia akan babat habis orang yang berusaha menghancurkan keluarganya. Untuk sekarang hanya Kakek dan Felix yang tau sisi lain dari Arshana.


"Dulu aku belum mengenal kamu sayang, malah kenal dengan dia. Bodohnya aku dulu! Padahal Kakek dan papa sudah mengingatkanku. Mungkin dengan adanya peristiwa itu yang menyadarkan aku, bahwa Firsi memang bukan wanita baik seperti yang ada dalam pikiranku. Sampai aku bisa menemukan kamu, cintaku yang sesungguhnya," balas Arshana panjang lebar.


"Aku bahagia bersamamu mas, aku tidak menyangka saja. Orang yang dulunya asing bagiku, ternyata sekarang malah menjadi suamiku. Orang yang paling aku cintai, aku berharap setelah ini tak ada penghalang untuk aku dan kamu," ucap Zulfa menatap langit-langit kamar.

__ADS_1


"Semoga saja seterusnya akan begini. Tenang dan damai, aku mencintaimu sayang," kata Arshana lalu mengecup sekilas bibir Zulfa.


Yang tadinya Zulfa sedikit melamun jadi tersentak kaget. Kemudian dia palingkan wajahnya untuk menghindari tatapan langsung dengan Arshana. Agar bisa menetralkan jantungnya yang terpompa tidak sesuai ritme.


"Cieee yang lagi salting, pipinya kok merah sih," goda Arshana membuat Zulfa makin malu sendiri.


"Issh, kamu ya mas suka sekali menggodaku," gerutu Zulfa lalu bangkit dari tidurnya.


"Mau kemana sayang?"


"Kamar mandi," jawab Zulfa lalu melenggang pergi memasuki kamar mandi.


Arshana geleng-geleng kepala melihat tingkah lucu Zulfa hari ini. Dia pun mengambil ponselnya dan membuka aplikasi whatsapp. Ada beberapa pesan disana terutama pesan dari Brima.


Ting.


Ting.


Ting.


Beberapa notifikasi masuk ke dalam ponsel Zulfa secara serentak. Membuat Arshana mengalihkan pandangan ke ponsel istrinya. Dia penasaran pesan dari siapa yang masuk sampai beberapa kali. Dari layar depan Arshana bisa membawa pesan sekilas. Nomer yang mengirim pesan belum di simpan oleh Zulfa. Berarti nomer baru yang mengirim pesan.


("LOH HARUS M*TI")


("HIDUP LOH AKAN HANCUR!")


Seketika Arshana melotot tajam melihat pesan tersebut. Disambarnya ponsel Zulfa dan dia buka. Beruntung dia tau password ponsel istrinya. Karna mereka memakai password yang sama yaitu tanggal pernikahan mereka. Arshana melihat nomer baru yang mengirim pesan ancaman kepada istrinya. Wajah Arshana sudah berubah jadi merah berapi.


Siapa yang telah mengirim pesan seperti itu kepada Zulfa? Kenapa harus istrinya yang harus diteror? Kalau memang yang mengirim pesan adalah musuhnya, lantas kenapa harus Zulfa yang jadi sasaran?.


Semua pertanyaan berputar dikepala Arshana. Dia mengirim nomor tersebut ke ponselnya. Lalu dia hapus semua pesan teror yang masuk, sekaligus memblokir nomer tersebut dari ponsel Zulfa. Arshana tidak mau Zulfa jadi kepikiran dengan pesan kaleng tak bermanfaat itu. Dia akan mencari tau siapa yang telah mengirim pesan tersebut keponsel istrinya.


Arshana mencari kontak seseorang lalu mengirim pesan kepada orang tersebut.


("Cari tau lokasi nomor ini sekarang sekaligus identitasnya. Segera!")


Tak lama pesannya terjawab.


("Baik tuan.")

__ADS_1


Arshana meletakkan kembali ponselnya saat melihat Zulfa sudah keluar dari kamar mandi. Dia tersenyum menatap ke arah Zulfa yang duduk dimeja rias.


"Mas, aku pengen main ke perusahaanmu boleh gak?" ucap Zulfa secara tiba-tiba.


"Untuk apa sayang? Kamu minta aku cuti, sekarang kenapa malah jadi minta ke perusahaan?" tanya balik Arshana bingung.


"Pengen aja mas, kan kamu gak pernah ajak aku kesana. Kalau aku ingin keperusahaan, kamu pun juga ngelarang," ujar Zulfa mencibik.


"Kamu takut karyawan kamu tau kalau bosnya sudah menikah? Hanya gara-gara itu mas? Kalau memang kamu cinta sama aku, kenapa gak kamu publik aja sekalian. Gak perlu ditutupi lagi, toh papa juga sudah tau," tambahnya.


"Bukan begitu sayang, aku kan niatnya untuk nemenin kamu. Kalau ke perusahaan ya sama saja dong aku gak ambil cuti. Kalau ketempat lain akan aku kabulkan. Mau ke mall? Bioskop? Taman? Atau tempat lainnya," jawab Arshana sambil berjalan mendekati Zulfa yang terlihat cemberut.


"Aku tuh mau lihat sekeliling perusahaanmu mas, apa salah ya? Kalau kamu gak mau turutin ya sudah gak pa-pa, aku mau tidur saja." Zulfa pun beralih naik ke atas ranjang sambil mengangkat selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.


"Jangan gini dong sayang, ketempat lain kan bisa. Atau kamu mau ke pantai? Wisata gitu?"


"Enggak! Aku mau tidur saja," jawab Zulfa ketus.


Arshana jadi kesal sendiri lantaran Zulfa malah ngambek dan gak bisa dibujuk. "Oke, kita ke perusahaan sekarang yuk! Jangan ngambek dong sayang," ucap Arshana dengan lembut.


Seketika raut wajah Zulfa tampak senang. Ia sibak selimut yang menututpi kepalanya. Zulfa sangat antusias, entah kenapa dia ingin sekali berkeliling ke semja penjuru perusahaan keluarga suaminya. Lalu bagaimana dengan berbagai pertanyaan yang akan dilontarkan oleh staff dan karyawannya yang lain? Entah, itu dipikir nanti yang penting istrinya tidak ngambek lagi.


"Makasih mas," ucap Zulfa sambil memeluk Arshana.


"Sama-sama, ya sudah kita bersiap dulu yuk,"


"Oke," balas Zulfa.


Mereka pun bersiap-siap untuk pergi ke perusahaan sesuai keinginan Zulfa. Gaun selutut dengan warna pink bertabur putih ditambah beberapa pernik mutiara menjadi pilihan Zulfa. Sedangkan Arshana memakai kemeja putih dan jas abu-abu dengan celana yang senada.Tampak cantik dan tampan. Mereka memang pasangan yang serasi.


"Mas, kamu jangan pakai parfum itu lah. Aku gak suka dengan baunya," ujar Zulfa mencibir saat Arshana telah menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Baru satu semprot saja.


"Loh kenapa sayang? Bukan kah kamu sangat suka dengan aromanya? Ini parfum yang biasa aku pakai kok, aku gak pernah ganti, aneh kamu tiba-tiba gak suka," papar Arshana heran.


"Pokoknya jangan dipakai ihh, baunya bikin aku pusing. Kamu ganti baju mas sana, aku gak betah dengan baunya," ucap Zulfa sambil menututi hidungnya agar tak tercium.


"Udah ah mas sana, aku gak betah dengan baunya itu loh." Zulfa sedikit mendorong bahu suaminya pelan agar segera ganti pakaian.


"Ada-ada saja kamu sayang, aneh," gumam Arshana tetap berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian yang baru. Lalu dia pun pergi untuk berganti baju lagi.

__ADS_1


Setelah siap, mereka pun turun menuju mobil yang terparkir didepan. Arshana meminta beberapa bodyguard untuk mengiringi mobilnya sampai ke perusahaan. Sudah kebiasaan agar tuannya aman, mereka memang ditugaskan untuk mengiringi keluarga Abhimarta.


__ADS_2